Takdir Hidup Cinta

Takdir Hidup Cinta
Bab 15. Curiga?


__ADS_3




Selamat membaca ... 📖


Bel pulang telah berbunyi tiga puluh menit yang lalu. Abang Laura belum juga datang menjemputnya.


"Ra, Abang kamu jadi jemput gak sih. Masa sudah tiga puluh menit belum juga datang?" tanya Bunga.


"Saya juga gak tahu, ditelpon tapi nomornya gak aktif." jawab Laura.


"Apa Abang kamu sama kayak Abang saya" terka Inces.


"Gak mungkin Abang saya gak pernah ingkar janji kayak Abang kamu." jawab Laura.


"Siapa tahu saja. Buktinya belum datang juga tuh sampai sekarang." ucap Inces.


"Kamu gak usah panas-panasin Laura deh. Saya sih yakin abangnya gak sama dengan abang kamu." bela Melati.


"Kayak kamu kenal saja sama Kenan." lirik Inces pada Melati.


"Apa kamu benaran kenal sama Kenan, tapi kitanya saja yang tidak tahu itu." sambung Bunga curiga.


"Gak usah soh tahu deh kalian. Saya gak kenal sama Kenan." jawab Melati. Dia sendiri binggung kenapa sangat mempercayai Kenan.


"Terus kenapa kamu bisa seyakin itu sama Kenan?" tanya Bunga.


"Kelihatan dari mukanya dia itu orang baik." jawab Melati.


"Jadi maksud kamu abangnya Inces, Radit gak baik gitu?" tanya Bunga.


"Gak gitu juga." ucap Melati.


"Kalau gitu, apa?" tanya Bunga menaikan alisnya, menatap melati yang berdiri pusing memikirkan jawaban apa yang harus dia katakan, dia binggung.


"Gak usah dijawab Mel. Abang Kenan sudah datang tuh." tunjuk Laura pada mobil Kenan.


"Maaf Ra. lama jemputnya, tadi kita ada rapat Osis sebelum kesini." jelas Kenan, tak enak membuat Laura menunggu lama.


"Yah sudah gak apa-apa abang, semuanya sudah lewat. Sekarang Abang sudah datang." jawab Laura.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi ayo jalan." ajak Rafa.


*******


Korea...


"Bagaimana Cinta. Apa sudah beres kontraknya?" tanya Mbak Tiara, berdiri dihadapannya.


"Sudah mbak. " jawabnya.


"Bagus kalau gitu. Apa kamu mau jalan-jalan biar tahu negara ini?" tanya mbak


"Boleh mbak, lagian semuanya sudah beres. Cinta juga perlu tahu tempat ini. Karena Cinta ingin memulai bisnis di negara ini." ucapnya.


"Kamu serius? apa gak akan membuat kamu cape, kurangnya istirahat karena banyaknya kerjaan." tanya mbak Tiara, dia khawatir akan kesehatan Cinta.


"Mbak tenang saja. Cinta sudah memikirkan ini matang-matang, lagian ini adalah impian Cinta." jelasnya serius menatap mbak Tiara.


"Kalau itu sudah keputusan kamu. Mbak akan mendukung, tapi mbak minta kamu harus pintar membagi waktu agar tidak kecapean." nasihatnya.


"Pasti mbak." ucap Cinta.


"Yah sudah, ayo kita berangkat." ajak mbak Tiara.


*******


Kedatangan Laura, Kenan dan teman-temannya, membuat cafe jadi rame. Kecantikan dan ketampanan mereka menjadi pusat perhatian semua orang yang berada disini.


"Apa ada yang salah dengan kita." tanya Melati. Dia binggung sejak tiba disini. Semua pengunjung cafe terus memperhatikan mereka.

__ADS_1


"Gak ada yang salah. Ini sudah biasa jadi gak usah dipikirin." ucap Kenan.


"Maksudnya sudah biasa gimana?" binggung Melati.


"Diperhatikan seperti ini." ucap Kenan.


"Jadi kalian sering kesini?" tanya Melati.


"Iyaaa." singkat Kenan.


"Yah sudah ayo duduk." ucap Iqbal.


Cafe ini adalah tempat kumpulnya Iqbal dan temannya. Cafe terbesar di Jakarta dengan banyaknya pengunjung karena menu makanan yang lezat dan cantiknya tempat.


"Apa kalian tahu siapa pemilik cafe ini? " tanya Bunga.


"Kenapa emangnya." tanya balik Radit. Dia tahu jelas pemilik cafe ini.


"Penasaran saja, karena yang kita dengar pemilik cafe ini masih sekolah, kalau tidak salah sekarang dia kelas XII, sama kayak kita." jelas Bunga.


"Ahahhaha...ahahhaha... ahahah...." ketawa Radit dan Dimas bersamaan.


"kenapa? apa ada yang lucu dengan perkataan saya." tanya Bunga.


Bunga terus menatap Radit dan Dimas yang masih tertawa, otaknya berpikir apa Radit dan Dimas kerasukan, masa gak ada hujan angin mereka tertawa.


"Kalian kenapa senyum." tanya Bunga pada Kenan dan Rafa yang tersenyum menatapnya.


"Emang salah kalau kita senyum?" tanya balik Rafa.


"Iya salah. Masa temannya kesurupan ini malah senyam-senyum gak jelas." kesal Bunga.


"Mereka gak kesurupan Nona." ucap Rafa.


".Terus? kenapa ketawa." tanya Bunga.


"Itu karena pertanyaan kalian." jawab Rafa.


"Iya. Gak ada yang salah." ucap Dimas, setelah diam ketawa.


"Terus apa?" tanyanya.


"Kalian tinggal diabad berapa? masa berita ginian gak tahu." tanya Dimas.


"Berita apaan sih. Gak jelas banget sih kalian." kesal Bunga.


"Sudah diam, biar saya jelasin." Lerai Rafa.


"Pemilik cafe ini adalah Iqbal orang yang berada dihadapan kalian. Awalnya saya binggung kenapa kalian gak tahu, tapi saya pikir mungkin kalian jarang dengar berita." jelas Rafa.




*******


Dikantor Aditya tak bisa fokus bekerja. Pikirannya terus memikirkan Cinta. Dia merasa bersalah dengan semua yang terjadi pada Cinta


Matanya menatap foto Cinta yang dia ambil diam-diam dikamar. Butiran kristal bening jatuh dari matanya, pikirannya terus mengingat Cinta yang tak pernah membela diri saat Lestari memarahinya, membentak, mengusir, menampar dan memperlakukan dia seperti pembantu.


Aditya tak habis pikir kenapa putri sulungnya bisa memiliki hati yang besar, tidak pernah sekali dia marah dengan perlakuan Lestari yang buruk, bahkan dirinya sediri yang sering memarahinya.


"Hati kamu sungguh mulia Nak. Papa bangga punya anak kayak kamu. Maafkan Papa yang selama ini jahat sama kamu. Papa mohon kembalilah. Berikan Papa dan Mama kesempatan untuk membahagiakan kamu." Batin.


"Papa." panggil Lestari, Dia datang ke kantor Aditya atas suruhan mertuanya.


"Mama." kaget Aditya.


"Kenapa mama ada disini." tanyanya.


"Karena papa gak angkat telpon dari Papa Wahyu, makaya mama disuruh kesini suruh Papa pulang." jelas Lestari.


"Kenapa emangnya? apa ada yang penting yang ingin Papa Wahyu bicarakan?" tanya Aditya.

__ADS_1


"Mama gak tahu Pa, kayaknya Iyah ada yang penting." jawab Lestari.


"Yah sudah sekarang kita pulang saja." ucap Aditya.


"Papa." panggil Lestari sedih.


"Kenapa Mam." jawab Aditya.


"Apa papa sudah tahu keberadaan Cinta sekarang." tanyanya.


"Belum Mam, lagian ini baru sehari mereka cari." jawab Aditya.




******


Mata Laura menatap fokus ke luar cafe berharap kakaknya lewat, tapi itu hanyalah harapan mustahil yang akan terjadi. Laura tak mendengarkan rencana teman-temannya dalam mencari Cinta, pikirannya tak bisa fokus dia hanya merindukan kakaknya.


"Laura...." panggil Melati, memengang pundaknya.


"Ada apa Mel." tanya Laura menaikan alisnya.


"Kamu dengar gak rencana kita tadi." jawab Melati.


"Maaf. Gue gak dengar tadi." sedihnya.


"Jangan sedih dong Ra. Abang paham kamu sangat merindukan kak Cinta." ucap Kenan.


"Abang. Apa kita bisa menemukan Kak Cinta? kalau tidak bagaimana." tanya Laura sedih.


"Kita pasti akan menemukan kak Cinta. Kamu tenang saja." ucap Kenan.


"Abang janji kan?" tanya Laura.


"Iya. Abang janji, lagian Kakakmu, sepupu Abang juga, pasti bakal kita cari tanpa kamu minta." jawab Kenan.


"Makasih Abang." senyumnya.


**********


Tiba dirumah. Aditya dan Lestari melangkahkan kaki menuju ruang keluarga. Aditya terus berpikir hal penting apa yang akan dibahas keluarganya, sampai menyuruh Lestari kekantor.


"Assalamualaikum." salam Aditya dan Lestari bersamaan.


"Walaikumsalam." balas mereka.


"Ada apa Pa suruh Aditya pulang segera?" tanya nya.


"Karena kamu sudah di sini, jadi Papa akan kasih tahu hal yang penting buat kalian berdua. Dan Papa tidak terima penolakan kalian." ucap Wahyu.


"Maksud Papa apa?" tanya Wahyu binggung.


"Kalian akan pindah ke kediaman utama Kusuma." tegas Wahyu.


"Tapi Pa, kenapa kami harus pindah?"


×


×


×


BERSAMBUNG....


Hallo semua sobat noveltoon 👋


buat kamu yang setia membaca novel author


jangan lupa tinggalkan jejak mu like+ comment+vote.


...SAMPAI JUMPAH BESOK!❤️...

__ADS_1


__ADS_2