Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Bara vs Yusuf


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Bara terus saja tersenyum. Dia belum pernah merasakan bahagia seperti ini sebelumnya. Tidak sedikit pun terbayang olehnya pertemuan yang bisa membuat dia berada dekat dengan sang gadis pujaan.


"Rumahmu di mana, Nirmala?" Bara yang tiba-tiba bertanya meremukkan lamunan Nirmala.


"Rumahku gak jauh dari toko bunga uni Ara. Di Komplek Permata Biru Blok B2," jawab Nirmala detail. "Tapi antarkan aku ke warung nasi di ujung jalan sana saja," tunjuk Nirmala pada bangunan berjejer.


"Oke!" jawab Bara singkat.


"Ngomong-ngomong... bukannya komplek tempat tinggaImu itu termasuk perumahan elite ya?" tanya Bara penasaran.


"I-iya... katanya sih gitu," jawab Nirmala kikuk.


Bara terkekeh, "Kamu lucu sekali Nirmala. Tapi kalau kamu ditinggal di sana yang dominannya orang berada, kenapa kamu harus capek-capek kerja di tempat si Uni?"


Nirmala terdiam, dia paling tidak suka kalau masalah privacy-nya dipertanyakan orang lain terlebih oleh seseorang yang baru dikenalnya. "Gak apa-apa, dari pada diem terus di rumah. Bosan."


"Emangnya kamu gak kuliah?" tanya Bara lagi mengganggu suasana hati Nirmala. Dengan kediaman gadis di belakang punggungnya, Bara memilih untuk tidak bertanya apa-apa lagi. "Warung nasi yang ini, bukan?" Bara menghentikan motor Nirmala di depan bangunan berwarna biru.


Nirmala menarik kepalanya. "I-iya warung ini. Maaf... tadi aku sedikit melamun."


Yusuf yang melihat Nirmala datang bersama lelaki asing tentu saja hatinya bergejolak tidak karuan. Antara cemburu, marah dan merasa heran. Sebab baru kali ini gadis itu bersama seorang laki-laki.


"Loe siapa?" tegur Yusuf pada Bara. Dia memperhatikan pemuda di hadapannya dari atas hingga ujung kaki. "Eh busyet... gantengan dia ke mana-mana. Mana dari penampilannya keliatan banget dia ini orang kaya. Lah gue ... gue mah cuman anak penjual nasi uduk."


"Gue temannya Nirmala ... tadi gak sengaja bertemu di jalan. Dia habis keserempet mobil," jelas Bara yang tidak ingin pria di depannya salah sangka.


"Ke-keserempet mobil?" pekik Yusuf terkejut. Tatapannya beralih ke arah Nirmala. "Neng, bagian mana yang sakit? Kepala? Tangan? Kaki? Kita ke dokter aja yuk...."


"Aku gak apa-apa, Bang. Cuman kaki aja yang sakit, tapi ini udah enakan kok," jelas Nirmala karena Yusuf terlihat sangat panik.


Yusuf manggut-manggut. "Sini, Abang bantu turun dari motor!"

__ADS_1


Nirmala ingin menolak dan di waktu yang bersamaan Bu Ina keluar dari dalam warung. "Suf, biar Neng Mala sama Emak aja. Kamu beli parem kocok ke warung si Engko, gih."


"Iya, Mak..." balas Yusuf lemas. Dia meminta kunci motor Nirmala dan Bara menyerahkannya. Pemuda yang tengah cemburu menatap tajam memperlihatkan ketidak sukaan.


"Sini Neng, Ibu bantu turun." Bu Ina merangkul Nirmala dan memapah gadis itu ke dalam rumah. Sementara Bara masih berdiam diri di tempatnya, bersitegang dengan Yusuf yang belum juga beranjak. Hingga suara teriakan bu Ina memaksa putranya tersebut untuk lekas-lekas pergi.


"Suf... cepet beliin parem kocok! Kasian ini Neng Mala...!"


"Iya, Mak... ini Yusuf pergi...!!" sahut Yusuf lantas menaiki motor dan menggerung-gerung suara gas.


Bara hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan pemuda di depannya. "Siapa laki-laki ini, apa dia pacarnya Nirmala?"


Bara tenggelam dalam pikirannya sendiri, sampai-sampai tidak menyadari kalau bu Ina sudah berdiri tepat di depannya. "Dek... ayo masuk!"


Bara terperanjat. "Eh... iya Bu...."


Pemuda yang mengenakan setelen kaos dan celana jeans belel mengikuti bu Ina untuk masuk ke dalam rumahnya. Dia duduk di kursi kosong yang posisinya berhadap-hadapan dengan Nirmala.


"Ah... nggak usah repot-repot, Bu. Saya juga nggak akan lama kok. Hanya mengantarkan Nirmala pulang saja," tolak Bara atas tawaran bu Ina. Namun, bu Ina tetap masuk ke dalam dapur lantas membawa dua gelas berisikan air putih.


"Diminum, Dek." Bu Ina menyimpan gelas-gelas tersebut di atas meja.


"Terima kasih, Bu..." ucap Bara sopan.


Bu Ina mengangguk. "Sama-sama...."


Bara melirik ke arah Nirmala yang tengah terpejam dengan kaki ditopang sebuah bangku kayu. "Oh iya... kamu masih ingat kan, mobil yang menyerempet tadi. Mobilnya warna apa, plat nomornya berapa?"


Nirmala mengangguk. "Ingat... aku masih sangat ingat."


"Boleh aku tau? Biar nanti aku bantu buat mencari identitas penyerempet itu. Karena dia harus mempertanggung jawabkan kesalahannya," kata Bara yang berniat untuk meneruskan kasus ini kepada pihak yang berwenang.

__ADS_1


Nirmala menghela napas. "Gak apa-apa, aku nggak mau memperpanjang masalah ini. Lagi pula aku yakin kok kalau mobil tadi gak sengaja menabrak motorku."


Bu Ina menggenggam tangan Nirmala. "Neng... Emak tau persis kamu kaya gimana. Kamu terlalu baik jadi orang. Tapi adakalanya kita harus bersikap tegas pada sebuah kesalahan. Jangan sampai membiarkan orang tersebut melakukan hal yang sama pada orang lain."


Nirmala menatap lekat bu Ina lantas melirik ke arah Bara sesaat. Dia mencerna setiap apa yang wanita paruh baya itu katakan kepadanya adalah sesuatu yang benar.


"Baiklah Mak... Nirmala nurut apa kata Emak." Gadis itu mengambil sebuah buku catatan dari dalam tas dan menuliskan nomor plat kendaraan yang sudah membuatnya celaka. "Ini nomornya, mobil pelaku berwarna hitam." Nirmala menyerahkan selembar kertas kepada Bara.


Bara membaca catatan tersebut sekilas lantas memasukkannya ke dalam dompet. "Baiklah... saya pamit pulang dulu, Bu... Nirmala...."


"Makasih sekali lagi..." jawab Nirmala tersenyum tipis.


Bara mengangguk dan menarik diri dari dalam rumah bu Ina. Wanita paruh baya itu mengantarkan Bara hingga ke depan rumah. "Terima kasih ya Dek, udah menolong anak Emak."


"Sama-sama, Bu..." jawab Bara.


Bu Ina cingak cinguk karena baru menyadari kalau pemuda yang berdiri di depannya itu datang bersama Nirmala. "Ibu lupa ... di daerah sini nggak ada ojek. Ke depan jalan raya lumayan jauh."


"Nggak apa-apa, Bu. Biar saya jalan kaki saja..." imbuh Bara. Dan Yusuf kembali di saat waktu yang tepat.


"Nah... kebetulan anak Emak udah pulang." Bu Ina meminta param kocok dari tangan putranya. "Suf... anterin temennya Nirmala ke jalan raya. Kasian dia kalau harus jalan kaki."


"Biarinlah, Mak... itung-itung olahraga. Lagian anak muda itu harus banyak jalan kaki, biar sehat!" cicit Yusuf.


Bu Ina menarik telinga Yusuf. "Berani membantah Emak, hm...?"


Yusuf meringis kesakitan. "A-ampun Mak... iya-iya, Yusuf anterin orang asing ini ke jalan raya."


Bu Ina melepas tangannya dari cuping telinga. "Nah gitu... itu baru anak Emak."


Yusuf mengusap-usap telinga yang panas seraya menggerutu di dalam hati. Guratan wajahnya sangat terlihat kalau dia kesal pada pemuda yang bernama Bara.

__ADS_1


...***...


__ADS_2