
H 4 P P Y R 3 4 D I N G 🤗
•
•
•
•
•
✨💞✨
Pagi ini mereka semua bersiap untuk berangkat ke Swiss, harapan Iqbal kini pupus honeymoon gagal yang ada liburan bersama. Meski Laura telah berkata janji tidak nganggu tetap saja Iqbal tak bisa percaya begitu mudah nya.
Iqbal mengenal sahabatnya sungguh jahil sudah pasti mereka tidak membiarkan Ia dan Cinta tenang, rusuh sudah jelas akan terjadi. Sebelum berangkat Iqbal berpatisipasi merencanakan sesuatu agar semua berjalan mulus jika sesuatu keluar dari rencana nya.
"Hay bro sudah siap saja, tidak sabar liburan sama kami atau?" Menggantungkan perkataan nya, yang mana sudah di mengerti Iqbal dengan cepat melempar tas nya tepat muka Dimas.
"Kasar amat lho Al sama teman, gini yah perubahan setelah menikah?" Cerocos Dimas bukan diam malah ngoceh.
"Sejak kapan kamu berubah kelamin? kenapa cerewet kalahkan emak-emak. Sekali lagi berbicara silakan terima resiko nya." Ancam Iqbal.
"Lagi bicara apa sih kelihatannya seru nih." Goda Laura.
"Mana ada asyik, kakak ipar mu bawaan serius kayak lagi pemilu." Jawab Dimas asal.
"Serius apaan sih, ngomong yang jelas jangan sepotong gini, mau ku tabok pala mu." Tidak paham Laura dengan maksud ucapan Dimas.
Laura hanya melihat Iqbal dan Dimas ngobrol dengan tertawa garing, pikir nya tadi lagi berbincang seru.
"Gak ngerti gak apa-apa jangan di paksa nanti otak nya gak gak sanggup." Sindir halus Dimas meninggal Laura dan Iqbal menuju sahabatnya.
"Sok pintar lho dimas, pintaran masih saya di mana-mana." Balas Laura.
Laura kesal di katain Dimas otak tak seberapa, memandang Dimas berjalan menghampiri yang lain, Laura pergi meninggalkan Iqbal.
"Kamu mau kemana dek?" Tanya Iqbal saat Laura berbalik ingin pergi.
"Nyusulin Kakak."Jalan Laura meninggalkan Iqbal.
__ADS_1
"Lama-lama sifat Laura dan Dimas hampir sama." Pikirnya geleng-geleng kepala memandang kepergian Laura.
"Hay bro gimana perasaan jadi suami sekarang?" Datang Kenan menghampiri Kenan.
"Yah, seperti yang kamu lihat ini, sekarang kebahagiaan ku makin sempurna." Senyum mengembang Iqbal bahagia mengingat malam pertama mereka.
"Gak usah senyum-senyum begitu, geli lihat nya, gak cocok." Kata Kenan.
"Kenapa, Iri? makanya nikah jangan setia bujang keburu karatan." Balas Iqbal.
Kenan kesal mendengar perkataan Iqbal mengatai diri nya bujang karatan, dia pikir besi yang bisa karatan.
"Karatan pala lho! Iri? maaf bukan selera ku." Sombong Kenan.
"Bilang aja tidak ada yang mau sama kamu, gak usah gengsi, mau jodoh nya di patok ayam." Tawa puas Nya mengejek Kenan yang kesal dengan ledekan Iqbal terus menghina nya.
Tidak ingin makin kesal Kenan meninggalkan Iqbal yang masih tertawa dengan bahan ledekan nya tadi. Ia merasa Iqbal sekarang lebih banyak tertawa lepas dari sebelum nya.
"Dasar Es batu dulu nya aja dingin gak tersentuh, sekarang pasti sudah bucin sama Cinta." Monolog Kenan sebelum meninggalkan Iqbal.
"Mau kemana lho Ken?" Pandang nya melihat kepergian Kenan yang kini sudah menjadi kakak ipar nya.
"Gak jelas di tanya bilang kepo." Balas Iqbal.
Di kamar Laura membantu Kakak nya Cinta menyiapkan barang yang akan di bawah dengan mulut sibuk berbincang sesekali tertawa dengan yang dibahas.
Cinta bahagia meski sekarang masalah peneror belum terpecahkan, Ia masih bisa berlibur melupakan apa yang menganggu pikiran nya.
Harapan demi harapan Cinta berdoa perjalanan dan keberadaan mereka di sana dilindungi yang kuasa.
"Kakak kenapa diam?" Menyadarkan Cinta tiba-tiba diam.
"Tidak apa-apa Dek. Kakak senang saja kita bisa berlibur bersama, meski kesan nya ini honeymoon untuk kakak dan kalian liburan." Balas Cinta menatap Laura.
"Kakak benar, aku juga bahagia meski awalnya harus ada perdebatan. Kak apa Abang Al ada ngeluh gitu kita ikut?" Kepo Laura ingin tahu.
"Tidak tuh Dek, Al gak bicara apa-apa sama Kakak. Emang nya apa yang kamu harapkan kalau Al ngeluh Dek?" Balik tanya Cinta bingung apa yang di pikirkan Laura.
Apa Laura berharap Iqbal akan mengeluh, tapi itu tidak mungkin, jika iya apa yang di keluhkan Iqbal. Cinta makin pusing dengan pikiran yang terus memutari otak nya, menerka-nerka hanya menambah pusing kepala saja.
"Lupain aja, gak usah di pikirin nanti jadi beban, Aku gak mau di salahkan Abang jika tau kakak banyak pikiran karena perkataan aku ini." Jawab Laura menatap kebingungan Cinta.
__ADS_1
"Kamu bisa aja dek, yah sudah sekarang kita turun saja kasihan yang lain sudah tunggu lama kedatangan kita. Kakak gak mau dengar amukan mereka karena kita lama, perbincangan kita lanjutkan nanti yah Dek." Cinta mengelus kepala Laura dengan lembut memberi kenyamanan kasih sayang kakak terhadap adik.
"Iya Kakak benar, aku gak mau dengar amukan Inces kayak kaleng rombeng, bisa pecah gendang telinga aku nanti. Aku masih butuh gendang kesayangan ini." Memengang, kedua kuping nya erat sayang.
"Yah sudah, ayo kita turun kamu bawah yang ini, kakak yang ini." Tunjuk nya memberi arah bawaan yang harus di pegang Adik nya Laura.
"Siap Bu bos cantik." Mengangkat kedua tangan memberi hormat dengan senyum kembang tak pudar.
Cinta hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan Laura tidak berubah. Hal kecil dari kelakuan Laura sudah cukup membuat Cinta tersenyum bahagia. Kekonyolan Laura berarti dalam bibir Cinta karena dapat membuat Cinta selalu tersenyum tiap saat meski dalam keadaan kacau berantakan sekalipun.
"Ngapain aja di atas lama banget Bu, gosip yah Bu? gak takut dosa api neraka panas lho." Ujar Inces yang sudah menunggu lama mereka berdua.
"Ibu, mata lho peak, masih mudah cantik gini di panggil ibu, sana ke dokter cek mata siapa tau mata nya ada katarak, kasihan nanti semua pria pada mundur gak mau sama kamu." Balas Laura tak kalah.
"Sorry layoy, begini-begini banyak yang suka, mungkin kamu nya saja gak ada yang mau. Atau mungkin mereka gak punya cewe ember kayak kamu." Tawa Inces membalas perkataan Laura.
"Gak nyadar Oma bilang saya ember, dari pada situ kaleng rombeng." Balas Laura
Mereka yang melihat pertengkaran Laura dan Inces hanya diam menjadi penonton setia pada drama tersebut. Ikut nimbrung takut kena sasaran jalan aman duduk diam, menonton drama gratis mumpung menunggu keberangkatan mereka.
"Kamu ngobrol apa sama Laura, kenapa lama?" Tanya Iqbal pelan.
"Tidak ada Al hanya ngobrol kecil sembari mengisi barang ke koper, emang apa yang kamu harapkan dari obrolan kami?" Balik tanya Cinta.
"Tidak ada." Singkat Iqbal sok ngambek tidak puas dengan jawaban Cinta yang membalikkan pertanyaan nya.
...BERSAMBUNG...
________________💞💞💞________________
🌟𝐃𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐩𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧𝐚𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐭𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐜𝐢𝐥 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧𝐥𝐚𝐡 𝐦𝐚𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐛𝐞𝐬𝐚𝐫 𝐦𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐤 𝐬𝐮𝐚𝐭𝐮 𝐡𝐮𝐛𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧, 𝐦𝐞𝐥𝐚𝐢𝐧𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐩𝐞𝐫𝐞𝐫𝐚𝐭.🌟
𝓑𝔂: 𝐿𝑎𝑢𝑟𝑎 𝐾𝑢𝑠𝑢𝑚𝑎🌹
_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-_-
...Jangan lupa dukung karya ini dengan Like, comment, gift🌹 and vote....
...Bantuan jempol mu membantu author untuk semangat menulis....
...Tambahin favorite biar gak ketinggalan up terbarunya.📝📢...
__ADS_1