
"Ayo bangun, sini lawan aku!!" Seseorang yang menolong Nala menantang pemuda yang terbujur di atas trotoar untuk berduel. Namun, pemuda itu hanya menggerak-gerakkan mulutnya tanpa ada suara yang terdengar.
"Gegayaan loe, curut!!" cibir pemuda lain yang sudah memasang kuda-kuda. "Loe berani macam-macam sama kita, lihat aja akibatnya!" Dia memberikan kode pada temannya untuk menyerang seseorang itu secara bersamaan.
"Tapi gak apa-apa deh, maen sama dua cewek sekaligus malah lebih cihuy. Apalagi ini cewek jilbaban, pasti itunya masih rapat!" timpal pria satunya lagi.
Kedua berandalan itu menghampiri perempuan-perempuan di hadapan mereka sembari terkekeh dan memainkan bibir berulang kali. "Loe seret itu cewek ke dalam mobil, biar gue yang ngurusin si pahlawan kesiangan ini!!"
Salah seorang dari mereka berjalan mendekat, berniat untuk menyergap Nala kembali dan memasukannya ke dalam mobil. Perempuan berjilbab itu sigap menghalangi pemuda yang ingin membawa Nala. Dia memasang badan dengan kedua tangan mengepal kuat.
"Nala, lari!!" pekik orang yang menolong gadis seksi itu, yang tak lain adalah Nirmala. "Gak usah peduliin aku, kamu selamatkan diri kamu aja! Aku bisa menjaga diriku sendiri!" pekiknya lagi sembari menajamkan indera penglihatan, memperhatikan gerak-gerik musuh.
Gadis berambut pendek itu lekas-lekas berlari menjauh tanpa sekali pun menoleh ke arah sang adik yang berada dalam bahaya demi menyelamatkannya. Dia terus berlari hingga suara langkah cepat tak lagi terdengar.
__ADS_1
"Lihat tuh, cewek yang loe tolongin pergi ninggalin loe!" sinis pria berkepala pelontos. "Eh ngomong-ngomong muka kalian berdua ternyata sama ya?" tambahnya lagi yang dibalas dengan toyoran oleh pemuda di sampingnya.
"Bego loe, mereka berdua itu kembar!!" sembur si pria dengan tindik di atas lidah.
Nirmala mendengus kesal dan memanfaatkan kelengahan musuh untuk menyerang lebih dahulu. Tanpa memberikan ampun, kaki kanan gadis berkerudung itu mendarat sempurna di atas muka kedua pemuda di hadapannya.
Nirmala terus menyerang kedua pemuda itu dengan gerakan cepat dan kuat. Pukulan demi pukulan bertubi-tubi dia lancarkan, tidak ketinggalan tendangan-tendangan yang menukik ke atas dada dan kaki mereka. Dalam hitungan kurang dari sepuluh menit, Nirmala sudah berhasil melumpuhkan para berandalan tersebut.
"Mau aku tambahin lagi?" bentak Nirmala dengan tangan dan kaki masih dalam posisi menyerang. "Kalian bisa aja aku laporkan ke polisi, tapi kali ini aku lepasin. Kalau satu waktu aku lihat kalian bersikap kurang ajar lagi sama perempuan. Bukan cuman aku jeblosin ke penjara, tapi tangan dan kaki kalian aku patahkan terlebih dulu. Sekarang, pergi!!" sentak Nirmala dengan kaki menghentak trotoar.
Nirmala cengengesan lalu melungsurkan badannya untuk berjongkok. "Kasihan... deh ditinggalin! Lihat tuh temen kamu, lari tunggang langgang sampai temennya dilupain!"
Nirmala beringsut, dia berdiri kemudian berjalan tergesa-gesa untuk menyusul Nala. Meski dia tidak tahu apa sang kakak masih menunggunya atau sudah pulang lebih dahulu.
__ADS_1
"Nirmala awas...!!!" jerit seorang pria karena dia melihat gadis berjilbab itu berada dalam bahaya. Nirmala langsung saja membalikkan badan, matanya menyalang sesaat kemudian mengatup rapat lantaran melihat sebuah balok siap menghajar wajah ayunya.
Beberapa detik kemudian, Nirmala yang telah yakin sebilah kayu itu akan mengenai wajahnya, dia membuka mata melihat apa yang terjadi. Dan ternyata tangan kekar seseorang yang menjerit tadi, menangkap pukulan kayu tersebut.
"Bara?" pekik Nirmala terkejut bercampur rasa senang. Pemuda itu melihat sekilas ke arah Nirmala dengan kedua ekor matanya lalu kembali fokus dengan benda yang dia cekal.
Bara merampas balok dari tangan pemuda yang berkaos hitam lanjut menariknya ke atas. Dia mengayunkan benda tersebut untuk memberikan pelajaran berharga pada laki-laki yang berniat menyerang Nirmala.
"Tahan, Bara... biarkan cecunguk itu pergi. Jangan kotori tanganmu dengan memukulnya!" Nirmala memegang pundak Bara agar pemuda itu luluh dan mengurungkan keinginannya untuk menghajar lelaki di depannya.
Bara memejamkan mata sesaat lalu memberikan beberapa pukulan yang meninggalkan luka memar di wajah berandalan itu dengan kepalan tangannya. Dia mendorong kasar dada pemuda berkaos hitam, menyuruhnya untuk pergi sebelum dia benar-benar hilang kesabaran. Nirmala hanya bisa mengelus dada sebab dia tahu kalau saat ini Bara dalam kondisi emosi tinggi.
...*****...
__ADS_1
...Mohon maaf baru up dan hanya sedikit. Saya baru pulang ke rumah. Kemarin lagi di luar kota dan susah sinyal 🙏...