Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Keluar!!!


__ADS_3

"Mobil bokap gue!" teriak Mona saat menyadari kalau badan mobil sebelah kiri terdapat banyak goresan. "Ini gara-gara loe nyuruh-nyuruh gue nyerempet tuh cewek, gini kan jadinya?" Mona menarik rambut seraya berkacak pinggang lantaran bingung harus mengatakan alasan apa pada ayahnya.


"Apaan sih, Mon? Lebay banget deh!" cicit Nala tidak merasa salah. Dia malah asyik saling berbalas pesan dengan seseorang.


Mona menghentakkan kaki dan meninggalkan sahabatnya menuju kamar mandi kampus. Dia ingin berteriak meluapkan kekesalan di dalam dada. Jauh di lubuk hati, dia sebetulnya sudah tidak nyaman berteman dengan Nala. Namun, dia tahan karena hanya gadis itu satu-satunya teman yang dia miliki.


"Ah... punya temen satu-satunya, tapi bego!!!" teriak Mona di dalam toilet. Beruntungnya saat itu kondisi kamar mandi sepi, hanya ada Mona di dalamnya. Dia membasuh muka dan menatap wajahnya dari sebuah cermin. "Kalau bokap marah, gimana? Bisa-bisa gue digantung!!" Mona membalikkan badan lalu bersandar pada dinding wastafel.


"Loe kenapa Mon?" tanya Nala sok polos. Mona mengacuhkan Nala dan memilih berlalu pergi dari hadapan sahabatnya yang tidak tahu diri.


"Mon... Mona!!!" pekik Nala karena Mona meninggalkan dia begitu saja. Nala menarik kedua bahunya ke atas tidak peduli. Dia mengeluarkan lipstik dari dalam tas, memulas bibir merah semakin merona menggoda.


"Perfecto!!" Mona menarik diri dalam kamar mandi menuju kelas karena sepuluh menit lagi mata kuliah pertama akan berlangsung.


Mona berjalan santai sembari cingak-cinguk mencari keberadaan laki-laki incarannya. Matanya menangkap sosok yang dimaksud, tengah memainkan sebuah gitar sendirian di taman. Tanpa pikir panjang gadis itu menghampiri pria idamannya.


"Hai... boleh aku duduk?" tanya Nala kepada pemuda yang mengenakan jas almamater. Pemuda itu melirik sekilas, lantas memalingkan wajahnya kembali. Meski tanpa diizinkan, Nala duduk begitu saja di samping laki-laki tersebut.


Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, Nala tidak mendapat respon sedikit pun dari pria idamannya. Akhirnya dia meradang, bangkit dari sisi pria muda tersebut dan berbicara dengan nada meninggi.


"Heh! Loe itu jadi cowok jual mahal banget! Cowok di seantero kampus ini semua ngejar-ngejar gue. Nah loe, gue deketin duluan tapi nggak tau diri!" cerocos Nala kesal.


Pemuda tersebut berdiri dan menatap jengah ke arah Nala. "Selera gue bukan cewek macam loe, yang tebar pesona ke semua orang. Cewek yang cuman ngandelin fisik, bukan otak!!"


Nala berdecak sebal saat laki-laki yang dia sukai, menarik langkah menjauh darinya. Nala berteriak tanpa ada rasa malu sedikit pun. "Bara Biantara si ketua BEM songong, gue pastiin suatu saat loe akan bertekuk lutut di kaki gue! Camkan itu!!!"


Semua orang melihat ke arah Nala sembari berbisik-bisik dan menertawakan. Gadis bersurai hitam tersebut, membulatkan kelopak mata lantas menarik langkah ke arah kelas seni rupa.


"Permisi Pak, maaf saya terlambat." Nala nyelonong begitu saja tanpa menunggu dipersilakan untuk masuk.


"Siapa yang menyuruhmu masuk, Nala Susanto?!!" teriak dosen pada mahasiswanya yang kurang beretika. "Apa kamu tidak bisa melihat sekarang jam berapa?" teriaknya lagi.


Nala melirik ke arah jam tangan lantas menyeringai ke arah sang dosen. "Ma-maaf Pak... jam di tangan saya mati. Jadi nggak tau sekarang jam berapa."


Semua mahasiswa menyoraki Nala karena menjawab dengan alasan yang konyol. Namun, suasana kelas berubah hening tiba-tiba sebab sang dosen berteriak dengan suara menggelegar. "Apa kalian mau saya hukum?"


"Ti-tidak Pak..." jawab mahasiswa serentak.


"Nala!!" bentak dosen. "Sekarang, kamu keluar!!!"


"Ta-tapi, Pak?"

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapi, mulai hari ini kamu tidak usah masuk ke kelas saya lagi. Karena saya memberikan kamu nilai E!!!"


Nala menghentak lantai lalu menatap ke seluruh ruangan. Dia memperlihatkan kekesalan pada dosennya lalu memutar tubuh dan berjalan ke luar kelas dengan kepala tertunduk lesu. Bukan karena dia merasa bersalah, tetapi dia bingung harus ke mana sementara jam baru menunjukkan pukul sepuluh pagi.


Biji mata Nala berbinar, dia teringat pada pria matang yang memberikannya kartu nama. "Ah... om Sakti!"


Jemari lentik Nala memasukkan satu per satu nomor ponsel Sakti ke dalam telepon genggamnya dan mulai menghubungi pria beristri tersebut. "Ish... sombong bener sih nggak diangkat-angkat?!"


Gadis berumur dua puluh tahun itu kembali menelepon sugar dady-nya dan kali ini dia mendapat respon.


Sakti


Maaf, siapa?


Nala


Ini Nala, Om. Masih ingat, kan?


Sakti


Tentu saja, gadis nakal. Ada apa sayang?


Nala


Sakti


(Terkekeh)


Om lagi kerja, sayang. Tapi kalau kamu mau, datang aja ke kantor, om!


Nala


Boleh emangnya om?


Sakti


Boleh sayang, alamat kantor om ada di kartu nama ya


Nala


Siap om, Nala ke situ sekarang

__ADS_1


Wajah murung berubah ceria seketika. Nala memesan taksi online lanjut bertolak ke tempat di mana dia akan bersenang-senang melupakan kekesalan.


...***...


PT SEMESTA BATUBARA


Seorang gadis muda keluar dari dalam mobil berwarna biru dengan mulut menganga. Sepasang bola mata menatap takjub bangunan tinggi di hadapannya. Seraya menggeleng-gelengkan kepala, dia masuk ke dalam bangunan yang didominasi oleh jendela.


"Gila... kantor ini bener-bener keren!"


"Mau mencari siapa mbak?" tanya receptionist dingin.


"Saya mencari Pak Sakti," jawab gadis itu tidak kalah dingin.


"Apa anda sudah memiliki janji?" tanya receptionist lagi.


"Tentu... katakan saja pada bosmu itu, Nala Susanto menunggunya di lobby." Tanpa menanti jawaban, Nala berjalan ke arah sofa dan mendaratkan tubuhnya di sana.


Hingga beberapa saat, seorang pria gagah keluar dari dalam elevator, melangkah ke arah gadis muda dengan senyuman menawannya. "Ada apa sayang, mencariku?"


Nala berdiri lanjut memeluk Sakti. "Aku suntuk Om... gara-gara dikeluarin dari kelas."


Sakti terkekeh, "Itulah gadis nakalku. Om suka!"


Nala mencubit pinggang Sakti. "Ye... si Om malah kesenengan sih!"


Sakti melingkarkan tangan ke pinggang Nala tanpa sedikit pun peduli meski para karyawan melihatnya dengan pandangan menggelikan. "Ya seneng dong sayang... kalau gak gitu, kamu nggak akan ngehubungin, Om!"


"Ah... Om bisa aja jawabnya, Nala jadi makin kepincut nih!" Nala meraba-raba dada bidang pria tersebut membuat darah Sakti berdesir.


"Kita ke ruanganku ya, nggak enak di sini banyak orang-orang julid merhatiin kita!" Sakti mengajak Nala ke lantai tiga bangunan megah itu tanpa melepaskan rangkulannya di pinggang ramping sang gadis.


Selepas kepergian sejoli berbeda generasi tersebut, para karyawan menggeleng-gelengkan kepala dan saling melempar kata. "Gila Pak Sakti, nggak ada matinya!!"


"Maklumlah, udah body hot, mapan, ganteng ... uuhhh... pelukable banget pokoknya!"


"Padahal umurnya udah lima puluh tahun, tapi masih joss!!"


"Itu karena Pak Sakti nerapin hidup sehat. Meski pun dia peminum berat!"


Para pekerja terus saja bergunjing, hingga seorang pria yang berlabelkan manajer menegur mereka. "Ayo bubar-bubar!! Apa kalian mau saya pecat??"

__ADS_1


...*****...


__ADS_2