
Selamat membaca...📖
Satu tahun kemudian......
Sekarang Laura telah kuliah, karena kepintarannya dia bisa seangkatan sama teman-temannya. Laura mengambil jurusan kedokteran sedangkan temannya mengambil jurusan manejemen.
Setahun berlalu, tak membuat Laura bahagia. Dia lebih banyak diam dari sebelumnya. Menjalanin kehidupan tanpa Cinta, membuat dia hilang arah.
"Laura ini sudah setahun. Ayoo bangkit jangan begini terus. Apa kamu gak kasihan sama keluarga kami." ucap Melati.
"Saya mau bangkit seperti apa yang kalian bilang, tapi itu sulit." jawab Laura.
"Gak ada yang sulit Ra, tapi kamu nya saja yang gak mau. Pikiran kamu terus sedih memikirkan- Cinta. Kita juga sama kayak kamu Ra, tapi kita ga mungkin membiarkan ini berlarut-larut." ucap Melati.
"Kalian gak paham apa yang saya rasakan. Hidup saya terasa hampa tanpa kakak, rasanya kayak dinereka, tersiksa, gak ada kebagian." sedih Laura.
"Kamu gak boleh bicara kaya gitu Ra." sedih Melati.
"Tapi itu kenyataannya ngapain saya hidup kalau kakak gak akan datang." tangis Laura pecah. Dia tidak bisa membendung air matanya lagi.
"Jangan ngomong gitu Ra. Kita gak mau kehilangan kamu juga. Sudah cukup kita kehilangan Cinta. Kita gak mau lagi." sedih Melati memeluk Laura.
"Tapi saya gak bisa pura-pura kuat jalanin ini semua. Itu hanya tambah sakit." ucap Laura.
Semua perkataan Laura didengar jelas oleh Kenan dan temannya. Kenan sama halnya dengan Laura yang sedih. Pencarian mereka selama satu tahun tidak ada hasil.
"Kenan, saya sedih lihat Laura begini terus, saya gak kuat jika ini terus berlanjut entah sampai kapan Cinta akan kembali lagi." sedih Rafa.
"Saya juga gak tahu kapan semua nya berakhir, jejak kepergian Cinta sangat bersih, sehingga sulit bagi kita mencarinya." ucap Kenan.
"Kamu benar. Saya rasa Cinta sudah tahu jika ini akan terjadi, maka dari itu sebelum dia pergi. Dia menghilangkan jejaknya, agar tidak ada yang tahu keberadaannya." jelas Iqbal.
"Kayak nya begitu. Sudah satu tahun kita mencari, tapi tidak ada jejak keberadaan nya, kadang saya berpikir sepupu kalian itu, tidak hanya cantik dan baik, tapi dia juga pintar." ucap Radit menyampaikan isi pikirannya
"Benar. Buktinya saja semua orang suruhan dan detektif terbaik di indonesia gak bisa nemuin Cinta." timpal Dimas pada ucapan Radit.
"Saya tahu semua itu. Laura sudah jelasin pada kita, tapi saya gak jangka Cinta sepintar ini." ucap Kenan.
"Kalian gak usah khawatir. Kita akan tetap bantuin kalian cari Cinta sampai ketemu. Saya gak tega lihat Laura terus-terusan bersedih kayak gini."ucap Radit.
"Makasih yah, Bro." ucap Kenan.
"Yah sudah sekarang kita kesana. hibur Laura." ucap Rafa, lalu berjalan mengarah tempat adik sepupunya berada.
"Ada apa nih, kok pada pelukan semua?" tanya Kenan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Mendengar perkataan Kenan, membuat mereka melepaskan pelukannya dan mengapus air matanya masing-masing.
"Ini kita lagi semangatin Laura, agar tidak berlarut-larut dalam sedih." jawab Melati.
__ADS_1
"Makasih yah. Sudah selalu ada buat Laura saat terpuruk begini." tulus Kenan.
"Ini sudah tugas kami sebagai sahabat. Jadi gak perlu terima kasih." balas Melati.
"Benar kata Melati. Kami sahabatnya akan selalu ada saat susah maupun senang." timpah Bunga pada ucapan Melati.
"Bagus kalau begitu. Saya senang Laura punya teman kayak kalian." ucap Kenan.
"Kita juga senang punya teman kayak Laura. Semua ini berkat Cinta." ucap Melati mengingat saat pertama kali Cinta mengenalkan Laura sebagai adiknya pada mereka semua.
"Maksudnya berkat Cinta gimana?" tanya Kenan tak paham.
"Iyah. Karena Cinta yang kenalin kami sama Laura." ucap Melati.
"Meski awalnya saya gak suka sih sama Laura." jujur Inces.
"Kenapa kamu gak suka sama Laura?" tanya Dimas Binggung.
"Laura itu dulunya manja banget sama Cinta. Apa-apa maunya sama Cinta, sampai saya risih, tapi karena perkataan Cinta saat itu, dengan berat hati saya mencoba memahami Laura sampai saya bisa menerimanya. Seperti sekarang ini." jelas Inces.
"Emangnya apa yang dijelasin Cinta sama kamu?" tanya Dimas. Dia penasaran penjelasan apa yang membuat Inces mengerti. Setau dia dari Radit, Inces sekali membenci seseorang tidak akan memaafkan atau menerima orang itu.
"Jelasin saja. Saya juga mau tahu apa yang dikatakan kak Cinta sama kamu. karena saya gak tahu kalau kamu dulu membenci saya." tanya Laura.
"sorry Ra, itu dulu, tapi sekarang tidak." ucap Inces khawatir Laura bakal marah padanya.
"Iyah. Gak apa-apa. Saya gak permasalahkan itu. Saya cuman mau tahu penjelasan kak Cinta sama kamu itu apaan?" tanya Laura dengan tatapan sendu.
"Inces, saya mohon kamu jangan benci sama Laura, dia adik kesayangan saya kalau kamu benci sama dia berarti kamu juga benci sama saya, jika saya diberi pilihan antara sahabat atau Laura? Saya bakal pilih Laura, bukan maksud saya gak anggap kalian penting tapi Laura sangat berarti dalam hidup saya, dia adalah separuh nafas saya, asal kamu tahu saya masih bertahan hidup sampai sekarang ini karena Laura, kamu pikir saja kalau Laura gak ada, mungkin sekarang saya gak akan ada disini bersama kalian, jadi saya harap kamu bisa paham sama penjelasan saya ini."
"setelah mendengar penjelasan dari Cinta saya mikir, kalau ini masih berlangsung saya bakal kehilangan Cinta, sedangkan saya gak mau kehilangan Cinta. Saya sayang banget sama Cinta dia teman terbaik yang pernah saya kenal, maka dari itu saya putuskan untuk mencoba menerima Laura." jelas Inces.
Air mata Laura jatuh mendengar penjelasan Inces. Dia terharu mendengar perkataan kakaknya. kakak yang rela melakukan apa saja demi kebahagiaannya meski kebagiaan dia taruhannya.
"Kak. Makasih sudah sayang sama Laura. Kakak sekarang dimana Laura rindu. Laura pengen ketemu kakak. Laura mohon kembalilah kak." Batin.
"Sudah Ra. jangan nangis Abang yakin Cinta bakal datang temui kamu. Apa kamu gak dengar penjelasan Inces tadi. Dia bilang kamu adalah separuh nafasnya." ucap Kenan. Dia salut pada Cinta yang rela melakukan apa saja demi Laura. Dia tak habis pikir terbuat dari apa sepupunya bisa sebaik ini.
"Kak Cinta juga bilang Bang, kalau dia gak bakal ada jika aku gak ada. Apa kak Cinta sudah...." Laura tak bisa melanjutkan omongannya.
Dia tak mau jika semua yang dia pikirkan itu benar.
"Kamu gak boleh mikir begitu Ra." Kenan juga sama kayak Laura yang memikirkan jika Cinta telah tiada.
"Abang benar, Laura gak boleh mikir kayak gitu. Laura harus yakin kakak bakal datang temuin Laura." ucapnya. menyemangatin dirinya.
********
Mengusap bingkai foto Cinta dengan tangannya sudah menjadi kebiasaan sehari-hari Lestari. Duduk diruang keluarga dengan tatapan sendu berharap Cinta akan kembali. Aditya sedih melihat Lestari tidak pernah absen menatap foto Cinta. Dia juga sama merindukannya, tapi apa yang bisa diperbuat semua orang suruhannya dan detektif terhebat di indonesia tidak bisa mencari keberadaan Cinta.
__ADS_1
"Aditya." panggil Sari.
"Iyah Ma...." jawabnnya.
"Kita coba sekali lagi untuk mencari Cinta. Mungkin kali ini jejaknya sudah bisa dicari." suruh Sari.
"iyah Ma. Aditya akan menyuruh mereka kembali mencari." jawabnya.
"Mama harap kali ini berhasil. Mama gak tega lihat Lestari kaya gini jika ini terus terjadi Lestari bakal drop." jelasnya.
"Aditya juga berpikir begitu Ma. Sekarang kita hanya bisa berdoa agar semua membaik." ucapnya.
*******
Mendengar obrolan mereka membuat Iqbal kagum. Dia tidak menyangkah di dunia ini masih ada orang baik seperti Cinta. Dia yakin pria yang mendapatkan Cinta adalah pria yang sangat beruntung. Iqbal tak berniat menjadi orang beruntung itu. Tekadnya sudah bulat akan mencari gadis kecilnya, karena dia adalah cinta pertama dan terakhir bagi Iqbal.
"Kamu kenapa Iqbal?" tanya Kenan melihat Iqbal yang lagi memikirkan sesuatu.
"Enggak. Saya hanya mikir saja. Pria yang akan bersanding dengan Cinta pasti sangat beruntung." jujur Iqbal.
"Iyah. Itu sudah pasti Iqbal. Apa kamu berniat menjadi pria beruntung itu?" goda Kenan. Dia tahu sahabatnya ini tidak akan tergoda sama wanita lain, karena dia hanya mencintai gadis kecil itu, sampai saat ini Iqbal masih terus mencarinya.
"Gakk mungkinlah. Kalian tahu cinta saya hanya buat dia seorang gak akan ada yang lain." Yakin Iqbal.
"Tahu kita. Kamu cinta mati sama dia." ucap mereka serempak.
Awalnya Bunga menyukai Iqbal, berbagai macam cara dia lakukan agar Iqbal menyukainya, tapi semuanya sia-sia saat dia mendengar cerita Kenan tentang Iqbal. Dari saat itu Bunga mulai membuang perasaan nya. Dia sadar Iqbal sangat mencintai wanita itu, sampai tak ada sedikit ruang dihatinya buat wanita lain.
Mereka salut, dengan besarnya cinta Iqbal yang tak pernah luntur meski bertahun-tahun tak pernah ketemu.
"Laura salut sama Abang Iqbal, seandainya wanita itu kak Cinta. Laura yakin kak Cinta bakal bahagia karena Abang pria yang baik." ucapnya. Dia berharap suatu saat kakaknya bisa mendapat pria baik seperti Abang Iqbal
*
*
*
*
*
*
*
BERSAMBUNG....
Hallo semua sobat noveltoon👋
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu agar author semangat.👌**
...SAMPAI JUMPAH BESOK ❤️...