Takdir Hidup Cinta

Takdir Hidup Cinta
Bab 19. Bangun dari kematian


__ADS_3




Selamat membaca!📖


Satu tahun berlalu, Laura belum sadar dari komanya, dia lebih senang berada di alam bawah sadarnya, tidak ada perkembangan yang maju, malah makin buruk kondisinya.


Dokter berkata jika dalam satu tahun perkembangan Laura masih sama, dengan terpaksa mereka akan mencabut semua alat bantu yang ada pada tubuh Laura, dengan itu dapat dikatakan bahwa Laura telah meninggal


Hari ini, keluarga Kusuma dibuat histeris, sekali lagi mereka harus kehilangan, baru kemarin mereka kehilangan Cinta dan sekarang mereka harus kehilangan Laura.


Lestari sangat terpuruk, dia terus menangis, mata indahnya kini membengkak, rambut berantakan seperti orang gembel yang berada dijalanan.


Lestari berpikir jika semua yang terjadi pada keluarganya adalah karma dari hasil perbuatannya yang telah zolim kepada anaknya sendiri semasa hidup.


"Kenapa semuanya harus terjadi padaku? kenapa...? baru kemarin aku kehilangan anakku, tapi kenapa harus lagi? kenapa bukan aku saja? aku yang berbuat zolim, kenapa anak-anakku yang kena imbas. Semuanya tidak adil, seharusnya aku yang dihukum bukan anakku." Batin Lestari.


"maaf... maafkan Mama sayang. Mama Ibu yang tidak baik buat kalian, karena Mama kalian harus menerima ini." menangis batin Lestari.


"Mama harus kuat menerima ini. Semua yang terjadi sudah takdir Allah. Kita sebagai umatnya hanya bisa menerima dan ikhlas. Papa harap Mama harus ikhlas karena sekarang Laura tidak lagi kesakitan atau besedih, dia telah bahagia diatas sana, bukannya Mama senang melihat anak-anak kita bahagia?" tanya Aditya.


"Mama senang Pa, sekarang Laura telah bertemu Cinta, tapi Mama sedih karena perbuatan Mama, anak kita yang harus kena semua ini." kata Lestari.


"Ini bukan karena Mama, tapi ini sudah takdir Cinta dan Laura, mau ada atau tidaknya perbuatan Mama, mereka pasti akan pergi, jadi stop salahin diri Mama sendiri." ucap Aditya.


"Mbak gak usah salahin diri sendiri, itu akan membuat Cinta dan Laura sedih diatas sana. Mbak tahu sendirikan, mereka anak yang baik, mereka tidak akan senang melihat Mamanya begini." ucap Anita.


"Benar kata mbak Anita, gak baik jika Cinta dan Laura melihat Mamanya salahin diri sendiri kayak gini." timpah Elin pada ucapan Anita.


" Apa kalian yakin mereka diatas tidak menyalahkan Mamanya yang jahat ini? apa kalian yakin mereka akan bahagia atau sebaliknya mereka akan menderita? bagaimana kalian bisa membuktikan ini semua, jika kalian tidak bertanya langsung pada mereka?" Bantah Anita sedih.





***


Di dalam semua dokter sedang sibuk mencabut satu persatu alat yang ada pada tubuh Laura. Namun pergerakan mereka berhentikan saat melihat Laura membuka kan mata.


"Dok, pasien sadar." kata Suster.


"Keajaiban yang besar, dia bisa sadar kembali. Cepat kabari keluarganya, bahwa pasien telah sadar dari komanya." perintah Dokter.


"Baik Dok." ucap suster beranjak keluar dari ruangan.


"Alhamdulilah kamu sudah sadar Nak. Sekarang kami akan periksa keadaanmu dulu." kata Dokter.

__ADS_1


"Emangnya apa yang terjadi sama saya Dok?" tanya Laura.


"Kamu mengalami kecelakaan dan koma selama satu tahun, kamu juga sempat dikatakan meninggal jika kamu tidak sadar hari ini." jelas Dokter.


"Apa? saya koma selama satu tahun?" kaget Laura mengingat kejadian kecelakaannya saat itu.


"Ternyata semuanya bukan mimpi, ini nyata kakak telah pergi meninggalkanku." Batin Laura.


"Dari pemeriksaan kamu sudah membaik, tapi untuk memastikan ada atau tidaknya luka dalam, kita perlu mengecek lagi." kata Dokter.


"Baik Dok." ucap Laura.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Dokter meninggalkan Laura.


"Kakak kenapa tega tinggalin Laura, kakak jahat, kakak ingkar janji, Laura benci kakak... sangat benci... benci... benci." tangis Laura





#Flash On


"Laura." panggil Melati.


"Iya Mel." sahut Laura.


"Iya ingat, emang kenapa?" tanya balik Laura.


"Kamu tahu ulang tahun kampus kali ini, akan ada orang penting yang datang." ucap Melati penuh semangat.


"Orang penting siapa? sampai kalian senang begitu?" Binggung Laura.


"Yah jelas kita senang malahan kita gak sabar pengen ketemu dan foto bareng." Semangat Melati.


"Emangnya dia siapa? artis?" tanya Laura.


"Masa kamu gak tahu? kampus kita lagi heboh bicarain dia?" ucap Melati.


"Apa telinga kamu ada masalah semenjak sadar dari koma?" tanya Bunga.


"Gak ada sangkut pautnya? lagian saya gak kepo dengan apa yang mereka bicarakan." balas Laura.


"Benar gak kepo nih? gak nyesal kamu Ra? dia orang yang kamu kagum selama ini loh." ucap Bunga memancing Laura, dan benar saja sekarang Laura sedang penasaran dengan perkataan Bunga.


Laura yang tadi diam menunduk membaca buku, kini menaikan kepala menatap serius temannya. Dia penasaran apa benar orang itu tapi bagaimana kalau tebakannya salah, dia tak ingin senang dulu, sebelum memastikannya.


"Apa maksud kalian dia yang datang?" tanya Laura.


"Iya. Kami benar Ra. Dia akan datang bulan depan." semangat Bunga.

__ADS_1


Laura dan ketiga temannya sangat menganggumi tamu spesial yang akan datang kekampus, bahwan bukan cuman mereka saja, tapi seisi kampus ini juga.


"Saya gak sabar tunggu hari itu tiba, saya yakin pasti akan banyak orang dan pengusaha yang akan datang kekampus kita, secara dia bukan orang sembarang, dia orang terkaya di dunia, bisnisnya saja dimana-mana." ucap Inces.


"Kamu benar, saya kadang iri sama nasibnya yang bagus, diusia yang mudah sudah sesukses ini. Pasti bangga banget keluarganya." timpah Bunga pada ucapan Inces.


"Emang kamu tahu keluarganya siapa?" tanya Melati.


"Gak mungkin tahu dong Melati sayang. Dia saja gak pernah beberkan pada media tentang keluarganya, jadi gimana mau tahu." balas Inces.


"Iyah saya tahu itu, tapi kadang saya binggung kenapa dia nutupi informasi tentang keluarganya? bukannya itu bagus kalau semua orang tahu tentang keluarganya, jadi gak akan ada orang yang macam-macam." jelas Bunga.


"Mungkin dia punya alasan sendiri menutupi ini, kita kan gak tahu isi pikiran orang gimana?" ucap Laura.


"Iyah sih... kamu benar, tapi alasanya apa yah? kira-kira kamu tahu gak?" tanya Melati.


"Mana saya tahu Melati, kamu kira saya bisa baca pikiran dia!" kesal Laura.


_____


Plakk...


Plakk...


"Kamu kenapa datang-datang nampar Laura?" teriak Melati.


"Apa kamu sakit, belum minum obat at_" Belum selesei bicara, perkataan Inces sudah terpotong.


"Gak usah banyak bacot, kalau gak tahu diam, saya gak ada urusan sama kalian, urusan saya hanya sama dia." Tunjuk Ratu pada Laura.


"Kamu salah. Urusan Laura juga urusan kita, kalau kamu punya masalah dengan Laura, kamu juga ada masalah dengan kita." tegas Melati menatap Ratu.


"Bagus juga persahabatan kalian. Saya harap kalian tidak akan menyesal karena telah ikut campur." ucap Ratu.


"Saya heran kenapa kalian ikut campur masalah yang bukan masalah kalian, tapi gak apa-apa kalau itu pilihan kalian, kita sih suka-suka saja, hitung-hitung sebagai pelajaran, biar gak genit sama cowo-cowo kita lagi." ucap Lastri.


"Kamu benar Las, sekali-kali beri pelajaran kan gak ada salah." senyum licik Vania.


"Sudah bacotnya. Saya gak habis pikir kalian dari dulu gak bosan-bosan cari masalah sama saya. Apa kalian pikir saya diam selama ini karena takut? kalian salah. Saya diam karena malas ladenin orang gak penting kayak kalian ini." tegas Laura.


"Jadi mereka sudah lama cari masalah sama kamu Ra? kenapa kamu gak kasih tahu kita aja, biar kita balas mereka!" Tatap Bunga pada Ratu dan teman-temannya.


×


×


×


×


×

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2