
Waktu berputar, mentari bergulir ke ufuk barat. Langit yang redup semakin kelam, menandakan pergantian hari telah sampai pada titik akhirnya. Siang kini berganti malam, dunia yang semula benderang karena pantulan cahaya keemasan, saat ini gelap gulita tanpa sedikit pun berkas sinar.
"Bangun loe!" Arman menggoyang-goyangkan tubuh Nirmala menggunakan kakinya agar gadis yang terbaring di atas sajadah tersadar dari mimpi indah. "Heh, bangun...!!" Arman menendang-nendang perut anaknya.
Nirmala yang sangat kelelahan, tetap saja terlelap. Meski Arman semakin kencang menggoyahkan tubuh letihnya. "Heh, anak kurang ajar. Bangun loe!!!"
Arman naik pitam, dia berjalan ke arah kamar mandi untuk membawa seember air dingin. Dalam hitungan detik, tubuh Nirmala menjadi kuyup lantaran pria paruh baya itu menyiramkan air. Mukena yang melekat di atas tubuh pun tak kalah basah, Nirmala seketika terbangun dan melihat ke arah Arman dengan tatapan begitu sayu.
"Ke-kenapa Papa menyiram Mala?" lirih Nirmala menggigil kedinginan. Dia menyilangkan tangan sembari mengusap-usap kedua lengan.
"Kenapa kata loe?" geram Arman menarik muka Nirmala ke arah dinding. "Lihat! Jam berapa ini? Gue kelaparan, loe kepengen gue mampus, hah??" Arman menghempas kasar wajah Nirmala.
"Ma-maaf Pa... Mala ketiduran, hari ini capek banget," jawab gadis itu pilu.
"Gue kagak mau dengerin apa pun alasan loe, yang gue mau ... loe sekarang bangun, terus masakin gue makanan!!" perintah Arman yang harus dilaksanakan saat itu juga.
"I-iya Pa... Mala ganti baju dulu ya..." imbuh Nirmala beringsut perlahan.
Arman tidak peduli dengan kondisi putrinya, meski saat ini gadis itu terlihat sangat menyedihkan. Bibir pias serta tubuh menggigil tak mampu meluluhkan kekerasan hati Arman.
"Gue tunggu di meja makan. Gue beri loe waktu lima belas menit. Kalau lebih, lihat aja nanti apa yang bakalan gue lakuin!" ancam Arman mengacungkan kepalan tangan. Dia menarik langkah menuju ruang makan yang berada di lantai bawah.
Nirmala mengusap-usap dadanya seraya beristighfar. Untaian doa tanpa lelah selalu tercurah kepada Sang Khalik, mengharap kebaikan untuk ayahanda tercinta. "Sabar Mala... yakin suatu saat, Papa pasti akan berubah. Kamu hanya perlu bersabar dan ntah sampai kapan."
Secepat kilat, Nirmala mengganti pakaian basah dengan baju kering dari dalam lemari. Dia tergopoh-gopoh memijakkan kaki ke atas anak tangga. Tidak ingin membuat Arman menunggu terlalu lama.
Sesampainya di dapur, Nirmala meracik bumbu dan bahan-bahan yang akan dimasak dengan cekatan. Meski mata masih terasa lengket dan badan amatlah lelah. Namun, Nirmala tidak ingin berkeluh kesah. Setiap hal yang dia rasakan, orang lain tidak perlu mengetahuinya.
__ADS_1
"Ini Pa, makan malamnya." Nirmala menata dua piring hidangan yang dia masak penuh cinta.
"Nah gitu dong, itu namanya anak yang tau diri!" sarkas Arman meneguk saliva sebab santapan yang Nirmala olah adalah masakan kesukaan Arman. Rendang jengkol dan tempe mendoan.
Nirmala cingak-cinguk karena baru menyadari sepulang dari kampus tidak melihat cerminan wajah dirinya. "Nala ke mana, Pa? Kok, nggak ikut makan malam?"
Arman menoleh, terlihat jelas raut ketidak sukaan dari guratan-guratan yang mengeriput. "Dih, kepo ya...?"
Nirmala menggelengkan kepala. "Bukan begitu, Pa. Biasanya 'kan dia paling semangat kalau disuruh makan malam. Ini tumben-tumbenan, gak ada."
Arman berdecak, "Nala pergi clubbing. Dia 'kan pergaulannya luas. Gak macam loe, udah kolot sok suci pula. Eh... gaulnya sama anak penjual nasi uduk, gimana gak makin madesu itu muka?!"
"Udah ah, gue lapar. Loe mending jauh-jauh sana, gue alergi kalau deket-deket sama anak pembawa sial!" berang Arman mengusir keberadaan Nirmala dari hadapannya.
Nirmala mendesah pelan, sesegera mungkin beranjak dari ruang makan menuju kamar bernuansa warna lilac. Tempat di mana dia melepas kepenatan hidup yang semakin berat.
Mata indah kembali mengatup, rasa lelah terbayar sudah. Nirmala terlihat damai dalam buaian dunia mimpi. Meski wajah dengan lingkaran hitam di sekeliling mata, tidak mampu menyembunyikan bahwa dia letih dan butuh sandaran dari dunia yang semakin menggila.
Tubuh Nirmala kembali menggigil, tangan seseorang menarik selimut untuk menutupi badan Nirmala. "Nggak usah GR, gue ngelakuin ini hanya sebatas kasihan. Karena sampai kapan pun, hati gue kagak bisa nerima kalau loe adalah darah daging gue!"
Arman yang menyelinap masuk ke dalam kamar Nirmala, cepat-cepat menarik langkahnya keluar karena tidak ingin gadis itu terbangun dan melihat dia dengan raut keheranan.
...***...
"Ini dia yang kita tunggu dari kemaren-kemaren!" Seseorang dengan beberapa tindik di telinga, menyambut kedatangan gadis yang mengenakan pakaian serba mini. "Loe ke mana aja sih neik, tiba-tiba ngilang gitu aja? Kemaren banyak gadun keyong reyong nyariin elo!" ungkap seseorang setengah pria setengah wanita.
Nala duduk di samping orang tersebut dengan kedua tangan menopang ke atas meja. "Gue kemaren-kemaren lagi sibuk. Jadi, baru hari ini dateng lagi ke mari."
__ADS_1
"Ya kalau urusan pribadi, gue sih gak mau ikut campur ya neik. Cuman sayang aja gitu gadun-gadun yang nyariin loe semalem, beuh bikin rahim gue bergetar!" sahut orang bertindik itu.
Nala cekikikan, "Woy... mana ada loe punya rahim, Tono?! Makin sesat aja dah gue punya teman!"
Seseorang yang dipanggil Tono mengibaskan tangan ke samping telinga seakan memainkan rambut yang panjang. "Ish... gilingan yey, nama gue bukan Tono cintah, tapi Seus Andin! Ingat ya cantik, Seus Andin!!"
Nala menggeleng-gelengkan kepala sembari tertawa tapi tanpa bersuara. "Serah loe dah, Tono! Inget ya, nama loe itu Tono bukan Andin! Jadi jangan sok kecantikan deh....!"
Tono mendelik manja. "Alemong deh gue, punya temen ngeselin macem loe, Nala. Awas loe ya, gak bakalan gue kasih gadun tajir melintir lagi!!"
"Bodo!!" sahut Nala singkat. "Gue udah punya om Sakti. Satu aja belom abis gue porotin!!" Nala mengangkat sebelah alisnya ke atas.
"Loe belum tau aja siapa om Sakti, cin. Dia terkenal banget di mari. Dari yang gue denger nih ya, laki-laki bangkotan itu gak bakalan nyerah sebelom dia dapetin apa yang dimau," ungkap Tono ambigu. Akan tetapi, Nala bisa memahami arah pembicaraan lelaki bertulang lunak tersebut.
"Tenang aja, Ton. Gue bukan pemain baru, udah berapa banyak om-om yang gue porotin duitnya? But see, gue baik-baik aja dan sampe sekarang masih virgin!" sergah Nala meski di dalam hati menyimpan keraguan.
Tono mendengkus. "Serah loe dah, neik. Gue cuman ngingetin loe aja. Hati-hati sama om Sakti, dia ganas banget."
Nala memeluk teman karibnya di tempat hiburan malam tersebut. "Oke-oke, makasih banyak Tono sayang... percaya deh sama gue, orang macam om Sakti sekali pun bakalan gue bikin bertekuk lutut!"
Nala membiarkan tubuhnya menikmati setiap dentuman suara musik, dengan tangan melayani mulutnya yang tengah merasakan dahaga yang teramat sangat. Sudah dua botol minuman yang dia tenggak, akal sehatnya terkikis lantaran minuman setan tersebut.
...*****...
...Minal Aidin wal Faidzin. Taqabalallahu Minna Waminkum Shiyamana Sashiyamakum....
...Mohon Maaf Lahir Bathin untuk semuanya. Selamat hari Raya Idul Fitri 🥰🙏🙏...
__ADS_1