Takdir Cinta Nirmala

Takdir Cinta Nirmala
Tangkis


__ADS_3

"Kamu??" tanya Nirmala heran. Dia menoleh ke arah Gayatri lalu ke arah pemuda yang dikenalinya untuk meminta jawaban. "Kenapa dia ada di sini, Ni?" tanyanya pada Gayatri. Nirmala merasa bingung sebab baru kali ini dia melihat laki-laki tersebut berada di kediaman sang nenek.


Gayatri menggerak-gerakkan jari telunjuk ke arah Nirmala dan Bara secara bergantian. "Kalian udah kenal?"


"Udah dong, Ni. Nirmala 'kan cewek yang sering Bara ceritain sama Nini," sahut Bara dengan perasaan berbunga-bunga.


Nirmala mengerutkan kening. "Emangnya Bara suka nyeritain apa mengenai Mala, Ni? Terus, kenapa Nini bisa kenal sama Bara?"


Gayatri tersenyum, ntah apa yang dipikirkan wanita sepuh tersebut saat ini. "Nak Bara udah sebulan jadi pelatih anak-anak padepokan, ngegantiian mamang kamu. Lagian kamu juga sih udah lama nggak jengukin Nini. Jadi 'kan nggak tau kalau di sini ada cowok ganteng!"


"Ganteng sih ganteng, Ni. Tapi ngeselin," cicit Nirmala.


"Gak papa ngeselin, yang penting ganteng," balas Bara memainkan kerah kaos belelnya.


Nirmala memutar kedua bola matanya jengah dengan sifat narsis pemuda yang telah mengganggu waktunya, melepas rindu dengan sang nenek.


"Cantik-cantik jutek," goda Bara sengaja ingin membuat Nirmala semakin kesal. Akan tetapi, usahanya itu gagal sebab teriakan anak-anak yang memanggil namanya.


"Kak Bara... woy Kak!!"


Bara memutar kepala ke arah anak-anak yang sudah menunggunya sedari tadi di halaman belakang rumah. "Sebentar ya, Kak Bara masih ada urusan sama Nini Gayatri."


"Ada urusan sama Nini Gayatri atau godain Kak Mala?" celetuk anak-anak dengan polosnya. "Kak Bara, cepetan dong. Udah mau sore nih...."


Bara mendengkus kesal. "Iya-iya, bawel!!"


Anak-anak tersebut tertawa karena berhasil membuat Bara kesal. Demikian juga dengan Nirmala, dia menahan tawa melihat ekspresi wajah Bara yang baginya terlihat sangat konyol.


"Apa ketawa?" ketus Bara pada Nirmala. Dia melewati gadis berjilbab itu dan menatap dalam. "Hati-hati karena berawal dari tawa bisa berubah menjadi cinta," kata Bara percaya diri.

__ADS_1


"Ye... GR!!" sahut Nirmala dengan wajah melengos tidak berani menatap arah pemuda yang berdiri di depannya.


Bara terkekeh sembari berjalan menghampiri anak-anak yang sudah berbaris rapi. Mereka telah bersiap untuk mendapatkan jurus-jurus baru dari pelatih mereka. Semuanya membungkukkan badan, memberi hormat kepada Bara.


"Kak, kok bajunya nggak diganti?" protes salah satu dari anak-anak tersebut.


Bara melihat ke arah pakaian yang dia kenakan lantas menepuk keningnya sembari cengengesan. "Maaf... Kak Bara sampe lupa!"


"Gimana gak lupa, godain Kak Mala mulu sih..." celetuk anak perempuan dengan rambut dikepang.


"Anak kecil diem aja, nggak usah ikut-ikutan urusan orang dewasa!" sungut Bara menarik langkah kembali untuk mengambil tas yang dia simpan di samping Gayatri. Dengan cueknya, dia membuka kaos sembari berjalan memperlihatkan tubuh atletisnya.


Nirmala yang tidak sengaja melihat Bara bertelanjang dada, sontak memalingkan muka dan mengucap istighfar seraya memejamkan mata. "Astaghfirullahal'adziim...."


Gayatri geleng-geleng kepala dengan kelakuan Bara. Dia melepas sandal capitnya lalu memukuli bokong pemuda itu menggunakan benda tersebut. "Bocah eddan, di sini lagi ada anak gadis. Jagalah sikapmu sedikit!!"


"Ni... ampun Ni." Bara menutupi pantatnya dengan kedua tangan. "Bara gak sengaja, Ni. Bara lupa!" kilah Bara sembari menarik tas ransel yang tersimpan di atas bangku kayu. Dia lari tunggang langgang, menyelamatkan diri dari amukan Nini Gayatri.


Nirmala beranjak dari atas kursi lalu mengusap-usap punggung sang nenek. "Sabar ya Ni... Bara emang tengil anaknya, tapi dia baik kok. Sering nolongin Mala kalau lagi kesusahan."


Gayatri melirik ke arah cucunya. "Kamu suka sama Bara, Neng?"


Kedua alis Nirmala saling bertautan. "Apaan sih, Ni? Mala belum kepikiran masalah cinta-cintaan. Mala ingin fokus kuliah, biar papa bisa sayang sama Mala. Seperti sayangnya papa sama Nala."


Gayatri menangkap raut sendu dari wajah cucu kesayangnnya. Dia membelai lembut kepala Nirmala yang saat ini bersandar di atas pundaknya. "Nini doakan ... kelak kamu jadi orang sukses. Biar papamu itu sadar, kalau dia sudah menyia-nyiakan mutiara yang paling berharga."


"Aamiin ya Allah..." ucap Nirmala menyahuti doa dari sang nenek.


"Ya udah sana ke halaman, perhatiin gerakan adik-adik kamu. Siapa tau ada yang keliru, bisa kamu bantu betulkan," titah Gayatri pada Nirmala yang sebetulnya menyimpan maksud tersembunyi. "Nini mau masuk ke dalam dulu nyiapin minuman buat anak-anak. Kasihan, pasti pada kehausan." Gayatri beringsut, tetapi Nirmala menahannya.

__ADS_1


"Biar Mala aja Ni yang nyiapin minuman anak-anak. Nini duduk aja di sini," tawar Nirmala lantaran dia tidak ingin bersinggungan dengan Bara.


"Udah... kamu ke halaman aja, nggak usah ngebantah!" ketus Gayatri melangkah ke dalam rumah.


Sementara di halaman, Bara tengah mengajarkan anak-anak kecil itu gerakan-gerakan tangkisan. "Tangannya di depan dada kaya gini, nih...."


Bara membetulkan posisi tangan anak tersebut, sementara Nirmala memperhatikan dengan intens dari atas pelataran.


"Kak Mala... turun dong. Kita kangen sama kak Mala nih," teriak seorang anak laki-laki. Nirmala menganggukkan kepala, terpaksa menuruti permintaan anak tersebut. "Kak Mala battle sama Kak Bara, buktiin siapa yang paling jago!" cicit anak itu setelah Nirmala berada di halaman.


Bara berdecih, "Maaf... Kakak nggak level kalau harus melawan perempuan lemah!"


Nirmala tetap santai, tidak ingin terperangkap oleh perkataan Bara yang tengah memancing emosinya. "Pasti Kak Bara yang menanglah, Adit. Kak Mala 'kan nggak bisa bela diri."


Nirmala melantingkan kepala ke belakang karena serangan mendadak yang diluncurkan Bara kepadanya. Berkali-kali pemuda itu melayangkan beberapa pukulan juga tendangan. Namun, Nirmala berhasil menangkis dan menghalau semua serangan tersebut.


"Keren juga kamu! Tapi gerakanmu kurang bertenaga, pasti karena udah lama gak latihan, 'kan?!" terka Bara mempelajari setiap gerakan dari tubuh Nirmala.


Nirmala tidak ingin menjawab, dia melengos dan berjalan menuju ke pelataran kembali. Dia berjalan tergesa-gesa sembari mulut bersungut-sungut. Hingga tidak memperhatikan pijakan yang harus dia lalui dengan hati-hati. Nirmala menginjak salah satu tembok yang basah membuat kakinya tergelincir karena licin.


Bara yang melihat tubuh Nirmala terhuyung, sigap berlari cepat ke arah gadis berkerudung tersebut. Dan beruntungnya, dia berhasil menopang punggung Nirmala yang hampir saja terjungkal menyentuh tanah.


"Lain kali jalan dengan lebih hati-hati!" saran Bara dengan tangan masih saja memegangi punggung Nirmala. Dia seakan tidak ingin melewatkan momen langka ini, berdekatan dengan sang pujaan hati.


"Ehm..." deham Gayatri. "Bukan muhrim, gak boleh peluk-pelukan!" tegurnya pada anak muda di depannya.


Sepasang bola mata terbuka lebar, terkejut atas selorohan Gayatri. "Ini nggak seperti yang Nini bayangkan kok. Bara gak meluk Mala ... dia cuman nolongin. Karena tadi Mala hampir jatuh dari tangga."


"Oh, begitu? Terus Nini harus percaya gitu aja?" goda Gayatri membuat Nirmala dan Bara merasa canggung. Gayatri akhirnya tergelak sebab dia tidak kuat terus menerus menahan tawa. "Iya-iya... Nini percaya kok. Kalian berdua anak yang baik. Nini doakan ... kalian berjodoh."

__ADS_1


Nirmala melongo dengan mulut menganga lebar. Sedangkan Bara tersenyum misterius. Doa Gayatri adalah harapan utama di hatinya, keinginan terbesar bisa mempersunting Nirmala suatu saat nanti.


...******...


__ADS_2