
Okan menggendong istri kecilnya itu ke kamar mandi, dia merasa kasihan melihat Ayu yang kesulitan berjalan karena ulahnya.
Pagi ini merekapun mandi bersama, Okan yang membantu Ayu mandi merasa terkejut saat melihat tanda lahir yang ada di dahi Ayu hilang, tidak terlihat sedikitpun.
Okan menyibak-nyibakkan poni rambut Ayu, dan mengusap-usap keningnya, tetap sama, tanda itu sudah tidak ada lagi di sana.
Ayu heran melihat ulah Okan, tapi karena dia masih merasakan sakit di area sensitifnya dan tubuhnya juga merasa lelah, dia tidak peduli dengan sikap Okan dan tidak menanyakan apa alasan Okan menyibak-nyibakkan rambutnya.
Namun saat Okan mulai membuka balutan selimut di tubuhnya, Ayu mulai bereaksi, "Jangan Kak! Ayu bisa mandi sendiri, Kak Okan mandi saja," ucapnya sambil menarik kembali selimut tersebut.
Ayu takut, Okan akan mengerjainya lagi, sementara dirinya selalu kalah, Ayu tidak akan sanggup menolak jika Okan telah memberikan rangsangan terhadap tubuhnya.
Olahraga panas tersebut memang masih meninggalkan rasa sakit, tapi Ayu malah merasa ketagihan, saat Okan berhasil membangkitkan gairahnya.
Hal ini tentu saja membuat Okan semakin bersemangat melakukannya saat istri kecilnya itu menuntut untuk mendapatkan kenikmatan lebih.
Okan tahu maksud Ayu menarik selimutnya, tapi karena dia masih penasaran dengan tanda sisik yang hilang, diapun memaksa Ayu untuk membuka selimutnya dengan berkata, "Jika kamu tidak mau membukanya, aku akan menciummu bibir mungilmu itu terus sampai aku puas dan mungkin kita tidak akan keluar kamar hingga besok pagi lagi."
"Ah Kak Okan curang, kita 'kan sudah melakukannya berulang-ulang, aku capek Kak!" ucap Ayu sambil cemberut.
"Ayo buka! Apa kamu mau aku membuktikan ucapanku," ancam Okan.
"Iya, aku akan buka selimut ini, tapi Kak Okan harus janji dulu, kita cuma mandi bareng saja, nggak melakukan itu lagi. Masih sakit dan bengkak, ini Kak. Koyak anu ku akibat ulah Kakak," ucap Ayu polos sambil menunjuk area sensitifnya dengan wajah memelas.
Okan tertawa melihat kepolosan istri kecilnya itu, lalu dia mendaratkan ciuman lembut di bibir Ayu yang masih cemberut. Ayu yang merasa takut Okan akan melakukannya lagi segera mendorongnya hingga hampir terjatuh.
"Ayo cepat buka Yang! mau aku melakukannya lagi? Aku mau saja, mau berapa ronde dengan senang hati kulayani," goda Okan terus hingga membuat Ayu semakin cemberut, lalu dia berkata, "Baiklah ini aku buka, tapi benar janji ya Kak Okan, jika Kak Okan melanggarnya, aku akan tidur nanti malam di kamar Mama Sintia.
"Iya, Kak Okan janji. Kakak hanya mau kita mandi bersama dan Kakak hanya ingin menggosok tubuhmu dengan sabun," ucap Okan sambil mengangkat dua jarinya pertanda telah berjanji.
Ayu pun perlahan membuka selimut yang melilit tubuhnya, dia tidak menyadari jika Okan menatap arah perutnya. Okan menggosok mata, dia tidak menemukan sisik itu juga di bagian perut Ayu.
Okan hanya melihat bagian tubuh istrinya itu putih mulus tanpa ada cacat sedikitpun, hingga membuatnya menelan saliva berkali-kali.
Saking senangnya, Okan menarik Ayu, lalu menggendongnya, dia mencium kening dan bagian perut Ayu sepuasnya, hingga membuat bulu kudu Ayu berdiri dan diapun menggeliat-geliat kegelian.
__ADS_1
Ayu merasakan rasa panas kembali menjalar ke tubuhnya akibat ulah Okan, tapi dia berusaha menolak dan mengingatkan Okan. Jangan Kak! Kakak sudah janji, aku nggak mau, masih sakit Kak," ucapnya sambil berusaha lepas dari pelukan Okan.
"Tenang! Aku tidak akan melakukannya, hanya ingin seperti ini saja, berbagi kebahagiaan bersama istri tercintaku."
Okan belum mengatakan apa yang dia lihat kepada Ayu, karena dia masih ingin memastikan untuk beberapa saat lagi.
Setelah menunggu beberapa saat dan ternyata tanda tersebut memang hilang, Okan kemudian membalutkan handuk dan menggendong Ayu, mengajaknya ke arah cermin, lalu Okan berkata, "Selamat Sayang, Allah telah menunjukkan keajaiban-Nya," ucap Okan.
Ayu awalnya bingung, dia hanya menatap Okan, tidak paham dengan maksud perkataan suaminya itu. Okan tersenyum, sambil menyibakkan poni Ayu dan meminta Ayu berkaca, alangkah terkejutnya dia saat melihat wajahnya bersih tanpa ada cacat sedikitpun.
Kemudian Okan membuka lilitan handuk Ayu dan meminta Ayu untuk memperhatikan bagian perutnya. Ayu pun langsung memeluk Okan sambil menangis, tanda lahir yang orang bilang, bahkan kakeknya sendiri bilang merupakan tanda kesialan sudah tidak ada lagi di dahi dan perutnya.
"Benarkah ini Kak, aku tidak sedang bermimpi?"
Okan pun mengangguk, lalu dia mengajak Ayu untuk menyempurnakan mandi junub mereka. Setelah selesai mandi, Okan mengajak Ayu sholat subuh berjamaah. Dalam doa, mereka mengucapkan rasa syukur atas keajaiban yang terjadi.
Ayu kemudian mengajak Okan ke dapur, dia ingin memasak sarapan untuk semua keluarga. Ternyata saat tiba di sana, Mama Ina, Mama Sintia, Bu Nita, Metha serta kedua Kakak iparnya sudah selesai memasak sarapan.
Metha yang sedang menyajikan hidangan, jus dan susu di atas meja makan tersenyum saat melihat pengantin baru masuk ke dapur dengan malu-malu.
"Ayu 'kan malu Ma? Seharusnya ini tugas Ayu," ucap Ayu sembari mendekati Mama mertuanya.
"Tenang saja, waktu bersama kalian hanya tinggal hari ini dan besok 'kan, lusa Okan sudah harus berangkat, jadi nikmatilah kebersamaan kalian. Semua urusan rumah biar kami yang akan menghandle semua," ucap Mama Ina dan juga diikuti oleh yang lainnya.
"Sekarang, panggil saja Papa dan yang lain Kan, kita akan sarapan bersama, setelah itu kami punya kejutan untuk kalian berdua," ucap Mama Ina lagi.
"Kejutan apa Ma?" tanya Okan.
"Jika di sebutkan sekarang bukan kejutan namanya. Sabar dong kita sarapan dulu ya!"ucap Mama Ina.
"Kami juga punya kejutan Ma!" timpal Ayu dengan tersenyum manis.
"Oh ya Sayang, kejutan apa itu?"
"Sama Ma, nanti saja setelah makan baru kami beritahu apa kejutannya," ucap Okan sembari berlalu pergi hendak memanggil Papa dan yang lain.
__ADS_1
Mereka semua sudah berkumpul di ruang makan. Ayu, Metha dan kedua ipar mereka melayani suami masing-masing, baru setelah itu mengambil makanan untuk diri mereka sendiri.
Suasana hening tercipta, hanya suara dentingan sendok saja yang terdengar di sana. Semua makanan pun habis mereka santap dan para suamipun mengacungkan jempol, mereka mengakui rasa masakan pagi ini sangatlah lezat.
"Oh ya, apa kejutan kalian Nak, mumpung semua sedang berkumpul di sini?" tanya Mama Ina.
Okan dan Ayu saling pandang, kemudian Okan pun mengangguk, dia meminta Ayu untuk menyibakkan hijabnya untuk memberitahukan kejutan mereka.
Semua yang melihat terkejut, terutama Sutan, Mama Sintia dan Bu Nita, lalu mereka semua mengucapkan rasa syukur dan memeluk Ayu.
"Alhamdulillah, ternyata apa yang di katakan pria bersorban yang datang di mimpi Ibu belakangan ini menjadi kenyataan," ucap Bu Nita.
"Mimpi apa Bu?" tanya Sutan.
Saya bermimpi seorang kiyai yang memakai jubah dan sorban putih datang, lalu beliau mengatakan bahwa Ayu akan kembali cantik di usianya yang ke-17 tahun dan ada seorang pemuda yang dengan ikhlas mencintai dia tanpa jijik memandang parasnya.
"Alhamdulillah, kami juga Bu sering di datangi kiyai tersebut dalam mimpi dan ketua adat juga mengatakan akan ada keajaiban setelah Ayu di nikahi oleh pemuda yang benar tulus mencintai dia," timpal Sutan.
Semua merasa gembira mendengar berita ini, ditengah kegembiraan ini tiba-tiba Mama Ina berkata, "Berarti kalian...." Mama tidak melanjutkan ucapannya, tersirat kegembiraan di wajahnya.
"Ada apa Ma? Kenapa Mama tidak melanjutkan ucapan Mama?" tanya Papa Candra.
Mama Ina, Mama Sintia dan Bu Nita serempak berkata, "Alhamdulillah, kita akan segera mendapatkan cucu."
Ucapan ketiga Mama itu nyaris membuat wajah Ayu dan Okan memerah, mereka malu ketahuan telah melakukan malam pertama.
"Alhamdulillah, selamat untuk kita semua. Kami menunggu kehadiran cucu secepatnya dari kalian," ucap Papa Chandra senang.
Oki yang mendengar hal itupun ikut gembira, lalu dia berkata, "Setuju! Aku juga sudah kepingin di panggil Oom, tentu saja lebih ingin secepatnya di panggil Papa."
Semua yang di sana jadi tertawa, lalu Sutan berkata, "Na, itu kode keras dari Oki bahwa kita harus segera mengadakan hajatan lagi."
"Bangun dulu bisnismu, setelah kamu bisa mendapatkan penghasilan sendiri, kami akan datang ke rumah Sisil untuk melamarnya," ucap Papa Chandra.
"Siap Papa!" jawab Oki sembari mengangkat tangannya memberi hormat.
__ADS_1