Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Bandung, 19 Januari


__ADS_3

Bandung, 19 Januari


Universitas Cahaya Bangsa


Di depan sebuah bangunan yang luas, seorang gadis berkerudung biru menatap takjub jua bahagia. Bangunan di mana ia akan menimba ilmu untuk menggapai cita dan asa untuk beberapa tahun ke depan. Bibir gadis itu mengembang sempurna karena ia seakan menatap masa depan yang cemerlang di sana.


Wajah sang gadis berputar, mencari tempat yang dituju. Namun, tempat yang ia singgahi begitu luas sehingga menyulitkannya menemukan tempat registrasi mahasiswa baru. Hingga seorang pemuda yang wajahnya ia kenali, berjalan menghampiri.


"Kita ketemu lagi dan lagi-lagi tanpa disengaja," ujar si pemuda.


"Kamu? Di sini?" tunjuk Nirmala pada laki-laki yang mengenakan jas almamater berwarna abu muda. "Ah... dunia ini memang tak selebar daun kelor," tambah Nirmala menggeleng-gelengkan kepala.


Bara mengukir senyuman khasnya. "Mungkin kita berjodoh, Nirmala. Aku dan kamu selalu ditakdirkan untuk bertemu dan aku yakin Allah telah mengatur segalanya tentang kita."


Nirmala bukannya merespon, dia malah menatap kosong pada laki-laki tersebut. Laki-laki yang telah membuat degup jantungnya saat ini tidak beraturan. Laki-laki yang membuat bibir merah jambu tersenyum seketika.


"Hallo... hallo...!" Pemuda itu mengibas-ngibaskan tangan ke depan wajah Nirmala. "Aku memang tampan dan memesona, Nirmala. Tapi jangan menatapku seperti itu...."


Nirmala terkesiap, matanya mengerjap cepat. "Ma- maaf Bara, tadi kamu bilang apa?"


Bara tertawa, menampilkan lesung pipi yang membuat setiap gadis akan terpesona melihatnya. "Saking terpananya ya, sampe aku ngomong panjang lebar, kamu gak mudeng!"


Nirmala menarik bibirnya tipis. "Ta-tadi aku hanya lagi mengingat-ingat sesuatu. Jadi gak dengar kamu ngomong apa. Maaf ya...."


"Oh iya... aku lagi nyari ruang registrasi mahasiswa baru, boleh minta tolong tunjukkan di mana ruangannya, gak? Aku udah hampir terlambat nih," pinta Nirmala mengalihkan pembicaraan.


Bara menahan tawa karena mengerti suasana hati Nirmala saat ini. Dia mengacungkan jari telunjuk ke arah bangunan yang bertingkat. "Kamu lurus aja, lalu belok kanan. Nanti ada kolam ikan."

__ADS_1


"Jadi di situ ruangannya?" potong Nirmala lantaran tidak sabar ingin cepat-cepat menjauh pergi.


"Bukan!" sahut Bara. "Nanti setelah kolam ikan ada perpustakaan, kamu lurus aja sampai mentok lanjut belok kiri. Selepas itu kamu akan melewati ruang dekan, ruang dosen lalu kantin...."


Nirmala menelan saliva seraya menggosok-gosok kepala tidak gatal. "Boleh jelasin sekali lagi, nggak? Aku bingung...."


Pemuda berlesung pipi itu terus saja menahan tawa, meski rahangnya kian terasa pegal. "Gini deh, kamu aku antar aja ya dari pada nyasar. Gimana?"


Nirmala menggulirkan kedua bola mata. Menimbang-nimbang untuk menerima tawaran Bara ataukah menolaknya. "Em... emangnya gak ngerepotin?"


Bara mengulum senyum kemenangan. "Oh... tentu aja nggak ngerepotin. Mari aku antar...."


Nirmala mengangguk dan berjalan berdampingan dengan Bara. Namun, dia tetap memberi jarak karena merasa tidak nyaman berduaan dengan seorang laki-laki.


Setiap mata tertuju kepada Nirmala maupun Bara. Bagaimana tidak, Bara salah satu mahasiswa terpopuler di kampusnya. Selain karena memiliki paras tampan, dia juga adalah ketua BEM incaran para gadis. Jadi wajar saja saat dia berjalan dengan seorang perempuan asing, akan banyak mata yang menatap dengan api cemburu.


Nirmala melongo karena gedung yang dia cari sebenarnya tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Bola mata menatap kesal sebab dia sadar telah dikelabui oleh pemuda yang tengah menahan tawa.


"Jadi ... kamu mengerjaiku, Bara?!" geram Nirmala sebal. Dia masuk begitu saja ke dalam ruangan tanpa menoleh atau sekedar mengucapkan terima kasih.


Bara hanya terkekeh menanggapi sikap Nirmala barusan. Dia sangat senang membuat gadis itu marah ataupun kesal. Karena di matanya Nirmala jadi terlihat lebih menawan.


"Sungguh aku benar-benar bahagia, Nirmala. Ternyata kamu selangkah mendekat padaku. Kita akan lebih sering bertemu setelah ini...."


...***...


"Nal, Nala... gawat...!!" pekik seseorang memanggil nama perempuan yang duduk menopang kaki di bangku taman kampus. Dia membungkukkan badan dengan tangan berpegangan pada bahu perempuan tersebut. Menetralkan derap jantung yang berpacu cepat.

__ADS_1


Nala mengernyit dan melihat dengan raut penuh tanda tanya. "Loe Nin, ada apa? Tumben SKSD sama gue?!"


Gadis bernama Nina, berbicara tersengal-sengal. "Bodo amat mau dikata SKSD juga. Tapi gue cuman mau ngasih tau ... kalo cowok inceran loe, si ketua BEM resek. Barusan jalan bareng cewek cakep dan mukanya itu mirip banget sama loe. Cuman bedanya, dia pake kerudung!"


Nala terperanjat dan seketika beranjak dari tempat duduknya. "Cewek mirip banget sama gue? Pake kerudung? Trus cewek itu sekarang di mana?"


Nina menunjuk bangunan yang berada tidak jauh dari taman. "Di ruang registrasi mahasiswa baru. Tadi gue ngeliat Bara nganterin itu cewek. Keliatannya mereka kaya udah lama kenal!"


Rahang Nala menegang, dia meninggalkan Nina yang masih saja berceloteh panjang lebar. Di dalam pikirannya saat ini, terngiang-ngiang kata-kata Nina kepadanya.


"Cewek mirip banget sama gue, pake jilbab? Tidak, tidak, tidak!!" Nala menggeleng-gelengkan kepala tidak ingin menerima jalan pikirannya sendiri. "Itu sangat mustahil. Mana mungkin Nirmala masuk ke universitas mahal ini? Ah... aku yakin itu orang lain, bukan saudara kembar sialan gue!!" Nala berkata dalam hati sembari berjalan ke arah bangunan yang ditunjukkan oleh Nina teman satu kelasnya.


Nala terus berjalan dengan pikiran melanglang buana. Membuat dia tidak memperhatikan derap langkah dan akhirnya menubruk punggung seseorang, yang tak lain punggung laki-laki yang dia sukai sekaligus paling dia benci.


"Eh... sorry-sorry, gue gak lihat ada orβ€”" Nala memutus ucapannya setelah sadar siapa yang sudah dia tubruk. "Eh loe, cowok resek! Gue kira siapa ... nyesel gue bilang sorry!"


Bara berjalan dua langkah mendekat dan menatap lekat pupil mata yang melebar. "Apa gue terlihat butuh kata maaf dari loe, cewek manja? Nggak sama sekali!"


Nala mendengkus kesal. "Loe jadi cowok kenapa resek banget, hah...? Nggak bisa apa ya, bersikap lembut sedikit... aja sama gue?"


Bara cengengesan dan menarik bibirnya ke salah satu sudut. "Jangankan bersikap lembut, ngelihat muka songong loe aja udah bikin mata gue empet!! Jadi mending loe pergi sekarang juga dari hadapan gue!!"


Gadis bersurai hitam tersebut menghentakkan kaki seraya mengerang kesal. Ia mengangkat tangan yang dikepal, ingin memberikan Bara pelajaran. Namun, ia urungkan. "Gue benci sama loe, Bara! Benci...!!"


Nala menyeret kakinya, berjalan dengan cepat. Sesekali dia menoleh ke arah Bara sembari mencebikkan bibir dan mata menyorot tajam. Pemuda itu tidak peduli meski saat ini teman-temannya berkata bahwa dia laki-laki bodoh karena mencampakkan gadis secantik dan seseksi Nala Susanto.


...*****...

__ADS_1


...Terima kasih banyak atas dukungan teman-teman pembaca sekalian πŸ€—πŸ™...


__ADS_2