Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Melarikan Diri


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Sudah tiba waktunya si gadis berjilbab untuk pulang dari tempat di mana ia bekerja. Berhubung hari ini ia mendapatkan lembur, ia menjadi karyawan terakhir yang berada di toko. Karena itu, sebelum meninggalkan toko ia harus mengecek segala sesuatunya terlebih dahulu.


Lelah memang lelah. Namun, ia tak ingin mengeluh. Ia sapu keringat yang menitik di atas pelipis menggunakan lengan bajunya, seraya mengatur napas karena rasa letih beraktifitas seharian.


"Alhamdulillah... semuanya udah aman. Kompor, oven, AC, lampu ... udah dimatiin. Alat-alat juga udah bersih dan rapi. Aku pulang ah...."


Nirmala menautkan tas ransel ke atas pundak. Dia keluar dari toko lalu mengunci pintu lanjut menggemboknya. Berhubung esok adalah hari minggu, dia menggunakan waktu senggangnya dengan mengais rezeki.


"Nirmala!!" Seseorang menepuk pundak gadis itu.


"Astaghfirullah... Kak Zain ngagetin aja!!" kesal Nirmala setelah tahu siapa yang menyapanya.


"Maaf..." sesal Zain karena Nirmala memperlihatkan raut tidak menyenangkan.


"Iya, aku maafin. Tapi lain kali jangan kaya gitu ya Kak," balas Nirmala. "Ngomong-ngomong lagi nungguin siapa?" tanyanya pura-pura polos. Dia cingak-cinguk mencari keberadaan seseorang. Akan tetapi, suasana pertokoan itu sudah sangatlah sepi.


Zain mendengus. "Nungguin bidadari keluar dari toko!"


Nirmala terkekeh, "Mana ada bidadari keluarnya dari toko. Kak Zain ngelucu nih!"


"Tentunya ada. Nih, orangnya lagi berdiri di depanku!" sahut Zain ingin membuat Nirmala tersipu. Tetapi, gadis itu menanggapinya dingin.


"Oke deh, Kak. Aku pulang duluan ya, takut kemaleman!" pamit Nirmala bersikap acuh tak acuh.


"Kenapa kamu nggak bisa peka, Nirmala?" lirih Zain kecewa. "Aku sengaja ke sini, itu buat menjemput kamu. Harusnya kamu paham," tambahnya dengan suara bergetar.


Nirmala terpaksa tidak melanjutkan langkahnya. Laju kaki terhenti, kini dia berdiri dengan perasaan gamang.


"Kenapa Nirmala? Aku lihat kamu bisa hangat dengan Bara, tetapi dingin saat bersamaku. Apa aku gak pantas turut merebutkan cintamu?"


Gadis berjilbab itu membuang napas panjang lalu membalikkan badan. "Ayo Kak. Jadi 'kan, nganterin aku pulang?"


Zain mendesah tipis dan menganggukkan kepala. Kemudian menyusul Nirmala yang sudah kembali berjalan di depannya.


Tiga puluh menit sudah berlalu, Nirmala dan Zain tenggelam dalam kediaman mereka. Masing-masing mengatup mulutnya rapat-rapat, tidak ada yang ingin memulai pembicaraan.


"Sudah sampai," ucap Zain singkat.


Nirmala menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih lantas keluar dari mobil. Nampak Arman tengah menunggunya, berdiri di depan pagar dengan tangan bersilang di atas dada.


"Papa? Tumben Papa udah pulang." Nirmala menarik tangan sang ayah untuk mengecupnya. "Papa lagi apa di luar? Apa Nala belum pulang?" Nirmala melontarkan pertanyaan-pertanyaan untuk mengalihkan perhatian Arman.


"Lu pulang bareng siapa?" tanya Arman pada Nirmala. Akan tetapi, kedua bola matanya menyorot tajam ke arah Zain.


Pemuda yang berada di dalam mobil, akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari kendaraannya lantas menghampiri Arman. "Assalamu'alaikum, Om..."

__ADS_1


"Hm..." jawab Arman. Dia memperhatikan pemuda di hadapannya dari atas kepala hingga ujung kaki. "Lu siapa, berani-beraninya nganterin anak gue pulang?" tekan Arman tidak ramah.


"Saya Zain, Kakak kelasnya Nirmala di kampus," jawab pemuda itu.


"Oh..." Arman manggut-manggut. Dia menelisik merk mobil yang dibawa Zain lantas mengulum senyuman. "Itu mobil punyalu? Keren juga!" puji Arman yang membuat Nirmala merasa malu.


Zain menganggukkan kepala. "Iya Om, ini mobil saya."


Senyum merekah terukir dari kedua sudut bibir Arman. "Orang kaya dong ortu lu?"


"Alhamdulillah... Om. Papa saya seorang pebisnis yang sukses ... mama saya punya toko pakaian Muslim kecil-kecilan," jawab Zain bangga.


Arman manggut-manggut lalu merangkul pundak pemuda tersebut. "Ayo masuk, kita makan malam dulu. Nirmala jago masak loh!"


Arman mengajak Zain untuk singgah, padahal Nirmala sudah ingin bersigera untuk beristirahat. Sebab esok pagi, dia harus kembali bekerja di bakery milik Arum.


Zain menerima ajakan Arman dengan senang hati. Dia merasa jalannya untuk mendekati Nirmala semakin mudah. Kalaupun tidak bisa mendapatkan hati Nirmala, setidaknya dia bisa mengambil hati seorang Arman.


...***...


"Maaf, Om... aku udah gak kuat minum lagi." Nala menolak ketika Sakti memaksanya untuk meminum gelas kelima. "Om 'kan tau, akhir-akhir ini aku lagi sakit," ujar Nala agar Sakti bisa memahami kondisinya.


Sakti melempar gelas yang dia genggam dan menggepit kedua pipi Nala. "Kamu sudah Om bayar mahal, gak usah membantah apa yang Om suruh!!"


"Om... jangan, Om!!" rengek Nala. "Aku mohon, jangan lakuin ini sama aku." Nala memberontak menendang bagian vital pria yang kesetanan itu.


"Sialan kamu!!" Sakti menampar wajah Nala berkali-kali. "Jangan melawan! Om mau bikin kamu merasakan nikmatnya surga dunia. Lagi pula Om akan membayar keperawananmu dengan harga mahal. Jadi, kamu cukup diam dan biarkan Om yang bekerja!"


Tanpa rasa iba, Sakti menyesap ceruk leher dan menggigitnya. Tangan kekarnya berusaha membuka kedua paha Nala yang ditutup rapat. "Lemasin sayang, Om mau bikin kamu melayang."


Nala geleng-geleng kepala, air mata mengalir dari kedua sudut matanya. "Lepasin aku, Om. Aku mau pulang!"


Tenaga Sakti saat ini jauh berlipat-lipat dari biasanya. Sekuat apa pun Nala memberontak, dia tidak mampu melepaskan diri dari cengkeraman Sakti. "Puasin Om! Om bayar kamu lima ratus juta!"


"Aku gak mau, Om. Lepas!!" sentak Nala dan dibalas kembali dengan tamparan. Darah segar menetes dari pinggiran bibirnya. Sakti mencolek darah tersebut menggunakan jari telunjuk lalu melumattnya.


"Pasrah saja, sayang. Gak bakalan ada yang nolongin kamu! Mari kita bersenang-senang dan nikmati malam ini berdua!" Sakti membenamkan wajahnya di antara dua gundukan dengan tangan terus menerobos pertahanan Nala. Kedua mata gadis itu terbelalak sempurna karena Sakti berhasil menyentuh bagian paling sensitif dari tubuhnya.


"Jangan Om, aku mohon ...."


Sakti tidak mengindahkan rengekan Nala dengan terus memberikan rangsangan-rangsangan di setiap titik sensitif Nala. Gadis itu berkali-kali memukul tubuh Sakti dan menendang-nendangkan kakinya. Namun, tetap saja Sakti tak bergeming. Dia malah semakin bersemangat untuk meneguk madu gadis peliharannya.


Pria tak tahu malu tersebut melepas pakaiannya sendiri lalu merapatkan tubuh dan mencumbu dada Nala begitu beringas. Dara berusia dua puluh tahun itu memekik dan menjerit lantaran Sakti menyakiti diri juga kehormatannya.


"Tolong aku, siapa pun itu...!!" teriak Nala dengan suara serak.

__ADS_1


Sakti terbahak karena pertahanan Nala sudah semakin melemah. Dia sudah bersiap untuk meluncurkan miliknya yang telah mengeras. Teriakan Nala bertambah memilukan dan suaranya sudah sangatlah parau.


"Terima ini sayang!!"


"Jangan, Om!!"


Nala menjerit kembali bukan karena kehormatannya terkoyak. Melainkan kedatangan seseorang secara tiba-tiba lalu menghantam kepala Sakti, hingga pria itu tersungkur dan tidak sadarkan diri.


"Bara?"


"Ayo cepat keluar, sebelum bokap gue bangun!!"


"Bokap??"


"Udah jangan banyak nanya, lu ikut gue sekarang!!"


Nala menganggukkan kepala dan menyambut uluran tangan Bara lalu melarikan diri dari klub malam melalui pintu belakang.


Keduanya berlari sekuat tenaga agar terhindar dari pihak keamanan tempat hiburan malam tersebut. Nala melepas genggaman Bara lalu menundukkan badannya, mengatur napas.


"Gue capek, Bar! Lagian, gue gak mungkin ke jalanan dalam kondisi kaya gini!"


Bara menepuk jidatnya baru menyadari kalau Nala setengah telanjang. Dia melepas jaket miliknya lalu diberikan pada gadis yang berdiri menelungkup tubuhnya sendiri.


"Nih, pake!!"


"Makasih ya Bar!!"


"Hm..." sahut Bara. "Gue anter lu balik. Besok siang gue jemput, lu harus jelasin sama gue hubungan lu sama bokap dan alasanlu pake jilbab kaya Nirmala!"


"Lu tau gue bukan Nirmala?"


"Menurutlu?"


Nala mendengkus. "Menurut gue sih lu emang tau kalo gue bukan cewek sok suci itu!"


Bara memutar bola matanya, sebal dengan ucapan Nala. "Lu mestinya bersyukur, udah gue tolongin dari pria tua bangka itu! Dengan kejadian malam ini, harusnya tobat bukannya masih aja julid sama kembaran lu!!"


"Iya deh iya, gue ngaku salah!!"


"Ya udah, ayo kita lanjutin lagi. Motor gue parkir di depan toko kelontong sebrang jalan!"


Nala mengiyakan ajakan Bara sebab dia takut Sakti turut mengejar juga menyusulnya. Dia kembali berlari dengan terus berpegangan pada tangan hangat Bara. Kejadian yang menimpanya kali ini, setidaknya membuat dia merasa senang karena bisa berada begitu dekat dengan lelaki pujaannya.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2