TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA

TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA
EPISODE 61. RITUAL ADAT MELEPAS BIDUK


__ADS_3

Akhirnya Okan dan Ayu mendapatkan alamat baru di mana orangtuanya tinggal. Menurut data, mereka tinggal di kota Padang, tidak jauh dari wilayah pantai Muaro lasak.


Okan dan Ayu pun mengucapkan terimakasih kepada perangkat desa yang telah memberikan informasi, lalu mereka melanjutkan perjalanan ke kota Padang.


Sore hari mereka baru tiba di kota Padang dan Okan segera mencari penginapan untuk bermalam. Besok pagi, barulah melanjutkan pencarian.


Rass lelah yang seharian dalam perjalanan membuat mereka memilih untuk beristirahat saja malam ini, hingga setelah makan malam usai, Okan dan Ayu pun kembali ke kamarnya masing-masing.


Walaupun lelah, Ayu tidak bisa tidur, dia gelisah memikirkan hari esok. Besok saatnya dia bertemu dengan kedua orangtua kandungnya yang 17 tahun belum pernah dia lihat sekalipun wajahnya.


Ayu juga memiliki dua saudara laki-laki, yang kata mereka sekarang tinggal di luar negeri. Alangkah bahagianya Ayu, jika besok dia juga bisa bertemu dengan kedua kakak laki-lakinya.


Malam pun semakin larut, tapi mata Ayu belum juga bisa terpejam, lalu dia membuka ponsel dan melanjutkan menulis novelnya.


Okan yang sudah tertidur lama, terbangun di tengah malam, lalu dia mengecek ponselnya dan melihat WhatsApp Ayu masih online. Okan pun menelephonenya lalu berkata, "Yu...tidur lagi, hari sudah larut, apa kamu tidak lelah?"


"Iya Kak, sebentar lagi, lagi nanggung nih buat tulisan. Sejak tadi aku tidak bisa tidur Kak, makanya daripada bengong mending aku nulis."


"Ya sudah, istirahat ya! besok kita akan berangkat pagi lho..."


"Iya Kak," jawab Ayu dan langsung menutup ponselnya.


Ayu berusaha memejamkan mata dan akhirnya rasa lelah membuatnya terlelap juga.


Malam pun berganti pagi, seperti biasa Okan dan Ayu bangun untuk melaksanakan kewajiban, setelah itu Okan pun menjemput Ayu ke kamarnya, Dia hendak mengajak Ayu menikmati udara pagi sambil menunggu waktu untuk sarapan.


Udara dingin pun membuat tubuh Ayu menggigil, dia lupa membawa jaket. Okan yang melihat Ayu kedinginan segera melepas jaketnya dan memakaikan ke tubuh Ayu.


"Kakak bagaimana? Nanti kedinginan jika jaketnya aku pakai," ucap Ayu.


"Nggak apa-apa Yu, Kakak sudah terbiasa dengan udara di sini, setahun lebih 'kan kakak bertugas di daerah sini."


"Oh iya Kak, dimana kakak tinggal waktu dulu bertugas di sini?"


"Di dekat rumah Metha."


"Lho...rumah Mbak Metha di sini Kak? berarti mereka mengenal orang tuaku?"

__ADS_1


"Itu yang sejak kemaren aku pikirkan Yu, saat dulu aku bertugas di sini, tidak pernah mengenal dan mendengar penduduk yang namanya sama dengan nama orang tuamu. Mungkin saja karena di sini, mereka memanggil orang dengan gelar atau julukannya saja," ucap Okan.


Sejenak Okan terdiam, mengatur napas, lalu dia melanjutkan ucapannya, "Nanti, kita coba tanya Om Sutan ya Yu? Soalnya, tadi malam aku segan mau menghubungi Om Sutan."


"Iya Kak, nanti saja kita singgah ke rumah beliau, sekalian bertanya tentang keberadaan orangtua ku. Mudah-mudahan saja Om Sutan mengenal mereka."


"Wah... kebetulan sekali. Mudah-mudahan saja Om Sutan bisa menunjukkan di mana rumah orang tuaku. Nanti setiba di rumah Om Sutan, kita panggilan video dengan Mbak Metha ya Kak, dia pasti senang melihat kita sedang berada di rumahnya."


"Iya Yu, ayo kita sarapan dulu, setelah itu baru ke rumah Om Sutan."


Ayu pun mengangguk, lalu dia dan Okan pun kembali ke penginapan untuk sarapan. Setelah selesai sarapan mereka berdua segera bersiap berangkat ke rumah Sutan.


Jarak antara rumah Sutan dengan penginapan sekitar 30 menit saja, jadi mereka bisa santai sambil menikmati udara pagi selama dalam perjalanan.


Okan dan Ayu sampai di pekarangan rumah besar Sutan, tapi rumah itu terlihat lengang. Okan kemudian turun dari mobil dan memencet bel, tapi tetap belum ada yang membukakan pintu.


Ketika mereka hendak pergi, datang tukang kebun berlari tergopoh-gopoh dan berkata, "Den Okan tunggu!"


"Eh...Mang Ujang, kok tumben rumah sepi Mang? kemana Om Sutan dan yang lain?"


"Sejak pagi Tuan dan Nyonya pergi ke pantai Den, ada acara adat di sana. Memangnya Den Okan kapan sampai, kok pagi sudah sampai sini?"


"Iya Den, silahkan."


Okan dan Ayu pun pergi ke pantai Muaro lasak yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Sutan, ternyata di sekitar pantai sangatlah ramai.


Ratusan nelayan di kawasan Pantai Muaro Lasak Kota Padang, Sumatera Barat, menggelar prosesi ritual Malapeh Biduak ka Lauik (melepas biduk atau kapal tangkap ke laut).


Ritual ini sebagai rasa syukur dan bentuk permohonan agar biduk yang baru saja dibuat mampu membawa berkah. Selain itu agar nelayan yang pergi selalu diberikan perlindungan, kesehatan, serta limpahan rezeki yang banyak.


Ritual Malapeh Biduak biasanya dilakukan warga setempat setelah biduak baru saja selesai dibuat atau direnovasi. Prosesi dimulai dengan 'mandarah', menggunakan darah ayam hitam serta penyiraman air campuran bunga tujuh rupa dengan jeruk nipis di sekeliling biduak. Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan berdoa dan makan bersama.


Setelah prosesi selesai, biduak tersebut akan didorong dari tepi pantai menuju ke laut oleh ratusan nelayan dan warga. Untuk selanjutnya siap mengarungi lautan dan digunakan sebagai kapal tangkap ikan. Biasanya jenis biduak yang digunakan yakni Payang.


Tradisi ritual ini sudah hampir punah dan sangat jarang dijumpai. Untuk itulah, nelayan menggelar kembali tradisi ini agar tidak punah tergerus perkembangan zaman. Di samping berdoa, tradisi ini juga mampu mempererat silaturahmi dan kebersamaan sesama nelayan.


Di tengah keramaian tersebut, Okan dan Ayu terus mencari-cari keberadaan Sutan dan istrinya, Ayu yang melihat mereka pun lalu berkata,

__ADS_1


"Kak! itu Om Sutan!" teriak Ayu, karena memang suasana terlalu ramai.


"Oh... iya Yu, mari kita hampiri mereka," jawab Okan.


Mereka pun keluar dari kerumunan, lalu berusaha mendekati Sutan dan istri yang sedang duduk di tepian pantai.


"Om," sapa Okan.


Sutan menoleh dan dia merasa terkejut saat melihat Okan dan Ayu berada di hadapannya.


"Okan, Ayu! kapan kalian sampai, kenapa tidak beri kabar? jadi 'kan Om bisa jemput kalian di bandara."


"Nggak apa-apa Om memang sengaja nggak mau membuat Om sekeluarga repot."


Kemudian Okan dan Ayu ikut duduk bersama sutan, setelah bersalaman dengan Sutan serta Mama Metha. Sutan kemudian bertanya, "Bagaimana kabar mereka semua di sana?"


"Alhamdulillah, sehat semua. Oh ya Om...Metha tidak tahu jika kami berdua kesini, apa kita coba panggilan video ya Om dengan Metha dan keluarga barunya?"


"Iya Kan! Dia pasti senang melihat kalian di sini. Sebenarnya Metha berjanji setelah Cantika sembuh, mereka akan ke sini untuk memperkenalkan Rendi ke keluarga besar di sini."


Okan segera melakukan panggilan video kepada Metha, ternyata langsung tersambung. Di sana terlihat Metha, Rendi dan Cantika sedang makan bersama.


Metha kaget melihat Okan, Ayu dan Mama Papanya, duduk bersama di pinggiran pantai yang tidak asing baginya. "Kan! kalian datang ke Padang?" tanya Metha penasaran.


"Iya Nak! Kesinilah mumpung Okan dan Ayu sedang berada di sini, pasti seru, rumah kita akan ramai seperti saat kedua kakakmu pulang."


"Iya Pa! Hari ini juga kami akan atur keberangkatan, bilang sama Okan dan Ayu, tunggu kami, jangan kembali dulu sebelum kami sampai di sana. Mereka menginap di rumah kita 'kan Pa?"


"Mereka baru tiba Nak, malam ini Papa dan Mama, akan meminta mereka menginap di rumah kita. Ayo buruan kesini, Mama kamu sudah rindu nih!" ucap Sutan sembari mengarahkan kamera kepada istrinya."


"Iya Nak, pulanglah. Biar keluarga kita mengenal suami dan putrimu."


"Baiklah Ma, Mudah-mudahan nanti malam kami sudah sampai di sana."


Sebelum Okan menutup panggilan videonya, diapun berkata, "Cepat ya Met terbang kemari, soalnya Ayu dua hari lagi sudah harus kembali ke Medan, pihak sekolah tidak mengizinkannya terlalu lama tidak masuk kelas, seperti kita tahu, ujian akhir sebentar lagi akan berlangsung."


"Oke Kan, Yu...malam ini kami pasti sudah tiba di sana. Sudah dulu ya, aku akan berkemas supaya bisa secepatnya berangkat."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, panggilan pun terputus, Okan dan Ayu kembali ngobrol bersama Sutan dan juga Mama Metha.


__ADS_2