Takdir Hidup Cinta

Takdir Hidup Cinta
Bab 8. Rencana Iqbal...


__ADS_3

H 4 P P Y R 3 4 D I N G 🤗







Kedua saudara kembar ini tak mendengar ocehan Dimas yang menyalahkan mereka.


Matanya lurus menatap papan tulis dengan tangan sebagai tumpuan menahan kepala.


Pikiran terus melayang dengan umpatan kata-kata yang bertanya pada dirinya masing-masing.


"Apa yang harus aku lakukan agar bertemunya dirumah Papa tidak mungkin? diluar rumah lebih tidak mungkin?" Frustasi Kenan monolog pada dirinya sendiri.


Kenan pusing setelah menceritakan obrolan di rumah Radit pada keluarganya, Bunda segera meminta mereka untuk mengajak Cinta ke rumah alasanya rindu berat.


"Kenapa Bunda harus menyuruh aku dan Kenan, mereka saja susah apalagi kita?


Kenapa Bunda tidak minta tolong sama Nenek. Itu lebih gampang. Nenek orang tua dari Papa, pasti Papa akan menyetujui permintaan Nenek.


Yang gampang aja dibuat repot, apalagi yang repot... sungguh menyebalkan. Awas kamu Cinta kalau sudah ketemu, saya jitak-jitak biar jadi adonan kue sekaligus." Monolog Rafa pada dirinya


Dengan berbagai umpatan Dimas Kepada mereka, tak sekali pun Kenan dan Rafa merespon, meski itu ucapan atau menoleh pada orangnya. Mereka masih fokus dengan pikirannya.


"Kalian kenapa? Apa ada masalah?" tanya Iqbal pada Kenan Dan Rafa yang ada di hadapannya.


Dia menyadari bahwa mereka hanya diam tidak seperti biasanya yang akan membela diri atau mengakui kesalahan jika mendengar ocehan sahabatnya yang tidak ada habis.


Mendengar Iqbal bertanya pada Kenan dan Rafa membuat Dimas dan Radit berhenti bicara dan menatap orang yang dipanggil, karena tak ada balasan atau menoleh sejak tadi ia mengoceh.


"Kenan, Rafa." Panggil lagi Iqbal dengan menepuk kedua bahu mereka.


"Kanapa Iqbal? tanya Kenan Dan Rafa menaikan alisnya meminta penjelasan.


Terus berargumen dengan otak nya, Kenan dan Rafa tak sadar jika sejak tadi di tanya Iqbal.


"Kalian berdua yang kenapa? ditanya bukannya jawab, ini malah tanya balik." Kata Dimas bangun dari duduknya mendekati mereka.


"Kalian tanya apa, emangng nya?" tanya Kenan yang masih belum tahu pertanyaan apa.


Dia binggung apa yang ditanyakan sahabatnya.


Karena sejak tadi dia tak mendengar pembicaraan mereka sama sekali.


"Iqbal tanya. Kalian kenapa? Apa ada masalah?" Balas Radit mengulangi perkataan Iqbal.


"Kita gak apa-apa. Hanya sedikit pusing saja dengan permintaan Bunda." Jawab Kenan.


"Permintaan apa yang diminta Bunda kalian? kayak nya susah.sampai kalian pusing begini." tanya Dimas penasaran permintaan apa.


Setahu Dimas selama mengenal Kenan dan Rafa, mereka tak pernah pusing dengan suruhan keluarga meski itu susah sekaligus. Wajah mereka seperti orang yang tak semangat hidup menjalani hari-harinya.


"Bunda meminta kita, untuk mengajak Cinta ke rumah." jawab Kenan dengan kedua tangan memengang kepalanya yang pusing.


Ia sungguh pusing hampir frustasi, sejak kecil sampai sekarang saja tidak ketemu. Bagaimana mau mengabuli nya.


"Hal begitu saja, dibikin pusing... sumpah kalian ini aneh." Dimas bingung dengan penjelasan Kenan masa yang gampang dibilang susah, terus yang susah dibilang apa.


"Benar kata Dimas, susahnya dimana? sampai pusing begini?" Timpa Radit yang ikut bingung mendengarnya. "Kalian sepupunya pasti dekat dong" Sambungnya.

__ADS_1


"Kita memang sepupunya, tapi tidak seperti yang kalian pikirkan pada umum nya." Balas Kenan.


"Maksud kalian tak mudah itu apa?" tanya Iqbal menatap Kenan dari arti perkataan nya.


Iqbal penasaran kenapa dibilang tak mudah, apa sangat sulit mengajak sepupunya sendiri. Pikirnya.


"Iyah tak mudah. Bertemu Cinta seperti bertemu artis papan atas harus memiliki janji jika tidak, seratus persen dipastikan tidak ketemu dimana pun dia berada." Asal bicara Rafa yang angkat bicara menjawab pertanyaan teka teki.


Rafa pusing harus menjelaskan bagaimana lagi, jalan utamanya dengan memberi kata perumpamaan biar mereka paham.


"Maksudnya gimana sih? Cinta artis? sampai harus bikin janji sama keluarga sendiri." tanya Dimas binggung dengan penjelasan Radit.


"Kenapa Inces tidak bicara kalau Cinta artis?" Kata Radit melipat masukan kedua tangan dengan fokus mendengar ucapan sahabatnya.


"Siapa yang bilang Cinta artis bego!" Kesal Rafa pada temannya yang salah mengartikan ucapannya.


Loading atau bodoh kedua sahabatnya ini menangkap arti perkataan nya saja tidak bisa, bagaimana yang lain, begitu lah umpatan yang ada di otak Rafa.


"Kamu sendiri yang bilang o'on! Masa lupa." Balas Dimas.


"Gila kamu Rafa masih mudah sudah pikun. Bagaimana kalau sudah tua, semuanya bisa kamu lupa." ucap Radit.


"Kalian berdua yang o'on" Tekan Rafa pada setiap katanya.


"Guna sekolah buat belajar supaya pintar, tapi kalian tidak, yang ada bodoh iya. Omongan saya saja kalian tidak paham, apalagi orang lain, malu kita sama kalian, tidak pintar-pintar."


"Kita paham omongan kamu bego. Kamunya saja tidak ingat dengan perkataan sendiri." Bantah Dimas tidak terima dengan perkataan Rafa.


Sudah jelas yang bodoh Rafa kenapa kita yang di katain, apa ini resiko orang pintar selalu dibilang bodoh.


"Sendiri yang bodoh, ngatain kita. Gini amat punya teman, bodoh teriak bodoh." Kata Radit yang mulai kesal dengan Rafa.


"Sudah-sudah. kita dengar dulu maksud dari perkataan Rafa. Biar gak salah paham kayak gini." Lerai Iqbal dan meyuruh Rafa untuk menjelaskan arti perkataan nya tadi.


Jujur Iqbal juga sama dengan Kedua sahabatnya tidak paham dengan perkataan Rafa, tapi ia lebih memilih diam dulu.


"Oke... pasang telinga kalian baik-baik biar gak salah tanggap." Kata Rafa pada kedua temannya yang sering menangkap salah perkataan nya.


"Maksud perkataan saya tadi sejenis perumpamaan." Rafa menjelaskan semua yang terjadi tanpa ada yang kelewat.


"Jadi ini yang buat kalian pusing? sorry kita gak paham tadi." Tak enak hati Radit setelah mendengar penjelasan Rafa.


"Maaf kita gak tahu tadi kalau kamu pakai perumpama'an. Coba kita tahu dari awal, pasti gak salah paham kayak gini." Kata Dimas yang sama dengan Radit.


"Iyah. Gak apa-apa. Sekarang sudah jelas yang tadi biarlah gak penting juga." Kata Rafa tak mempersalahkan yang terjadi barusan.


"Kata Rafa benar yang tadi lupakan saja sekarang yang lebih penting solusinya apa dari masalah ini?" Kata Kenan membuka suara meminta pendapat dari sahabatnya.


Kenan yakin sahabatnya bisa membantu masalah mereka ini ditambah kecerdasan yang dimiliki Iqbal pasti banyak solusi untuk memecahkan masalah mereka.


"Saya punya solusi. Saya yakin ini pasti berhasil dan kalian akan ketemu." Yakin Iqbal.


"Kamu serius Iqbal...." tanya Kenan dan Rafa memandang Iqbal mencari kebenaran yang dikatakan.


"Iyah.... saya serius Kenan, Rafa." ucapnya menyakinkan mereka.


"Solusi kamu apa Iqbal?" tanya Rafa ingin tahu rencana apa yang akan dikatakan Iqbal.


"Sepulang sekolah nanti, kita berangkat ke sekolah sepupu kalian, disana kalian pasti bisa bertemu dia secara umum Cinta sekolah disana, jelas tidak jelas dia ada disana." Kata Iqbal mengatakan pendapatnya pada mereka.


"Setuju... kenapa kita tidak kepikiran ini sejak dulu." Pikir Rafa menatap kenan, orang yang ditatap tidak peduli. Kenan hanya memikirkan bagaimana reaksi sepupunya saat bertemu nanti.


_-_-_


•>>>

__ADS_1


Semua murid XIl.MIPA-1 bersorak riang mendengar tanda kebebasan telah tiba, masing-masing dari mereka bergegas keluar meninggalkan kelas menuju tempat yang disukai ada yang kekantin, taman, perpustakaan dan lainnya.


"Yuk guys ke kantin." Ajak Bunga yang bangun dari duduknya.


"Sabar napa... Lapar?" tanya Inces, melihat Bunga yang gak sabaran.


"Sabar...." ucap ulang Bunga pada perkataan Inces. "keburu penuh kantin. Mau duduk di lantai? kalau saya ogah." Sambung nya pergi menarik tangan Cinta keluar kelas.


Cinta yang ditarik Bunga tidak membantah, ia juga ingin cepat tiba dikantin untuk mengisi perutnya yang meminta jatah, saat di mansion Cinta tidak sempat sarapan.


"Sepenuh-penuhnya kantin lantai gak juga." Teriak Inces kesal sambil Melangkahkan kakinya mengejar Cinta dan Bunga yang berjalan duluan.


Sepanjang perjalanan menuju kantin semua pasang mata menatap kagum pada Cinta dan teman-temannya terlebih pada Cinta. Kecantikan dan kebaikannya membuat banyak kaum pria disekolah ini suka padanya sehingga berani menyatakan perasaannya.


"Dari dulu sampai sekarang sayangku Cinta masih sama, selalu cantik." ucap A.


"Melati makin hari makin cantik. Aku makin sayang kalau gini." ucap B.


"Biar cerewet selalu cantik. Makin cinta aku Bunga." ucap C.


"Inces aku pengen memanjakanmu." ucap D.


Begitulah tatapan kagum dan ucapan semua murid yang melihat. Meski Cinta dan teman-temannya hanya menanggapi dengan senyuman. Itu tidak membuat mereka kecewa.


Kaki terus melangkah hingga tiba ditempat tujuan, dengan mata yang terus menoleh sana sini mencari bangku untuk di duduki mereka.


"Benar kan perkataan saya tadi. Ini hasilnya." ucap Bunga menatap Inces. Orang yang ditatap tidak peduli.


"Kak Cinta." panggil seorang cewe mengangkat satu tangan dengan mengoyangkannya.


Dia adalah adik kelas Cinta


Mendengar namanya dipanggil Cinta menoleh dan mendekat pada orang yang memanggilnya.


"Iya Dek... Ada apa? " tanya Cinta tiba didepan orang yang memanggilnya.


Mendengar suara lembut Cinta. Membuatnya terdiam. Dia tak percaya bisa sedekat ini dengan orang yang sangat dia kagumi. Selama ini dia hanya bisa melihat Cinta dari jauh.Tanpa harus berdekatan seperti ini.


"Haalloooo...." panggil bunga melambaikan tangan pada orang yang berada didepannya.


"Iya kak.... " sahut Adik kelas yang baru sadar dari lamunannya.


"Ada apa kamu memanggil teman kami Cinta?" tanya Bunga pada adik yang berada dihadapan mereka.


"Oiya. Begini kak, tadi aku melihat kakak-kakak berdiri seperti mencari sesuatu. Jadi aku kira kakak-kakak lagi mencari bangku untuk duduk. karena yang aku lihat bangku di kantin ini sudah penuh kecuali disampingku saja."


jelasnya lalu menatap bangku yang kosong.


"Yaa... kamu benar Dek. Kami tadi lagi mencari tempat duduk. Tapi sebelumnya makasih mau terima kami duduk disini. "ucap Bunga.


"Iya Kak. Sama-sama. Aku harusnya yang terima kasih pada kakak-kakak yang sudah mau duduk disini.".ucap adik kelas.


"Kenapa begitu Dek? kita yang harusnya terima kasih, berkatmu kami dapat duduk kalau tidak kami masih berdiri sampai sekarang ini."ucap Cinta. Dia tak paham jalan pikir orang yang berada didepannya. Dia yang menolong dia juga yang terima kasih.


______________💞💞💞________________


Ceritakan selagi kamu yakin mereka dapat dipercayai. Keyakinan hati kecil sangat penting dari pada keyakinan analogi pikiran yang selalu menebak.


(✓By: Rafa Putra Kusuma.)


_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-


...Jangan lupa dukung karya ini dengan Like, comment, gift🌹 and vote....


...Bantuan jempol mu membantu author untuk semangat menulis....

__ADS_1


...Tambahin favorite biar gak ketinggalan up terbarunya.📝📢...


__ADS_2