Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Klub Malam


__ADS_3

Senja pergi, malam datang. Sudah menjadi sunatullah, semua silih berganti pada porosnya. Setiap waktu memiliki rahasia tersendiri karena menit bahkan detik adalah murni kuasa Illahi.


Seorang perempuan muda beserta ATM berjalannya tengah menghabiskan waktu di sebuah klub malam. Mereka asyik tertawa dan saling melempar rayuan seakan lupa bahwa malaikat sigap mencatat setiap amal perbuatan manusia. "Om... percaya nggak? Setelah sekian lama, Nala baru ngerasain lagi yang namanya mabuk! Nala terbang Om... pikiran Nala serasa bebas."


Sakti tertawa sembari memegangi botol minuman dan sama-sama dilanda mabuk berat. "Mabuk apaan sayang, mabuk Om-Om ya? Sini Om cium bibir tebel kamu."


Nala mendorong muka Sakti sembari mengacungkan jari telunjuk. "Ih... dasar Om mesum! Nyosor-nyosor terus. Nanti bibir Nala jadi dower disedot terus."


Sakti melumatt bibir gadis di depannya dengan rakus. Nala memberontak dengan memukul-mukul dada milik pria tua tersebut. "Udah dong Om, Nala susah napas nih. Om kepengen Nala mati ya...?"


Sakti lagi-lagi menyambar bibir Nala dan memagutnya lebih beringas. Tangan kanan menjelajah setiap lekuk tubuh sang gadis. Terdengar desahann kecil dari mulut mungil Nala dengan tubuh meremang karena sentuhan-sentuhan Sakti di beberapa titik sensitifnya.


"Jangan ke situ, Om!" Nala menangkis tangan Sakti dari area in-timnya. "Itu area terlarang. Gak boleh pegang-pegang!" Nala menggerakkan jari telunjuk di depan wajahnya.


Sakti mengangkat tubuh Nala ke atas pangkuannya dan langsung mencicipi buah mengkal yang tersaji di depan mata. Nala menggigit tipis bibir bawahnya menahan gairah yang semakin tak terkendali. "Ah... Om. Sudah, Om. Nanti kita kebablasan."


Sakti tidak mengindahkan rengekan Nala dengan terus saja menenggelamkan wajahnya di depan keindahan yang hanya terjamah oleh kekasih Nala dan dirinya. "Su-sudah, Om. Geli, Nala nggak kuat."


Pria beristri itu sudah lupa daratan, di dalam otaknya hanya ada nafsuu duniawi. Terlebih saat ini dia maupun Nala dalam kondisi sama-sama mabuk, akan menjadi hal yang menguntungkan bagi pria itu untuk menaklukan gadis muda tersebut. "Jangan ditahan sayang, nikmati aja. Nanti kamu pasti ketagihan!"


Di sisa kesadarannya, Nala masih berupaya melepaskan diri dari cengkeraman pria bangkotan tidak tahu malu. "Nggak Om. Kita nggak ada perjanjian sejauh ini. Lepasin Nala, Om!"


Nala meliuk-liukkan badannya dengan tangan menarik lengan Sakti agar terlepas dari tubuhnya. Sementara di tempat lain, Nirmala yang merasa tidak enak hati dadanya mendadak terasa sesak. Gelas yang dia genggam, tiba-tiba terlepas dan terjatuh ke atas lantai hingga pecah berkeping-keping. "Astaghfirullahal'adziim... kenapa perasaanku gak enak begini ya? Nala... kamu lagi apa? Lagi di mana?"


Di saat Nirmala tengah melamun, teriakan Arman membuat jantungnya melonjak kaget. "Heh... apa-apaan lu mecah-mecahin gelas gue? Lu mau ganti emang?"


"Astaghfirullah..." ucap Nirmala mengusap-usap dadanya. "Papa ngagetin aja," ucapnya lagi.

__ADS_1


"Lukira gue setan, pake istighfar segala?" kesal Arman. "Gue tanya itu gelas kenapa dibikin pecah? Bukan nyuruhlu ngucap!" tunjuk Arman pada serpihan benda kaca yang berserakan di atas lantai.


Nirmala melihat ke arah pecahan gelas tersebut dan mendesah pelan. "Maafin Mala, Pa. Mala cuman tiba-tiba keinget Nala. Jam segini kok, belum pulang juga ya?"


Arman berdecak, "Nggak usah lu ngerasa paling peduli sama Nala. Gue aja bapaknya, santuy-santuy aja tuh! Lu mah lebay jadi orang! Mendingan, elu pijitin gue sekarang dah!!!"


Nirmala mengangguk dan tidak berani membantah lagi. "Iya, Pa...."


Di waktu yang bersamaan di klub malam, Sakti masih asyik memainkan aset mengkal milik Nala. Tangannya pun semakin berani berkelana ke bagian tubuh inti gadisnya. Namun, aktifitas panas tersebut harus terjeda lantaran getaran dari ponselnya yang tidak jua berhenti sedari tadi. "Ahrgrrr... sialan!! Ini siapa lagi, ganggu orang lagi senang-senang aja?!"


Sakti mengeluarkan benda yang bergetar tersebut dari dalam kantong celana dan memijit gambar telepon berwarna hijau. "Hallo?"


Arum


Hallo, mas! Mas lagi di mana ini? Kok bising sekali?


Sakti


Arum


Mas, ini di rumah ada mami sama papi. Mereka menunggu mas dari tadi sore


Sakti


Ma-mami? Pa-papi? Kenapa gak ngabarin dari tadi? Dasar istri gak guna!!!


Arum

__ADS_1


Mas cek sendiri aja, aku dari jam berapa ngehubungin mas!!


Arum lebih dahulu memutus sambungan teleponnya, membuat Sakti naik pitam dan melempar botol berisi minuman ke sembarang arah. Nala sontak terkejut karena perubahan sikap Sakti secara tiba-tiba.


"Ke-kenapa, Om?" Nala merangkul kedua pundak Sakti. Pria itu mencampakkan lengan Nala dari atas bahunya. "Om-Om... jawab Nala, Om!!" teriak Nala sebab Sakti beranjak dari sampingnya lalu berjalan keluar ruang privat, meninggalkan Nala seorang diri.


"Om... kenapa Nala ditinggal sendiri, Om?!" pekik Nala, tetapi sia-sia karena pria beristri itu terus saja berjalan cepat meski langkahnya sedikit sempoyongan. "Ah... brengsekk!! Yang bener aja, gue ditinggal di sini sendirian? Mana ini minuman belum dibayar lagi!!" Nala memijit pelipisnya bingung.


Gadis bersurai hitam itu berdiri lalu merapikan pakaiannya yang acak-acakkan. Membetulkan tali tanktop dan menutup kembali resleting celana yang sempat dibuka paksa oleh Sakti. "Apes bener gue malam ini. Awas aja, besok gue bakalan ngasih perhitungan sama Om Sakti!!"


Nala berjalan tertatih sembari memegangi kepalanya yang terasa sedikit berputar. Dia berjalan ke arah cashier dan membayar semua minuman yang sudah habis ditenggak. "Jadi berapa semuanya?"


Wanita muda di depannya mengeluarkan bill pembelian tiga botol minuman. "Ini Mbak... total yang harus dibayar."


Nala melotot dan menelan ludah karena harga fantastis dari minuman yang dia teguk bersama Sakti. "Gila! Pantesan aja cuman minum sebotol gue udah keleyengan. Taunya Om Sakti pesen minuman mehong ini!!"


"Mba... uangku kurang, bisa gadain kalung aku nggak? Ini emas asli kok." Nala melepas benda yang melingkar di atas leher lalu memperlihatkan kepada wanita di hadapannya.


Cashier tersebut mendengus kasar. "Kalau nggak punya duit, nggak usah gegayaan minum di sini segala. Nongkrong aja di kaki lima, beli es limun!"


Seorang pria yang mengenakan jas hitam berjalan menghampiri Nala dan pegawainya. Dia mencolek wanita yang menggunakan rok span dan berbicara dengan suara berbisik. "Jangan jutek-jutek, cewek ini peliharaannya bos Sakti. Tar kalo dia ngadu, bisa-bisa kamu dipecat. Ayo sekarang minta maaf sama dia!"


"Ma-maafkan saya, Mbak..." ujar cashier pada Nala. Gadis di depannya mengerutkan dahi karena dibuat bingung oleh sikap cashier tersebut yang tiba-tiba ramah.


"Anda tidak perlu membayar nominal yang tertera di dalam bill karena semua tagihan akan kami kirimkan ke pak Sakti," sambung pria berjas hitam dengan tulisan manajer di atas dada sebelah kiri.


Nala mendesah lega sebab tidak jadi menggadaikan perhiasan emas peninggalan ibunya. "Huh... selamat...selamat...."

__ADS_1


...*****...


__ADS_2