TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA

TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA
EPISODE 54. LIONTIN AMANAH


__ADS_3

"Selamat ya Kan, selamat Yu. Aku do'akan semoga kalian bahagia dunia akhirat," do'a Metha untuk Okan dan Ayu saat keduanya pamit pulang.


Metha memeluk Okan dan Ayu, sebenarnya hatinya sedih, tapi itulah cinta, perasaan yang tidak bisa dipaksakan.


Cinta adalah anugerah untuk tiap hati manusia yang tidak bisa kita duga sebelumnya, untuk siapa rasa itu ada dan bertahta di hati.


Okan yang kesehariannya bersama Metha tapi dia tidak menyangka ternyata cintanya tumbuh untuk Ayu, gadis yang baru saja di kenalnya.


Jadi kebersamaan dan banyaknya waktu bersama tidak selalu menjamin perasaan istimewa itu akan tumbuh di hati keduanya.


Seperti penggalan lagu cinta dari penyanyi asal Medan yaitu Judika. Yang suka, ayo silahkan di nyanyikan ya sob...


Cinta karena cinta


Tak perlu kau tanyakan


Tanpa alasan cinta datang dan bertahta


Cinta karena cinta


Jangan tanyakan mengapa


Tak bisa jelaskan karena hati ini telah bicara


Kamu yang buat hatiku bergetar


Senyumanmu mengartikan semua


Tanpa aku sadari


Merasuk di dalam dada


Nah dari lirik itu kita bisa simpulkan, cinta datang tanpa alasan, tanpa kita duga dan tidak bisa kita jelaskan mengapa dia datang, hanya hati yang bisa berkata dan tanpa kita sadari rasanya sudah merasuk kedalam dada kita.


Ayu dan Okan, cinta mereka dipertemukan berawal dari saling mengagumi kepribadian masing-masing dan beberapa hari lagi cinta itu akan di persatukan dalam ikatan pernikahan suci


Okan menggandeng tangan Ayu, keluar dari rumah sakit menuju parkiran, senyum terlihat jelas di wajah keduanya setelah mengantongi restu dari Mama dan Papa Okan.

__ADS_1


"Yu... sebentar lagi kamu akan menjadi milikku seutuhnya dan tidak ada lagi penghalang diantara kita."


"Iya Kak, terimakasih. Kakak telah mempercayakan hati Kakak, kepada Ayu dan Ayu tidak pernah menyangka kepahitan hidup selama ini akhirnya berbuah manis. Ternyata masih ada keluarga baik yang bisa menerima kekuranganku tanpa memandang status."


"Kita pulang ya Yu dan sampaikan perihal ini kepada Ibu agar beliau bisa bersiap."


"Iya Kak."


Okan segera melajukan mobilnya, menuju rumah. Setelah ini dia bisa pokus dengan kuliah, tidak takut untuk meninggalkan Ayu yang sudah sah menyandang status istri dan dibawah perlindungan keluarganya.


Mereka tiba dirumah, Okan dan Ayu akan menghadap Ibu, dia akan melamarnya hari ini walau tanpa acara resmi.


Ayu memanggil Sang ibu lalu mereka berbincang di ruang tamu, Okan pun mulai membuka percakapan, "Bu...maaf, bukannya Okan tidak tahu adat istiadat tentang hal lamaran, tapi karena waktu keberangkatan Okan ke Amerika yang semakin mepet, maka malam ini Okan memohon restu ibu, Okan ingin menikahi Ayu. Insya Allah kami ingin menikah tepat di hari ulangtahun Ayu Bu."


"Apa Nak? Apa tidak terlalu cepat. Ayu masih belum selesai sekolah dan usianya masih terlalu muda, serta Nak Okan tahu sendiri kan tentang kondisi Ayu, apa Nak Okan tidak akan malu dan menyesal?"


"Insya Allah Bu, kami siap. Ayu sudah setuju dan Mama Papa juga telah memberikan restunya, jadi tinggal restu dari Ibu."


"Alhamdulillah Nak, tidak ada kebahagiaan yang Ibu nantikan selain melihat pernikahan Ayu, melihatnya hidup bahagia. Ibu merestui kalian Nak, sebentar lagi tanggungjawab Ibu berpindah ke pundakmu, ibu harap Nak Okan siap segala konsekwensinya."


"Siap Bu, terimakasih atas restunya Bu. Mengenai seserahan akan keluarga Okan berikan besok malam, kita hanya akan mengundang beberapa orang tetangga dan kerabat untuk menjadi saksi.


"Ibu terserah Nak Okan saja, sekali lagi terimakasih Nak. Ibu bahagia sekali mendengar berita ini," ucap Ibu tak kuasa menahan tangisnya.


"Bu...jangan menangis, Ayu jadi sedih. Ayu tidak akan pernah meninggalkan Ibu, Ibu orang yang sangat berarti dalam hidup Ayu," ucap Ayu sambil memeluk Bu Nita.


Bu Nita senang sekaligus sedih, sudah tiba saatnya dia harus jujur, dia akan menjalankan amanah majikannya. Rasanya baru kemarin dia menimang Ayu dan kini Ayu sudah akan menjadi istri orang.


Sebenarnya Bu Nita masih ragu dan takut untuk jujur, dia takut Ayu tidak akan menyayanginya lagi, jika tahu bahwa dirinya bukanlah ibu kandung Ayu.


Tapi dia juga tidak mau egois, Ayu berhak tahu tentang keluarganya.


"Sebentar ya Nak, mungkin ini saatnya kebenaran harus Ibu buka," ucap Bu Ayu sambil berjalan ke kamarnya.


Okan dan Ayu merasa heran dengan apa yang baru saja Ibu ucapkan, mereka menunggu dengan was-was terutama Ayu.


Bu Nita keluar dari kamar, dengan menggenggam sesuatu di tangannya. Beliau kembali duduk di hadapan Okan dan Ayu sambil membuka sebuah buntalan kain yang ternyata sepasang kaos kaki bayi.

__ADS_1


Ayu yang merasa penasaran lalu bertanya, "Kaos kaki bayi siapa itu Bu?" tanya Ayu.


"Milikmu Nak."


Setelah menjawab pertanyaan dari Ayu, Bu Nita membuka buntalan kaos kaki tersebut, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.


Sebuah liontin indah berbentuk hati berbalut berlian, sekarang terjuntai di tangan Bu Ayu.


"Terimalah Nak, ini milikmu," ucap Bu Ayu sambil memberikan liontin tersebut ke tangan Ayu.


"Bu...ini bagus sekali dan harganya pasti sangat mahal, kenapa Ibu mempertahankan barang ini di kala dulu kita kesulitan saat ibu tidak memiliki pekerjaan? Ibu seharusnya bisa menjualnya, tidak perlu menyimpannya untuk Ayu."


"Ini amanah Yu, Ibu harus menjaganya walau dengan taruhan nyawa. Hanya ini yang tersisa, sementara barang lain ludes di curi orang saat kamu masih kecil dan ibu pergi bekerja."


"Maksud Ibu?"


Seharusnya kamu tidak mengalami hidup susah Yu, jika saat itu pencuri tidak mengambil semua uang dan perhiasan milikmu. Barang yang mereka curi bisa membiayai hidupmu sampai selesai kuliah tanpa kekurangan sedikitpun.


"Apa kita sekaya itu, dulunya Bu. Apa ayah meninggalkan warisan untuk kita?"


"Bukan kita yang kaya, tapi kamu dan keluargamu Nak!" ucap Bu Nita lirih. Akhirnya beliau mengucapkan rahasia yang sudah puluhan tahun di simpannya.


"Apa Bu! Keluargaku siapa? bukankah Ibu adalah keluargaku," ucap Ayu lagi.


"Maaf Nak, selama ini ibu telah membohongimu, Ibu bukan orangtua kandungmu."


Ayu sangat terkejut begitu pula Okan, mereka tidak percaya dengan ucapan ibu.


"Tidak mungkin! Ibu bohong! Ibu adalah Ibu kandung Ayu," ucap Ayu sambil menangis.


Ibu memeluk Ayu yang sedang menangis, Ayu pun memeluk Bu Nita dengan erat, dia berharap salah mendengar tentang ucapan Bu Nita.


Kemudian Ayu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Bu Nita sambil berkata, "Ibu bercanda kan? Ibu orang tua kandung Ayu? Ibu Ayu?"


"Bu Nita menggeleng, ibu tidak sedang bercanda Nak! Ibu serius, kamu bukan anak Ibu."


Ucapan Bu Nita kembali membuat Ayu menangis, hingga membuat Okan menarik Ayu ke dalam pelukannya. Okan berusaha menenangkannya dengan berkata, "Tenang Yu, kita dengarkan dulu penjelasan Ibu."

__ADS_1


🌻 Selamat Pagi sahabat, semoga hari ini kita semua bahagia dan mendapat keberkahan, Aamiin...


SEE YOU ♥️♥️♥️


__ADS_2