Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Sok Suci


__ADS_3

"Bara... ayo sarapan dulu, Nak," ajak Arum pada putra tirinya yang baru saja keluar dari dalam kamar. Bara mengacuhkan wanita tersebut dan melewati meja makan tanpa menjawab ataupun sekedar menoleh.


"Bara, Mamamu bertanya. Kenapa kamu diam saja?!" bentak Sakti kesal lantaran anak dari istri pertamanya itu tidak pernah bisa bersikap sopan pada istri barunya.


Bara mencebikkan bibir. "Wanita ini bukan nyokap gue sampai kapan pun. Karena gara-gara dia, Mama sampai meninggal bunuh diri!!"


"Bara...!!!" teriak Sakti berdiri seraya menggebrag meja. "Semakin hari semakin kurang ajar saja kamu! Kalau kamu masih begini terus, jangan salahkan Papa buat mengambil semua fasilitas yang Papa berikan!" ancam Sakti sebab dia tidak bisa membuat Bara patuh padanya.


Arum yang merasa tidak nyaman karena menjadi penyebab pertengkaran antara ayah dan anak tersebut, dia berdiri dan merangkul pundak Sakti untuk menenangkan. "Pa... jangan terlalu kasar sama anakmu. Kasian Bara kalau terus-terusan kamu marahi. Dia seperti itu juga ada andil dari kita berdua."


Bara tertawa meremehkan. "Cih... jangan blaga sok baik deh loe! Kalo emang wanita baik-baik, Tante 'gak bakalan ngerebut Papa dari Mama!!"


Batin Arum terhenyak karena ucapan anak sambungnya itu. Bukan keinginannya untuk merebut Sakti dari Kemuning. Karena saat itu dia sendiri tidak tahu bahwa Sakti masih memiliki seorang istri. Sudah tujuh tahun Arum membersamai Sakti dan selama itu pula Bara selalu memperlakukan dia dengan kasar.


"Kenapa, mau nangis loe?" sentak Bara melihat Arum berkaca-kaca dengan wajah memerah sendu. "Loe mau nangis darah sekalipun, gue 'nggak bakalan mau nerima loe jadi nyokap gue. Jadi 'gak usah mimpi bisa dapetin hati gue dengan sikap sok perhatian loe itu!" Bara menyeret kakinya keluar dari dalam hunian megah, meski Sakti berkali-kali memanggilnya. Namun, dia menulikan indra pendengaran.


"Sudah Pa... tenang ya Pa. Mama bisa memaklumi sikap Bara, kok." Arum mengusap-usap punggung suaminya. "Tidak mudah bagi anak itu menghilangkan trauma tragedi tujuh tahun yang lalu. Saat ibunya mengakhiri hidup, menggantung diri di depan mata." Masih sangat jelas di ingatan Arum bagaimana terpukulnya Bara kala itu. Hati seorang anak tercabik lantaran sang ibu mati karena kehadiran orang ketiga di dalam pernikahan orang tuanya.


Sakti beringsut dan mendorong kursinya ke belakang. "Sudahlah aku muak! Kamu juga, selalu memanjakan anak itu. Lihat sekarang akibatnya, dia tumbuh menjadi anak tidak tau tatakrama!"


Pria yang berusia lima puluh tahun itu meraih kunci mobil dari atas meja makan. Dan berlalu begitu saja tanpa mengucapkan sepatah atau duapatah kata apa pun lagi.


"Mau ke mana, Pa? Papa belum menghabiskan sarapannya," pekik Arum menatap kepergian sang suami dengan perasaan duka.


Sakti terus berjalan cepat menuju pelataran rumah dan menyalakan mesin mobil. Dia tersenyum miring karena kini pikirannya dipenuhi oleh tingkah nakal gadis peliharaannya. "Ah... lebih baik aku menjemput Nala karena gadis itu pagi ini ada jadwal kuliah. Lumayanlah, buat ngembaliin mood yang kacau gara-gara anak sialan itu dan ibu tirinya yang sok naif!"


...***...


Suara pesan masuk berbunyi, Nala yang tengah menyantap sarapan membuka pesan tersebut. Bibirnya merekah bahagia karena sepagi ini ATM berjalannya sudah mengirimkan sejumlah uang. Meskipun uangnya tidak seberapa, tapi cukup untuk mentraktir teman satu kelas makan bakso.


📩 Sakti

__ADS_1


Nanti om jemput kamu ya. Om sudah otw nih!


Nala


Siap om, Nala tunggu


Sakti


Om ngirim kamu duit, lumayanlah buat jajan


Nala


Iya, om. Udah masuk nih uangnya


Makasih ya, nanti Nala kasih om ciuman spesial deh!


Arman memperhatikan tingkah laku Nala yang tiba-tiba saja sumringah. Dia bertanya karena ingin tahu kenapa putri sulungnya itu bisa senyum-senyum sendiri sembari menatap layar ponsel. "Seneng amat, dapet sms dari cowok kamu ya?"


Gadis bernetra cokelat itu mengecup kedua pipi ayahnya dan mendelik ke arah Nirmala yang berdiri mematung seperti seorang pembantu di hadapan sang majikan. Dia berlari menuju tempat di mana Sakti memakirkan mobil. Karena tidak ingin Arman tahu kalau yang menjemputnya itu bukan Boy melainkan pria tua dan beristri.


"Hai, Om!" Nala langsung menutup pintu mobil lanjut mengecup bibir Sakti sekilas.


"Segitu doang?" ledek Sakti karena Nala hanya memberikan ciuman tipis.


"Nantilah, Om. Di sini 'nggak aman. Papa Nala juga belum pergi kerja. Nanti kalo papa tiba-tiba nongol, gimana?" cerocos Nala khawatir.


Sakti menjimpit dagu lancip gadisnya. "Gak gimana-gimanalah sayang... paling Om bilang mau ngawinin anak gadisnya papa."


"Ye... Om bisa aja ngelawaknya." Nala memasang sabuk pengaman dan duduk dengan santai di atas kursi.


Sedangkan di dalam rumah, Nirmala tengah memperhatikan mobil mewah yang ditumpangi saudara kembarnya. "Itu kan, mobil om-om genit yang malem-malem nganterin Nala pulang?"

__ADS_1


"Ngapain loe, hah...?" Kedatangan Arman secara tiba-tiba membuat Nirmala terperanjat. "Loe iri ya karena kembaran loe dapetin cowok kaya? Kagak macem loe ... ngegaet cowok urakan, udah gitu madesu pula. Motornya aja vespa butut!" cibir Arman seraya berjalan menjauh.


Nirmala menghela napas. Dia hanya bisa beristighfar seraya mendoakan sang ayah, semoga suatu saat pria yang membeci dengan segenap hati bisa berbalik menyayanginya sepenuh hati.


...***...


"Kita udah sampai sayang." Sakti memakirkan kendaraannya di depan sebuah aula kampus. "Nanti pulangnya Om jemput ya. Soalnya lagi suntuk nih, butuh hiburan." Sakti mencolek hidung mancung Nala.


Gadis bersurai hitam melepas seat belt dan mencondongkan badan ke arah Sakti. Kemudian memberi cumbuan dahsyat, seperti yang sudah dia janjikan tadi. "Oke Om... Nala tunggu nanti siang jam dua ya."


"Sekali lagi dong, sayang...," Sakti menarik kepala Nala dan memagut bibirnya rakus.


Dari jarak seratus meter, terlihat seorang pemuda tengah mengintai dan bersembunyi di balik pohon. Dia menajamkan penglihatan, memperhatikan plat mobil yang tak asing di ingatan. "Itu kan, mobil papa. Ngapain papa ke kampus?"


Berselang sepuluh menit, keluarlah seorang gadis dari dalam kendaraan mewah tersebut. Dia merapikan rok mininya lantas memberikan kecupan jarak jauh. "Nala? Ada hubungan apa dia dengan papa?"


Mobil hitam dengan cat mengkilap, melaju pergi dari bangunan yang disinggahi. Sementara Nala, tanpa rasa curiga sedikit pun berjalan penuh percaya diri menuju kelasnya. Akan tetapi, cekalan tangan seseorang mengehentikan langkahnya.


"Bara, loe?" pekik Nala tersenyum lebar pada laki-laki idamannya. "Loe nungguin gue?" tanya Nala berbinar.


Bara mengeratkan cekalan tangannya. "Loe ada hubungan apa sama papa?"


Nala mengernyitkan dahi. "Pa-papa? Papa loe? Maksudnya om Sakti?"


Bara mengangguk tegas. "Iya, dia papa gue. Jangan bilang kalo loe simpanan papa gue?!"


Nala terkekeh, "Uh... Bara sayang, jadi cowok itu jangan kebanyakan mikir negatif. Om Sakti itu sugar daddy-nya kembaran gue. Gue cuman disuruh gantiin doang, soalnya kalo pagi-pagi dia pura-pura jadi apik abu. Nah kalo malem... keliatan deh wujud aslinya!"


"Loe jangan bicara sembarangan, Nala. Nirmala itu cewek baik-baik, bukan cewek macam loe. Cewek gesrek!!" geram Bara antara marah dan tidak percaya.


"Loe kenal sama Nirmala? Adik kembaran gue yang sok suci dan munafik itu?"

__ADS_1


...*****...


__ADS_2