
H 4 P P Y R 3 4 D I N G 🤗
•
•
•
•
•
•
•>>>>>>
Persiapan pernikahan Cinta telah selesei, semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing, begitu dengan Cinta satu bulan kemarin dia terus berantam dengan tumpukan dokumen, semua yang dilakukan agar dapat menghabiskan waktu bersama Iqbal.
Asyik meladeni tumpukan kertas, Cinta tak menyadari Laura yang masuk kekamar, matanya kini memandang Cinta, dia bingung dengan Cinta bukannya istirahat, malah bekerja.
Perlahan demi perlahan Laura berjalan mendekati kakaknya, tanpa berkata ba-bi-bu, dia langsung menutup laptop, sang pelaku tak merasa bersalah dengan kelakuannya, dia malah menatap kakaknya yang kaget.
"Kamu bikin kakak kaget saja, kenapa masuk gak salam?" tanya Cinta yang mengelus dadanya ulah Laura.
"Aku lupa. Kakak kenapa masih kerja, besok pernikahan kakak, bukanya memanjakan diri ini malah bekerja. Apa gak bosan tiap hari ditemani lembaran kertas ini." tunjuk Laura pada tumpukan kertas yang berada dimeja Cinta.
"Sejak kapan kamu makin cerewet begini? kakak lakuin ini biar kedepannya kakak bisa istirahat setelah menikah, meski sebentar tapi bisa nikmati." jawab Cinta, tangannya mulai membuka laptop yang ditutup sang adik.
"Bukan begini juga kak. Kakak itu harus ingat besok kakak menikah, kakak pasti akan tinggal bersama Abang Iqbal, apa kakak gak mau habisin waktu dengan aku?" Cemberut Laura yang berjalan duduk di kasur ujung tempat tidur.
Laura sedih karena kakaknya akan pergi meninggalkannya, kakak yang sangat ia sayangi sehari lagi akan meninggalkannya dan tinggal bersama Iqbal calon suami yang akan menjadi suaminya.
"Siapa bilang kakak gak mau habisin waktu dengan kamu, kakak mau kok." Balas cepat Cinta menutup laptopnya dan berjalan mendekat Laura.
"Mukanya jangan ditekuk, jelek jadinya apa kamu gak mau nikah kayak kakak?" tanya Cinta mencoba menggoda adiknya.
"Kakak apaan sih, cantik begini dibilang jelek. Asal kakak tahu aku ini banyak yang naksir di kampus." Balas Laura.
"Benarkah? kenapa gak ada pacar, bukannya banyak yang naksir?" Cinta menaikkan alisnya menatap adiknya.
Cinta berusaha mengalihkan pembicaraan agar Laura tak terus-terusan sedih dengan kepindahannya setelah menikah besok.
"Bukan berarti banyak yang naksir harus punya pacar kak." Bantah Laura, kakaknya terus saja menggodanya.
"Kakak gak bilang begitu lho." Senyum Cinta yang mempunyai hobi baru menggoda adik kesayangannya.
"Sudah kak, jangan terus menggodaku. Apa kakak gak sayang lagi sama aku?" tanya Laura mengeluarkan jurusnya.
Laura tahu Cinta akan lemah jika kata-kata pusaka itu telah keluar. Laura sengaja agar kakaknya tidak terus menggodanya.
"Kakak sayang sama kamu dek, stop berpikir kayak begitu sampai kapan pun kakak akan menyayangi kamu." Balas Cinta memeluk Laura kedalam dekapannya.
__ADS_1
"Meski kakak sudah punya anak?" tanya Laura memastikan.
"Iya." Singkat Cinta.
"Ada apa ini kenapa pelukan?" tanya Lestari dan Anita yang baru masuk di kamar Cinta.
"Tidak ada, aku hanya ingin memeluk kakak sepuasnya, setelah menikah kakak akan tinggal bersama Abang Iqbal. Aku akan jarang memeluk kakak seperti ini." Kata Laura setelah puas memeluk kakaknya.
Ada perasaan sedih di hati Cinta mendengar ucapan Laura seakan ia akan pergi jauh dan tidak kembali lagi.
"Siapa bilang kamu bisa memeluk kakak sepuas yang kamu inginkan, kakak akan akan sering kerumah menjenguk kalian disini. Apa kamu pikir Kakak akan jarang kesini setelah menikah?" tanya Cinta menatap Laura yang menundukkan kepalanya.
"Bukannya begitu kak, semua istri akan sibuk mengurus suami setelah menikah. Begitu juga dengan kakak yang akan sibuk mengurus Abang Iqbal." Balas Laura memberanikan diri menatap kakaknya.
"Kamu benar kakak akan sibuk mengurus suami kakak, tapi bukan berarti kakak tidak bisa menyempatkan waktu untuk kamu." Kata Cinta lembut menyakinkan adiknya.
"Apa kakak gak bohong?" Tatap Laura memastikan perkataan Cinta benar adanya.
Percaya tak percaya Laura memastikan kembali apa perkataan kakaknya serius atau hanya menghibur dirinya yang sedang bersedih.
"Apa muka kakak seperti orang yang sedang berbohong?" tanya Cinta bukanya menjawab dia malah melayangkan pertanyaan pada adiknya.
"Tidak." Geleng Laura melihat Cinta.
"Kalau tidak, kenapa ragu. Satu hal yang perlu kamu tahu kakak menyayangi kamu melebihi nyawa kakak sendiri, kamu wanita kedua yang kakak sayangin setelah Nenek, Mama dan Bunda." Kata Cinta tersenyum.
Meski Laura selalu ada saat keluarga nya tak di samping nya, Cinta tetap memprioritaskan keluarganya yang lebih tua nomor satu, setelah itu baru adik dan lainnya.
"Mama apaan sih, aku belum siap menikah seperti kakak." Bantah Laura.
"Apanya belum siap? lihatlah kakakmu dia tidak pernah berpikir untuk menikah muda, tapi saat keluarga meminta, apa dia menolak?" tanya Lestari memandang Laura.
"Mama jangan samain aku dengan kakak. Mama tahu aku berbeda. Aku gak suka dipaksa. Apa Bunda setuju dengan Mama yang ingin aku segera menikah?" tanya Laura menatap Anita.
"Bunda setuju dengan Mama kamu, lebih cepat lebih baik, kami akan segera menimang cucu dari kalian." Jawab Anita senyum menggoda.
"Apa kalian tidak menyayangiku lagi? kenapa tega ingin aku segera menikah?" Sedih Laura menatap Lestari dan Anita.
Laura sedih mendengar perkataan kedua ibunya yang ingin dirinya cepat nikah, apa mereka tak menyayanginya lagi hingga ingin aku segera nikah, agar mereka bebas dalam mengurus ku, itulah pikiran yang terus berada di otak Laura.
"Bunda dan Mama Lestari sangat menyayangi kalian, kalau tidak kita tidak akan menyuruh kalian segera menikah." Jelas Anita menyakinkan Laura.
"Bunda benar dek. Mama dan Bunda sangat menyayangi kita. Mereka melakukan ini agar kita bahagia, kamu gak boleh berprasangka buruk gak baik." Cinta menasihati adiknya dengan apa yang dikatakan kedua ibunya memang benar adanya.
"Mama dan Bunda kesini ada perlu apa?" Sambung nya yang lupa dengan tujuan kedatangan kedua ibunya.
Cinta memandang kedua ibunya yang kini duduk disamping Cinta dan Laura.
"Oh iya sampai lupa Mama kesini, syukur kamu ingatin kalau tidak bisa marah kakek sama Mama dan Bunda." Lega Lestari kembali mengingat tujuan awalnya kemari.
"Dimarahin kakek? Apa kakek yang meminta Mama dan Bunda kesini?" penasaran Laura mendengar perkataan Mamanya.
__ADS_1
"Iya, Kakek sudah menunggu kita dibawah lebih baik kita segera turun tidak baik membuatnya menunggu." jawab Lestari menatap kedua putrinya.
"Apa ada yang ingin kakek katakan? tidak biasa kakek meminta kita kebawah, apa semuanya sudah berkumpul?" tanya Laura meminta kejelasan Mamanya.
"Kamu akan tahu, jika sudah dibawah. Jangan tanya banyak, kamu hanya buat telinga Mama sakit dengarnya." Balas Lestari pusing dengan pertanyaan Laura yang tak ada henti seperti wartawan mencari berita.
Mendengar penuturan Mamanya, Cinta dan Laura bangun dari duduknya segera turun. Cinta digandeng Bunda, Laura digandeng Mama, kaki melangkah menuruni anak tangga satu persatu, suasana rumah yang tampak berbeda dari sebelumnya karena hiasan dekor acara pernikahan yang akan diadakan besok membuat menjadi cantik dipandang.
Memandang semua sudut, tangan digandeng Bunda membuat Cinta bersyukur diberi kesempatan bisa merasakan arti keluarga sesungguhnya sebelum menikah.
"Kenapa baru tiba?" tanya Wahyu menatap Lestari dan Anita yang baru tiba diruang keluarga.
"Kita ngobrol sebentar sebelum turun kesini." Jawab Lestari yang mulai duduk disofa.
"Apa yang kalian bicarakan selama ini?" penasaran Sari anak dan cucunya.
"Tadi kita nasihat Laura segera menikah, dia nya bilang belum siap, sampai ada acara ngambek begitu, katanya gak sayang lagi." Jelas Lestari melirik Laura yang duduk disamping Cinta.
Lestari pun menceritakan alasan yang membuat mereka lama di atas, tanpa di tutupin, tanpa dikurang lebihkan.
"Kenapa belum siap, bukanya bagus segera menikah?" tanya Sari menatap Laura setelah mendengar penjelasan Lestari.
"Belum siap aja Nek. Kakek ada apa suruh kita kesini?" tanya Laura mengalihkan pertanyaan Nenek sari, dia yakin jika dijawab bisa makin panjang jadinya.
"Oiyah, kakek menyuruh kalian kesini karena ada yang ingin kakek katakan. Minggu depan Ayah Aldo, Bunda Elin, Bagas dan Damar akan pindah Ke Korea, mereka akan mengurus perusahaan Cinta disana." Tegas Wahyu.
"Apa kakak setuju, bukanya perusahaan kakak tidak ada campur tangan dari keluarga Kusuma, bagaimana Kakek bisa mengambil keputusan tanpa bicara sama kakak. Kakek tahu kakak membangun bisnisnya sendiri, kenapa saat besar kakek seenaknya mengambil keputusan ini!" Bantah Laura tak setuju dengan keputusan kakek Wahyu.
Laura kaget mendengar keputusan Kakek secara dadakan, ia berpikir ini bukanlah perusahaan Kakek kenapa bisa seenaknya mengambil keputusan. Apa Kakek merasa punya hak karena Cinta cucunya, tapi itu tidak menjadi alasan bisa berbuat semaunya.
"Benar kek, kita setuju dengan Laura, bagaimana Kakek mengambil keputusan ini sendirian, bukan berarti Cinta cucu kakek, kakek bisa seenaknya. Lima tahun loh kek Cinta berjuang sendiri tanpa bantuan dari kita keluarganya." Sambung Rafa setuju dengan Laura.
"Laura, Rafa. Aku sudah membahas ini dengan Kakek, aku tidak bisa mengurus semua sendiri, bukannya kalian tahu berapa banyak perusahaan aku saat ini, apa kalian tega membiarkanku mengurus ini sendiri?" tanya Cinta menatap Laura dan Rafa bergantian.
"Bukan begitu maksud kita Cinta, kita pikir semua ini murni keputusan kakek sendiri." Balas Rafa tak enak sudah membantah perkataan kakeknya.
"Kalian pikir Kakek sejahat itu sama cucu sendiri." Kata Wahyu tak habis pikir dengan jalan pikir cucunya yang dangkal.
________________💞💞💞________________
Berprasangka buruk sudah sering dilakukan manusia, tidak kaget mendengar ucapan menyakitkan dalam setiap kalimat yang dirangkai seperti jarum, sakit rasanya tapi ini tak berdarah.
(✓By: Wijaya Wahyu Kusuma.)
_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_
...Jangan lupa dukung karya ini dengan Like, comment, gift🌹 and vote....
...Bantuan jempol mu membantu author untuk semangat menulis....
...Tambahin favorite biar gak ketinggalan up terbarunya.📝📢...
__ADS_1