
"Gimana, udah selesai registrasinya?" Pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulut seseorang, mengejutkan Nirmala. Gadis itu mengusap-usap dada karena jantungnya melonjak kaget.
"Astaghfirullahal'adziim... Bara!!!" pekik Nirmala kesal. Kamu ini kenapa usil terus, sih? Kalau aku jantungan, gimana?" omel Nirmala.
Pemuda yang menunggu sejak tadi di samping pintu hanya cengengesan menanggapi kekesalan Nirmala. Tidak tahu mengapa, dia seakan semakin tertantang untuk membuat Nirmala naik pitam. Karena dengan cara itulah, dia bisa sering mendengar suara lembut gadis pujaannya.
Wajah Nirmala memerah padam sebab Bara menatapnya tanpa berkedip disertai senyuman tipis, setipis kumis. Gadis berkerudung biru itu memilih melengos dan pergi dari hadapan Bara untuk sesegera mungkin. Akan tetapi, Bara mencekal tangannya.
"Mau ke mana? Aku nungguin kamu dari tadi di sini, mau ditinggal gitu aja?" protes Bara dan perlahan melepas tangan Nirmala karena gadis itu menatap tidak suka ke arahnya.
Nirmala menelan saliva dan berkata dengan ketus untuk menutupi rasa sungkannya. "Aku mau pulang, memangnya mau ke mana lagi? Lagian aku bukan perempuan yang suka keluyuran."
"Aku antar ya?" tawar Bara.
Nirmala menggeleng. "Makasih banyak tawarannya, tapi aku bawa motor sendiri kok."
"Aku ikutin dari belakang deh, buat mastiin kamu selamat," tawar Bara lagi bersikukuh.
"Nggak usah... aku biasa ke mana-mana sendiri," tolak Nirmala berjalan tergesa-gesa.
"Ayolah Nirmala...," Bara masih berusaha membujuk Nirmala.
Gadis bermata bulat itu menghentikan langkah dan melihat ke arah Bara dengan sudut matanya. "Stop di situ, jangan ikuti aku lagi! Atau aku akan benar-benar marah!!"
Bara akhirnya menyerah dan berhenti membuntuti Nirmala. Menatap punggung itu seraya berteriak. "Nirmala hati-hati di jalan ya. Tiga hari lagi kita akan bertemu!"
__ADS_1
Nirmala menoleh sesaat dan kembali melajukan kakinya ke arah di mana motornya terparkir. Namun, alangkah terkejutnya gadis itu ketika sampai di tempat parkir, mendapati roda motornya tanggal satu. Nirmala melihat ke sana ke mari kebingungan kenapa roda motornya bisa menghilang.
"Ya Allah... motorku kenapa bisa begini?" Nirmala menggulirkan kepala mencari siapa pun yang bisa dimintai tolong, tetapi dia tidak menemukan seorang pun di sana. "Gimana aku bisa pulang kalau motorku kaya begini?"
Di saat Nirmala tengah kebingungan, terdengar tawa membahana dari mulut seorang perempuan. Nirmala sontak menoleh karena mengenali suara tersebut. "Nirmala... Nirmala... apa mata loe buta? Lihat ke sekeliling, motor loe itu nggak layak ikut berjejer di sini!"
"Jadi ini kerjaan kamu, Nala?" Nirmala menyalang kesal dan berjalan mendekat ke arah kembarannya.
"Iya itu kerjaan gue, trus loe mau marah?" Nala menarik ujung jilbab Nirmala, kebiasannya agar adiknya itu tidak berkutik. Namun, apa yang dia perkirakan salah besar. Nirmala membalas dengan mendorong dada Nala hingga gadis arogan itu tersungkur ke tanah. Teman-teman Nala memekik riang dan tidak ada satu pun yang membantunya untuk berdiri.
"Lihat Nala... bahkan ketika kamu lagi butuh bantuan, teman-teman yang kamu banggakan ini, nggak ada yang mau nolongin. Mereka nggak peduli, yang ada malah menyoraki!"
Nala segera bangkit dan langsung menyerang Nirmala dengan perlakuan yang sama. Sekuat tenaga dia menyorongkan tubuh saudara kembarnya itu. Beruntung, tangan seseorang menahan punggung Nirmala.
"Kamu nggak apa-apa, 'kan?" Bara menegakkan kembali tubuh Nirmala yang hampir saja terjungkal. Dia menghampiri Nala lantas melayangkan pukulan ke atas pipi gadis di depannya.
"Nal... Nala!!" panggil Nirmala karena mengkhawatirkan saudaranya itu. "Tunggu aku, Nala!" Nirmala berniat mengikuti Nala, akan tetapi Bara menahannya.
"Lepasin!!" Nirmala menarik tangannya dari cengkeraman Bara. "Kamu harusnya bersikap lembut sama Nala, jangan main tampar gitu aja! Dia kembaran aku, dia sakit aku juga ikut sakit!!"
Bara mendengkus. "Iya, maaf... aku cuman gak suka kalau kamu disakitin kembaranmu itu."
"Kamu harusnya minta maaf sama Nala, bukan sama aku!" Nirmala menarik mundur langkahnya karena Nala sudah berada jauh. Dia juga teringat akan motor bututnya yang rusak. Bola mata Bara mengikuti ke mana arah Nirmala berjalan.
"Motormu kenapa?" tanya Bara karena melihat ada yang tidak beres dengan kendaraan roda dua milik Nirmala.
__ADS_1
"Rodanya hilang!" ketus Nirmala.
"Kenapa bisa? Jangan bilang kalau ini kerjaan kembaranmu yang gak tau diuntung itu!" geram Bara karena kini kesabarannya mulai terkikis.
Nirmala terbungkam seraya memilin kepalanya bingung. Sehingga dia tidak mengindahkan cerocosan Bara karena memikirkan nasib motornya itu. "Gimana aku bisa pulang?"
Bara yang mendengar Nirmala tengah bermonolog, langsung saja menawarkan diri. "Kalau kamu kuantar pulang, gimana? Nanti biar aku minta tolong teman-teman buat mencarikan roda motormu yang hilang."
Nirmala mengiyakan tawaran Bara karena tidak ada pilihan lain, uang yang dia miliki sudah habis dibelikan bensin tadi pagi. "Aku merepotkan terus jadinya. Tapi nanti turunin aku di rumah bu Ina aja ya, aku takut papa udah pulang. Kamu tau sendiri 'kan papa orangnya seperti apa?!"
"Beres!!" Bara mengacungkan dua ibu jari. Dia menelepon rekan-rekannya untuk membantu mencarikan roda motor milik Nirmala. Sedangkan dia mengantarkan gadis itu terlebih dahulu dan setelahnya kembali ke kampus.
...***...
Sesampainya di kediaman bu Ina, Bara melesat pergi karena harus bertolak kembali ke kampus. Yusuf yang tidak sengaja memergoki Nirmala diantar oleh Bara, matanya berapi-api. Dia menghampiri gadis tersebut dan mengungkapkan apa yang tersirat di dalam hati.
"Neng, kok makin lengket aja sama itu cowok? Abang 'kan jadi cemburu," ungkap Yusuf tanpa malu-malu.
Nirmala memutar kepala, menatap heran pemuda di sampingnya. "Apaan sih Bang, pake cemburu-cemburuan segala? Bang Yusuf 'kan udah Mala anggap kakak sendiri."
Rasa lelah dan pikiran yang tak tenang karena perbuatan Nala tadi, Nirmala memilih untuk mengacuhkan Yusuf dan menarik langkah menuju rumahnya yang berjarak 50 meter. Yusuf menatap nanar sang gadis idaman hati dan spontan berteriak membuat Nirmala terpaku tak bergerak.
"Harusnya kamu tau, Nirmala. Selama ini aku gak pernah nganggap kamu seperti adikku sendiri. Karena aku cinta sama kamu dari dulu, semenjak kita masih kecil! Dan perasaanku tidak pernah berubah sampai detik ini!" teriak Yusuf yang membangunkan bu Ina dari tidur siangnya.
Wanita paruh baya itu bergegas mencari tahu apa yang tengah terjadi. Matanya berkaca-kaca lantaran dia kini mengetahui dengan pasti kalau putra semata wayangnya itu menaruh hati kepada Nirmala. Bukan tanpa sebab, bu Ina menangis karena dia sadar diri. Sadar siapa dia, siapa Yusuf dan siapa Nirmala. Keduanya berbeda kasta, keluarga Susanto tidak selevel dengan mereka yang hanya penjual nasi uduk.
__ADS_1
...*****...