
H 4 P P Y R 3 4 D I N G 🤗
Dikediaman keluarga Inces. Mereka duduk ngobrol seperti layaknya keluarga bahagia.
Tidak ada kecanggungan di antara mereka, Cinta sudah mengenal Inces sejak lama begitu juga dengan orang tua Inces yang sangat menyayangi Cinta dengan kepribadian nya.
"Sayang, kamu sudah lama loh tidak kesini." Kata Mama Inces. "Apa kamu gak kangen sama Om dan Tanta." Sambung nya menatap Cinta.
"Maaf Tan, Om. Selama ini Cinta lagi sibuk. Jadi gak bisa kesini." Bohongnya tak mau menjelaskan sesungguhnya. "Tapi Cinta kangen kok, sama Tanta dan Om." Jujur nya terpapar jelas dari kedua bola mata.
Dia sangat nyaman berada disini. Papa dan Mama Inces sangat menyayanginya. Mereka selalu memberikan kasih sayang layaknya orang tua pada anak.
"kenapa kamu jadi sedih, Nak?" Khawatir Papa Inces melihat perubahan Cinta.
"Cinta gak sedih Om. Cinta hanya terharu. Om dan Tanta sangat baik padaku." Jujurnya.
"Sudah seharusnya sayang, karena Om dan Tanta sudah menganggapmu seperti anak kami sendiri." Jawab Mama Inces tulus.
________
Berdirilah mereka di depan rumah. Cinta berpamitan kepada orang tua Inces. Dia tak ingin lama-lama disini, dia yakin Laura pasti sedang cemas menunggu kepulangannya yang belum datang juga.
"Maaf Om, Tanta. Cinta gak bisa lama disini." Pamit Cinta yang tak enak hati.
"Kenapa sayang? Kamu baru satu jam disini masa sudah mau pulang?" Sendu Mama Inces.
Dia masih merindukan Cinta. Cinta bukan hanya sahabat anaknya Inces, tapi sudah mereka anggap anaknya sendiri.
Orang tua mana yang tak ingin memiliki anak seperti Cinta sudah cantik, baik, pintar pula. Tapi sayangnya pikiran orang tua Inces salah.
"Cinta takut Papa dan Mama cemas Tan
nungguin Cinta lama pulangnya." Bohong nya merasa berdosa, tapi tidak ada solusi lain untuk segera pulang.
Cinta sadar Mama dan Papa tidak akan cemas pulang atau tidak nya dirinya. Selama bertahun-tahun mereka tak pernah menganggapnya ada.
"kapan-kapan Cinta kesini lagi dan pasti lebih lama mainnya." Janjinya menyakinkan kedua orang tua sahabatnya.
"Okey Om dan Tanta pegang janjinya." Kata Mama Inces.
"Kita pegang janji kamu Cin. Jangan ingkar seperti Abang Radit." Timpah Inces pada ucapan Mamanya.
Inces bosan dengan sebutan janji, baginya sebutan janji hanyalah omong kosong, seperti janji Abangnya beda di mulut beda di perbuatan.
"Iya Tan siap." ucap Cinta.
"Ces, kamu tenang saja aku gak akan ingkar janji. *G**ak semua orang itu sama. Asal* kamu tahu manusia itu tidak sempurna. Mereka diliputi banyak kekurangan. Tidak ada manusia yang tidak lupa dengan janjinya, karena mereka tak sempurna.
Yang sempurna hanyalah Allah." Jelasnya panjang lebar.
__ADS_1
"Iyah Cinta. Terima kasih sudah mengingatkan ku." Senyum Inces memeluk Cinta.
Dia beruntung memiliki sahabat seperti Cinta. Beda dengan Papa dan Mama Inces mereka jadi terharu dengan ucapan Cinta yang dewasa, membuatnya makin sayang pada Cinta.
"Yah sudah kalau begitu Cinta pamit dulu." Menyalim tangan kedua orang tua sahabatnya dan meninggalkan mereka masuk ke dalam mobil.
Mobil yang dinaiki Cinta meninggalkan halaman rumah sahabatnya. Berpapasan dengan masuknya mobil Radit dan teman-teman.
"Assalamualaikum." Salam serempak Radit ddk.
"Walaikumsalam." Sahut Papa, Mama Radit.
Sedangkan Inces langsung masuk tanpa menjawab salam mereka. Inces tak ingin merusak mood nya yang sedang bagus.
"Ma. Tadi siapa yang datang?" Penasaran Radit yang melihat mobil keluar dari mansion nya.
"Oo. Itu temannya Inces. Dia yang nganterin Inces pulang tadi." Jawab Mamanya.
"Astaga Radit lupa jemput Inces tadi." Menepuk jidatnya.
Radit yakin setelah ini Inces akan mulai drama dengan aksi ngocehnya, dimana ia harus siap memasang kuping nya agar tetap kuat.
"Lagian ini juga salah Inces, Kenapa tidak telpon. Sudah tahu Radit sering lupa." Radit mencoba membela diri dengan sikap tenang nya seakan tak bersalah.
"Enak saja mulut Abang salahin Inces." Bantah Inces yang baru datang menuruni tangga.
"Yaiyalah, salah kamu. Siapa suruh gak telpon Abang. Punya HP buat apa? kalau bukan buat telpon." Balas Radit santai.
Mendengar ucapan adiknya. Radit segera mengambil handphone dan mengecek apa benar perkataan Inces.
"Bagaimana sekarang? Salah siapa ayo?" Ejek Inces melihat reaksi Radit setelah mengecek handphone nya.
"Iyah... iyah... salah Abang. Tadi dikelas ada ulangan. Jadi semua Hp diwajibkan mode diam." Jelas Radit dengan peraturan kelasnya saat ulangan atau ujian Hp diwajibkan mode diam, Jika tidak Hp akan disita.
"Yah sudah. Inces maafin. Lagian Inces sudah tidak permasalahkan lagi, karena Abang sudah mau mengakui kesalahannya." Balas Inces bijak mengingat perkataan Cinta. MANUSIA TAK LUPUT DARI KATA LUPA.
"Tumben kamu bijak Ces. Kebentur apa kamu tadi? biasanya juga kalau Abang lupa, ngoceh terus ujung-ujungnya bilang Inces gak percaya Abang dan gak mau maafin Abang." Ingat Radit setiap ia lupa dengan janjinya pada Inces.
"Abang mau nya apa? Inces bijak salah, ngoceh juga salah, semuanya aja yang keluar dari mulut Inces salah." Kesalnya pada Radit.
Inces tak habis pikir kenapa perkataannya selalu aneh di mata Radit. Ngoceh dibilang bawel kayak emak-emak, bijak lebih salah di bilang ustazah, otak nya tak habis pikir apa semua perkataan yang keluar dari mulutnya ini selalu salah.
"Yah gak gitu juga Ces. Abang kaget saja dengan perubahan kamu." Jujur Radit menatap Mamanya seolah bertanya apa yang yang terjadi dengan Inces sampai sebijak ini tanya nya melalui tatapan mata pada ibu nya.
Ibunya yang diam, mengerti arti tatapan dari anaknya pun membuka suara.
"Sudah dong sayang. Apa kalian gak malu berantem didepan tamu." Lirik Ibunya Pada teman-teman Radit. "Inces seharusnya kamu bersyukur karena Abangmu lupa, jadi kamu bisa di antarin Cinta dan Mama, Papa bisa melepas rindu dengan Cinta." Sambung Mama pada Inces.
Inces masih diam tak bergeming, ucapan Mamanya memang benar adanya berkat Abang Radit yang pikun orang tuanya bisa bertemu Cinta setelah lama memikirkan cara membujuk Cinta untuk ke rumah.
__ADS_1
"Dan Cinta juga yang menasehati Inces sampai sebijak ini" Sambung nya bangga pada putri semata wayang yang bijak berkat nasihat Cinta.
"Wah... wah... salut Abang sama Cinta bisa buat kamu bijak kaya gini." Puji Radit sambil menatap Inces.
Kenan dan Rafa sempat kaget mendengar nama Cinta, tapi mereka masih diam sambil bertanya-tanya pada dirinya apa itu benar Cinta sepupunya atau tidak.
Dengan refleks mereka berkata.
"CINTA." Ucap Kenan dan Rafa menekan huruf demi huruf namanya.
"Kenapa Nak? Apa kalian kenal?" Tanya Ibu Radit menatap Kenan dan Rafa bergantian.
"Apa Cinta yang Tanta maksud itu. Cinta dari keluarga Kusuma?" Tanya balik Kenan tanpa menjawab pertanyaan Ibu sahabatnya.
"Iya. Cinta Permata Kusuma. Apa kalian kenal?" Tanya lagi Ibu Radit pada Kenan dan Rafa.
"Bukan lagi kenal Tan, tapi sangat kenal. Dia adalah sepupu kami." Jawab Rafa wajahnya sedikit memancarkan kebahagiaan.
Dia senang ternyata orang yang mereka puji itu adalah Cinta sepupunya. Tapi dia binggung kenapa cinta bisa ada waktu kesini, sedangkan ke rumah Bunda tidak pernah, meski hanya mampir sebentar. Bukannya dia sangat sibuk. Radit terus bergejolak dengan pikirannya meski ujungnya tak mendapat jawaban dari pertanyaan nya sendiri.
"Oiyah. Jadi kalian sepupu'an. Pantas saja Tanta merasa muka Cinta kaya mirip seseorang, tapi Tanta lupa siapa? dan sekarang Tanta baru sadar kalau muka Cinta mirip kalian." Antusias Ibu Radit.
"Iyah dong Tan. Rafa ganteng jadi sepupu Rafa pasti cantik." Narsis Rafa.
"Gak usah kepedean, aslinya Cinta cantik gak ada sangkut pautnya dengan kamu." Bantah Kenan mendengar ucapan saudara kembarnya.
Sifat Kenan dan Rafa sedikit berbeda, Rafa lebih sering becanda sedangkan Kenan tidak.
"Oiya Ces. Kamu kenal Cinta sejak kapan? Tanya Kenan serius menatap Inces yang duduk sedikit jauh dari mereka.
"Saya kenal Cinta sejak SMP. Saya merasa beruntung bisa berteman dengan Cinta dan bisa menjadi sahabatnya seperti sekarang ini." Jelas Inces bahagia dengan apa yang dikatakan.
"Ooo, gitu. Terus apa kalian sering berkumpul diluar jam sekolah?" Tanya lagi Kenan pada Inces.
"Sesekali saja, tapi gak sering semua tergantung Cinta mau atau tidak." Jawab Inces.
Menjawab pertanyaan Kenan terus menerus membuat Inces risih seperti pencuri yang sedang di interogasi. Inces berpikir jika ia sepupunya kenapa pertanyaan kecil begini harus di tanyakan.
"Tunggu. Kenapa saya merasa aneh dengan pertanyaan kamu Kenan? sebenarnya kalian benaran sepupu Cinta atau tidak? masa pertanyaan begitu ditanyain... atau mungkin kalian sepupu abal-abal." Lirik Inces menuduh Kenan dan Rafa.
"Hahaha... ahahah... hahaahhah... parah kamu Inces. Masa ngatain mereka sepupu abal-abal." Ketawa Dimas dengan ejekan Inces pada kedua sahabatnya.
Sejak tadi Dimas hanya diam menyimak setiap perkataan yang keluar dari mulut mereka, tak berniat ikut nimbrung sepatah atau dua kata. Tapi semua hanya alibi belakang saat mendengar perkataan Inces mengejek Kenan dan Rafa, Dimas tertawa merasa selama ini tak ada seorang perempuan yang berani menghina mereka.
_______________💞💞💞__________________
Di hina karena tak dekat, tak masalah bagiku. Utama dan terpenting bertemu meski awal harus terhina dan di ejek. Kebahagiaan datang setelah penderitaan bukan sebaliknya.
(✓By: Kenan Putra Kusuma.)
__ADS_1
......**Jangan lupa like, comment, gift 🌹 and vote yah🙏.......
...Tambahin juga di Favorite biar gak ketinggalan up terbaru nya 📝📢**...