
Nirmala terperangah saat mengetahui siapa yang telah membuatnya celaka. Mona Adibrata, teman karib saudari kembarnya. Nirmala masih berusaha untuk berpikir positif. Sampai pada saat Mona berlutut di hadapannya, dia mengetahui fakta yang sebenarnya.
"Maafin aku Nirmala ... aku cuman disuruh Nala. Dia yang nyuruh aku buat nyerempet kamu. Aku ... aku..." Mona tidak mampu lagi meneruskan ucapannya.
"Nala? Nala temen kamu yang sering ngajakin ke diskotik?" pekik Rudi. "Nala temen kamu yang ngajarin kamu mabuk-mabukkan?" tanyanya lagi. Dari awal sebenarnya Rudi sudah tidak setuju kalau putrinya bergaul dengan Nala. Selain karena mengajarkan hal tidak baik, gadis itu pun sering berbuat gaduh di kediamannya.
"I-iya Pa... Nala sahabatnya Mona, 'nggak ada lagi. Papa kan, tau kalo aku 'nggak punya teman selain dia," jawab Mona memelas. Meski itu hanya alibi semata, tapi pada kenyataannya memang begitu adanya. Karena Mona gadis yang tidak pandai bergaul.
"Tolong maafkan saudara kembar Nirmala ya, Om. Nirmala merasa bersalah jadinya," tandas Nirmala karena perkataan Rudi sedikit banyak telah membuatnya malu.
"Jadi Nala itu saudara kembar kamu?" Rudi merasa tidak percaya, dia bertanya untuk memastikan. "Pantas saja dari tadi Om rasa-rasanya mengenal kamu, ternyata...."
Nirmala mengangguk. "Iya, Om... saya dan Nala itu saudara kembar."
Rudi mendesah, "Meski saudara kembar ... tapi perbedaan kalian berdua bak langit dan bumi. Wajah saja yang sama, tetapi hati kalian berbeda."
"Alhamdulillah... Nala juga sebenarnya gadis yang baik kok, Om. Hanya saja... kurang perhatian juga kasih sayang," pungkas Nirmala yang tidak ingin saudarinya mendapat pandangan buruk.
"Memangnya, kamu sendiri mendapat kasih sayang yang cukup?" timpal Rudi membalikkan perkataan Nirmala. Bukan maksud hati ingin menekan perasaan gadis di depannya. Namun, dia ingin tahu sejauh mana Nirmala akan menutupi aib saudaranya sendiri.
Nirmala masih berusaha untuk tersenyum. "Mental setiap orang berbeda, Om ... meski saudara kembar sekalipun. Saya mungkin lebih beruntung karena diberikan jiwa yang lebih kuat. Tapi tidak dengan Nala, dia kelihatannya saja urakan, kasar dan tidak terarah. Namun, sebetulnya dia rapuh. Nala melakukan hal-hal negatif hanya untuk mendapatkan perhatian dari orang lain."
Rudi manggut-manggut dan senyuman penuh bijak terukir di bibirnya. "Om mengerti... Om hanya bisa mendoakan, semoga Nala bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi."
"Aamiin... terima kasih banyak untuk doanya, Om..." jawab Nirmala menaruh hormat.
__ADS_1
"Sama-sama, Nirmala. Oh iya, kamu bareng Om sama Mona ya. Kebetulan kan, rumah kita searah..." ajak Rudi pada Nirmala.
"Nirmala biar saya saja yang mengantarnya pulang, Om." Bara lebih dahulu memotong pembicaraan sebelum Nirmala mengiyakan ajakan Rudi.
Rudi mengulum senyum. "Baiklah... urusan anak muda, Om 'nggak mau ikut campur. Om pulang duluan kalau begitu. Sekali lagi, Om ucapkan terima kasih atas kebaikan hati kalian berdua."
"Iya Om ... sama-sama," jawab Nirmala dan Bara serentak.
Rudi meninggalkan Nirmala dan Bara sembari menuntun putrinya menuju parkiran. Membiarkan sepasang sejoli tersebut untuk lebih dekat dan saling mengenal satu sama lain.
"Kamu mau di sini terus atau ikut aku ke parkiran?" Bara tiba-tiba bersuara mengejutkan Nirmala dengan pikirannya yang melambung tinggi.
"Ke-kenapa?" tanya Nirmala gelagapan.
"Kamu mau pulang atau berdiri di sini terus kaya patung selamat datang?" Bara bertanya sembari menggoda. "Kalau mau pulang, ayo kita ke tempat parkir. Karena motorku ada di sana," jelas Bara pada Nirmala.
Nirmala membalikkan badan dan berjalan kembali ke arah Bara seraya tertawa hambar. Pemuda di hadapannya menarik kedua alis ke atas menunggu Nirmala meminta untuk mengantarkan pulang. "Em... tawaran kamu masih berlaku 'nggak?"
"Tawaran yang mana?" goda Bara pura-pura tidak mengerti.
"Ta-tawaran yang tadi," jawab Nirmala tergagap.
"Tawaran yang mana ya? Aku lupa!" Lagi-lagi Bara mengerjai Nirmala. Ntah mengapa, dia sangat senang menggoda gadis itu. Di matanya, Nirmala terlihat lebih menarik saat dia merasa salah tingkah ataupun kesal.
"Ya sudah kalo kamu 'nggak mau nganterin, aku pulang jalan kaki aja," sungut Nirmala kesal sebab Bara terus saja mengusili.
__ADS_1
Bara terkekeh merasa senang berhasil membuat Nirmala marah. "Iya... aku antar kamu pulang, motorku di parkiran. Kamu tunggu di sini aja...."
Tanpa menanti jawaban, Bara melesat ke tempat parkir untuk membawa kendaraannya. Dia tidak ingin membuat Nirmala menunggu lama. Dan benar saja kurang dari lima menit, pemuda itu sudah berada di hadapan gadis pujaannya.
Bara turun dari motor lantas memasangkan helm ke kepala Nirmala. Gadis itu tentu saja terhenyak. Dia mematung dan tanpa sadar menatap lekat sepasang netra yang sangat meneduhkan untuk beberapa saat. Saat ini jarak antara mereka begitu dekat hingga suara degup jantung terdengar samar.
Nirmala menundukkan kepala saat dia bisa menguasai dirinya kembali, seraya mengucap istighfar. "Astaghfirullahal'adziim...."
Bara melepaskan tangannya dari benda yang terpasang di kepala Nirmala. Dia menarik kaki ke belakang beberapa langkah dan turut menundukkan kepala. "Maaf, kalau aku sudah lancang."
Suasana menjadi canggung seketika. Bara yang biasanya berceloteh dengan godaan-godaan mautnya, kali ini memilih diam membisu. Dia memang bukan laki-laki yang paham agama. Namun, melihat reaksi dari Nirmala tadi setidaknya membuat dia cukup tahu diri.
Satu jam berlalu, sepasang anak Adam terhanyut pada pikirannya masing-masing. Seusia mereka adalah masa di mana jiwa muda bergelora. Masa di saat mereka mengenal cinta. Namun, bila semua itu tidak dikendalikan, mereka bisa saja melewati batasan.
"Ini rumahmu, Nirmala?" Bara menepikan kendaraannya di depan hunian megah, tetapi terlihat menyimpan banyak lara.
"Ah... iya Bara. Ini rumahku." Nirmala turun dari motor dan mengembalikan helm yang dipinjamkan padanya. "Makasih ya kamu udah repot-repot nganterin aku pulang," tambah Nirmala.
Bara membuka mulut hendak menjawab ucapan Nirmala, akan tetapi teriakan seorang pria mengatup kedua bibirnya kembali. Mata pemuda itu menangkap wajah seseorang dengan derap langkah lebar seraya memperlihatkan raut bengis ke arahnya.
"Nirmala..." pekik Arman murka.
Nirmala sontak memutar kepala dan tangan Arman melayang ringan di atas kedua pipinya begitu saja. Berkali-kali Arman menampar gadis itu disertai perkataan yang tidak semestinya diucapkan oleh seorang ayah.
"Bagus... loe sekarang jadi perempuan penggoda rupanya," cela Arman pada putrinya. "Ada kemajuan sekarang loe ya. Diam-diam di luar sana berubah jadi cewek genit. Ngomongnya pergi kerja, tau-tau pulang dianterin cowok!" cibir Arman membuat perasaan Nirmala terluka. Mulut Arman begitu mudah menyakiti putri keduanya itu, padahal dia tahu kalau Nirmala gadis baik-baik tidak seperti Nala yang hobbinya huru-hara.
__ADS_1
...*****...