
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nirmala pada seorang pelanggan yang baru saja datang.
Pelanggan yang mengenakan seragam putih biru tersebut, melihat-lihat ke arah etalase lalu menunjuk kue tart yang sekelilingnya dipenuhi lelehan cokelat. "Kak, kue yang itu berapa ya?"
Nirmala membungkukkan badan. "Oh tart yang ini. Harganya seratus lima puluh ribu, Dek."
Anak remaja tersebut diam sesaat dan kembali melihat-lihat. "Kalau yang kecil itu?"
Nirmala kembali membungkuk dan mengecek harga kue tart yang ditunjuk oleh anak laki-laki di depannya. "Kalau yang ini seratus ribu aja."
Terdengar suara desahann, anak remaja tersebut seperti tengah memikirkan sesuatu. "Kak, kalau tart yang harganya lima puluh ribu, ada nggak?"
Nirmala menyeringai tipis sembari geleng-geleng kepala. "Maaf Dek, nggak ada. Tart yang paling murah, harganya seratus ribu."
"..." Anak itu membuang napas panjang. Terlihat sekali kalau dia memendam kekecewaan.
"Kalau Kakak boleh tau, emangnya mau beli kue tart buat siapa?"
"Buat mama, Kak. Aku mau ngasih kejutan, soalnya hari ini beliau ulang tahun," ungkap anak remaja itu jujur apa adanya.
"Oh..." Nirmala manggut-manggut. "Kalau kamu mau, ambil aja!" seru Nirmala.
Di atas kening anak laki-laki tersebut muncul lipatan sebab ia dibuat bingung oleh perkataan Nirmala barusan. "Tapi uangnya kurang, Kak. Aku cuman punya lima puluh ribu."
Nirmala mengukir senyuman khasnya. "Nggak apa-apa. Biar sisanya nanti Kakak yang bayar."
"Ta-tapi, Kak?" Anak remaja itu merasa tidak enak hati.
"Nggak apa-apa, Dek. Kakak siapin dulu kuenya ya. Tunggu sebentar," pinta Nirmala. Dia berjalan ke arah lemari kecil lalu mengambil tas keresek. Dengan penuh kehati-hatian dia memasukkan kue tersebut ke dalam kantong tipis berwarna putih. "Ini Dek, ambilah..." Nirmala menyodorkan makanan tersebut dengan senyuman yang tak lepas dari bibir berwarna merah jambu.
__ADS_1
Anak remaja yang masih mengenakan seragam, ragu-ragu menyerahkan uang yang dia genggam kepada Nirmala. Selain nominalnya tidak mencukupi, ternyata uang yang ia miliki adalah pecahan dua ribu rupiah. "I-ini Kak uangnya. Maaf, recehan...."
Nirmala mengambil lembaran uang tersebut menggunakan kedua tangannya. Meski pelanggan yang dia layani usianya lebih muda darinya. Namun, dia tetap bersikap sopan dan juga ramah. "Uangnya pas ya, lima puluh ribu."
"Terima kasih banyak ya Kak... semoga Allah membalas kebaikan Kakak." Anak laki-laki tersebut mendoakan Nirmala dengan tulus.
"Aamiin ya Allah... sama-sama ya, Dek..." balas Nirmala. "Terus bahagiakan mamamu, jadilah anak yang berbakti juga berprestasi, oke!" tambah Nirmala dengan mata berkaca-kaca. Sebab selama ini gadis itu tidak pernah merasakan bagaimana lembutnya sentuhan kasih sayang seorang ibu.
Arum yang tengah memonitori Nirmala dari balik layar komputer, terus saja mengulum senyuman. Terlihat sekali kalau dia mulai menyukai gadis berjilbab itu. "MasyaAllah... gadis ini benar-benar baik. Nggak salah saya mempekerjakan dia di sini. Apalagi ternyata, dia juga dekat dengan Bara. Siapa tau 'kan, jadi jembatan buat saya untuk bisa dekat dengan Bara."
Sudah menjadi kebiasaan Arum apabila ada karyawan baru yang bekerja di bakery miliknya, dia akan memperhatikan gerak-gerik mereka melalui rekaman cctv. Dia ingin melihat sejauh mana pekerjanya memperlakukan para pelanggan dan satu hal yang terpenting adalah secara tidak langsung dia bisa mengetahui mana pegawai yang jujur dan bisa dipercaya, mana yang malah sebaliknya.
...****...
Sore hari ketika orang lain masih dengan aktifitasnya masing-masing, berbeda dengan pemuda yang tengah dirundung gelisah. Rasa cemburu yang menerkam jiwa, telah menggeser prasangka-prasangka baik menjadi kecurigaan dan keraguan.
"Huh... bego, bego, bego...!!" Bara memukul-mukul kepalanya sendiri. "Lu bego, Bara. Cuman gara-gara si Zain manas-manasin, otaklu langsung kebawa emosi!" sesal Bara merasa bersalah. Padahal seharusnya dia lebih bisa menahan perasaannya demi penyelidikan yang belum menemukan titik terangnya.
"Gue harus minta maaf sama Nirmala! Bener-bener, gue harus minta maaf!" gumam Bara. "Nirmala jam segini pasti masih di toko tante Arum, gue nyusul ke sana aja kalau gitu!" Bara bangkit dari atas bangku menuju tempat parkir yang berada di belakang taman kota.
Pemuda yang mengenakan jaket jeans belel, berjalan tergopoh-gopoh. Dia tidak sengaja menabrak seorang perempuan yang tak asing di indra penglihatannya. "Nirmala?"
Perempuan tersebut menutupi wajahnya dan melengos dari hadapan Bara. Namun, pemuda berkulit eksotis itu terus saja membuntuti gadis yang sangat dikenalnya tersebut. "Nirmala, hey... ini aku Bara!"
Gadis yang mengenakan jilbab ungu gelagapan dan tidak berani menatap wajah Bara. Ia memutar badannya dan melanjutkan langkah, berjalan tergesa-gesa. Akan tetapi, Bara sigap mencekal lengannya. "Kenapa kamu menghindar dariku, kamu masih marah?"
Bara menatap netra mata gadis itu, warnanya lain dari yang pernah dia lihat sebelumnya. "Bola mata Nirmala cokelat muda, sedangkan mata ini cewek berwarna cokelat pekat. Ah... itu artinya dia ini Nala, bukan Nirmala."
Gadis yang menutupi jati dirinya dengan mengenakan kerudung, menarik lengannya dari cengkeraman Bara. "Maaf, bukan muhrim! Aku udah ditungguin papa. Jadi, maaf nggak bisa berlama-lama."
__ADS_1
Bara melepaskan lengan gadis itu, membiarkannya berjalan sejauh mungkin. Setelah memberi jarak, dia lekas-lekas berlari ke arah parkiran dan mengenakan helm. Dia menghidupkan mesin motor, bergegas untuk membuntuti kembaran Nirmala tersebut.
Sementara itu, Nala berjalan cepat sembari berulang-ulang kali menoleh ke belakang. Dia mengusap-usap dada karena Bara tidak mengekorinya. "Ya ampun... kenapa juga mesti ketemu Bara di sini sih?"
"Kenapa sayang, Om dengar kamu nyebut-nyebut nama Bara?!" Sakti yang berdiri tidak jauh dari gadis itu, mengejutkan dengan pertanyaan yang tiba-tiba.
"Astaga... Om ngagetin Nala aja!" protesnya mengusap-usap dada kembali. Dia menarik tangan Sakti menuju tempat di mana kendaraan roda empatnya terparkir. "Om... ayo kita buru-buru pergi dari sini. Tadi aku ketemu sama temen kuliah!"
Sakti bersikap santai. "Emangnya kenapa kalau ketemu temen kuliah, malu? 'Kan kamu pake jilbab, mereka gak bakalan nyangka itu kamu kok!"
Nala menggaruk kepalanya tidak gatal. "Iya sih, Om. Tapi tadi Nala ketemu sama cowok—"
"Cowok siapa?" potong Sakti. "Cowok kamu, ya?" Sakti cemburu.
"Bu-bukan cowok Nala, Om. Tapi gebetan!" Nala terkekeh. Kelopak matanya terbuka sempurna lantaran melihat sesosok laki-laki yang tiba-tiba menghilang dari hidupnya. "Boy? Pantesan aja dia susah dihubungin. Rupa-rupanya lagi jalan sama tante-tante girang!!"
"Kamu ngelihatin apaan sih, sampek terbengong-bengong kaya begitu?" protes Sakti karena merasa diabaikan. "Oh... pantesan aja, ada cowok ganteng. Mata kamu langsung jelalatan!"
"Cowok itu pacar aku, Om. Dia jalan, bareng nini-nini peot!" geram Nala.
Sakti terkekeh, "Apa bedanya sama kamu sayang? Kamu juga jalan sama aki-aki, 'kan?"
Nala mendelik, malas untuk menanggapi perkataan Sakti yang menohok perasaannya. Dia masuk ke dalam mobil dan memilih untuk diam seribu bahasa.
Sementara itu dalam jarak beberapa meter, Bara sudah bersiap untuk mengikuti dan menangkap basah pasangan beda generasi tersebut. Meski laki-laki tua itu ayahnya, rasa hormat hilanglah sudah. Yang tersisa kini hanya rasa malu juga jijik atas kelakuan Sakti.
"Papa... Nala... mari kita bermain!!"
...*****...
__ADS_1