Takdir Hidup Cinta

Takdir Hidup Cinta
Bab 44. Rumah baru, awal baru


__ADS_3

H 4 P P Y R 3 4 D I N G 🤗









Waktu menunjuk pukul 11:00 siang, Cinta masih enggan bangun dari tidurnya, matahari semakin panas dengan sinar terangnya, angin berhembus segar membuat semua menikmati dengan cuaca suhu yang tinggi.


"Baby bangun ini sudah siang." Colek Iqbal pada pipi cubby Cinta.


"Ini jam berapa Al?" Tanya Cinta dengan suara khas bangun tidur.


Tidurnya terngangu ulah Iqbal mau tidak mau ia harus bangun meski terasa berat.


Perlahan tapi pasti ia bangkit dari tidurnya membuka kecil mata melihat Iqbal disampingnya yang sudah rapi, mengumpulkan nyawa Cinta segera duduk menyandarkan diri pada bantal yang ia tepati dipunggung belakang.


"Kamu mau kemana Al?" Tanya Cinta memandang Iqbal dari atas sampai bawah terlihat rapi seperti akan keluar.


"Kita harus balik baby." Jawab Al menatap Cinta yang belum konek maksudnya.


"Balik...?" Ulang Cinta belum paham.


"Iya, balik ke rumah kita." Jawab Iqbal melihat Cinta masih bingung.


"Oiyah aku lupa... maaf Al efek bangun tidur kurang konek." Senyum Cinta menunjukkan sederet gigi putih.


"Yah sudah, sekarang mandi setelah itu sarapan baru berangkat, kasihan semua yang sudah nunggu lama dari tadi." Kata Iqbal mengelus rambut Cinta.


"Baik bos." Balas Cinta memberi hormat.


Cinta segera bangun dari kasur berlari masuk ke kamar mandi karena saat ini ia tak menggunakan pakaian akibat aksi semalam. Iqbal menggeleng kepala melihat kelakuan Cinta menggemaskan seperti anak kecil.


Melihat Cinta hilang dari pandangnya ia segera merapikan kasur yang berantakan akibat aktivitas semalam, seprei yang bersih tanpa dona kini penuh dengan bercak merah segera diganti.


Ia tak habis pikir betapa ganas dirinya menerkam Cinta semalam, mengingat semua itu membuat dirinya tersenyum kecil seperti orang kurang waras.


*


*


>•••


Di dalam Cinta melihat air hangat yang sudah disiapkan Iqbal karena tak ada orang lain selain ia dan dirinya.

__ADS_1


30 Menit melakukan ritual mandi, Cinta keluar dengan rambut basah setelah keramas. Iqbal melihat keluarnya dari dalam segera mengarahkan Cinta untuk duduk mengeringkan rambut dengan hairdryer.


"Duduklah." Perintah Iqbal menunjuk bangku meja rias.


Tanpa membantah Cinta melangkahkan kaki dan duduk di bangku menghadap meja rias, wajahnya menatap pantulan cermin menampakan Iqbal yang mulai melakukan.


"Al apa Kakek mengatakan sesuatu?" Tatap Cinta pada pantulan cermin.


"Tidak." Singkat Iqbal tanpa menoleh.


Tangannya bergerak menyisir rambut Cinta, menatap lekat tanpa sadar dirinya sedang diperhatikan Cinta yang memandang penuh kagum.


"Aku gak nyangka kamu bisa seperti ini Al?"


"Maksud kamu?" Iqbal berhenti melakukan mendengar ucapan Cinta.


"Aku gak nyangka kamu soswet seperti opa Korea." Senyum Cinta melihat Iqbal tertawa geli mendengar ucapannya.


"Kamu salah gak ada yang bisa samain aku dengan orang diluar sana, jika mereka soswet belum tentu ganteng, di dunia ini hanya aku seorang yang tampan." Kata Iqbal sombong.


"Siapa bilang masih banyak diluar sana?"


"Maksud kamu, ada yang tampan selain aku? apa kamu menyukai dia?" Curiga Iqbal menatap lekat pantulan cermin.


"Apaan sih, sukanya curiga terus gak bosan begini terus? kita sudah menikah, kamu suamiku, hati ini hanya tertulis satu nama sekarang dan selamanya yaitu kamu gak ada yang lain." Cinta menyakinkan Iqbal yang berdiri tepat dibelakang.


"Makasih baby I love you." Peluk Iqbal terharu dengan ucapan Cinta.


Iqbal memeluk erat Cinta, ia bahagia perkataan Cinta seakan ia satu satu pria beruntung di dunia ini. Merasa sesak kedua tangan memukul dada Iqbal.


"Maaf baby aku bahagia gak ada niatan sedikit buat kamu kaya gini." Tatap Iqbal melihat Cinta menarik nafas tergesa gesa.


Terlepas dari Iqbal, ia segera menghirup udara yang tadi sesak. Senyum kecil terbit di wajah Iqbal jarak ia dan Cinta dua jengkal. Terlihat jelas wajah Cinta yang merah kehabisan oksigen.


"Tapi gak gini juga Al. Peluk sih boleh gak ada larangan asal tahu batasan." Bantah Cinta kembali normal.


"Iya... iyaa... maaf lain kali gak lagi. Ayo duduk." Pinta Iqbal menepuk bangku.


"Selesai. Sekarang makan lalu kita berangkat, kasihan semua yang udah nunggu." Kata Iqbal meletakan hairdryer di meja.


"Lama juga karena kamu." Bangun Cinta menuju meja makan.


"Gak salah bukannya tadi kamu yang mulai? kenapa jadi aku?" Bantah Iqbal memandang kepergian Cinta.


"Terserah kamu aja, aku malas ladenin kamu yang keras kepala gak bakal habis."


*


*


>•••


Satu jam kemudian.

__ADS_1


"Baby yakin Laura tinggal sama kita?" Tatap Iqbal sekilas kembali fokus nyetir.


Setelah perdebatan kecil terjadi tidak membuat rumah tangga menjadi renggang, melainkan harmonis.


Dalam perjalanan menuju rumah yang akan ditempati, Cinta duduk disamping kursi mengemudi yang dikendarai Iqbal sendiri. Sebelum memasuki mobil mereka sempat terhalang dengan adanya pengemar Cinta yang antusias meminta foto dan tanda tangan mau tak mau harus di ladeni, menolak bukan kebiasaanya.


Penampilan Cinta menjadi pusat perhatian dengan gaun selutut berwarna biru langit, rambut tergerai kacamata hitam yang tertancap cantik di kepala. Didamping Iqbal yang menggunakan pakaian senada biru langit bedanya ia menancapkan kacamata dikedua mata.


Depan hotel yang sepi mendadak ramai. Panasnya matahari diatas kepala menjadi meningkat dikerumuni fans dengan cuaca mendukung terangnya.


"Aku yakin Al, apa kamu gak setuju?" Menoleh Cinta pada Iqbal yang menyetir.


"Aku setuju bahkan akan selalu mendukung setiap hal yang membuat kamu bahagia." Balas Iqbal.


"Terima kasih Al."


Tiba dirumah Cinta dan Iqbal disambut ramah semua yang menanti kedatangan mereka sejak tadi. Lestari memeluk rindu putri sulung kini sudah menjadi seorang istri, ia tak menyangkah putrinya sudah besar, butiran membasahi pipi tak bisa menahan bendungan.


"Mama menangis?" Tanya Cinta merasakan tetesan air membasahi pundak segera melepas pelukan.


"Ini air mata bahagia sayang." Jawab Lestari menatap Cinta khawatir.


"Sudah. Hari ini waktunya bahagia bukan bersedih." Ujar Sari melihat adegan ibu dan anak.


"Kata Nenek benar sekarang waktunya bahagia." Semangat Laura membenarkan.


"Kenan, Rafa bawakan koper Cinta dan Iqbal ke kamarnya." Perintah Wahyu memandang kedua cucunya.


"Kenapa harus kita Kek, mereka bisa sendiri." Bantah Rafa tak terima barang siapa yang bawa siapa dipikir dirinya pembantu. (Cocok itu🤣)


"Jadi, tidak mau? okey Kakek tidak memaksa, tapi semua fasilitas kamu akan Kakek cabut." Ancam Wahyu yakin akan berhasil menampakan wajah serius.


"Mana bisa disini ada Damar dan Bagas, kenapa harus kita yang bawa kenapa tidak mereka?"


Rafa menatap lekat Bagas Dan Damar yang duduk santai di sofa empuk ruang keluarga. Berbeda dengan Kenan yang memilih diam mendengar tolakan Rafa setia berada disampingnya.


Semua melihat pertengkaran Kakek Wahyu dan Rafa seperti menonton drama serial sambil mengunyah cemilan yang berada dimeja.


"Kakek mau Abang bukan kita." Balas Bagas dengan cemilan ditangan yang siap masuk ke mulut.


"Sudah, kita ikutin saja perintah Kakek mau kamu fasilitasnya dicabut? aku sih gak mau." Lerai Kenan mengambil koper.


Rafa melihat kepergian Kenan menjadi kesal bukan membela malah menuruti, matanya menatap kedua adik sepupu dengan arti tunggu kalian, bukan terlihat takut keduanya bahkan semua tertawa melihat Rafa. (Masih sempat nyalahin orang🤣).


_____________💞💞💞_______________


Curiga berlebihan tak baik buat suatu hubungan yang baru dibangun, karena kecurigaan hanya buat seseorang yang tidak percaya diri dan sekarang aku sedang merasakan ini.


(✓By : Iqbal Radit Adijaya)


_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_


...Jangan lupa like, comment, gift🌹and vote....

__ADS_1


...Tambahin favorite biar gak ketinggalan up terbarunya.📝📢...


__ADS_2