
...Wanita seindah mutiara, begitu terjaga dan istimewa. Karena tak mudah ia tercipta dan tak mudah ia terjamah. Jangan sampai keindahan itu, berubah bak pasir yang tiada harganya. Karena tak bisa menjaga diri dari godaan nafsu duniawi....
...*****...
Di saat hati resah, hanya satu tempat berkeluh kesah. Di mana hanya ada Sang Khalik dan makhluk-Nya. Di antara takbir, dalam rukuk dan sujud. Menggambarkan sebuah penghambaan dari diri yang lemah.
"Nirmala!!" pekik Nala ketika saudara kembarnya itu tengah menunaikan salat isya. "Nirmala, gue manggil loe, tuli!!" geram Nala lantaran Nirmala tidak menyahutnya dan lebih memilih untuk meneruskan rakaat ke-empat.
Nirmala membungkukkan badannya (rukuk). Nala menyeringai, dia menendang bokong Nirmala hingga gadis itu tersungkur tanpa bisa menahan beban tubuh. Nala terbahak-bahak melihat Nirmala tersuruk ke atas lantai. "Rasain tuh, bibir jontor gara-gara nyium marmer! Makanya kalo gue manggil itu ya dijawab, bukannya pura-pura budeg!!"
Nirmala mengepalkan telapak tangan, dia bangkit untuk berdiri dengan pundak naik turun karena napas yang memburu. "Apa kamu buta, Nala?"
__ADS_1
Gadis yang mengenakan mukena putih, membalikkan badan. Dia berjalan mendekat dan mendorong dada Nala sekuat tenaga. "Apa kamu nggak bisa nunggu aku selesai salat, Nala? Sehitam itukah hatimu, sampai-sampai aku yang lagi salat pun kamu tendang?"
"Jawab!!!" bentak Nirmala. Dia kembali menjorokkan tubuh Nala, membuat punggung saudaranya itu menghentak kasar daun pintu yang terbuka. Nala terperangah sebab baru pertama kali melihat Nirmala sedemikian murka.
Arman yang mendengar suara hantaman keras, dia bergegas menaiki anak tangga menuju kamar Nirmala. Mendapati tubuh Nala menggelangsar di depan pintu, bola mata Arman terbuka dengan sempurna. "Loe ngapain anak gue, hah?"
Pria yang hanya bisa menyalahkan, tanpa ingin tahu dan peduli siapa yang benar dan siapa yang salah. Dia menarik mukena lantas melepasnya dari kepala Nirmala. Arman seketika gelap mata, dia mencari benda tajam lanjut mengoyak-ngoyakkan kain berwarna putih lusuh milik putrinya tersebut.
"Pa... jangan Pa, itu satu-satunya peninggalan mama yang Mala punya!" sergah Nirmala melihat Arman menggunting kain di tangannya. "Pa... tolong kembalikan mukena itu pada Mala," isak Nirmala. Meski terdengar teramat pilu, tetapi tidak sedikit pun menggetarkan hati seorang Arman.
"Halah... lebay loe jadi anak! Bayar kuliah aja loe mampu, masa beli mukena doang kaga sanggup?!" cibir Arman yang tidak bisa mengerti perasaan putrinya.
__ADS_1
"Hanya itu peninggalan dari mama yang Mala punya, Pa. Bahkan sampai Mala berusia dua puluh tahun, Mala nggak pernah sekali pun melihat wajah mama. Karena Papa membuang semua foto dan kenangan soal mama," ungkap Nirmala sakit hati. "Sampai kapan Papa akan membenci Mala, anak kandung Papa sendiri?" lirih Nirmala dengan suara sengau.
Arman menelan ludah dan melihat ke arah Nirmala dengan tatapan menusuk. "Dengarkan ini baik-baik! Kebencian gue sama loe si anak pembawa sial, akan gue bawa sampai ke liang lahat!"
Nirmala memandang tak percaya. Sebenci itukah sesosok ayah yang seharusnya menjadi pelindung bagi anak perempuannya. Sosok yang semestinya mengayomi dan memberikan kasih sayang tanpa syarat. Bukan menebar kebencian yang sebenarnya tak beralasan.
"Satu lagi, gue paling nggak suka loe nyakitin anak gue, Nala. Sekali lagi gue lihat loe bikin Nala celaka, gue nggak akan segan-segan buat ngusir loe dari rumah gue!!" ancam Arman seraya membawa Nala keluar dari kamar Nirmala.
Gadis berambut pendek menoleh sesaat ke arah Nirmala sembari mengacungkan jari tengah. "Mampuss loe!"
Nirmala mendesah, dia merapikan mukena yang sudah terkoyak menjadi beberapa kepingan dan berserakan di atas lantai. "Ya Allah... Mala udah nggak punya kenangan apa pun dari mama. Mala mohon, sekali... saja pertemukan Mala dengan mama, meski hanya lewat mimpi."
__ADS_1
...*****...
...Ilham hilang terus, maafkan 😭😅🙏🙏...