
"Bangun Nala!!!" Nirmala menarik selimut yang menutupi tubuh kembarannya, akan tetapi Nala menahan selimut tersebut. "Nala! Ayo bangun... kita salat subuh!" Nirmala masih berupaya membangunkan, tetapi malah tendangan yang dia dapatkan.
Terjangan dari kaki Nala tepat mengenai perut Nirmala. Gadis itu terhuyung beberapa langkah dan terjatuh ke belakang, sebab kakinya belum kuat untuk menahan beban tubuh. Dia mengaduh kesakitan sedangkan Nala menertawakan.
"Makanya ... gak usah sok baik deh loe. Kalo mau salat, salat aja sendiri! Nggak usah ajak-ajak gue! Gue capek, gue ngantuk!" Nala kembali membaringkan tubuhnya, tidur dengan posisi menelungkup.
"Astaghfirullah... Nala. Kamu sudah baligh. Kamu sudah dewasa, harusnya sadar diri kalau—"
"Berisik...!!" pekik Nala menutupi kedua telinga. "Loe kalo mau ceramah, sono noh di masjid. Jangan di kamar gue. Sekarang, keluar! Sebelum gue nyeret loe dari kamar gue!!"
Nirmala tidak ingin lagi berdebat. Dia menarik tubuhnya dari atas lantai sembari meringis, lantaran luka cedera yang dia derita belumlah sembuh seratus persen. Gadis bermata bulat tersebut keluar dari kamar saudarinya lanjut melewati kamar sang ayah. Dia berhenti sesaat, lalu mengangkat sebelah tangan berniat untuk mengetuk pintu. Namun, pada akhirnya dia urungkan.
Nirmala menghela napas dan melanjutkan langkah menuju musala, untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang Muslim. Dibasuhnya pergelangan tangan, mulut, hidung, muka, kedua tangan hingga ke kedua kaki. Dia kini bertemu Rabb-nya dalam dua rakaat di tengah keheningan dan ratapan hati.
"Ya Allah... ampuni hamba, bila selama ini hamba tidak pandai bersyukur. Begitu banyak karunia yang Engkau beri. Namun, diri yang lemah ini tak pernah luput dari berkeluh kesah."
"Ya Allah... tak pernah lelah hamba meminta, kembalikan saudari hamba kepada jalan yang benar. Berikan Rahmat-Mu padanya juga pada ayah hamba. Ampuni dosa-dosanya, kembalikan kasih sayang yang Engkau ambil dari hati ayah hamba. Dan pertemukanlah hamba dengan bidadari yang telah melahirkan hamba, kelak di surga firdaus-Mu."
"Rabbana aatina fiddunyaa hasanat wafil aakhiraati hasanat waqinaa 'adzaabannaar...."
__ADS_1
"Aamiin ya Allah ya Rabbal 'aalamiin..." Nirmala mengusap wajah menggunakan kedua telapak tangan dan mengeringkan air mata yang menitik lara.
Gadis piatu tersebut terpaku sesaat kemudian meraih al-Qur'an yang tersimpan di atas nakas. Suara merdu melantunkan kalam Illahi, huruf demi huruf. Ayat demi ayat.
Seorang pria tengah mengintip dari balik tirai. Jiwanya bergetar seketika mendengar sang buah hati yang selalu ia perlakukan kasar, tengah membaca al-Qur'an. Perasaannya tiba-tiba tak menentu, antara bahagia jua kebencian. Kedua hal itu berperang di dalam sanubari, saling memberikan perlawanan.
"Ah... gara-gara dia, gue kehilangan Azizah. Sampai kapan pun, gue gak bakalan nganggep dia anak gue!!"
Pria yang tak lain adalah Arman terus saja melawan nurani. Meski sebenarnya jauh di dalam lubuk hati terbesit kasih sayang pada anak yang selalu menyebut namanya di setiap doa, diselepas sujud. Akan tetapi, rasa gengsi dan ego menutupi semua itu. Mata batinnya telah gelap dari melihat kebaikan yang diperlihatkan oleh putri bungsunya.
Nirmala yang merasa seakan tengah diperhatikan seseorang, dia memutar kepalanya ke belakang. Namun sayang, dia tidak menemukan siapa pun di sana karena Arman sudah lebih dahulu beranjak dan kembali ke kamarnya.
"Tadi kaya ada yang ngeliatin di belakang. Tapi ternyata 'nggak ada siapa-siapa. Aku pikir, tadi itu ayah. Tapi ternyata cuman perasaanku aja."
...***...
Kantor Polisi pukul sembilan pagi
"Pa... tolongin Mona, Pa. Mona 'nggak bersalah... Mona... Mona difitnah, Pa." Gadis muda tersebut merengek pada pria yang duduk termenung. Tidak ada sanggahan maupun pembelaan dari sang ayah karena bukti bahwa mobil miliknya telah menyerempet seseorang, sangat jelas terlihat. Badan mobil penuh goresan dan rekaman cctv yang terdapat di area kejadian.
__ADS_1
"Papa tidak pernah mengajarkanmu menjadi orang yang tidak bertanggung jawab, Mona!!" geram Rudi pada anak bungsunya. "Papa meminjamkan mobil, biar memudahkanmu kuliah. Bukan buat ugal-ugalan di jalan!" Rudi geleng-geleng kepala, tidak habis pikir kenapa putrinya itu bisa berbuat sesuka hati.
Perempuan muda yang berdiri di dekat pintu, merajuk pada ayahnya. "Mona mohon ampun, Pa. Mona kapok, Mona 'nggak lagi-lagi bikin onar. Bawa Mona dari sini Pa, Mona mohon ...."
Seorang anggota berseragam memanggil dan tidak secara langsung menghentikan rengekan Mona. Ia meminta gadis tersebut untuk duduk di kursi kosong di depannya. Guna dimintai keterangan dan identitas diri sebagai catatan pelaku tabrak lari.
Mona kembali merengek setelah salah satu petugas berwenang mengatakan kalau dia akan ditahan untuk beberapa hari hingga korban tabrak lari bersedia berdamai. Kalau tidak, dengan terpaksa gadis manja itu akan mendapat hukuman penjara selama satu tahun dengan denda paling banyak dua juta rupiah.
"Pa... keluarin Mona dari sini, Pa. Mona takut." Mona menggenggam jemari sang ayah memperlihatkan kekalutan dengan wajah basah karena air mata. "Ayolah Pa... uang Papa kan, banyak. Masa buat anak sendiri, perhitungan!"
"Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan uang, Mona!!!" bentak Rudi kesal karena putrinya belum sadar juga akan kesalahannya. "Papa kecewa dengan pikiran picikmu itu!"
Mona melandaikan tubuh dan bersimpuh di depan kaki ayahnya. "Tolong Mona Pa... apa Papa tega, anak perempuan Papa tinggal di tempat ini? Mona janji, Mona akan berubah. Mona akan menjadi anak yang lebih baik lagi."
Rudi mendesah resah, perasaannya sebagai seorang ayah akhirnya terketuk. Dia menghampiri pemuda yang duduk berseberangan dan berbicara dengan suara lirih. "Nak... kalau boleh, Om mau bertemu dengan gadis itu. Om mau meminta maaf mewakili putri Om."
Pemuda tersebut menghela napas. "Baik Om... lagi pula ini di luar wewenang saya. Saya hanya membantu gadis itu untuk mendapatkan keadilan."
Rudi manggut-manggut dan menepuk pundak pemuda tersebut. "Terima kasih ya Nak... Om benar-benar berterima kasih. Setidaknya Om jadi tahu bagaimana kelakuan anak Om di luaran sana. Dan sekarang, tolong antarkan Om pada gadis itu."
__ADS_1
Rudi bertolak bersama pemuda yang baru dikenalinya, meninggalkan Mona seorang diri di kantor polisi. Perempuan manja itu berteriak histeris memanggil sang ayah, saat seorang petugas kepolisian memintanya untuk masuk ke dalam sel tahanan.
...******...