
Selamat membaca!📖
•
•
•
•
•
"Kenapa muka kamu merah?" tanya Iqbal pura-pura tidak tahu.
"Mana ada muka ku merah, mata kamu aja yang salah?" jawab Cinta yang malu.
"Masa mata aku yang salah? jelas-jelas sekarang lagi merah lho." Goda Iqbal tersenyum jahil.
"Apaan sih." Cemberut Cinta.
"Hahhaa... hahaha.. maaf sayang, habisnya kamu lucu." ucap Iqbal disela tawanya.
"Yah sudah sekarang kita masuk, kasihan mereka sudah lama nunggu nya." Sambung Iqbal.
•
•
***
Diruang keluarga semuanya sedang menunggu Cinta dan Iqbal yang belum juga kembali.
"Mereka ngomongin apa sih? kok lama banget." tanya Rafa yang tak sabaran.
"Sabar dong sayang, sebentar lagi mereka bakal datang." kata Anita menenangkan anaknya yang sudah seperti cacing kepanasan.
"Abang kayak gak paham saja. Ini masalah serius jadi Kakak gak mau salah dalam mengambil keputusan." Kesal Laura yang melihat Rafa.
"Benar kata Laura Abang, ini masalah hati, bayangkan saja seandainya Abang yang kakek minta ini, apa Abang akan mau?" Timpa Bagas pada ucapan Laura.
"Bagaimana apa Abang bisa jawab?" ucap Laura yang melihat Rafa diam saat mendengar perkataan Bagas.
"Sudah diam, lihat disana." ucap Kenan mengerakkan ekor matanya.
Semuanya mengikuti ekor mata yang diarahkan Kenan. Kaget itulah yang mereka perlihatkan setelah melihat Cinta dan Iqbal bergandengan tangan seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran.
"Kayaknya ada yang sedang kasmaran." Goda Dimas.
"Iya kita memang sedang kasmaran." ucap Iqbal dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Apa?" Serentak semuanya.
"Kenapa kaget?" Binggung Cinta.
"Sayang apa kalian sudah pacaran?" tanya Lestari.
"Iya Ma, aku dan Iqbal sudah pacaran." jawab Cinta yang malu.
"Kenapa cepat sekali, bukannya tadi kamu keberatan, kenapa sekarang berubah pikiran?" Penasaran Rafa.
"Kerena Cinta ada gadis kecil yang selama ini saya cari." Jawab Iqbal menatap lekat pada wajah Cinta, membuat sang empu menjadi merona.
"Abang jangan lihatin kakak kayak gini, lihat tuh kakak jadi malu." ucap Laura melihat Cinta malu terus dipandang Iqbal.
__ADS_1
"Ternyata anak Mama sudah besar yah, sekarang sudah bisa malu." Goda Lestari menatap Cinta.
"Mama apaan sih. Aku sudah besar sejak dulu." Cemberut Cinta memajukan Bibirnya kedepan.
"Makin gemas lihatnya. Laura apa kakak kamu ini anak kecil yah? lihat saja wajahnya ini sangat lucu." ucap Lestari terus menggoda Cinta.
"Hahaha... hahah... hahah... Mama benar kakak makin lucu kalau ngambek kayak gini, pantes saja Abang Iqbal tergila-gila sama kakak sejak dulu, tenyata kakak aku ini sangat cantik." Sambung Laura yang ikut menggoda kakaknya.
"Sudah, aku jadi malu kalau kalian terus menggodaku seperti ini." Kata Cinta yang memohon.
"Kalian ini kenapa? suka sekali menggoda cucuku." ucap Sari.
"Cinta bagaimana dengan pekerjaan kamu? apa projeck kamu masih menumpuk seperti di Korea?" Sambung Sari menatap cucunya.
"Iya Nek, untuk beberapa tahun kedepan projeck aku padat." jawab Cinta.
"Di entertainment atau di bisnis?" tanya lagi Sari.
"Entertainment Nek, hari ini aku harus melakukan pemotretan di studio, jadi aku gak bisa lama duduknya." jelas Cinta.
"Kakak kenapa selalu sibuk, apa kakak gak mau habisin waktu bersama aku?" Merajuk Laura.
"Bukan begitu Dek, ini sudah pekerjaan kakak, mau tidak mau harus dikerjakan." ucap Cinta memberi pengertian pada adiknya.
"Kakak janji akan selalu ada saat kamu membutuhkan." Sambung Cinta menyakinkan Laura.
"Janji yah? awas kalau ingkar, aku gak mau ngomong selamanya sama kakak." Ancam Laura.
"Iya janji adikku sayang." Senyum Cinta.
"Cinta, Ayah dengar kamu ada buka cabang baru dikota B?" tanya Arka memastikan.
"Iya Ayah, kemarin saat pemotretan aku langsung mengurus berkas pembangunan disana, hitung-hitung membantu orang yang membutuhkan pekerjaan." jawab Cinta.
"Makasih Ayah sudah mau turun tangan, aku sayang Ayah." ucap Cinta memeluk Arka.
"Sama-sama, kamu anak Ayah sudah sewajarnya Ayah membantu kamu." kata Arka.
"Nanti kamu kirimin berkas pembangunan di kota B, biar Ayah bisa urus." Sambung Arka.
"Baik Bos, laksanakan." ucap Cinta memberi hormat.
"Bunda binggung sama kamu Cinta, bagaimana bisa seorang anak kecil seperti kamu ini menjadi pemimpin di perusahaan." Pikir Anita.
"Sudah berapa kali aku bilang, aku ini bukan anak kecil, aku sudah besar." Cemberut Cinta.
"Iya kamu sudah besar karena sudah punya pacar." Sindir Kenan.
"Tidak Kenan kamu salah, aku sudah besar sebelum punya pacar." Tegas Cinta yang mulai kesal dengan mereka yang menganggapnya anak kecil.
"Kamu masih kecil dimata Mama sayang, kecuali kamu sudah menikah." ucap Lestari tersenyum jahil.
"Bunda ayo tunjukan kamarku, aku mau ganti baju sebelum ke studio." ajak Cinta kepada Anita, dia malas menanggapi ucapan mereka.
"Ayo sayang." Berdiri Anita meninggalkan mereka.
•
•
***
Sore ini Cinta melakukan pemotretan di studio jalan X. Bermacam baju dia ganti dengan gaya yang berbeda. Cinta dengan senang hati melakukannya, mungkin buat orang yang pemula akan merasa cape luar biasa.
__ADS_1
"Cinta mbak perhatikan semenjak kamu datang tadi, kamu sangat ceria, apa kamu bahagia bisa berkumpul dengan keluarga kamu?" tanya Tiara yang terus memperhatikan Cinta sejak tadi.
"Iya mbak aku sangat bahagia, mereka sangat baik." jawab Cinta penuh semangat.
"Mbak ikut senang, tapi ada yang kurang dari kebahagiaan kamu." ucap Tiara tersenyum.
"Kurang apa mbak? kenapa senyum begitu?" Bingung Cinta melihat Tiara.
"Apa kamu gak merasa, kebahagian kamu gak akan lengkap kalau belum punya pacar." ucap Tiara tanpa dosa.
"Siapa bilang aku belum punya pacar?" jawab Cinta yang tersenyum.
"Maksudnya kamu sekarang sudah punya pacar? kapan? siapa namanya? dimana?" tanya Tiara bertubi-tubi.
"Satu-satu dong mbak pertanyaan nya, masa banyak begini, bisa pusing aku jawabnya." Bingung Cinta dengan reaksi Tiara yang berlebihan.
"Jawab saja gak usah banyak omong." Penasaran Tiara tak bisa menunggu lagi.
"Iya, iya, aku jawab. Aku sudah punya pacar, kami barusan jadian, namanya Iqbal, dia cinta pertama aku saat kecil, sebaliknya dengan dia, kami sama-sama saling menjaga hati dan menunggu satu sama lain, hingga kami dipertemukan kembali." jelas Cinta.
"Wah cerita cinta kalian menarik sekali, bagaimana kita jadikan film? pasti akan buming." Usul Tiara menatap Cinta.
"Aku gak mau mbak, biar cerita cinta kami cukup orang sekitar yang tahu." Tolak Cinta.
•
•
***
"Nay, gak nyangkah kita bakal besanan." ucap Lestari yang bahagia.
"Iya aku juga, gak nyangkah ternyata mereka sudah saling cinta sejak kecil." kata Nayla semangat.
"Pertama kali ketemu Cinta aku sudah jatuh hati melihatnya, dia anak yang cantik, baik dan gemasin." Sambung Nayla.
"Yah jelas dong, anakku mau dilawan, gak akan ada yang bisa tandingin." ucap Lestari dengan bangga.
"Iya anak kamu, bukan kamunya, hahahah." Balas Nayla lalu tertawa.
"Gak usah ngomongin Cinta, nanti orangnya kesedak kalau terus dibicarakan." Kata Aditya memperingati mereka.
"Iya Pa." Nurut Lestari.
"Tristan bagaimana dengan perusahaan kamu?" tanya Aditya basa basi.
"Alhamdulilah, semuanya lancar, hanya saja ada sedikit masalah dengan perusahaan cabang di singapura." jawab Tristan lesuh.
"Apa masalahnya besar?" tanya Aditya penasaran.
"Iya, ada saingan yang ingin menghancurkannya, aku dan Iqbal tidak bisa menghandle nya." jawab Tristan putus asa.
"Apa gak ada cara untuk menghandle masalah ini? apa mungkin kita bisa membantu kamu?" usul Aditya menatap Tristan.
"Tidak akan bisa, dia orang yang licik." jawab Tristan yakin.
×
×
×
×
__ADS_1
BERSAMBUNG...