
🅗︎🅐︎🅟︎🅟︎🅨︎🅡︎🅔︎🅐︎🅓︎🅘︎🅝︎🅖︎
•
•
•
•
•
✨🌹💕🌹✨
Kondisi ruangan menjadi berantakan, dingin nya malam menjadi panas, suasana hati keluarga Kusuma bercampur aduk marah, kesal, dan sedih mengetahui kenyataan.
Malam semakin larut tanda kedatangan Cinta belum terlihat membuat semua khawatir.
"Kenapa selarut ini kak Cinta belum pulang." khawatir Laura.
"Sayang. Apa kakakmu ada bicara sesuatu padamu kemana dia pergi?" tanya Anita pada Laura.
"Gak ada Bunda" Laura menggelengkan kepada.
"Kakak hanya bilang mulai hari ini dan beberapa minggu kedepan pulang malam."
"Apa Kakak beritahu malam jam berapa?" tanya Arka menatap Laura pikirnya takut Cinta kenapa-kenapa.
"Gak ada Ayah. Kakak gak bilang. Katanya sudah izin sama Mama." menatap Lestari.
Mendengar perkataan Laura. Semua pasang mata melihat Lestari. Dia juga sama dengan yang lain khawatir pada Cinta yang belum pulang selarut ini, setidak pedulinya Lestari.
Dia tetap ibu kandungnya. Rasa khawatir dan bersalah bercampur pada dirinya jika terjadi sesuatu pada Cinta.
"sayang. Kamu dimana jangan membuat Mama khawatir. Maafkan Mama telah jahat padamu. maaf atas luka 17Tahun yang Mama berikan padamu. Mama bukanlah ibu yang baik buatmu.Mama tahu tidak mudah bagimu untuk memaafkan." monolog Lestari menangis. Dia menyesal dengan perbuatannya
"Maaf." ucap Lestari. Hanya satu kata yang berhasil keluar dari mulutnya.
"Maksud kamu apa Lestari? Apa kamu tahu?" tanya Sari.
"Maafkan Lestari Maaa..." Menyesal atas perbuatannya.
Mendengar penjelasan Lestari. Semuanya kaget tak percaya. Ternyata ada sosok ibu yang tega pada anaknya sendiri.
"Aku binggung sama Mbah. Ada yah ibu yang setega ini sama anak kandungnya. Jika dari awal Mbah bilang sama kita. Aku dan Mama pasti akan merawat Cinta dengan penuh kasih sayang." tegas Anita kecewa terhadap Kakak iparnya.
"Mama benar-benar kecewa sama kalian berdua. Bisa Setega ini sama anak sendiri.
Apa kalian tidak punya perasaan... sedikit saja... Mama tidak minta banyak. Hanya sedikit...." tegas Sari pada anak dan Mantunya.
"Maaf kan, kita Ma... kita salah." mohon Aditya menyesal.
"Kenapa baru sekarang minta maafnya. Apa karena semuanya sudah tahu!" bentak Sari.
"Tapi semuanya percuma Nek. Meski Papa dan Mama minta maaf. Luka 17Tahun kakak terlalu dalam untuk disembuhkan." ucap Laura.
"Maksud kamu apa Laura?" tanya Kenan
"Perlakuan Papa dan Mama selama 17Tahun sangat jahat hingga membuat Kakak selalu menangis tiap malam. Apa Papa dan Mama tahu kakak selalu kesakitan memikirkan perlakuan buruk kalian. Apa kalian tahu disisa hidupnya. Kakak hanya ingin merasakan kebersamaan keluarga, dan kasih sayang orang tua. Semuanya tidak bisa di dapatkan karena keserakahan Papa dan Mama tidak mengizinkan Kakak bertemu." marah Laura menatap tajam Orang tuanya.
__ADS_1
"Sayang. Maksud kamu apa? Sisa hidup?
Apa kakakmu ada sakit?" tanya Nenek sari khawatir keadaan cucunya.
"Ayo katakan Laura! jangan ditutupi lagi.
semua berhak tahu apa yang terjadi pada
Cinta." tegas Anita
"Aku gak tahu jelas ceritanya bagaimana.
saat itu aku gak sengaja lewat kamar kakak.
Aku lihat kakak sedang menangis...
"Apa ini takdirku. Menjalani hidup tanpa kasih sayang orang tua dan kebersamaan keluarga.
jika Iyah. Aku ikhlas menerimanya.
Disisa hidupku aku ingin melihat orang yang kusayangi bahagia. Aku akan merahasiakan penyakit ku ini."
Penjelasan Laura membuat semuanya menangis. Mereka tak sangka nasib Cinta sangat menderita. Tubuh nenek sari lemas, matanya berkaca-kaca, kakinya terasa lumpuh sesaat. Bagaimana bisa Cucunya mengalami ini sendirian dengan perlakuan buruk Aditya dan Lestari selama 17Tahun. Dan penyakit mematikan yang dapat merenggut nyawanya.
"Hati kamu terbuat dari apa Cinta." Batin nenek sari sedih.
"Hatimu sangat mulia Cinta, sama seperti buyut mu." Batin kakek Wahyu.
"Apa kamu tahu penyakit apa?" tanya Aldo.
"Gak tahu ayah." ucap Laura menggelengkan kepala.
"Apa kamu melihat hal mencurigakan dikamar kakak." tanya Anita.
"Mencurigakan..."Ucap ulang Laura.
"Yah... ada Bunda. Saat aku masuk kakak menyembunyikan sesuatu dibawah bantalnya."
"Sayang. Apa kamu bisa antarin Bunda
ke kamar kakakmu?"
"Bisa Bunda tapi buat apa ke kamar kakak?" tanya Laura binggung menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Nanti bakal Bunda jelasin." Bangun Anita dari duduknya, lalu melangkah menuju kamar Cinta
bersama Laura.
Kenan dan Rafa saling bertatapan. Mereka penasaran apa yang akan dilakukan ibunya dikamar Cinta. Tidak ingin menebak-nebak mereka memutuskan untuk mengikuti ibunya.
"Abang mau kemana?" tanya Bagas dan Damar bersamaan melihat Kenan dan Rafa bangkit dari duduknya.
"Nyusul Bunda. Kalian mau ikut? tanya Rafa.
"Boleh Bang." ucap Bagas. Di anggukin Damar.
Dalam perjalanan menuju kamar Cinta mereka berempat diam dengan pikirannya masing-masing.
"Ini kamar kakak, Bun." tunjuk Laura saat berada di depan pintu kamar.
__ADS_1
Setelah masuk, Anita terpukau pada isi kamar Cinta yang dipenuhi foto-foto saat kecil sampai dewasa. Muka Cinta terlihat jelas sangat cantik seperti model.
"Bunda gak nyangka. Kakakmu sangat cantik.
Apa kak Cinta hobi foto?"
"Iya. Kak Cinta sangat cantik, enam bulan sekali kakak selalu pergi ke studio foto untuk mengambil gambar. Cita-cita kakak ingin menjadi model." jelas Laura sambil meneteskan air matanya.
"Cita-cita nya pasti terwujud. Kita bisa lihat betapa cantiknya Cinta di semua foto ini tanpa riasan." ucap Kenan menatap lekat satu persatu foto Cinta.
"Aku setuju sama kamu Nan. Sepupu kita sangat cantik." sambung Rafa.
"Kami beruntung bisa memiliki kakak yang cantik seperti kak Cinta luar dalam." ucap Bagas disetujui Damar.
"Kalian benar... kita sangat beruntung." ucap Laura dengan mata berkaca-kaca.
"Bunda Cari apa? dari tadi kita lihat bongkar-bangkir gak jelas?" tanya Kenan melihat ibunya bolak-balik.
"Diam. Gak usah nganggu Bunda. Jika masih ingin berada disini." Tegas tanpa menoleh.
"Bunda buat penasaran saja." bisik Rafa pada Kenan.
"Gak usah bisik-bisik Bang. Nanti Bunda dengar. Mau diusir?" Kata Laura.
"Ketemu." teriak Anita.
"Ketemu apa Bunda." tanya Kenan.
"Ini," Tunjuk Anita pada sebuah kertas yang berada di tangannya.
"Itu kertas apa Bunda?" tanya Rafa.
"Nanti akan Bunda jelaskan, sekarang kita kebawah."
🌺🌿🌺
Diruang keluarga. Semuanya masih menunggu kedatangan Anita. Mereka binggung apa yang dilakukan Anita dikamar Cinta. Lestari tak peduli apa yang dilakukan adik iparnya
Matanya terfokus pada pintu rumah menanti kedatangan Cinta. Dia khawatir jam menunjukkan pukul 12:00 Cinta belum pulang. Rasa takut mulai muncul jika terjadi sesuatu dengan Cinta. Mengingat pembicaraan tadi pikirnya sudah melayang-layang.
"Nita apa yang kamu lakukan dikamar Cinta." tanya Sari melihat anaknya tiba di ruangan.
"Nita Cari ini Ma, " tunjuk kertas yang berada ditangannya pada semua, lalu diberikan
pada ibunya.
Mata Sari terasa ingin copot setelah membaca kertas yang dikasih Anita. Dia tak menyangka penyakit yang ditimpah cucunya bagaikan mimpi buruk. Matanya terus mengalirkan butiran kristal bening.
Satu persatu yang ada di ruangan ini diberi giliran membaca. Terlihat jelas di wajah mereka semua yang sedih setelah membacanya.
"Puas kalian melihat Cucuku menderita!
Apa kalian ingin menambahkan lagi?" marah Sari pada Aditya dan Lestari.
"Maaf Aku sadar dulu sangat jahat sama Cinta, tapi sekarang tidak. Aku ingin memperbaiki semuanya meski sulit baginya untuk memaafkan kami. Aku akan berusaha meski nyawa taruhanku." ucap Lestari sambil meneteskan air matanya.
𝐁𝐞𝐫𝐬𝐚𝐦𝐛𝐮𝐧𝐠...
...SAMPAI JUMPAH BESOK😉...
__ADS_1