Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Cemburu


__ADS_3

...Cinta seyogyanya bukan untuk mematikan nalar. Menyamarkan hati, menyilapkan mata apalagi mengaburkan logika karena cinta tidak diciptakan seperti itu. Kendalikan cinta, jangan cinta yang mengendalikan kita....


...*****...


Bara menuntun motornya dengan Nala berjalan di samping. Tidak tahu apa yang direncanakan gadis itu hingga dia meminta Bara melakukan hal tersebut. Karena hingga keduanya kembali ke tempat di mana Nirmala menunggu, Nala tidak jua melepaskan rengkuhannya dari lengan Bara. Yang ada malah, dia semakin memperlihatkan kemesraan dengan kepala bersandar manja di atas pundak pemuda yang tengah bersamanya.


"Nal, bahu gue berat nih!" keluh Bara karena Nala malah menambah kesulitan dirinya. "Nal, loe dengerin gue ngomong gak sih?" protes Bara sebab gadis di sampingnya masih saja asyik bergelayutan. Sementara dia kesusahan menuntun kendaraannya.


Nirmala memalingkan muka saat kedua orang tersebut kini berada di belakang motornya. "Kalian duluan aja, aku nanti ngekor di belakang."


Bara berdiri terpaku sesaat lalu menurunkan kickstand (standar motor), kemudian menyerahkan helm kepada Nala. "Nih, pake!"


Nala hanya diam saja, tidak mengambil benda yang disodorkan Bara padanya. "Pakein dong, biar romantis gitu kaya di film-film."


"Dih, najiss!!" cibir Bara tak acuh lantas menaiki kuda besi miliknya. "Loe mau berdiri terus di situ atau gue anterin pulang?" berang Bara karena Nala hanya menyusahkannya saja.


Nala mendengus seraya memasang helm ke atas kepalanya. "Iya-iya... jutek banget sih loe. Ntar ati-ati jatuh cinta sama gue...."


Bara bergidig dan menyalakan motor vespanya. Dia memutar kepala lalu melontarkan kalimat pedas pada gadis di belakangnya. "Nggak usah kebanyakan mimpi dah loe! Gue gak bakalan suka sama cewek pecicilan macam loe!!"


Nala mengangkat kedua pundaknya lalu memeluk pinggang Bara. "Lihat aja nanti! Gue pastiin suatu saat loe bakalan kepincut sama gue! Siapa sih yang bakalan nolak cewek terhot di kampus?"


Bara geleng-geleng kepala lalu melajukan sedikit kendaraannya dan berhenti di samping motor Nirmala. "Ayo, kita pulang!"


Nirmala terperanjat karena saat itu dia tengah melamun. Kebersamaan Nala dengan Bara malam ini cukup mengusik pikirannya. "I-iya Bar, ayo...."

__ADS_1


Gadis berjilbab itu memasukkan kunci dan menghidupkan mesin motor dengan menginjak kick starter (engkol) beberapa kali. Dia harus mengeluarkan sedikit tenaga, agar kendaraan roda dua pemberian mendiang kakeknya bisa menyala.


"Alhamdulillah..." ucap Nirmala penuh syukur ketika mesin kuda besinya sudah berhasil dioprasikan.


Bara menjalankan motornya terlebih dahulu dengan laju 20km/jam. Dia tidak ingin membuat jarak dengan Nirmala terlampau jauh. Namun, kesempatan ini benar-benar dimanfaatkan oleh Nala. Pelukannya di pinggang Bara semakin erat, dia pun merebahkan kepala ke atas punggung pemuda itu.


"Nal, megangnya biasa aja dong. Gue risih nih, geli!" keluh Bara tidak nyaman dengan sikap Nala. Akan tetapi, gadis itu tidak mempedulikan gerutuan Bara. Sementara di belakang keduanya, Nirmala sekuat hati untuk bersikap sewajar mungkin. Meski di dalam hati timbul perasaan lain yang tidak dia sadari.


Setengah jam berlalu, akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Nirmala memarkirkan kendaraannya di halaman rumah sedangkan Nala masih berdiri manja di depan Bara.


"Udah tuh masuk sana, Nirmala nungguin loe!!" usir Bara karena Nala tidak juga beranjak. "Eh, malah senyam-senyum gak jelas. Kesambet loe ya?" Bara menempelkan telapak tangan di atas kening Nala.


Nala tiba-tiba mencondongkan wajahnya dan mengecup bibir Bara sekilas. "Makasih ya udah nganterin gue pulang dengan selamat. Hati-hati di jalan...."


Nirmala tidak sengaja menyaksikan adegan tak senonoh di depannya, spontan mengucap istighfar seraya melengoskan muka. "Astaghfirullahal'adziim...."


Selepas melakukan hal yang membuat orang lain terperangah, Nala masuk ke dalam rumah membiarkan sepasang anak Adam berada dalam perasaan yang berkecambuk. Ntah mengapa, dia begitu senang malam ini karena berhasil membuat Nirmala cemburu dengan menggoda Bara, lelaki yang dia sukai.


"Makasih banyak udah mau nganterin Nala pulang. Kamu hati-hati di jalan." Nirmala berkata pada Bara tanpa ekspresi dan dengan nada suara yang amat datar. Tanpa menunggu jawaban, dia cepat-cepat menarik kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Karena ada sesuatu yang mendesak dari balik pelupuk mata untuk dia tumpahkan saat ini juga.


"Maaf..." gumam Bara untuk kekacauan yang terjadi malam ini. Semua itu di luar kendali dan memang bukan kesalahannya.


...***...


Hari yang baru, diawali dengan semangat yang baru juga. Di mana pagi ini adalah hari pertama Nirmala resmi menyandang status sebagai mahasiswa. Dan seperti biasa, di saat orang-orang masih terlelap dengan mimpi-mimpi mereka, Nirmala sudah melakukan banyak hal. Menunaikan salat subuh, mengerjakan semua pekerjaan rumah dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke tempat di mana dia akan menempuh pendidikan selama empat tahun ke depan.

__ADS_1


Biasanya dia akan membaca al-Qur'an selepas salat, tidak dengan hari ini. Karena banyak sekali yang harus dia kerjakan. Arman yang sengaja bangun lebih awal harus menelan kekecewaan lantaran putri yang amat dia benci, kali ini tidak mengaji.


"Dasar kampret! Gue bela-belain bangun subuh buat dengerin loe ngaji ... eh, loe malah kagak baca tuh kitab!" gerundel Arman memperhatikan Nirmala yang sedang merapikan mukena dan sajadah. Dia kembali ke kamar dengan perasaan kesal yang teramat sangat.


Nirmala tahu betul bahwa sang ayah mengintipnya seperti biasa. Dia berpura-pura bertingkah tidak tahu, meski di dalam hati berkata-kata. "Maafin Mala ya pa... pagi ini Mala nggak ngaji dulu. Insya Allah nanti selepas salat magrib atau isya. Jujur aja Mala seneng... banget, walaupun hanya sekedar ngedengerin Mala baca Qur'an, tapi itu udah sesuatu yang luar biasa. Semoga aja suatu saat, hidayah datang menyentuh hati papa."


Semua pekerjaan rumah telah selesai, tinggal menyiapkan sarapan pagi untuk sang ayah dan saudaranya tercinta. Rutinitas setiap pagi yang sebetulnya sangat melelahkan. Namun, Nirmala pantang mengeluh. Baginya masih bisa berkumpul dengan keluarga adalah kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa dibeli oleh apa pun.


"Udah jam setengah enam lagi ternyata," ucap Nirmala bermonolog. Dia menata hidangan makan pagi di atas meja dan kembali ke kamarnya untuk mengambil tas lalu berpamitan pada sang ayah.


"Pa..." panggil Nirmala seraya mengetuk pintu. "Pa..." panggilnya lagi.


Terdengar suara kenop pintu ditarik, Arman keluar dari kamarnya. "Apaan loe ketuk-ketuk kamar gue? Kagak tau sopan santun jadi anak!"


"Maaf Pa... Mala mau pamit, mau pergi ke kampus," sahut gadis itu pada ayahnya.


Kening Arman mengerut, dia memutar kepala untuk melihat jam. "Gak salah loe pagi buta kaya gini udah ke kampus?"


Nirmala menggelengkan kepala. "Nggak Pa... pagi ini Mala ada urusan sama pihak kampus, mau ngebahas mengenai bea siswa Mala. Jadi, harus berangkat lebih awal."


Arman manggut-manggut. "Oh, jadi loe bisa kuliah di sana itu gara-gara dapet bea siswa? Bagus dah, kalau kaya gitu ... jadi loe kagak nyusahin gue!"


"Iya Pa, Alhamdulillah... Mala berhasil dapetin bea siswa." Nirmala menarik tangan Arman lalu mengecupnya. "Mala berangkat ya Pa... doain Mala moga jadi orang berguna biar bisa buat Papa bangga," harap Nirmala.


"Hm..." sahut Arman singkat. Tanpa berkata apa pun lagi, Arman masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan kencang, meski Nirmala masih berdiri di depan kamarnya.

__ADS_1


Gadis berjilbab itu mengelus-elus dada lantas melangkahkan kaki ke luar dari rumah menuju bangunan luas bersama motor bututnya. Bangunan yang semula hanya sekedar angan-angan untuknya berdiri di sana, kini telah menjadi kenyataan.


...*****...


__ADS_2