
Sudah lima jam berlalu, Arman belum juga kembali. Sementara pihak Rumah Sakit berkali-kali menemui Nirmala untuk meminta kejelasan tentang nasib pasien yang mereka tangani.
"Ya Allah... Papa ke mana?"
Dara cantik tersebut hanya bisa mondar-mandir di depan ruang ICU, dengan segala perasaan gundah dan cemas. Berkali-kali kepalanya menengok ke arah pintu masuk menanti kembalinya sang ayah. Namun, sosok yang dia nanti tidak muncul juga.
Kaki jenjang menarik langkah untuk melihat kondisi kembarannya dari balik jendela. Tetesan kesedihan membasahi wajah, betapa hatinya hancur melihat satu-satunya saudara yang dia miliki, terbujur tak berdaya dengan beberapa selang tertanam di atas tubuh.
Kini, jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Akan tetapi, Arman belum jua kembali. Nirmala mulai merasa putus asa lantaran pihak Rumah Sakit menelantarkan Nala dan berniat untuk memindahkan gadis itu ke ruang UGD. Namun, untungnya perkataan Nirmala bisa membuat mereka memberikan tenggang waktu.
"Ya Allah... papa ke mana ya? Kenapa belum balik juga?"
Waktu begitu cepat beranjak. Dari pagi ke siang, dari siang menuju malam. Hari semula terang, kini sudah berganti gelap. Perasaan gelisah bertambah gelisah karena tidak tahu harus berbuat apa.
Di saat rasa putus asa semakin membuncah, selalu hadir kasih sayang Sang Maha Pencipta untuk setiap hamba-Nya. Di detik-detik ketika diri mulai pasrah dan lelah.
"Papa...! Alhamdulillah, akhirnya Papa kembali juga." Nirmala berlari menghampiri Arman. "Papa udah dapetin biaya buat operasi Nala, 'kan?" tanyanya harap-harap cemas.
Arman mendengkus kesal. "Bisa, 'kan, nanya-nanyanya nanti? Gue capek, seharian lari sana lari sini demi dapetin duit buat biaya operasi. Lu sih enak, cuman duduk manis di sini, nggak ngapa-ngapain!"
Nirmala terpaksa menepi karena Arman menubruk badannya dan melewati dia begitu saja dengan mulut mengerucut bersungut-sungut.
"Maaf ya Pa. Mala cuman penasaran aja," timpal Nirmala mengekori Arman lalu turut duduk di samping ayahnya.
__ADS_1
Arman menyandarkan punggungnya ke pinggiran tiang dengan kepala menatap langit-langit koridor Rumah Sakit. Nirmala hanya bisa menatap kosong wajah lelah sang ayah tanpa berani untuk menyentuhnya.
Tidak berangsur lama, dokter yang menangani Nala kembali ke ruang ICU. Dia mendekati Arman dan berbicara pada pria tersebut. "Kami akan cek lagi kondisi pasien. Kalau semua aman dan normal, operasi akan kami lakukan malam ini juga."
"Lakukan yang terbaik buat anak saya, Dok!" pinta Arman dengan suara bergetar.
Dokter menganggukkan kepala lalu masuk ke dalam ruang ICU untuk mengecek tensi darah dan juga detak jantung Nala.
"Bagaimana Sus, apa semuanya normal?" tanya dokter pada asistennya.
"Normal, Dok," jawab perawat.
"Syukurlah..." sahut dokter. "Tolong berikan berkas ini pada keluarga pasien. Kalau mereka sudah menandatanganinya, berikan lagi pada saya," titahnya dengan menyerahkan surat persetujuan operasi.
Perawat mengambil surat yang diberikan oleh dokter lalu keluar ruangan untuk menghampiri Arman yang masih duduk di bangku dengan kepala menunduk lesu.
Arman terhenyak dan buru-buru bangkit untuk mendekati perawat yang memanggilnya. "Ada apa, Sus? Saya ayahnya Nala Susanto."
"Oh, Bapak..." sahut perawat. "Ini Pak, tolong dibaca lalu ditanda tangani surat persetujuan tindak operasi pengangkatan ginjal pada pasien." Perawat menyerahkan berkas penting itu ke tangan Arman.
Tanpa dibaca terlebih dahulu, Arman langsung meneken surat tersebut dan menyerahkannya kembali pada perawat yang berdiri menunggunya. "Ini, Sus. Tolong lakukan dengan segera!"
"Baik, Pak. Mohon untuk bersabar karena kami masih menyiapkan peralatan dan ruang operasi," jawab perawat. "Bantu kami juga dengan doa. Di saat seperti ini, keajaiban Tuhanlah yang mampu merubah segalanya. Permisi, saya mau masuk lagi karena masih banyak yang harus diurusi."
__ADS_1
"Silakan, Sus," jawab Arman singkat.
Satu jam sudah terlewati, pintu ICU akhirnya terbuka. Keluarlah dua orang perawat beserta seorang gadis di atas ranjang pasien yang sudah tidak sadarkan diri lantaran efek obat bius.
"Nala, anak Papa...!" Arman histeris dan berlari menghampiri putrinya.
"Dok... lakukan yang terbaik buat anak saya," pinta Arman penuh harap.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Pak." Dokter membalas ucapan Arman.
Pria paruh baya itu mendadak murka, ntah apa yang menyebabkan sikapnya berubah begitu cepat. Dia mencekik leher sang dokter yang menangani Nala. "Gue nggak mau tahu. Pokoknya anak gue harus selamat. Kalau ada apa-apa sama anak gue, lu bakalan gue kirim ke neraka!!"
Arman melepas cengkeraman tangannya dan mendorong punggung dokter tersebut hingga nyaris terpelanting. Wanita yang mengenakan pakaian medis itu buru-buru menjauh dari Arman dan menyusul kedua perawatnya menuju ruang operasi.
Nirmala merengkuh kedua bahu ayahnya sembari memandang lesu. "Tenang ya Pa. Lebih baik kita doakan Nala."
Arman mengerdikkan bahunya. "Itu tugas lu. Kalau tugas gue, 'kan, tadi udah. Nyari duit buat operasi sodara lu."
Nirmala mendesah. "Iya, Pa. Kalau gitu Mala ke musala dulu ya. Papa nunggu di sini atau mau nyusul Nala?"
"Gue nyusul kembaran lu aja. Di sini kejauhan, gue nyari ruang tunggu yang lebih dekat," ujar Arman dan menyipitkan mata memperhatikan ke mana arah Nala akan dibawa.
Nirmala memutar badannya menuju musala sedangkan Arman berjalan menyusuri lorong-lorong gelap nan sepi. Masing-masing memiliki arah yang berbeda. Namun, dengan tujuan yang sama. Sama-sama menginginkan yang terbaik untuk orang yang tersayang.
__ADS_1
...*****...
...Mohon maaf, tidak bisa berkarya dengan maksimal. Dua hari kemarin juga tidak bisa Up 🙏 Karena kendala pekerjaan di dunia nyata. Sekali lagi mohon maaf🙏...