Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Surat Cerai!!


__ADS_3

Semenjak kepulangan Nala tadi malam, Arman terus mengurung diri di dalam kamar. Fakta yang meluncur dari bibir sang anak kesayangan, teramat mengguncang batinnya. Anak yang dia besarkan dengan penuh limpahan kasih sayang jua perlakuan manja, akan Tuhan renggut darinya dengan segera.


Pria angkuh itu, kini meringkuk seorang diri. Kepala terbenam, tubuhnya tak bergerak sedikit pun. Ia terhanyut semakin terhanyut, lupa bahwa hidup dan mati seseorang telah tercatat di lauhul mahfudz.


"Pa... makan dulu yuk! Dari semalam Papa belum makan." Anak yang selalu dianggap sebelah mata olehnya, telah berkali-kali merayu. Namun, Arman terbungkam.


"Pa... kalau Papa kaya gini, kasihan Nala! Kalau bukan kita, siapa lagi yang bisa menguatkan dia?" Nirmala terus berusaha agar hati Arman tersentuh. "Nala butuh kita Pa. Nala butuh dukungan Papa...."


Arman menarik wajahnya, kini terlihat jelas kedua mata yang sembab karena sisa-sisa tangisnya semalam. "Antarkan Papa ke Rumah Sakit!"


"Buat apa, Pa?" Nirmala bingung.


"Papa mau donorin ginjal Papa!" jawab Arman langsung berdiri. "Setelah itu antarkan Papa ke bank. Papa mau gadein rumah ini!" jawabnya lagi.


Untuk pertama kalinya, Arman mengucapkan kata papa kepada Nirmala. Ada rasa haru jua bahagia yang menyentuh relung hati gadis itu. Namun, dia tidak ingin berlarut dalam euforia kebahagiaan sebab saat ini Nala-lah yang menjadi prioritasnya.


"Papa mau menggadaikan rumah ini? Emangnya tabungan Papa nggak cukup buat biaya operasi Nala?" Nirmala dibuat heran oleh ucapan sang ayah. Karena dia tahu persis ayahnya bukan orang tidak punya. Apalagi, belum lama ini Arman telah menjual mobil miliknya.


Arman mendesah, dia kembali meringkuk di atas lantai. Rahasia yang dia simpan rapat-rapat, akhirnya harus terucap dari mulutnya sendiri. "Perusahaan Papa kolaps. Jadi, Papa harus bayar utang ke sana ke mari. Uang simpanan di bank, semua udah raib gak bersisa. Rencananya Papa juga mau ngejual mobil si Nala. Tapi... Papa kagak tega."


"Kenapa musibah terus-terusan datang? Apa dosa Papa?" tanya Arman bernada lirih.


"Itu artinya Allah masih sayang sama kita, Pa." Nirmala turut di atas lantai dan menggenggam tangan sang ayah. "Allah ingin kita menghadap-Nya, berdoa lalu meminta," kata Nirmala.


Arman tidak membantah ataupun mengiyakan, dia kembali termenung dengan menundukkan kepala.


"Alhamdulillah... udah azan zuhur. Kita salat yuk, Pa!" seru Nirmala mengajak Arman untuk menghadap Sang Pencipta.


Arman menggeleng kepala. "Kamu aja yang salat, Papa malas."

__ADS_1


Nirmala menghela napas. "Mala tinggal ya, Pa. Tapi Papa makan dulu. Nanti, habis itu Mala antar ke Rumah Sakit."


"Hm..." sahut Arman.


Nirmala meninggalkan sang ayah menuju musala rumah. Namun, sebelumnya dia mengecek keadaan Nala terlebih dahulu.


"Hai... lagi apa?" Nirmala menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


Nala yang saat ini tengah menatap ke arah jendela, menoleh sesaat lalu memalingkan muka. "Mau apa?"


"Nggak mau apa-apa, cuman pengen lihat kondisimu aja," jawab Nirmala masuk ke dalam kamar Nala.


"Siapa yang nyuruh lu masuk kamar gue?" sentak Nala. "Gue tau, apa maksud lu nyamperin gue. Tapi saat ini, gue pengen sendiri. Gue gak mau ketemu siapa pun, khususnya elu!" ketus Nala.


Nirmala tahu persis bagaimana watak kembarannya itu. Dia tidak ingin memaksakan kehendak dan tidak ingin banyak bicara. "Oke deh, aku gak mau gangguin kamu. Kalau butuh apa-apa... jangan sungkan-sungkan panggil aku."


"Hm..." sahut Nala.


...***...


"Ini, Mas." Arum menyerahkan sebuah amplop cokelat kepada suaminya.


"Ini apa?" Kening Sakti mengerut, menatap ke arah Arum lalu melihat ke arah amplop tersebut.


"Bukalah!" titah Arum.


Sakti berdecak lalu membuang puntung rokok ke atas asbak. Dia mengambil amplop yang diberikan Arum lanjut membukanya.


"Apa ini?" tanya Sakti saat membaca kop surat yang bertuliskan Pengadilan Agama. Dia mengeluarkan kertas putih tersebut dari dalam amplop. "Surat cerai?" Sakti terkekeh lalu melempar surat tersebut ke atas lantai.

__ADS_1


"Tanda tangani surat ini, Mas!" Arum mengambil kembali surat tersebut dan menyodorkannya ke arah Sakti. "Aku sudah gak kuat hidup berumah tangga sama Mas. Lebih baik kita bercerai dan Mas Sakti, bisa dengan bebas bermain api bersama perempuan mana pun."


Sakti menarik surat tersebut lantas merobeknya. Kertas itu dia cabik-cabik hingga menjadi potongan-potongan kecil. Dia beringsut lalu menjulurkan jari telunjuk ke arah sang istri. "Kamu jangan bermimpi bisa berpisah dariku, Arum! Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menceraikanmu!!"


"Tapi kenapa, Mas? Bukankah Mas akan leluasa bermain dengan wanita-wanita pilihan Mas?" sergah Arum tidak ingin kalah. "Harusnya Mas senang dong, Mas akan terbebas dari ikatan pernikahan? Mas punya harta dan Mas memiliki segalanya!" berang Arum emosi.


"Bara tau kenapa Papa gak mau menceraikan Tante," timpal Bara yang turut berbicara.


Sakti melotot. "Ngapain kamu ikut campur urusan orang tua, anak durhaka?"


Arum memasang badan karena khawatir Sakti akan memukul anak sambungnya kembali. "Benar kata Papamu, sebaiknya kamu keluar. Ini pembicaraan penting Mama sama Papa. Mama minta, biarkan kami berdua berbicara."


"Terserah Tante aja. Bara cuman ingin ngasih tau alasan Papa gak mau menceraikan Tante. Karena ini!" Bara memperlihatkan sertifikat perusahaan dan aset kekayaan atas nama ibu sambungnya.


"Kamu dapetin itu dari mana?" tunjuk Sakti.


"Papa gak perlu tau aku dapetin semua sertifikat ini dari mana. Yang pasti aku tau, kalau seluruh harta kekayaan yang Papa nikmati selama ini adalah milik mama yang diberikan pada Tante Arum!!" ungkap Bara.


"Ma-maksudnya?" Arum tercengang dengan rahasia yang diungkapkan oleh Bara. "Ta-tapi bagaimana bisa? Mba Kemuning memindahtangankan semua hartanya buat Mama?"


Bara menyerahkan sertifikat yang dipegangnya ke tangan sang ibu sambung. "Aku nggak tau soal itu Tan. Aku cuman ingin mengembalikan semua ini. Karena ini hak Tante."


"Anak kurang ajar!!" berang Sakti. "Aku ini Papamu. Aku yang lebih berhak dengan harta Kemuning!!" Sakti menggeram lalu menubruk bahu Arum dan pergi dari ruang kerjanya.


"Mas... Mas?" panggil Arum. "Kita belum selesai bicara!" pekiknya karena Sakti sudah tak lagi terlihat.


Arum menatap lembut ke arah Bara. "Nak... Mama gak pantas mendapatkannya. Semua ini milik kamu. Sebentar lagi kamu lulus kuliah, kamu yang akan mengelola perusahaan peninggalan mamamu."


Bara geleng-geleng kepala. "Bara belum kepikiran, Tan. Bara mau nikmatin hidup dulu, gak mau terbebani sama urusan-urusan yang menyita otak."

__ADS_1


"Nanti akan ada waktunya Bara hidup dengan serius, tapi bukan sekarang-sekarang ini," tambahnya melengos lalu meninggalkan Arum yang termenung seorang diri.


...*****...


__ADS_2