TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA

TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA
EPISODE 22. TERKEJUT


__ADS_3

Setelah selesai menjalankan ibadah merekapun melanjutkan perjalanan menuju Mall, Okan memarkirkan mobilnya, lalu mengajak Ayu ke swalayan untuk membeli apa yang Ayu butuhkan.


Okan membantu dengan mendorong troli, sedangkan Ayu memilih kebutuhan yang ingin dibelinya, dari mulai kebutuhan untuk mandi maupun kebutuhan dapur.


Semua yang dibutuhkan Ayu sudah mereka beli, lalu Okan menitipkan barang-barang tersebut di kasir karena dia ingin mengajak Ayu ke toko yang menjual pakaian muslim.


Okan meminta pelayan memilihkan beberapa pasang gamis terbaik beserta hijabnya, lalu dia meminta Ayu untuk memilih mana yang Ayu sukai.


Ayu hanya mengambil dua pasang tapi akhirnya Okan memborong semua gamis terbaik tersebut dan meminta agar pelayanan membantu membawakannya ke mobil sementara mereka mengambil belanjaan yang tadi dititipkan di kasir.


Mereka pun meninggalkan Mall setelah Okan memberikan tips kepada pelayan yang telah membantu membawakan barang tadi. Kemudian Okan berencana membeli makanan untuk mereka bawa pulang hingga bisa makan bersama Ibu.


"Yu, kita beli makanan apa ya? Aku ingin kita bisa makan bareng Ibu di rumah. Selama ini, aku kan belum pernah lama berbincang dengan ibu. Sekalian aku ingin mengatakan tentang hubungan kita kepada beliau dan membicarakan tentang rencana operasi kamu."


"Tapi Kak! biaya operasi pasti mahal, apa tidak sebaiknya nanti saja, sembari aku dan ibu mengumpulkan uang."


Kamu jangan khawatirkan tentang biaya, Inshaallah aku memiliki tabungan dan yang akan mengoperasi juga aku sendiri di bantu oleh beberapa orang perawat jadi bisa menghemat biaya.


"Stop Kak, kita beli lontong pecal saja ya buat ibu. Itu salah satu makanan kesukaan beliau."


"Ya sudah, ayo kita parkir dulu mobil di sebelah sana. Mudah-mudahan tidak terlalu antri, jadi kita bisa cepat pulang, takutnya Ibu sudah makan jika kita kemalaman sampai rumah."


Kemudian Okan memarkirkan mobilnya, lalu mereka segera mendekati pedagang tersebut dan memesan tiga bungkus lontong pecal.


Untung saja antrian tidak terlalu panjang, hingga pesanan mereka segera di layani. Setelah membayar, merekapun bergegas meninggalkan tempat itu dan kembali melajukan mobilnya sesuai petunjuk arah yang di berikan oleh Ayu.


Okan merasa heran karena jalan yang mereka lewati adalah jalan menuju rumah orangtuanya, dengan penasaran diapun bertanya, "Yu...memangnya kalian tinggal dimana? Kalau jalan ini menuju ke rumah orang tuaku." ucap Okan.

__ADS_1


Ayupun segera menjawab, "Itu Kak! rumah di depan sana! rumah yang paling besar di wilayah sini yang berpagar warna hitam. Kami tinggal di paviliun nya yang berada di belakang rumah tersebut. Oh ya Kak, mobil Kakak lewat dari jalan samping saja ya? jadi kita tidak usah melintasi rumah induk, segan rasanya, Ayu kan masih baru tinggal di sini masa sudah pulang malam."


"Apa? Jadi kamu tinggal di situ?" tanya Okan terkejut.


Ayu pun merasa heran melihat reaksi Okan, "Memangnya Kakak kenal ya dengan pemilik rumah itu?" tanya Ayu yang ingat dengan apa yang tadinya dia ingin tanyakan tentang kemiripan antara Okan dan Oki.


"Bukan cuma kenal Yu! Itu rumah orang tuaku."


"Berarti tebakan aku dan Ibu tidak salah Kak, aku saat melihat Den Oki kok jadi teringat Kakak. Kalian berdua begitu mirip hanya saja Den Oki lebih kurus, dan penampilannya juga berbeda dengan Kakak."


"Ya, Oki adalah adik kembarku. Memang dalam sifat dan penampilan kami berbeda tapi Oki sebenarnya baik kok, cuma dia sedang ada masalah sedikit. Oki cemburu, dia merasa orangtua kami lebih menyayangi aku ketimbang dirinya. Apalagi sekarang sejak dia lumpuh, sensitif kali perasaannya, dia jadi gampang tersinggung."


"Ternyata dunia tidak selebar daun kelor ya Kak, kita di pertemukan dengan cara aku hampir tertabrak mobil kakak dan sekarang Allah mempertemukan aku dengan keluarga kakak dengan cara seperti ini."


"Iya, tapi aku bersyukur kalian berada dan tinggal di tempat yang aman, jadi aku tidak terlalu cemas lagi."


Okan sejenak terdiam, dia tahu, pasti akan ada penentangan, apalagi orangtuanya sangat ingin okan menikah dengan Metha yang status keluarga mereka sama.


"Nanti aku akan menjelaskannya pelan-pelan Yu, setelah mereka kembali dari Padang. Mengenai derajat manusia itu sama di mata Allah, jadi kamu dan Ibu tidak perlu takut."


"Sementara ini kita jaga jarak dulu ya Kak, agar mereka jangan tahu dulu."


"Terserah kamu Yu, jika kamu belum siap. Kalau aku, mau sekarang mereka tahu atau nanti tetap tidak jadi masalah. Cepat atau lambat mereka semua pasti tahu. Inshaallah, sikapku terhadapmu tidak akan berubah Yu, walau nanti mereka mungkin menentangnya."


Ayu terdiam lalu berkata, "Bagaimana malam ini Kak, apa Kakak tetap mau mengantarku sampai rumah?"


"Ya", jawab Okan tanpa ragu sedikitpun.

__ADS_1


"Jika nanti pembantu tahu dan mengadukan kepada Tuan dan Nyonya bagaimana Kak? Aku dan Ibu pasti belum siap."


"Tenang saja, pembantu jika sudah malam begini tidak ada yang keluar rumah, kecuali Mang Didi yang menjaga keamanan rumah. Masalah Mang Didi aman, aku bisa bekerjasama dengannya. Mang Didi sudah seperti mamangku sendiri."


Mereka mulai memasuki gerbang, Mang Didi yang tahu pasti itu mobil Tuan mudanya pun segera berlari membuka pintu. Okan membuka kaca mobil lalu berkata, "Aman kan Mang? sambil menunjuk ke Ayu."


Sejenak Mang Didi terbengong, saat melihat Ayu, anak dari salah satu pembantu yang bekerja di rumah Tuannya sampai duduk berdampingan dengan Tuan muda Okan.


Tapi karena Mang Didi sudah akrab dengan Okan dan sudah tahu dengan makna kode dari Okan, segera tersenyum sambil mengangkat kedua jempolnya dan berkata, "Aman kok Den, silahkan lanjut," ucap Mang Didi sambil memberi kode bahwa dia akan tutup mulut.


Okan senang, mang Dodi selalu bisa diajak bekerja sama. Mang Dodi pun tahu Tuan mudanya yang satu ini baik dan lurus-lurus saja, tidak pernah berbuat macam-macam seperti adiknya.


Setelah membalas acungan jempol Mang Didi, Okan pun menutup kembali kaca mobil lalu mulai masuk ke pekarangan belakang rumahnya.


Lalu Okan dan Ayu menurunkan barang-barang yang mereka beli tadi, Ibu yang mendengar suara mobil masuk pekarangan pun segera membuka pintu.


Okan menyapa Ibu dengan mengucap salam, Ibu heran melihat banyak sekali belanjaan Ayu, "Nak, kok banyak sekali belanjaannya? bukankah ibu cuma memberimu sedikit uang?"


"Iya Bu, Kak Okan yang memberi semua ini. Ini uang yang Ibu berikan masih utuh."


Okan masih membantu memasukkan barang barang ke dalam rumah, jadi dia tidak mendengar apa yang ditanyakan Ibu kepada Ayu.


Ayu segera ke dapur untuk mengambil piring karena mereka akan makan bersama dengan menu lontong pecal yang mereka beli tadi sebelum Okan mengajak Ibu berbincang.


Mohon dukungannya terus ya sob, dan jangan bosan ya... dengan permintaan author, karena dukungan kalian sangat berarti bagi kami para penulis receh ini☺️


Terimakasih atas semua dukungan, selamat menjelang malam, selamat membaca dan mudah mudahan suka dengan cerita author hari ini. 🙏😉

__ADS_1


SEE YOU ♥️♥️♥️


__ADS_2