
"Pa...! Papa...!" teriak Nala dari halaman rumah. "Pa... keluar, Pa..." teriaknya lagi menggemparkan semua orang.
Para tetangga berduyun-duyun berdatangan karena mereka kira ada sesuatu terjadi pada gadis yang berteriak sedemikian rupa. "Ada apa Neng, teriak-teriak. Ada maling?"
"Mana malingnya, Neng? Sini biar saya hajar pake sodet!" timpal ibu-ibu yang lain.
Nala mencebikkan bibir dan berbicara sangat sinis. "Apaan sih, norak! Lagian siapa juga yang bilang ada maling? Nih ibu-ibu, aku cuman manggil papa soalnya ada mas-mas ini nganterin mobil baru...."
"Eh, Neng ... apa nggak pernah diajarin sopan santun ama bapakmu? Bicara ama yang lebih tua gak ada sopan-sopannya!" tegur si tetangga sebelah rumah. "Baru kebeli mobil murah aja, udah belagu!" tambahnya lagi kesal.
"Rempong deh, emak-emak! Lagian ngapain ngurusin anak orang, sih? Tuh urusin anak sendiri!" ketus Nala berkacak pinggang.
Arman akhirnya keluar dari rumah karena mendengar keributan dari arah halaman. Dia menautkan kening seraya menatap tetangganya secara bergantian. "Ada apa ini rame-rame di rumah gue? Pagi-pagi udah bikin rusuh aja ini emak-emak!"
"Pantesan si Nala ini songong bener anaknya, emang nurun langsung sifat bapaknya!" ungkap ibu-ibu yang mengenakan daster biru. "Beda bener sama neng Nirmala. Udah baik, cantik, sopan juga anaknya," tambah si ibu memanas-manasi.
Arman memutar keran dan mengangkat selang untuk dia semburkan ke arah para tetangga. Semuanya berhamburan pergi sembari menjerit-jerit. Tak luput dari mulut-mulut mereka lontaran cacian kekesalan. "Awas aja kamu Arman! Kalau suatu saat kamu sama anakmu itu kesusahan ... gak bakalan kami sudi ngebantu kalian. Cuihhh!!!"
Nala melambaikan tangan ke arah ibu-ibu. "Dadah emak-emak rempong! Seger 'kan, pagi-pagi udah kena guyur? Makanya gak usah kepo ama urusan orang!"
Salah satu tetangga yang membawa sodet, dia melemparkan benda itu ke arah Nala. "Kalau bukan karena kamu teriak-teriak gak jelas, gak mungkin juga tetangga pada datang ke mari. Awas aja, kalau suatu saat kamu sama bapakmu itu minta tolong, nggak akan kami tolongin. Penghinaan kalian bakal kami inget seumur hidup!!"
Nala memainkan ujung kuku jari tengah dan menyahuti ucapan lawan bicaranya. "Udah ngomongnya? Kalau udah, pergi sana! Hus... hus... hus...."
Semua orang menggeleng-gelengkan kepala tidak habis pikir dengan perangai Nala dan juga ayahnya. Satu per satu dari mereka membubarkan diri dengan mulut komat-kamit melontarkan makian juga umpatan. "Amit-amat jabang bayi, mudah-mudahan anakku gak kaya si Nala!"
"Ih... keluarga stress emang! Kalau bukan karena si Nirmala, ogah gue peduli sama bapak dan anak songong itu!"
__ADS_1
"Gue doain si Arman bangkrut! Biar gak terus-terusan besar kepala jadi orang!!"
Begitulah umpatan demi umpatan yang ditujukan pada Arman juga Nala. Namun, keduanya nampak masa bodoh, seolah tidak akan pernah membutuhkan pertolongan dari siapa pun. Seakan mereka bisa menggali dan menguburkan diri sendiri bila suatu saat ajal menjemput.
"Udah Nal, gak usah peduliin tetangga kurang piknik!" Arman merengkuh pundak anak sulungnya. "Mending kamu cek mobil pemberian Papa," saran Arman pada putrinya.
Nala mematung dengan kedua tangan menyilang di atas dada. "Emang ini mobil murah ya, Pa? Berapa sih harganya? Nala malu tau Pa, dikatain mobil murah!"
Arman mendengkus dan menepuk-nepuk pundak Nala. "Makanya... Papa bilang gak usah peduliin omongan ibu-ibu. Mereka itu ngiri sama kamu. Mobil 300 juta aja dibilang murah. Padahal mereka sendiri gak mampu beli!"
Wajah yang semula bermuram durja kini tiba-tiba berbinar ceria. "Makasih ya Pa... meski sebetulnya Nala pengen mobil yang harganya 1 M. Tapi nggak apa-apa deh, mobil ini bagus juga."
Arman mengusap pucuk kepala putrinya. "Doain Papa dapet tender gede-gedean, makanya. Biar bisa beliin mobil apa yang kamu mau."
Nala melingkarkan tangan ke pinggang ayahnya. "Iya Pa... Nala selalu ngedoain Papa kok, tiap hari."
Nala mengangguk lalu melepaskan pelukannya dan menghampiri mobil berwarna merah mentereng yang terparkir di depan halaman rumah. Dia masuk ke dalam kendaraan baru miliknya, dengan mata menilik setiap inci seraya tangan meraba-raba setiap jengkalnya. "Ini keren, Pa. Nala suka!!"
Arman membungkukkan badannya. "Syukurlah kalau kamu suka, Papa seneng dengarnya."
"Makasih ya, Pa..." ucap Nala memutar-mutar kemudi. "Pa, mintain kuncinya dong!" suruh Nala pada ayahnya.
Arman mengangguk dan menghampiri pria yang mengenakan topi. "Mas, anak saya mau test drive nih, kuncinya mana?"
Pria tersebut mengeluarkan benda berwarna hitam dari dalam sebuah box. "Ini Pak, kuncinya. Dan ini nota pembelian serta pengantaran barang. Tolong ditanda tangani kalau udah selesai ngetes mobilnya."
Arman manggut-manggut dan mengambil benda serta kertas yang disodorkan lelaki di depannya. "Oke, anak saya nyobain dulu mobil ini. Kalau udah, baru saya nanda tanganin nota pengantaran barang."
__ADS_1
Pria bertopi menganggukkan kepala, mengiyakan perkataan Arman. "Baik, Pak... tenang saja. Cek betul-betul dulu kendarannya."
Arman turut masuk ke dalam mobil, membersamai Nala yang akan mencoba mobil barunya keliling komplek. Selama melajukan mobil barunya, gadis manja itu menyalakan klakson terus-menerus mengganggu pengguna jalan lainnya. "Ini bener-bener menyenangkan, Pa! Nala bisa bebas clubbing tiap malam dong, kalo kaya gini?"
Biasanya Aman langsung menyetujui permintaan Nala, tetapi tidak dengan kali ini. "Papa harap mulai sekarang, kamu kurangin nongkrong-nongkrong gak jelas. Papa pengen kuliahmu lebih sukses ketimbang Nirmala."
Nala berdecak sebal. "Papa nggak asyik ah! Kok jadi tiba-tiba kolot kaya gini?"
"Bukan kolot, cuman Papa pengen kamu ngalahin Nirmala. Inget ya perjanjian kita, kalau semester ini nilai kamu di bawah Nirmala ... Papa sita mobil baru kamu ini!"
Nala memutar bola matanya. "Iya-iya... aku ingat kok, Pa! Bahkan sangat ingat! Cerewet nih, Papa!"
Setelah berputar-putar menguji mobil yang dibelikan oleh ayahnya, Nala menepikan kendaraan tersebut di depan rumah lanjut mematikan mesinnya. Dia keluar berbarengan dengan Arman.
"Bagaimana Pak, mobilnya. Oke?" tanya pegawai dealer yang mengantarkan mobil tersebut. "Apa ada kekurangan? Ada komplen? Tapi saya bisa memastikan kalau mobil ini pasti sangat memuaskan karena memang masih baru," ungkapnya pada Arman.
Arman melemparkan pertanyaan tersebut kepada putrinya. "Gimana, Nal? Tadi pas nyobain mobil, ada keluhan nggak?"
Alis Nala saling bertautan, menandakan bahwa dia tengah berpikir. "Em... nggak ada Pa. Mobilnya udah oke. Interiornya juga Nala suka."
Arman mengeluarkan nota pengiriman barang dari dalam saku lalu menandatanganinya. "Ini Mas... udah saya tanda tangani."
Pegawai dealer meraih kertas yang sudah ditanda tangani oleh Arman kemudian mengulurkan tangan untuk berjabatan. "Terima kasih banyak, Pak. Kami tunggu pembelian berikutnya."
Pria berkaca mata menganggukkan kepala. "Baik... sama-sama, Mas."
Selepas kepergian lelaki yang mengenakan kemeja berwarna merah dan putih, perhatian Nala kembali pada mobil barunya. Dia terus saja mengelus-elus benda berwarna merah tersebut, sesekali menciuminya dan menyandarkan kepala seakan tengah bermanja-manja dengan seorang kekasih.
__ADS_1
...*****...