
Setelah dua puluh menit tidak sadarkan diri, akhirnya Nala siuman juga. Perlahan gadis itu membuka kedua matanya, menatap ke sekeliling dan memikirkan kejadian terakhir sebelum dia tidak mengingat apa-apa.
"Om..." panggil Nala pada pria yang menatap cemas ke arahnya. "Nala kenapa, Om?" Dia mengangkat tubuhnya dan bersandar ke dinding yang berada di belakang punggung.
Sakti menggenggam tangan simpanannya. "Tadi kamu pingsan, sayang. Ngomong-ngomong... apa kamu lagi sakit? Om tadi khawatir banget tau...."
Nala meringis. "Nggak tau Om ... tapi udah dua bulan ini, pinggang Nala suka kerasa sakit."
"Sudah kamu periksakan ke dokter?" Sakti menaruh tangannya ke atas pundak Nala. Saat ini dia lebih terlihat seperti sesosok ayah yang tengah mencemaskan putrinya.
Nala menggelengkan kepala. "Belum, Om. Nala takut ke dokter soalnya. Takut disuntik!"
"Kalau disuntik sama Om. Mau nggak?" goda Sakti, kebiasaannya mulai kumat.
"Ye... Om, mesum nih!! cicit Nala. "Mau-mau aja sih, Om! Kalau Nala dijadiin istri kedua," canda Nala lalu terbahak karena leluconnya sendiri.
Sakti mencubit dagu Nala. "Gimana Om nggak klepek-klepek, coba! Kamunya ngegemesin kaya gini."
"Ih... Om, bisa aja!" sahut Nala manja. "Om juga gak kalah ngegemesin! Umur sih boleh tua, tapi jiwanya. Beuuuh... anak muda mah lewat...!" kelakar Nala yang direspon dengan gelak tawa.
"Udah ah, yuk pulang. Om antar sampai depan gerbang rumah," tawar Sakti sebab dia tidak ingin gadisnya membawa kendaraan seorang diri.
"Tapi mobil Nala, gimana Om?" Nala bingung memikirkan kendaraan beroda empat miliknya.
"Tenang aja... besok pagi, orang suruhan Om yang akan nganterin mobil kamu selamat sampai rumah."
Nala manggut-manggut lalu menurunkan kedua kakinya. "Om, bisa bantu Nala berdiri gak? Kaki Nala masih lemas nih."
__ADS_1
Sakti dengan senang hati membantu Nala untuk berdiri lantas memapah gadis itu menuju parkiran. Tangan nakalnya tidak ingin membuang kesempatan untuk menyentuh salah satu bagian tubuh Nala yang paling dia sukai.
"Om kesempatan dalam kesempitan nih..." rajuk Nala mencubit pinggang Sakti.
Mereka nampak terlihat bak sepasang kekasih. Saling membalas kemesraan jua candaan, khas dua insan yang tengah didera gelora asmara.
"Itu papa sama siapa?" Bara yang berada tidak jauh dari posisi Sakti, terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini. "Nirmala? I-itu, Nirmala? Jadi, selama ini perempuan simpanan papa itu Nirmala? Ah, tapi nggak mungkin kalau itu dia!" Bara geleng-geleng kepala lalu menyipitkan mata agar bisa lebih jelas melihat wajah gadis yang bersama sang ayah.
"Ya Allah... tapi wajah dan kerudung itu, benar-benar wajahnya Nirmala!" lirih Bara melawan pikirannya sendiri. "Aku harus cari tau, ada hubungan apa antara papa sama perempuan yang mirip Nirmala itu!"
Bara menghidupkan mesin mobil saat kendaraan Sakti melaju melewatinya. Dia berniat untuk membuntuti pria paruh baya tersebut guna mengikis rasa penasarannya terhadap kekasih gelap sang ayah.
...***...
"Nala mana ya?" Nirmala mondar-mandir di teras rumah sebab saudara kembarnya belum jua kembali. Berkali-kali dia menatap jam di dinding yang kini menunjukkan pukul satu malam. "Kamu selalu bikin aku khawatir, Nala!" gumam Nirmala.
Arman berjalan ke arah teras, menghampiri Nirmala. "Ngapain lu di sini? Masuk!!!"
Nirmala mengusap-usap dadanya lantaran dikejutkan oleh pekikan suara yang terasa menukik gendang telinga. "Astaghfirullah... Papa bikin Mala kaget aja."
Gadis berjilbab itu menarik napas lantas membuangnya. Meredakan degup jantung yang bertalu-talu karena terkejut. "Mala lagi nungguin Nala, Pa. Mala waswas banget, soalnya jam segini Nala belum pulang juga."
"Gak usah lu pikirin si Nala, biar gue yang nungguin anak itu," kata Arman. "Lu tidur aja sana ... besok bukannya masih ada kuliah?"
Nirmala menggulirkan matanya mencerna sikap Arman yang sedikit lain dari biasanya. "I-iya Pa, besok Mala ada kuliah. Papa nggak apa-apa emangnya nungguin Nala?"
"Ya kagak apa-apalah. Kebetulan gue lagi susah tidur!" Arman duduk di kursi teras dengan pandangan lurus ke arah pagar yang pintunya sedikit terbuka.
__ADS_1
"Papa mau Mala buatin kopi?" tawar Nirmala bersikap sebaik mungkin karena berharap Arman bisa memperlakukannya dengan lebih baik lagi.
Arman melirik ke arah Nirmala sepintas. "Kagak usah, nanti gue makin nggak bisa tidur kalau disodorin kopi. Mending lu molor aja sana, biar bisa bangun subuh terus nyari duit, bikin gorengan lagi!"
"Iya Pa... Mala naik duluan ya." Nirmala meninggalkan Arman sendirian di depan teras. Dan secara bersamaan sebuah mobil mewah berhenti di samping bangunan dengan pencahayaan remang-remang.
Di dalam mobil
"Om masih kangen kamu, tau!" Sakti mencumbu liar bibir perempuan simpanannya. "Apalagi kamu pake jilbab kaya gini ... bikin Om makin geregetan, terus pengen cepet-cepet merawanin anak gadis orang!" ungkap Sakti tanpa malu.
"Itu mah Om-nya aja yang udah kegatelan. Gak bisa nahan itu tuh!" tunjuk Nala pada bagian celana yang menggembung.
Sakti mendengus, "Kamu kapan bisa luluh sih, Nal? Padahal Om udah nawarin dengan harga tinggi loh!"
Nala tahu pasti, satu waktu Sakti akan membahas masalah ini kembali. "Prinsipku masih sama, Om. Sekedar nemenin Om jalan atau minum-minum."
Sakti tersenyum samar. "Baiklah... Om nggak akan ngebahas soal ini lagi. Tapi Om berani taruhan, suatu saat kamu sendiri yang akan menyerahkan kesucianmu itu pada Om!"
"Lihat nanti aja, Om!!" Nala keluar dari mobil, lalu berdiri menghadap mobil Sakti sembari memberikan ciuman jarak jauh.
Sakti yang masih dilanda gairah, dia turut keluar dari mobil dan menghampiri Nala. Lagi-lagi dia memagut bibir yang berpoleskan lipstik warna merah menggoda. "Besok kita ketemu lagi ya sayang. Om belum puas mesra-mesraan sama kamu!"
Aktifitas memalukan antara Sakti dengan Nala, disaksikan langsung oleh Bara yang diam-diam mengikuti mereka. Pemuda dua puluh dua tahun itu membanting ponsel yang dia genggam. Selepas merekam kejadian menjijikkan yang tersaji di depan mata.
"Benar-benar gila! Gue gak habis pikir bisa-bisanya kalau papa menjalin hubungan dengan cewek yang gue sukai!" Bara menggebrag kemudi meluapkan kekesalan. "Tapi mana mungkin perempuan sebaik Nirmala ngelakuin hal rendahan kaya gini?" Bara mengerang, menarik kasar pucuk rambutnya.
"Apa jangan-jangan itu Nala? Tapi jelas-jelas cewek itu pake jilbab." Bara terus bertanya pada dirinya menghalau setiap prasangka. "Gue harus nyelidikin ini semua, gue gak boleh gegabah!" Bara kembali melajukan kendaraannya karena mobil Sakti sudah meninggalkan rumah Nirmala.
__ADS_1
...*****...