
"Assalamualaikum Kak, "Kak Okan lagi dimana? maksudku, Kakak nggak usah jemput hari ini, soalnya aku dan Sisil mau ke rumah teman, dia lagi sakit Kak."
"Kakak sudah hampir sampai Yu, ya sudah...Kakak ikut saja jenguk temanmu, bolehkan?"
"Tapi Kak!" ucapan Ayu terhenti karena dia mau ke rumah Dilla, aku sendiri belum tahu tanggapan Dilla nanti, saat melihatnya datang, bagaimana pula jika Okan ikut."
"Kenapa? sepertinya kamu keberatan, apa teman kamu itu cowok Yu?" tanya Okan sedikit curiga dengan sikap Ayu yang ragu-ragu.
"Bukan Kak, sekarang aku dan Sisil sudah di dalam angkot dan sebentar lagi juga sampai, lagipula yang mau kami jenguk itu Dilla, teman sekelas yang selama ini membully aku. Kami saja belum tahu tanggapan Dilla nanti kak, aku nggak mau kakak jadi kena sasaran."
"Makanya Yu, tunggu aku sampai ya! kalian jangan masuk ke rumahnya dulu, sekarang share lokasinya biar aku langsung ke sana."
Ayu segera meminta tolong Sisil untuk mengirimkan sharelock kepada Okan, karena Ayu belum pandai menggunakan ponselnya.
Sisil segera mengambil ponsel dari tangan Ayu, dia mengajari Ayu cara mengirim sharelock, akhirnya Ayu paham dan langsung mempraktekkan dengan mengirimkannya ke ponsel Okan.
"Kamu beruntung banget ya Yu, dokter Okan begitu perhatian, aku mau dong punya cowok seperti itu? tapi siapa juga ya yang mau sama aku?" ucap Sisil malu.
"Inshaallah, kamu gadis baik, pasti ntar dapatnya cowok baik juga Sil, seperti janji Allah dalam firman-Nya QS. An-Nur ayat 26
اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِۚ اُولٰۤىِٕكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ ࣖ
...Artinya : "Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)....
"Aamiin..., mudah-mudahan dikabulkan Allah ya Yu, aku ingin mempunyai calon suami yang baik dan bisa menjadi imam bagi keluarga kami nantinya. Aku salut sama kamu Yu, selain pintar dalam pelajaran, ternyata kamu paham juga tentang ilmu agama. Pokoknya terbaiklah untukmu, aku bangga punya teman sepertimu Yu."
"Kita sama belajar Sil dan aku minta kita bisa saling mengingatkan, tidak ada manusia yang sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah."
Sisil pun mengangguk sambil tersenyum manis. Mereka sudah tiba di depan rumah Dilla, lalu Ayu mengajak Sisil untuk menunggu Okan sambil berteduh di bawah pohon yang ada di pinggiran pagar rumah Dilla. Karena cuaca begitu panas, membuat keduanya menyeringai dan berkeringat.
__ADS_1
Sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya Okan pun sampai. Okan menepikan mobilnya lalu dia berjalan menemui Mamang yang lagi membersihkan taman, Okan ingin meminta izin masuk.
Mamang tukang kebun pun meminta Okan menunggu, lalu dia berlari ke dalam untuk menemui majikannya. Setelah mendapatkan izin, Sang Mamang pun kembali menemui Okan dan membukakan pintu pagar untuk mereka.
Okan meminta Ayu dan Sisil untuk naik, kemudian menjalankan mobilnya masuk ke halaman rumah Dilla.
Dilla yang diberitahu oleh sang Mama jika ada temannya datang menjenguk pun merasa heran, karena dia merasa tidak punya teman laki-laki bernama Okan, tapi jika Sisil dan Ayu dia sebenarnya ogah untuk menemuinya. Namun sang Mama sudah mengizinkan, Dilla pun tidak bisa menolak mereka.
Mama Dilla mempersilakan mereka masuk dan tidak lama Dilla pun muncul. Ayu kaget melihat wajah Dilla penuh dengan benjolan kecil yang mulai menghitam dan dia juga melihat tangan serta kaki Dilla juga ditumbuhi penyakit yang sama.
"Ada apa kalian kesini? Mau mengejekku ya!" ucap Sisil ketus.
"Astaghfirullah Dil, kami datang hanya ingin menjengukmu bukan bermaksud mengejek."
"Aku tahu, kamu pasti dendam kan, jadinya aku terkena sial, wajah dan tubuhku ikutan buruk setelah membulymu waktu itu."
Ayu kembali mengucap istighfar, lalu dia berkata, "Aku tidak pernah dendam Dil kepada siapapun yang telah mengejekku, aku malah berdo'a semoga mereka mendapatkan hidayah dan berhenti mengejek, karena aku juga tidak pernah menginginkan wajahku seperti ini."
Lalu Okan meminta selembar kertas kepada Ayu beserta pena untuk menuliskan resep obat, salep, serta cream yang bisa menghilangkan bekas luka dan menyodorkan ke Dilla beserta kartu namanya.
Melihat Dilla yang sepertinya tidak percaya, Okan pun berkata, "Jika kamu tidak percaya, boleh datang langsung ke rumah sakit, kamu tunjukkan saja resep obat yang telah aku berikan itu kepada dokter di sana, memang sih harganya cukup mahal tapi sebanding dengan manfaatnya," tutur Okan.
Mama Dilla yang baru keluar dari dapur sambil membawa minuman dan cemilan pun mendengar hal itu, kemudian beliau berkata, "Oh... kamu seorang dokter Nak?"
"Iya Bu, itu saya sudah berikan resep obat kepada putri Ibu, kebetulan saya dokter spesialis kulit Bu."
"Alhamdulillah, terimakasih Nak. Ibu ingin Dilla cepat sembuh dan berharap bekas lukanya bisa hilang, pasti Dilla merasa minder jika bekas lukanya menghitam dan tidak bisa hilang dan bakal jadi ejekan teman-temannya."
"Inshaallah, enggak kok Bu, Dilla nggak perlu minder, nggak mungkin teman-teman mengejeknya, mereka baik semua kok Bu!" ucap Ayu.
__ADS_1
"Mudah-mudahan ya Nak, soalnya Dilla bilang kalau bekas lukanya tidak bisa hilang, dia tidak mau datang lagi ke sekolah, malu katanya."
"Inshaallah Bu, sudah banyak yang menggunakan obat itu dan hasilnya cukup memuaskan."
"Terimakasih, beruntung Dilla punya teman-teman sebaik kalian."
Dilla yang mendengar perkataan Mamanya merasa malu, dia selama ini bukan teman yang baik bagi Ayu dan Sisil tapi malah mereka membalasnya dengan bersikap baik.
"Yu..., Sil, maafkan aku ya, selama ini aku sudah jahat terhadap kalian, aku malu. Kalian malah membalasku dengan kebaikan."
"Nggak apa-apa Dil, aku sudah memaafkan kamu kok dan juga teman-teman yang lain. Aku tidak menyalahkan kalian, wajahku memang buruk tapi aku tetap bersyukur, Allah masih memberiku hidup."
Dilla pun menjabat tangan Ayu dan Sisil, dia benar-benar menyesali sikapnya selama ini. Mama dan juga Okan yang melihatnya pun tersenyum.
"Alhamdulillah, kamu musti bersyukur Dil memiliki teman seperti mereka. Teman yang mau datang bukan hanya di kala kamu senang, tapi juga teman yang ikut simpatik di kala kamu membutuhkan dukungan."
"Iya Ma, Dilla salah, Dilla menyesal telah berlaku tidak adil terhadap mereka."
'Ya sudah, kedepannya kamu harus rubah semua sifat burukmu, susah lho...cari teman seperti mereka. Terimakasih ya Nak, tolong maafkan Dilla."
"Iya Bu, kami sudah memaafkannya kok," ucap Ayu.
"Kalau begitu ayo kita makan dulu, ibu tahu kalian pasti belum makan. Kalian pasti langsung dari sekolah kan? Ibu sudah siapkan kok semua di meja makan tapi makan ala kadarnya ya, habisnya ibu nggak tahu jika teman Dilla akan berkunjung."
"Terimakasih Bu, kami tidak mau merepotkan. Kami boleh numpang sholat dulu Bu?" ucap Ayu.
"Oh... silahkan Nak! Ayo ibu tunjukkan tempat sholatnya."
Mereka pun segera mengikuti Mama Dilla, sebelum shollat, Okan berkata, "Kita sholat berjamaah ya Yu?"
__ADS_1
Ayu dan Sisil pun mengangguk.
SEE YOU ♥️♥️♥️