
Selamat membaca!📖
•
•
•
•
•
•
***
Saat ini Cinta sedang berada disebuah gedung sesuai dengan rencana mereka yang dikawal oleh pihak berwajib atas perintah Kenan.
Iqbal terus mendampingi Cinta sampai acara konferensi pers selesei, tangannya menggenggam tangan Cinta memberi semangat, semua itu tak luput dari mata wartawan.
"Cinta." Panggil Inces yang duduk disamping Cinta.
Saat ini mereka berada di sebuah cafe. Cinta mentraktir mereka sebagai ucapan terima kasih telah membantu dalam mengurus acara konferensi pers.
"Iya." sahut Cinta menoleh.
"Apa pengakuan tadi tidak membuat fans kamu berkurang?" tanya Inces menatap Cinta
"Pengakuan yang mana?" tanya Cinta yang belum peka dengan pertanyaan Inces.
"Masih muda aja sudah pikun, bagaimana kalau tua?" Sindir Inces.
"Aku ingat semuanya Inces, yang aku tanya itu pengakuan yang mana? bukannya kamu lihat banyak pengakuan yang aku beritahu tadi." Jelas Cinta.
"Tahu nih Inces, kalau nanya gak pernah jelas." Sambung Bunga menatapnya.
"Kalian saja yang lama koneknya." Bantah Inces tak terima dikatain tidak jelas.
"Gak salah nih kamu bilang kita, bukannya kamu yang loading." Kata Bunga.
"Sudah, gak usah diterusin. Kamu jelasin saja maksudnya apa tadi." Lerai Rafa menatap Inces.
"Bukannya kalian dengar saat Cinta beritahu media jika Iqbal pacarnya?" tanya Inces menatap mereka.
"Kita dengar, terus kaitannya apa? kamu bisa gak sih kalau bicara jangan sepotong, kamu hanya bikin kita jadi pusing dengarnya." Kesal Bunga.
"Inces bisa gak sih bicaranya jangan sepotong, jadinya kayak gini." Tegur Rafa geleng-geleng kepala dengan tingkah adik dari sahabatnya, kelakuannya selalu membuat orang kesal.
•
•>>>
Nenek Sari dan semuanya yang berada diruang keluarga kaget melihat siaran langsung Cinta yang melakukan konferensi pers dengan media. Bagaimana tidak? saat dirumah Cinta tak sekalipun menyingung tentang ini.
"Ma, apa yang terjadi? kenapa mereka melakukan konferensi pers tanpa mengabari kita?" tanya Aditya melihat berita yang beredar di semua stasiun tv.
__ADS_1
"Mama gak tahu, tapi Mama senang Cinta sudah mengklarifikasi ini." Balas Sari.
"Mama benar dengan begini semua bisa tahu siapa Cinta." Setuju Anita dengan ucapan Ibunya.
"Mbak kenapa?" Sambung Anita melihat Lestari yang fokus pada layar ponselnya.
Saat ini Lestari sedang membaca berita yang beredar di sosmed setelah acara konferensi pers, banyak media membuat isu Cinta dan Iqbal akan segera menikah. Hal itu membuat Lestari tersenyum.
"Ini ada berita tentang Cinta, katanya Cinta dan Iqbal akan segera menikah." kata Lestari menunjukkan berita pada layar ponselnya.
"Apa kamu berniat ingin menikahkan Cinta dan Iqbal secepatnya?" tanya Aditya yang menebak isi otak istrinya.
"Iya Mas, kayaknya lebih cepat lebih baik dengan begitu Iqbal bisa menjaga Cinta 24jam seperti acara konferensi pers ini." Jawab Lestari yakin.
"Papa setuju dengan Lestari, dengan begitu Cinta ada yang jagain, kita tidak perlu khawatir dengan keadaan Cinta yang sering bepergian saat pemotretan atau kekantor." Jelas Wahyu membenarkan perkataan mantunya.
"Mama setuju, dengan begitu Cinta akan segera punya anak dan Mama akan menjadi buyut." Sambung Sari gembira, pikirannya saat ini ingin segera menimang cicit dari cucu kesayangannya.
"Tunggu apalagi cepat kamu hubungi orang tua Iqbal, minta mereka segera kemari." Sambung Sari menyuruh Aditya.
Setelah menghubungi orang tua Iqbal, dua jam kemudian Tristan dan Nayla tiba dikediaman Kusuma.
•
•>>>
"Kenapa Cinta?" tanya Kenan saat sambungan telpon terputus.
"Mama nyuruh kita pulang sekarang." Jawab Cinta memasukan ponselnya ke dalam tas.
"Kamu juga kenapa?" tanya Rafa menatap Iqbal.
"Yah sudah sekarang kita langsung balik aja. Guys kita duluan yah." Pamit Rafa bangun dari kursi disusul Kenan, Laura, Cinta dan Iqbal.
"Hati-hati dijalan, kalau ada apa-apa segera kabarin." Balas Radit menatap mereka yang sudah berdiri.
"Sayang apa kamu tahu kenapa kita disuruh berkumpul?" tanya Iqbal yang duduk disamping Cinta, dia sedang menyetir mobil.
"Aku gak tahu? apa ini ada sangkut pautnya dengan konferensi pers tadi?" Tebak Cinta menatap Iqbal yang sedang menyetir.
"Bisa jadi, karena kita tidak mengabari mereka tentang ini." ucap Iqbal tanpa menoleh.
"Tapi kaitannya apa dengan kamu yang kerumah?" Bingung Cinta.
"Aku juga gak tahu, apa ada hal lain yang ingin mereka katakan?" balasnya.
"Bisa jadi, tadi saat Mama telpon suaranya berbeda dari biasanya, kayak orang yang menang lotre bahagia gitu." Jelas Cinta mengingat kembali.
"Sepertinya ada yang aneh, Mommy juga sama. Apa ada yang mereka rencanakan?" tanya Iqbal yang masih fokus menyetir.
"Kayaknya begitu, gak mungkin bisa kebetulan diwaktu yang sama." Balas Cinta.
Satu jam perjalanan, mobil Iqbal dan Kenan tiba dikediaman Kusuma, semuanya sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi.
"Assalamualaikum." Salam Cinta.
__ADS_1
"Walaikumsalam." Balas Lestari yang berjalan mendekati Cinta.
"Ada apa Mama suruh kita balik?" tanya Cinta.
"Duduk dulu, nanti kita bakal jelasin." Perintah Lestari menarik Cinta segera duduk.
"Sudah, apa sekarang bisa dijelasin?" Duduk Cinta menatap Mamanya yang berada disamping.
"Biar Kakek yang jelasin. Cinta Kakek dan yang lainnya sudah memutuskan untuk kamu dan Iqbal segera menikah bulan depan." Jelas Wahyu menatap Cinta dan Iqbal bergantian.
"Apa?" Kaget Cinta mendengar kakeknya.
"Gak lucu kek becanda nya." Bantah Cinta mengira kakeknya sedang prank.
"Kakek kamu gak becanda Cinta, kita semua sudah memutuskan ini. Nenek harap kamu gak menolak." Kata Sari penuh harap.
Melihat wajah keluarganya yang sangat berharap, Cinta mengiyakan keputusan mereka, tidak salah menikah dengan Iqbal, Iqbal pacarnya, laki-laki yang ia cintai.
Berbeda dengan Iqbal, dia tak kaget, dia malah senang dengan semua ini, akhirnya dia bisa ke jenjang yang lebih serius dengan Cinta wanita yang dia sayangin sejak kecil.
"Okey, aku mau menikah bulan depan." kata Cinta yakin dengan keputusannya.
"Kamu bagaimana Iqbal? apa kamu bersedia menikahi Cinta bulan depan?" Tanya Wahyu menatapnya.
"Siap kek, saya bersedia menikahi Cinta kapan." Semangat Iqbal.
"Semangat sekali kamu bro, ingat setelah menikah jangan lupa beri kami ponakan yang banyak." Goda Rafa pada Iqbal.
"Tenang saja, itu gampang." jawab Iqbal enteng tanpa malu dengan perkataannya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Sari melihat wajah cucunya menjadi merah, tanpa tahu penyebabnya.
"Kamu kayak gak pernah mudah aja, cucu kita sedang malu sekarang." Jawab Wahyu pada istrinya yang belum paham apa yang terjadi dengan Cinta.
"Astaga, tenyata cucu Nenek malu, tambah cantik kamu kalau malu gini." Goda Sari memandang wajah Cinta.
"Jangan digodain Nek, nanti tambah malu orangnya, apa gak kasihan sama Cinta, dia gak bisa ngumpet kalau gini jadinya." Sambung Rafa menggoda Cinta.
"Apaan sih, gak usah ngacau deh. Semuanya aku permisi dulu, aku harus kekantor mengurus beberapa kerjaan disana." Pamit Cinta, jika makin lama disini bisa dipastikan mereka akan semakin menggodanya.
"Kenapa buru-buru? apa harus diselesaikan sekarang, gak bisa ditunda?" tanya Wahyu.
"Gak bisa kek, makin lama ditunda bakal jadi menumpuk, semua itu akan berdampak buruk pada perusahaan." Jelas Cinta memberi pengertian pada keluarganya.
"Yah sudah kalau begitu, Iqbal kamu temanin Cinta sampai selesei." Perintah Wahyu pada Iqbal.
"Siap laksanakan Kek." Balas Iqbal semangat 45.
×
×
×
×
__ADS_1
×
BERSAMBUNG...