Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Larut Malam


__ADS_3

"Kamu nggak apa-apa 'kan? Ada yang sakit nggak? Ada yang luka?" Bara memegangi dan memilin bahu juga lengan Nirmala. Memutar-mutar tubuh gadis itu, memastikan keadaannya baik-baik saja. Nirmala merasa risih, dia melepaskan tangan Bara dari menyentuhnya.


"Aku nggak apa-apa, Bara. Lihat! Aku baik-baik aja, bukan?" Nirmala merentangkan kedua tangan ke samping dengan sepasang alis tertarik ke atas.


Bara tersenyum tenang dan tiba-tiba memeluk gadis di depannya begitu saja. Dia lupa kalau gadis yang tengah didekap saat ini, tidak ada ikatan halal apa pun dengannya. "Syukurlah Nirmala... aku khawatir banget tadi. Aku benar-benar takut, kalau kamu sampai terluka."


Nirmala menelan saliva, sebagai gadis belia yang sedang dalam masa-masa pubertas. Dipeluk sedemikian rupa oleh seorang pemuda untuk pertama kali, darahnya tentu saja berdesir. Namun, akal waras masih berjalan dengan semestinya. Dia mendorong kasar dada Bara agar memberi jarak dari dalam tubuhnya. "Maaf Bara, gak seharusnya kamu meluk aku kaya gini...."


"Aku yang seharusnya minta maaf, Nirmala..." balas Bara merasa bersalah. Nirmala mengangguk tipis, dia tidak berani menatap lawan bicaranya. "Aku antar kamu pulang ya?" Bara menawarkan diri karena ingin memastikan gadis pujaannya selamat sampai rumah.


"Gak usah, Bar. Aku bawa motor sendiri, kok," tolak Nirmala akan ajakan Bara.


"Aku ikutin dari belakang deh." Bara tidak kehabisan akal sebab dia tidak ingin hal tidak diharapkan terjadi lagi pada Nirmala.


"Em... boleh kalau nggak ngerepotin. Tapi kita cari Nala dulu, ya. Takutnya dia masih ada di daerah sini," tunjuk Nirmala ke arah Nala berlari tadi.


"Nala?" tanya Bara bingung karena tadi dia hanya melihat Nirmala seorang diri.


"Iya, Nala. Tadi dia mau dirudapaksa sama berandalan itu. Alhamdulillah, secara bersamaan aku disuruh papa beli obat diare, tapi apotek pada tutup. Pas mau pulang, gak sengaja dengar suara perempuan minta tolong ... eh taunya Nala," cerocos Nirmala mengungkapkan alasan kenapa dia bisa berada di tempat bahaya tersebut saat ini.

__ADS_1


"Jadi kamu nolongin Nala, terus kembaranmu itu pergi gitu aja, gak balik lagi?" Bara mempertegas apa yang dia pikirkan mengenai Nala. Nirmala menarik kepalanya ke bawah, mengiyakan pertanyaan Bara.


"Tapi wajar kok, dia pasti ketakutan setengah mati. Kalau aku diposisi dia, pasti akan sembunyi atau terus berlari sampai keadaan bener-bener aman." Nirmala berusaha menjaga nama baik Nala di hadapan Bara. Meski sebetulnya, Bara sudah paham betul bagaimana karakter Nala sesungguhnya.


"Ya sudah, ayo cari Nala. Ini udah jam satu malam." Bara menyudahi percakapannya dengan Nirmala dan mengajak gadis itu untuk bergerak cepat.


Kepala Nirmala bergulir ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan saudara kembarnya. Dia menyalakan aplikasi lampu senter dari ponsel karena jalanan yang dilalui lumayan gelap, sehingga membatasi jarak penglihatan. Gadis berjilbab itu melihat seorang gadis tengah duduk meringkuk di samping bangunan tua. Dia buru-buru menghampiri gadis yang dia kenali, seraya memanggil namanya. "Nala! Ternyata kamu ada di sini."


Nala mendongak, dia tersenyum lega dan langsung beringsut untuk berdiri. Nirmala membalas senyuman Nala seraya merentangkan tangan menyambut Nala untuk dia dekap.


"Makasih ya..." ucap Nala manis.


Nirmala mengangguk dengan tangan terus saja direntangkan. Akan tetapi, senyumnya sirna seketika karena orang yang Nala peluk bukanlah dirinya, melainkan pemuda yang bersamanya.


"Lepasin gue, Nala! Harusnya loe bilang makasih itu sama Nirmala, bukan sama gue!" Bara mendorong tubuh Nala, tetapi gadis itu bersikukuh dan semakin mengeratkan pelukannya. "Lepasin gue bilang!" sentak Bara berusaha menjauhkan Nala dari tubuhnya. Namun, gadis itu terus memeluknya tanpa rasa malu sedikit pun.


"Biarin gue meluk loe, Bar. Sebentar... aja." Nala menenggelamkan kepalanya ke dalam tubuh hangat Bara. "Loe gak kasian emang? Gue tadi hampir aja diperkosa sama para berandalan itu!" Nala terisak tapi bibirnya menyunggingkan senyuman misterius. Ntah apa yang dipikirkan gadis itu karena saat ini dia melihat ke arah Nirmala dan memasang wajah menyebalkan.


"Gue gak enak sama Nirmala. Lagian kenapa gue yang loe peluk, harusnya 'kan adek loe!!" geram Bara karena kelakuan Nala. Dia berkali-kali memperhatikan riak wajah Nirmala yang tidak secerah sebelumnya.

__ADS_1


"Tapi gue pengennya meluk loe, Bara. Bukan meluk saudara kembar gue yang sok jagoan itu!" seru Nala. "Tolong anterin gue pulang ya Bar, gue takut berandalan tadi masih ngejar-ngejar gue," pinta Nala karena baginya ini kesempatan emas untuk melakukan pendekatan dengan pemuda incarannya. Meski dia memiliki kekasih, akan tetapi rasa penasarannya terhadap Bara belumlah usai.


"Iya Bar, tolong anterin Nala pulang ya. Biar aku ngikutin kamu dari belakang," jawab Nirmala berusaha bersikap sewajar mungkin. Dia berjalan melewati Bara dan Nala ke arah di mana motor bututnya terparkir.


Nirmala berhenti sesaat dan menoleh ke arah Nala yang belum beralih dari tubuh Bara. "Moga kejadian kali ini bisa dijadiin pelajaran ya, Nal. Gak baik perempuan berkeliaran malam-malam sendirian. Terlebih pakaian kurang bahanmu itu bener-bener mengundang syahwat. Perempuan sepertiku aja gak lepas dari namanya pelecehan, apalagi perempuan seperti kamu ... cantik, seksi dan menggoda."


Nala membulatkan kedua bola mata karena tidak suka dengan nasehat yang diberikan oleh sang adik kembar. "Apaan si loe, Mal? Mentang-mentang ada Bara, loe jadi sok baik dan sok peduli sama gue. Nyari perhatian Bara loe, ya? Iya, 'kan?"


Nirmala mendesah kasar dan menggeleng-gelengkan kepala mendengar perkataan Nala yang ternyata tidak ada rasa penyesalan sedikit pun. "Terserah kamulah, Nal. Harusnya tadi aku biarin aja para berandalan itu ngebawa kamu pergi. Kejadian malam ini gak bikin kamu sadar dan kapok juga!!"


"Berisik....!" Nala menutup kedua telinga, tidak ingin mendengar lagi omelan Nirmala. "Loe bukan nyokap gue, jadi gak usah sok nasehatin dan ngatur-ngatur hidup gue!!" sentak Nala.


Nirmala mengangkat kedua bahunya ke atas. Sudah tidak mau ambil pusing dengan sikap saudara kembarnya. Dia memilih untuk tidak lagi menggubris ucapan Nala dan melanjutkan langkah ke arah motornya, tanpa menoleh kembali ke arah Nala maupun Bara.


Bara menatap kosong punggung gadis pujaannya, di dalam hati dia menyimpan kekhawatiran. Karena sikap Nala yang tiba-tiba memeluk dan tidak ingin melepaskannya. "Ayo kita pulang Nala, gue antar. Loe tunggu sama Nirmala sebentar, gue ngambil motor dulu di sebelah sana."


Nala menarik kepalanya dari atas dada Bara lanjut merangkul lengan pemuda itu. "Gue ikut... ntar kalau ada orang jahat lagi, gimana? Gue 'kan cewek lemah. Gak kaya Nirmala ... cewek bar-bar tukang berkelahi."


Bara hanya mendesah pasrah mendengar ocehan Nala yang terdengar seperti suara nyamuk di telinga. "Ya udah, ayo! Jangan ngomong terus, pusing gue dengernya."

__ADS_1


Nala mengangguk dan mengikuti langkah kaki Bara sembari bergelayutan manja di lengan pemuda tersebut. Dia berulang kali menoleh ke arah Nirmala yang memperhatikan intens keduanya, dengan raut seakan mengatakan bahwa aku menang lagi kali ini, Nirmala.


...*****...


__ADS_2