
•
•
•
Selamat membaca...📖
•
•
•
Lima tahun kemudian...
Waktu terus berjalan, hingga semua keluarga Kusuma dan semua teman-temannya telah ikhlas atas kepergian Cinta.
#Flash back
*Tiga tahun yang lalu, keluarga Kusuma mendapat informasi dari orang suruhannya bahwa Cinta telah meninggal, karena penyakitnya yang tidak mendapatkan donor ginjal.
Semua keluarga Kusuma kaget, mereka tidak percaya dengan informasi yang mereka dengar, tapi saat mereka mendengar langsung perkataan dokter yang menanganinnya, seketika mulut mereka diam beribuh bahasa, tidak ada lagi pertanyaan atau ucapan tak percaya, air mata makin banyak berkecucuran saat Laura menunjukkan foto Cinta, dan dokter mengiyakannya.
Mereka merasa menjadi keluarga yang tak berguna, kenapa tidak cepat mengetahui keberadaan Cinta? sekali mengetahui keberadaan nya, Cinta telah pergi meninggalkan mereka selamanya*.
Mereka menyesal saat itu telah menghentikan pencarian Cinta, jika mereka tidak berhenti, pasti mereka akan ada disaat terakhirnya Cinta.
"Nek. Semua ini tidak benarkan? ini hanya prank kan? mana mungkin kakak pergi ninggalin Laura? Kakak sudah janji sama Laura, bakal datang." nangis Laura duduk dilantai rumah sakit.
"Sayang kamu harus bisa terima, semua ini sudah takdir kakakmu. Mungkin dengan begini kakakmu tidak akan menderita lagi, dia akan bahagia diatas sana." ucap Sari.
Sari berusaha kuat, dia juga sama terpukulnya dan sedih atas kepergian Cinta, tapi dia tak bisa berlarut-larut dalam kesedihan ini, karena dia yakin Cinta diatas sana tidak akan suka.
"Laura, kamu harus kuat, kamu jangan begini terus, apa kamu tidak kasihan sama kakakmu, jika dia melihat kamu begini." ucap Bunda Anita.
"Bunda, tolong katakan pada Laura. Semua ini prank kan? semua ini gak benar kan? orang yang meninggal itu, pasti orang yang mirip sama kakak kan? ayo bunda katakan! jangan diam saja." tangis Laura makin pecah, saat melihat diamnya Bunda Anita.
"Sayang maaf. Semua ini benar, ini bukan prank, kakakmu telah tiada." lirih Bunda Anita.
"Bunda bohong!" bentak Laura.
"Laura." teriak Kenan.
Kenan kaget mendengar bentakan Laura pada Bundanya. Dia tahu kalau Laura sangat syok mengetahui kenyataan ini, tapi sikapnya ini tidak bisa di diamkan.
"Kamu tidak boleh begini. Bunda orang tua, jika kamu tidak percaya dengan kenyataan ini? terserah... tapi jangan sekali kamu membentak orang yang lebih tua. Apa kamu kira kakak kamu akan senang jika melihat kamu begini? kamu salah. kakakmu pasti akan sangat kecewa." tegas Kenan.
"Tidak... itu tidak mungkin. Kakak tidak akan kecewa sama Laura, kakak sayang sama Laura, sebesar apapun kesalahan yang Laura perbuat selalu kakak maafkan." bantah Laura.
"Yah. Kamu benar Ra! saking sayangnya sama kamu? Cinta bosan dengan sikap kamu yang kekanakan, hingga akhirnya dia memilih pergi dari pada berada di samping kamu." balas Kenan lantang membuat Laura diam.
Kenan tak bermaksud menyakiti hati Laura tambah dalam, tapi dia tidak ada cara lain agar membuat Laura diam.
Tangis Laura makin pecah, dia tak lagi membalas ucapan Kenan. Hatinya sakit mendengar perkataan Kenan. Apa benar kakak pergi karena dia? apa benar kakaknya bosan dengan sikap kekanakannya? putaran pertanyaan dari perkataan Kenan terus memutari otak Laura.
"Tidakkkkkkkkk!" teriak Laura, lalu pergi meninggalkan mereka semua.
__ADS_1
"Laura kamu mau kemana?" teriak Rafa.
"Kenan... Rafa, kalian kejar Laura. Jangan sampai dia berbuat nekat yang akan menyakiti dirinya sendiri." ucap Bunda Anita.
"Bunda Anita benar sayang. Sekarang cepat nyusul Laura, jangan sampai dia makin jauh." sambung Bunda Elin.
"Iya Bunda. Kami akan nyusul Laura." ucap Rafa, lalu pergi bersama Kenan.
__________
"Kenapa sih Ken, kami harus bicara begitu? apa kamu gak mikir dengan perkataan kamu tadi akan membuat Laura berpikir bahwa kepergian Cinta karena dia." marah Raka, dia pusing kenapa Kenan tak berpikir dulu sebelum berbicara pada adik sepupunya itu.
" Maaf, Fa. Saya gak mikir kalau perkataan saya akan jadi begini, niat saya hanya ingin buat Laura diam." ucap Kenan.
"Iya. Lain kali kalau mau bicara pikir dulu, kamu tahu kan, Laura orangnya sensitif kalau sudah menyangkut Cinta, apa-apa dibawah serius." nasihat Raka.
"Iya. Makasih Fa. kamu udah ingatin saya." ucap Kenan.
"Iya, sama-sama. Kita kan saudara, sudah kewajibannya untuk selalu mengingatkan satu sama lain, jika ada yang berbuat salah." balas Raka.
"Fa, bukannya itu Laura." tunjuk Kenan.
"Iya kamu benar. Ngapain Laura berdiri di tengah jalan begitu." ucap Rafa.
"Saya gak tahu mending kita kesana, ayoo." pergi Kenan ke arah Laura.
Saat keluar dari rumah sakit, Laura lari menuju jalan, dia ingin mengakhiri hidupnya untuk menghukum dirinya, karena dia kakaknya pergi.
Perkataan Kenan yang awalnya hanya ingin membuat Laura diam, kini membuat Laura percaya bahwa dialah penyebab kematian kakaknya.
" Kak, maaf karena Laura kakak harus pergi, tapi kakak tenang saja. Laura akan menghukum diri Laura." Batinnya.
"Laura." teriak Kenan.
Saat mendengar namanya dipanggil, Laura menoleh kearah suara itu, dan seketika dia tertabrak.
Brugkh...
Brugkh...
Brugkh...
"LAURA...." teriak Kenan dan Rafa lari.
•
•
•
•
•
Laura sekarang telah berada di ruang Operasi, Kecelakaan tadi membuat Laura harus menjalanin operasi karena benturan yang kuat membuat kepalanya bocor.
"Sayang kamu kenapa lakukan ini? apa kamu ingin tinggalin kita?" lirih Lestari.
__ADS_1
"Mama jangan sedih lagi. Papa yakin Laura akan baik-baik saja, dia anak yang kuat, tidak mungkin dia tinggalin kita. Mama harus percaya itu." ucap Aditya menyakinkan Lestari.
"Semoga Pa. Mama takut Laura akan pergi seperti Cinta. Mama tidak sanggup harus kehilangan lagi." ucap Lestari.
"Iya Ma. Papa ngerti perasaan Mama." Peluk Aditya menenangkan Lestari.
Kenan duduk menangis, dia menyesal karena perkataannya tadi membuat Laura jadi begini.
Dia yakin Laura melakukan ini untuk menghukum dirinya.
"Maafkan Abang, Ra. Abang gak berniat membuatmu jadi begini, niat Abang hanya untuk membuatmu diam tidak membuatmu celaka begini."Batin Kenan.
"Loh gak usah merasa bersalah Ken. Semua ini sudah takdir, jadi loh gak usah salahin diri loh sendiri." ucap Rafa.
"Tetap saja Fa. Seandainya kalau gue gak ngomong begitu, Laura gak bakal bunuh diri kayak gini." lirih Kenan.
"Loh salah Ken, semua yang terjadi sudah kehendak yang diatas. Kita hanya bisa menjalanin semua yang akan terjadi pada kita ke orang lain meski itu baik atau buruk." nasihat Raka.
"Makasih Fa." ucap Kenan.
Semua orang yang berada dirumah sakit semakin tegang, saat lampu operasi telah mati. Mereka takut dengan ucapan yang akan disampaikan dokter nanti, apakah operasinya berhasil atau gagal.
Terdengar bunyi tarikan pintu ruang operasi pertanda dokter telah keluar.
"Dok bagaimana keadaan anak saya?" tanya Lestari.
"Operasinya berhasilkan Dok?" tanya Anita.
"Apakah Luara sudah sadar?" tanya Elin.
Pertanyaan bertubi-tubi dari keluarga pasien membuat dokter pusing harus menjawab yang mana? saat ada kesempatan untuk menjawab, selalu saja ucapannya dipotong dengan pertanyaan baru lagi.
"Ayo Dok jawab? jangan diam saja." kesal Aditya melihat dokter tak menjawab satu pun pertanyaan mereka.
"Bagaimana saya mau menjawab? kalau kalian tidak memberi saya kesempatan." kesal Dokter.
"Yah sudah sekarang dokter jelasin. Bagaimana keadaan anak saya?" tanya Aditya.
"Operasi pasien telah berhasil, tapi... pasie_"
"Tapi apa dok...? anak saya baik-baik saja kan?" ucap Lestari cepat, memotong perkataan Dokter.
"Anak ibu baik-baik saja, tapi sekarang dia sedang koma." ucap Dokter.
Seketika mereka diam mendengar perkataan dokter. Mereka merasa sudah jatuh ketimpah tangga lagi. Bagaimana tidak? setelah mendengar kematian Cinta, mereka sekarang ditimpah musibah dengan keadaan Laura yang koma.
"Kapan Laura akan sadar Dok?" tanya Anita.
"Sadarnya pasien tidak menentu, bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Jadi untuk sekarang berbanyaklah berdoa, agar pasien cepat sadar." jelas Dokter.
×
×
×
×
__ADS_1
×
BERSAMBUNG.....