
"Kurang ajar kamu!!" bentak dosen murka. "Saya skors kamu tiga hari dan jangan pernah berharap bisa lulus mata kuliah saya!" ancamnya lagi.
"Ta-tapi Pak?" rengek Nala mengingat perjanjian dia dengan Arman bahwa nilai semester kali ini harus lebih unggul dari kembarannya.
"Tidak ada tapi-tapi!" jawab dosen tegas. "Sekarang kamu keluar dari kelas saya saat ini juga, sebelum saya panggilkan satpam!" usir dosen dengan lengan direntangkan ke arah pintu.
Nala menggenggam tangan dosennya dan memelas. "Jangan dong, Pak. Nanti mobil saya bisa disita papa kalau semester ini nilainya jeblok."
Dosen tersebut menghempaskan tangan Nala. "Itu bukan urusan saya! Sekarang, silakan keluar dari kelas saya. Kamu masih ingat 'kan, pintu keluarnya?"
Nala beringsut dari atas kursi dan seperti biasa menghentakkan kaki pertanda bahwa dia tengah kesal. Dia menyilangkan tas selempang ke depan dada dan membawa beberapa buku di tangannya. Gadis itu mendekati sang dosen dan berbicara dengan suara berbisik. "Ada cara lain biar saya bisa lulus gak, Pak? Apa pun mau bapak, saya turutin deh...!"
"Maksudmu apa mahasiswa kurang ajar?" geram pria paruh baya tersebut. "Kamu ingin bermain-main dengan saya?" tanyanya dengan suara yang ditekan karena tidak ingin terdengar oleh orang lain.
Semua mahasiswa memperhatikan mereka dengan pikiran macam-macam. Karena saat ini jarak antara keduanya sangatlah dekat. Nala sengaja menekan perasaan dosennya di hadapan semua orang agar pria tersebut tidak mampu berkutik. "Sepertinya akan sangat mengasyikan bermain-main dengan pria matang seperti bapak."
Harapan tinggalah harapan karena kenyataan tak sesuai dengan angan-angan. Pria yang telah Nala rayu, bukannya luluh malah membalas dengan makian. "Benar-benar kurang ajar, kamu! Mau keluar sendiri atau saya seret?"
Nala mendelik. "Iya-iya, saya keluar, Pak. Kalau bapak berubah pikiran, hubungi saya aja ya...."
Dosen tersebut geleng-geleng kepala dan mengusap wajahnya kasar. "Astaghfirullah... anak zaman sekarang, akhlaknya semakin mengkhawatirkan...."
Perkuliahan kembali dilanjutkan, sementara Nala harus menerima resiko tidak bisa mengikuti pembelajaran karena sudah berani bersikap tidak hormat dan membantah dosennya. Bila diusir dari kelas biasanya dia akan merasa senang, tidak kali ini. "Duh... apes dah gue, kaya gini caranya gimana mau ngalahin si Mala?"
Nala berjalan santai sembari asyik dengan pikirannya sendiri menuju tempat parkir. "Kalau gue pulang ke rumah sekarang, ntar ada yang ngadu sama bokap. Ah... kenapa gue bisa lupain om Sakti sih?!"
Bibir yang dilipat seketika mengembang. Namun, hanya bertahan beberapa detik karena kini mulutnya mengatup dengan kedua bola mata terbelalak. "Ban mobil baru gue, kenapa bisa kempes...?!"
Nala memekik kesal sembari menendang ban mobil yang kempes tersebut. "Ah... hari ini gue bener-bener sial....!!!!"
__ADS_1
Orang-orang yang berada di sekitarnya sontak terbahak-bahak, menertawakan mahasiswa yang terkenal sangat sombong juga arogan itu. "Berani kalian ngetawain gue. Mau gue jotos, hah...???"
"Sini aja kalo lu berani!" tantang salah satu mahasiswa.
"Ayo, sini!" sahut Nala.
"Itu namanya karma, pe'a! Kemaren 'kan, ban motor kembaran lu yang lu kerjain. Sekarang ban mobil lu bocor!" cibir teman yang lain. "Jahat sih lu jadi cewek!!" tambahnya lagi.
Nala menjerit sembari mengacak-acak rambutnya frustrasi. Kemudian mencari sesuatu digunakan untuk menyerang orang-orang yang menertawakannya. Dia memunguti bebatuan lalu dilemparkan ke arah teman-temannya. Semua orang berhamburan seraya tetap mengejek dan menertawainya.
"Sini hadapin gue!! Cemen kalian!!" pekik Nala pada semua orang. Namun, tiba-tiba dia mengerang kesakitan karena seseorang menarik kupingnya kencang.
"Sudah bersikap kurang ajar di kelas dan di sini kamu masih saja bikin keributan!!!" geram dosennya yang ternyata melihat secara tidak langsung kelakuan Nala barusan.
Nala terkekeh, "Eh... Bapak. Saya cuman lagi main sama temen-temen Pak, bukan nyari ribut."
"Besok, panggil orang tua kamu ke kampus untuk menghadap saya!" sentak sang dosen lalu pergi meninggalkan Nala yang terbengong-bengong.
...***...
"Assalamu'alaikum Mak..." salam Nirmala sepulang dari kampus. Seperti biasa, dia menarik tangan wanita baik hati tersebut lalu mengecupnya.
"Wa'alaikumsalam... eh, ada Neng geulis," jawab Ina. Dia cingak-cinguk karena Nirmala datang dengan berjalan kaki. "Ke mana motornya, Neng. Mogok lagi?"
Nirmala geleng-geleng kepala. "Nggak kok Mak, motor Mala nggak mogok. Cuman ada yang rusak aja sedikit."
Bu Ina mengangguk-angguk. "Kan Emak sering bilang pake aja motor si Yusuf ketimbang ngejugrug di garasi."
"Nggak apa-apa Mak... Mala udah nyaman pake si Jagur. Apalagi itu 'kan pemberian aki," tolak Nirmala kesekian kalinya.
__ADS_1
Bu Ina mendesah lalu menarik kursi yang kosong di dekatnya. "Ya udah sekarang sok duduk sini, Emak siapin dulu nasi uduk sama rendang jengkol. Belum makan 'kan?
Nirmala menggelengkan kepala seraya terkekeh. "Mak, tau aja kalo Mala lagi laper...."
"Tau dong... 'kan keliatan dari bibir Neng Mala, pucat!" seru Bu Ina berjalan ke arah gerobak. Dia menyiapkan makan siang untuk Nirmala dan segelas teh manis hangat.
"Tebak aku siapa?" tanya seseorang tiba-tiba, mengatup mata Nirmala dengan telapak tangan.
"Ih... Bang Yusuf apa-apaan sih?!" tegur Nirmala tidak suka. Dia melepas paksa tangan Yusuf dari wajahnya. "Iseng deh!!" ketusnya mendelikkan mata.
Yusuf berjalan memutar lalu menarik kursi yang berada di depan Nirmala. Dia menatap intens manik mata gadis berjilbab itu. "Abang kangen sama Neng Mala... seminggu lebih kita nggak ketemu."
Nirmala teringat kembali saat-saat Yusuf menyatakan cintanya tempo lalu. Kini dia merasa canggung berdekatan dengan pemuda itu terlebih sikap Yusuf yang semakin memperlihatkan perasaannya terhadap Nirmala.
"Gimana kabarnya, Bang?" Nirmala berusaha mencairkan suasana yang terasa kian kaku.
"Alhamdulillah... kabar Bang Yusuf baik. Kabar Neng Mala, gimana? Kuliahnya gimana?" Yusuf memberondong Nirmala dengan pertanyaan.
"Kabar Mala juga baik," jawab Nirmala singkat lalu menggeser posisi duduknya yang semula berhadap-hadapan dengan Yusuf, sekarang memunggunginya. Beruntung Bu Ina datang membawa masakan yang dia siapkan tadi.
"Ini Neng, habiskan ya..." suruh Bu Ina.
Nirmala mengangguk dan tersenyum manis. "Makasih banyak ya Mak...."
"Sama-sama Neng, Emak tinggal dulu ya. Banyak pembeli datang," pamit bu Ina.
"Suf, jangan gangguin Neng Mala. Kalau nggak mau Emak jewer," ancam bu Ina pada putra semata wayangnya sembari berjalan.
Yusuf merengut karena ucapan ibunya. "Apa sih Mak? Yusuf 'kan cuman kangen aja sama Neng Mala. Bukan mau gangguin."
__ADS_1
Pemuda berusia dua puluh empat tahun itu, memilih untuk masuk ke dalam rumah menghindari Nirmala. Tanpa seucap atau dua ucap kata, dia melengos begitu saja.
...*****...