Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Copet Nakal


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Mak..." salam Nirmala pada wanita yang sedang mengelap meja.


"Wa'alaikumsalam..." jawab Bu Ina. "Eh, ada mantu Emak," tambah Bu Ina bergurau. Dia mengambil box plastik berisi bakwan, pisang goreng dan gehu pedas dari tangan Nirmala.


Nirmala cingak cinguk mencari keberadaan pemuda yang suka menggodanya. "Mak, bang Yusuf mana? Tumben 'gak kedengaran suaranya...."


"Napa nyari-nyari anak Emak, kangen ya?" goda bu Ina.


Nirmala merespon dengan santai gurauan wanita berjilbab ungu di sampingnya. "Nggak gitu, Mak. Biasanya 'kan, tiap Nirmala ke mari ... bang Yusuf yang jawab salam Nirmala."


"Oh... jadi Neng Mala ngerasa kehilangan gitu ya?" Bu Ina kembali menggoda Nirmala.


"Ih... Emak..." rajuk Nirmala manja.


Bu Ina terkekeh, "Abangmu ada kuliah. Emak juga heran dia mendadak serajin ini. Biasanya ... tau sendirilah, harus nunggu Emak berubah jadi singa, baru dah tuh anak pergi kuliah."


"Alhamdulillah... kalau bang Yusuf lebih giat. Mala seneng dengarnya." Nirmala tersenyum lantas membantu bu Ina memindahkan gorengan ke dalam wadah yang lain.


Bu Ina mengambil dompet dari dalam laci gerobak. "Ini Neng uangnya, maaf ya kali ini Emak gak bisa ngasih uang lebih."


"Nggak apa-apa, Mak. Kalau pun ada rezeki lebih mending disimpen aja, buat biaya kuliah bang Yusuf." Nirmala menutup box plastik miliknya lalu menarik jemari bu Ina lanjut mengecupnya. "Mak, Mala langsung ke pasar ya. Mau nitip sesuatu gak?"


Bu Ina memutar bola mata ke atas, tengah mengingat-mengingat apa yang sedang dia butuhkan. "Em... 'nggak ada Neng. Bahan-bahan buat masak nasi uduk besok, udah lengkap."


"Oke deh Mak... kalau gitu Mala pergi dulu ya. Assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumsalam...." jawab bu Ina dengan senyuman mengembang.


Nirmala berangkat ke pasar tradisional untuk membeli bahan-bahan membuat gorengan. Meski umurnya masih sangat belia, dia tidak pernah merasa malu ataupun rendah diri. Baginya hidup harus dijalani dengan optimis juga kerja keras. Mengesampingkan rasa malu karena itu hanya akan menjadi penghambat untuk meraih masa depan yang lebih baik.


Seperti biasa, gadis berkerudung itu melajukan motor bututnya dengan kecepatan sedang. Dia melewati gang-gang kecil untuk menghemat waktu. Senyuman tidak pernah surut dengan kepala mengangguk ketika melewati setiap orang yang dia temui.

__ADS_1


Lima belas menit terlewati, kini gadis bermata bulat telah sampai di pasar tradisional. Dia memakirkan motornya lanjut melepas helm. Dengan penuh semangat, dia melangkahkan kaki menuju bangunan yang nampak kumuh. Setiap orang yang berpapasan dengannya selalu menyapa dengan ramah. Itu karena sikap Nirmala yang santun, ringan lidah dan menaruh hormat kepada siapa pun.


"Eh ada Neng Mala..." sapa seorang preman pasar. "Mau belanja ya Neng?" tanyanya sopan.


Nirmala menghentikan langkah dan menoleh ke arah laki-laki yang menyapanya. "Eh Bang Bimo. Iya nih Bang, biasalah mau beli bahan-bahan buat bikin gorengan. Ngomong-ngomong, 'nggak mangkal di terminal, Bang?"


Pria yang dipanggil bang Bimo tengah menghitung lembaran uang dua ribu rupiah. "Belom Neng, nagihin duit keamanan dulu nih di pasar. Baru dah habis ini ke terminal."


Nirmala manggut-manggut. "Bang... Nirmala masuk dulu ya. Takut keburu abis sayurannya...."


"Iya Neng... sok. Bang Bimo juga mau muter-muter lagi," jawab pria yang memiliki tato di lengan kanan seraya memutar-mutar jari telunjuknya.


Nirmala mengangguk dan melanjutkan langkah menuju pasar lantai dasar. Bimo menatap punggung Nirmala sembari geleng-geleng kepala dan berkata di dalam hati. "Udah cantik, sopan, baik bener itu anak. Kalo gue dikasih bini macem Neng Mala ... mau tobat dah jadi preman."


...***...


"Bu Wening ... Mala mau wortelnya dua kilo dong," pinta Nirmala pada wanita paruh baya dengan kalung emas sebesar rantai. "Sama kol hijaunya sekilo, toge setengah kilo dan daun bawang lima ribu aja." Nirmala menyebutkan satu per satu sayuran yang dia butuhkan pada seorang pedagang.


Nirmala tersenyum lebar. "Iya nih Bu, besok cuman bikin gorengan buat warung nasi aja. Mala libur dulu jualan keliling, ada keperluan."


Bu Wening manggut-manggut sembari menimbang sayuran yang dimasukkan ke dalam keresek. "Apa lagi, Neng?"


"Itu aja Bu. Jadi, semuanya berapa?" jawab Nirmala menanyakan total yang harus dia bayar.


Wanita yang mengenakan daster warna merah, mengambil kalkulator dari atas rak kayu lalu menghitung jumlah belanjaan. "Semuanya jadi tiga puluh lima ribu rupiah, Neng...."


Nirmala mengeluarkan uang sejumlah yang dibutuhkan dari dalam dompet. "Ini Bu uangnya...."


Bu Wening menarik uang yang diberikan oleh pelanggannya. "Makasih ya Neng... Ibu doakan jualan gorengannya laris terus."


"Aamiin ya Allah... makasih ya Bu buat doanya. Semoga dagangan Bu Wening juga selalu laris dan berkah," balas Nirmala tulus.

__ADS_1


"Aamiin..." sahut bu Wening.


Nirmala melanjutkan kembali langkahnya untuk mencari pisang nangka, gula putih dan tepung terigu. Dia berjalan santai sembari mengingat-ingat daftar belanjaan, takut ada yang terlewatkan. Ketika dia tengah berjalan, terdengar suara wanita yang berteriak copet. Sontak Nirmala mengerling ke arah kanan dan terlihat seorang pria sedang berlari tunggang langgang sembari terus melihat ke arah belakang.


Nirmala menyorongkan kaki kanan ke depan. Pencopet masih saja berlari panik tanpa memperhatikan langkahnya. Dia tersandung dan terjerembab ke tanah dengan posisi tengkurap. Nirmala menghantam pria tersebut menggunakan barang di genggaman lantas merampas dompet yang sudah dicuri oleh si pencopet.


Pedagang berduyun-duyun berdatangan setelah mendengar teriakan minta tolong dari Nirmala. Mereka mengamankan pencopet tersebut, sebelum pedagang lain datang dan melakukan main hakim sendiri.


"Ini Bu, dompetnya...," Nirmala menyerahkan barang berwarna hitam tersebut pada wanita yang rambutnya disanggul.


"Terima kasih ya Nak sudah berkenan menolong saya..." ucap wanita berkisar usia empat puluh tahun tersebut.


"Sama-sama, Bu... kalau boleh saya memberi saran, untuk lain kali lebih berhati-hati. Jangan memancing orang dengan membawa dompet seperti itu," tunjuk Nirmala pada benda yang didekap wanita di depannya. "Karena akan sangat memudahkan bagi pelaku kejahatan melakukan aksinya," papar Nirmala.


Wanita tersebut mengangguk dan mengukir senyuman. "Iya Nak... terima kasih sudah mengingatkan saya. Oh, iya nama kamu siapa?"


"Nama saya Nirmala, Bu. Tapi orang-orang manggil dengan sebutan Mala," jelas Nirmala menyebutkan nama aslinya.


Wanita yang ditolong Nirmala tersebut mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari dalam dompet dan menyodorkannya kepada Nirmala. "Ini Nak sebagai ucapan terima kasih dari saya. Ambilah...."


Nirmala mendorong pelan uang tersebut menggunakan telapak tangan, menolak dengan halus. "Nggak usah Bu, saya ikhlas kok menolong Ibu. Kalau Ibu mau, berikan saja pada orang yang lebih membutuhkan."


"Masya Allah... selain paras dan namamu yang cantik, hatimu juga baik..." puji wanita itu seraya membelai wajah Nirmala.


"Alhamdulillah... doakan saya ya Bu, bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi," imbuh Nirmala.


"Insya Allah, Nak... saya senang bertemu dengan anak muda seperti kamu. Kapan-kapan main ke toko kue saya ya...," Wanita itu memberikan Nirmala kartu nama. "Di situ ada alamatnya, 'nggak jauh kok dari sini."


"Insya Allah, Bu... kalau satu waktu saya lewat daerah sana, mampir ke toko kue Ibu," jawab Nirmala.


"Saya tunggu ya...," Wanita tersebut menepuk-nepuk lengan Nirmala dan berpamitan untuk pergi lebih dahulu.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2