
Andres yang sedang membantu Ayahnya menangani pasien, merasa terkejut saat sebuah mobil dealer menurunkan motor besar di halaman rumahnya. Sementara dia dan ayahnya merasa tidak membeli motor.
Pihak dealer langsung meminta Andres untuk mengetesnya dan menandatangani bukti pengantaran. Di sana memang benar tertera namanya sebagai pemesan.
Tidak lama setelah itu, Papa dan Mamanya Metha pun sampai. Kali ini Ayah Andres ikut terkejut sebuah mobil mewah yang limited edition datang ke balai pengobatannya.
Sutan keluar dari dalam mobil sambil menyunggingkan senyum ramah, lalu beliau menghampiri Andres beserta Sang Ayah dengan memberi salam.
Sementara Mama Metha menyerahkan oleh-oleh yang tadi mereka beli kepada Andres. Andres pun berkata, "Kenapa repot-repot Nyonya?"
"Tuan Sutan, apa motor itu juga dari Anda?" tanya Andres
"Pakailah, itu hak kamu. Kamu tidak mau uang, ya sudah aku kasi barang saja," ucap Sutan.
"Terimakasih Tuan dan Nyonya, maaf telah merepotkan kalian. Maaf Tuan, Nyonya..., sebenarnya ada yang ingin saya bicarakan, tentang Non Metha, saya tidak ingin ikut campur, tapi hati saya menentang. Tuan dan Nyonya tahu dari mana Non Metha saat kejadian kemaren?"
"Katanya dia pulang jalan-jalan bersama Tiara sebab dia bosan di rumah terus," jawab Mama Metha.
Kemudian Andres mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya, "Tuan dan Nyonya tahu ini apa?"
"Sepertinya itu ramuan obat ya?" jawab Sutan.
"Benar, tapi obat yang menyesatkan."
"Maksud kamu apa Ndres?"
"Ini yang putri kalian kerjakan."
"Kamu jangan nuduh Metha yang macam-macam ya, jangan kamu kira sudah menolong Metha jadi bisa sesuka hatimu menghina putri kami," ucap Sutan Marah.
"Dengar dulu Pa! penjelasan Andres," Mama Metha menyabarkan Sutan.
"Coba kamu jelaskan, apa maksud perkataan mu tadi Ndres?" pinta Mama Metha.
Kemudian Andres menceritakan saat dia melihat Metha dan Tiara keluar dari kebun Nenek dukun yang terkenal matre serta menghalalkan segala cara agar korbannya tunduk.
Mama terkejut mendengar hal itu, dia baru ingat saat Metha seperti kebingungan mencari sesuatu dan memberi alasan bahwa perhiasannya di rampok.
Kalau kalian ragu dengan perkataan saya, coba kalian desak Tiara atau buktikan sendiri ke gubuk Nenek dukun tersebut.
Benda ini sengaja saya curi dari tas Metha, karena saya tidak mau putri Tuan dan Nyonya terjerumus terlalu jauh yang akan menyesatkan dan merugikan dirinya sendiri bahkan keluarga.
Dia akan di bawah kendali si Nenek setelah mandi pakai ramuan ini dan akan menuruti semua perintahnya. Memang sih pria yang dia inginkan pasti akan tergila-gila padanya.
"Apa! Aku tidak menyangka, Metha sampai memilih jalan ini untuk menundukkan Okan," tebak Sutan Raja.
"Siapa Okan Tuan?"
"Dokter yang pernah bertugas di kampung kami dan merupakan putra dari sahabatku yang kamu lihat kemaren saat di rumah sakit. Memang saat ini dia tidak ikut datang, dia tinggal di Medan. Metha tergila-gila dengannya tapi dia hanya menganggap Metha seorang adik."
Andres pun mengangguk, lalu dia berkata lagi, "Buanglah ini jauh-jauh Tuan, jangan sampai ada yang menggunakan dan pastikan Non Metha tidak akan kembali ke sana lagi, ke gubuk Nenek dukun."
__ADS_1
"Terimakasih Nak Andres, untung kamu beritahu kami, jika tidak apalah yang akan terjadi. Kami pun tidak ingin menyakiti keluarga sahabat kami itu. Metha memang terlalu manja, apa yang dia inginkan selalu harus dia dapatkan dengan cara apapun. Kami akui, sebagian memang salah kami yang selalu menuruti permintaannya sejak dia kecil sampai sekarang."
"Baiklah Andres, dimana tempat sebaiknya saya buang obat ini?"
"Buanglah ke sungai Tuan, agar hanyut dan tidak di temukan oleh orang lain, yang bisa di salah gunakan lagi."
"Terimakasih Andres, kami permisi dulu, jika kami butuh bantuan, bolehkah kami menghubungimu?"
"Silahkan Tuan! dengan senang hati, saya pasti akan membantu Tuan."
Orangtua Metha pun meninggalkan rumah Andres setelah pamit kepada Andres dan juga ayahnya. Sutan menghentikan mobilnya di dekat sungai, lalu dengan membaca bismillah dia melemparkan benda yang ada di dalam plastik tersebut ke dalam aliran sungai yang deras.
Setelah itu mereka menuju ke rumah sakit. Mulai sekarang Mama dan Papa Metha akan mengawasi gerak-gerik Metha agar tidak mengulangi perbuatannya lagi.
Mereka akan menyimpan rahasia ini dulu, Sutan tidak ingin Papa dan Mama Okan tahu tentang perbuatan Metha yang akan mengguna-guna Okan.
Metha dengan kakinya yang masih pincang, berusaha mencari obat tersebut siapa tahu jatuh di sekitar tempat tidurnya. Tapi dia tetap tidak menemukannya.
"Kamu kok turun dari tempat tidur Metha? Bukankah kakimu masih sakit? jangan terlalu banyak bergerak dulu nanti bengkak lagi," ucap Mama Okan.
"Oh...nggak apa-apa kok Tan, lagi belajar gerakkan kaki, lagian bosan tiduran terus."
"Ya sudah, tapi kamu harus hati-hati ya, jangan sampai kakimu terkilir lagi."
"Oke Tan."
Papa dan Mama metha pun sampai, mereka lalu menghampiri Metha yang masih saja tidak berhenti mencari.
"Nggak ada kok Pa, tadi Metha lihat ada tikus melintas makanya Metha mau cek, apa dia bersembunyi di balik lemari kecil ini atau tidak."
"Oh...ya sudah Metha istirahat lagi sana, biar Papa yang cari."
"Iya Pa," jawab Metha yang merasa kecewa karena benda yang di carinya nggak juga ketemu.
Metha segera naik ke tempat tidur, lalu dia pura-pura pokus terhadap ponselnya, padahal hatinya masih saja gelisah.
Okan terbangun dari tidurnya, lalu dia bersiap dan menghubungi Ayu agar juga bersiap, sebentar lagi mereka akan berangkat ke klinik.
Ayu bergegas mandi, lalu berdandan, setelah itu pamit kepada Ibu hendak pergi bekerja. Okan sudah menunggunya di dalam mobil, saat Ayu tiba di sana.
Senyum Okan membuat hati Ayu adem, rasanya kegundahannya hilang saat dia berada di dekat Okan.
__ADS_1
"Ayo naik Sayang, kok bengong lagi, nanti kita telat lho?"
"I-iya Kak," ucap Ayu gugup.
"Kenapa kamu pandangi aku seperti itu Yu?"
"Habisnya Kakak tampan sih!"
"Sudah pandai ngegombal ya kamu?"
"Kak..."
"Hemm...ada apa Yu?"
"Jika Kakak nanti jadi pergi, bagaimana nasib Ayu dan Ibu?"
"Maksudmu?"
"Kalau Tuan, Nyonya dan Non Metha tidak tahu hubungan kita mungkin tidak akan masalah kami tinggal di sini, bagaimana jika mereka tahu, kami pasti akan di usir. Apa lebih baik kami pergi sekarang saja ya kak, sebelum mereka pulang?"
"Jangan! nanti Kakak akan urus semuanya. Lagi pula ada Oki di sini yang bisa melindungi kamu dan juga Ibu."
Ayu diam, dia masih takut dengan yang bakal terjadi, apalagi sampai Metha tahu, Ayu nggak bisa ngebayangin apa yang bakal perempuan itu lakukan.
🌻 Jangan lupa dukungannya ya sobat....selamat beristirahat dan selamat bermimpi indah, jangan lupa ya... baca do'a sebelum tidur.
__ADS_1
SEE YOU ♥️♥️♥️