Takdir Hidup Cinta

Takdir Hidup Cinta
Bab 39. Ijab kabul


__ADS_3

H 4 P P Y R 3 4 D I N G 🤗








•>>>>>>>


Hari ini hari yang ditunggu oleh kedua pihak keluarga terutama Iqbal, ia sangat bahagia hari yang dinantikan kini telah tiba, hari ini statusnya akan berubah menjadi seorang suami.


Iqbal sangat gugup, keringat bercucuran keluar dari dahinya, ia tak pernah seperti ini sebelumnya, tangannya terus diremas agar mengontrol grogi nya.


Disebuah ruangan, Cinta telah selesei di make over oleh MUA. Cinta terlihat sangat cantik dengan wajah yang putih bersih tanpa bekas jerawat.


Menuruni satu persatu anak tangga didampingi adik dan ketiga sahabatnya. Cinta seperti sedang dijaga oleh dayang-dayang kerajaan, semua mata tamu undangan tertuju pada Cinta yang sangat cantik, mata mereka tak sekalipun mengedip, Iqbal yang melihat itu ingin segera menghajar mereka yang menatap Cinta seakan ingin menyantap.


"Apa mereka ingin dihajar kenapa menatap Cinta seperti ingin memangsa, aku tak akan membiarkan Cinta berdandan secantik ini selain padaku." Batin Iqbal memandang tamu undangan.


Saat ini Cinta telah tiba tepat didepan Iqbal, mata Iqbal tak sedetik pun mengedip melihat Cinta yang berada di hadapannya. Acara pernikahan Cinta diliput media, bagaimana juga Cinta seorang artis mau tidak mau dia harus mengundangnya.


"Kamu bisa puas pandangnya, tapi setelah acara ini selesei." Tegur Kenan menyadari Iqbal yang masih menatap Cinta penuh kekaguman.


"Gak sabar yah bro." Sambung Dimas memandang Iqbal yang malu kepergok.


Tanpa menjawab perkataan sahabatnya, Iqbal pergi meninggalkan mereka. Kini dia duduk disamping Cinta, sebentar lagi ijab kabul akan segera dimulai.


"Apa kedua mempelai sudah siap?" tanya sang penghulu pada Cinta dan Iqbal.


"Siap." Balas Iqbal.


"Saudara Iqbal Radit Adijaya, saya wali selaku orang tua dari Cinta menikahkan kamu Iqbal Radit Adijaya dengan Putri kandung saya Cinta Permata Kusuma dengan mahar satu perusahaan, satu pulau, satu jet dan 50 gram kalung emas dibayar tunai." ucap Aditya menjabat tangan Iqbal yang berada dihadapannya.


"Saya terima nikahnya Cinta Permata Kusuma dengan mahar satu perusahaan, satu pulau, satu jet dan 50 gram kalung emas dibayar tunai." ucap Iqbal mengulangi perkataan Aditya dengan satu tarikan.


"Bagaimana tamu hadirin, SAH?" tanya penghulu.

__ADS_1


"SAH." teriak tamu undangan.


Terpancar wajah kebahagiaan dari kedua mempelai yang kini telah resmi menjadi suami istri.


"Iqbal mulai hari ini tanggung jawab Cinta sepenuhnya ada padamu, buatlah Cinta bahagia, jangan pernah sakiti dia atau kami akan mengambilnya kembali." Pesan Aditya.


Saat ini kedua mempelai meminta doa restu kepada kedua pihak keluarga disaksikan para tamu undangan dan awak media.


"Sayang sekarang kamu telah menjadi seorang istri patuhilah ucapan suami, jangan melawan atau meninggikan suaramu, karena sekarang surgamu berada ditangan suami." Nasihat Lestari mengelus kedua pipi Cinta.


"Iya Ma, aku akan ingat pesan Mama, makasih sudah melahirkan dan membesarkanku, maaf aku belum menjadi anak yang baik untuk Mama." Peluk Cinta Ibu kandungnya.


"Kamu anak yang baik sayang, sebenarnya Mama yang berkata seperti itu maaf belum bisa menjadi ibu untuk kamu selama ini." Balasnya dengan perasaan bersalah belum bisa memberi kebahagiaan pada Cinta.


"Mama Ibu yang baik, aku bangga mempunyai ibu seperti Mama." Sedih Cinta melepaskan pelukan pada ibunya.


"Iqbal Mama titip Cinta jaga dan buat dia bahagia, jangan sekali kamu biarkan Cinta meneteskan air mata sudah cukup penderitaannya selama. Mama harap bersamamu dapat membuat Cinta bahagia." ujar Lestari penuh harap menatapnya.


"Mama jangan khawatir sekarang Cinta istriku, aku akan menjaga dengan nyawa taruhanku. Mulai hari ini akan ada kebahagiaan di wajah Cinta tak akan ada yang namanya air mata kesedihan selain air mata kebahagiaan." Yakin Iqbal menatap Ibu mertuanya.


Lestari terharu mendengar perkataan Iqbal yang tegas dengan penuh keyakinan, dia yakin Iqbal orang yang cocok membuat Cinta bahagia mereka sudah kenal sejak kecil bahkan saling cinta.


"Mama percaya sama kamu." Balas Lestari tersenyum.


"Pasti Bunda." Senyum Iqbal.


"Sayang kamu sudah menjadi seorang istri, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan ada suami yang harus kamu urus." Pesan Nenek Sari menatap Cinta berpindah meminta restu padanya.


"Iya Nek, aku tidak akan lupa dengan kewajiban ku sebagai istri. Nenek jangan khawatir mulai hari ini Iqbal akan mengurus perusahaan bersamaku." Balas Cinta.


"Bagus kalau begitu kalian akan selalu bersama." Senang Nenek Sari mendengar perkataan Cinta.


Dari Nenek Sari Iqbal dan Cinta berpindah ke Kakek Wahyu, matanya tak bisa berbohong saat ini perasaanya campur aduk bahagia atas pernikahan cucunya, sedih harus kehilangan karena saat ini Cinta akan tinggal bersama suami dan meninggalkan rumahnya.


"Kek aku dan Iqbal minta doa restunya." Jongkok Mereka mencium kakek Wahyu yang duduk.


Kakek Wahyu diam tak kuasa membalas ucapan Cinta, kedua tangannya langsung menarik membawa Cinta kedalam pelukan.


Semua yang melihat ini menjadi sedih, bagaimana tidak? tanpa berkata Kakek Wahyu memeluknya dengan meneteskan air mata.


Kelakuannya saat ini seperti anak kecil yang sedih ditinggalkan orangtua ke luar negeri.


"Jangan seperti anak kecil memalukan saja banyak orang yang memperhatikanmu, ingat usia jangan kekanakan umur sudah tua." tegur Nenek Sari disamping Kakek Wahyu.

__ADS_1


Mendengar penuturan istrinya Kakek Wahyu melepaskan pelukan dari Cinta dan memandang sekeliling ternyata benar para tamu terus melihatnya.


Kakek Wahyu merasa malu dengan kelakuannya, kenapa sekarang dia menjadi sorotan bukannya saat ini yang menikah cucunya.


"Kek." Panggil Cinta melihat kakeknya bengong.


"Yah, ada apa Cinta?" Sadar kakek dari lamunan karena cubitan istrinya.


"Kakek kenapa bengong? apa ada yang dipikirkan?" tanya Cinta menatap kakeknya.


"Tidak kakek hanya senang sekarang cucu kakek sudah besar, dia sudah menikah sebentar lagi akan punya anak." Balas Kakek tersenyum menatapnya.


"Kakek bisa aja bukannya aku sudah besar selama ini." Ujar Cinta merona, perkataan kakek membuatnya malu masa baru menikah sudah memikirkan anak.


"Dimata Kakek semuanya masih kecil jika belum menikah, meski sudah sukses." Balasnya.


"Iqbal, tanggung jawab Cinta berada di tanganmu, pesan kakek sama seperti yang lain jaga dan bahagiakan Cinta jika ada masalah bicarakan baik-baik jangan ada kekerasan, kakek tak mau dengar Cinta meneteskan air mata hanya karena kamu." Tegas Wahyu serius menatapnya.


"Kakek tenang saja, Cinta istri saya sudah sewajibnya saya menjaga dan membahagiakannya." Balas Iqbal menyakinkan Kakek Wahyu.


Sebelum melanjutkan acara resepsi yang akan diadakan beberapa jam lagi, semua tamu dipersilakan pulang dan kembali saat jam yang sudah ditentukan pada undangan.


Cinta dan Iqbal masuk kekamar hotel untuk istirahat sebelum melanjutkan acara berikutnya. Dia merasa canggung ini pertama kali dia sekamar dengan lawan jenis meski sekarang Iqbal telah resmi menjadi suaminya.


"Baby kamu kenapa? apa kamu sakit?" khawatir Iqbal melihat Cinta.


"Baby." Bingung Cinta mengulangi perkataan Iqbal dengan alis keatas.


"Iya Baby, mulai hari ini dan seterusnya aku akan memanggilmu baby." Jawab Iqbal menggengam tangan Cinta, matanya memancarkan kebahagiaan.


______________💞💞💞______________


Menikah dengan mu impian ku sejak awal pertemuan, bahagia ku tak bisa di ukur meski ada alat pengukur. Kamu yah kamu Cinta pertama dan terakhir ku.


(✓By: Iqbal Radit Adijaya.)


_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_


...**Jangan lupa dukung novel ini dengan like, comment, gift 🌹dan vote....


...Jari jempol mu sangat berguna membantu karya author untuk semangat menulis....


...Tambahin favorite biar gak ketinggalan up terbarunya**....

__ADS_1


__ADS_2