TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA

TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA
EPISODE 47. TEGUH PENDIRIAN


__ADS_3

Okan, Oki dan Ayu pun berangkat pulang, di perjalanan Okan berkata, "Adikku memang cerdas, kamu seharusnya masuk pendidikan kepolisian Ki."


"Sudah nggak laku Kan! telat, kaki cidera."


"Lu sih, ya sudah cari bidang lain yang positif ya atau terusin karir Papa."


"Ogah! nggak minat berdagang. Aku masuk tim pengajar anak-anak jalanan saja, siapa tahu aku bisa berkembang melalui jalan itu."


"Baiklah, yang penting jangan ulang lagi perbuatan masa lalu yang nggak berguna."


"Siap! insya Allah songsong perubahan," ucap Oki sambil tertawa.


"Oh ya Kak, kapan kita ketempat anak-anak itu?"


"Paling mendekati keberangkatan Kakak nanti Yu, soalnya kemaren baru dari sana bersama Oki."


"Wah...pantas Kak Oki minat ikut dalam tim pengajar mereka, ternyata Kak Oki sudah lihat langsung anak-anak berkreasi."


"Iya Yu, kasihan mereka, aku nyesal telah menyia-nyiakan hidup selama ini. Aku saja yang bodoh, selalu saja merasa iri terhadap Okan," ucap Oki malu.


"Yang penting sekarang perbaiki demi masa depan Kak," ucap Ayu.


"Iya, kamu benar Yu."


"Ayo turun! Apa kita mau ngobrol di mobil saja nih! Oh ya Ki, urus beneran saja tuh surat, lagipula nggak lama lagi kan? besok biar aku ngomong sama Mama Papa, tadi waktunya nggak pas."


"Itu sudah beneran lho...tinggal pelaksanaan akad, aku sudah urus semua surat di KUA, gitu akad dilangsungkan, sekalian kalian terima buku nikah."


"Serius Ki?"


"Nggak mungkinlah, aku telap uangmu 50jt tanpa hasil yang memuaskan," ucap Oki sambil tertawa.


"Terimakasih Ki, aku sengaja kok transfer segitu, buat uang sakumu."


"Oh...ya, kalau begitu ganti dong?"


"Nanti pas kamu nikahan, aku ganti ya..?


"Nggak asyik, kamu nya udah kabur."


"Memangnya ada yang mau dengan kamu?"


"Oh...banyak. Cuma Ayu saja yang nggak mau sama aku. Padahal gantengan aku daripada kamu," jawab Oki sambil tertawa.


Ayu tersenyum manis mendengar ucapan Oki, Oki memang beda dengan Okan, lebih polos dalam berbicara atau kata orang ceplas-ceplos.


Ibu yang melihat kedatangan mereka segera menyapa dan bertanya, "Para Aden mau di siapin makan? kebetulan Ibu masak makanan kesukaan Den Oki."


"Boleh Bu, Oki memang lapar, kamu bagaimana Kan? mau ikutan makan atau kagak?


"Kita makan sekalian saja Bu, bersama Ayu juga."


"Baiklah, aku dan ibu akan siapin makanannya dulu ya Kak?"


"Iya Yu, kami tunggu di ruang makan ya?"


Ayu dan ibu segera menyiapkan makanan dan mereka pun mulai makan. Oki tidak peduli walau sedang makan tetap ngomong, "Kamu beruntung Kan, punya calon istri dan calon mertua pandai masak. Kalau aku jadi kamu, bakal aku bukain mereka restauran, pasti laris manis, saingan deh dengan rumah makan Minang."


"Itu kan mau lu, biar lu nggak banyak keluarin nafkah belanja, kalau aku mah maunya istri khusus melayaniku saja. Tapi kalau maunya kerja juga, apa boleh buat, bonus mah."


"Kakak-kakak, udah dong ngobrolnya, kita makan dulu ya, kasihan tuh makanannya di anggurin."

__ADS_1


"Siap, Kakak ipar," ucap Oki.


Merekapun melanjutkan makan, setelah itu beristirahat, nanti malam Okan dan Oki akan ke rumah sakit untuk menjaga Metha menggantikan para orang tua.




Di rumah sakit.



"Bagaimana ya Dok supaya anak kami cepat pulih? Apa yang harus kami lakukan Dok?" tanya Sutan Raja.



"Coba Pak, orang yang paling dekat dan berarti bagi dia, sering melakukan pendekatan dengan cara mengajaknya mengobrol, siapa tahu dia mau terbuka dan tidak larut dalam masalahnya."



"Iya Dok, nanti kami coba saran Dokter. Terimakasih ya Dok."



Setelah dokter pergi, Sutan berbicara dengan Mama dan Papa Okan, "Ina...aku mohon, coba bujuk Okan ya, agar mau terus menemani Metha, mana tahu dengan selalu dekat dengan pria yang dia cintai, Metha bisa cepat pulih."



"Aku akan coba ya Tan, tapi nggak bisa janji, sebab kamu tahu sendiri bagaimana Okan. Lagipula dia sudah menikah Tan, nggak mungkin dia dekat terus dengan Metha."



"Jadi benar dia sudah menikah Na?"




"Aku bingung Na, aku nggak tega menempatkannya di rumah sakit jiwa."



"Malam ini mereka akan menjaga Metha, coba nanti aku bicara dengan Okan, mana tahu dia mau menolong Metha."



"Terimakasih Na."



"Yang sabar ya Tan, pasti ada jalan keluar untuk semua ini," ucap Papa Okan.



Sutan Raja pun mengangguk, dia yang selama ini selalu kuat dalam menghadapi semua cobaan, tapi hari ini hatinya hancur melihat kondisi Metha seperti itu.



Malam pun tiba, Okan dan Oki sudah bersiap berangkat ke rumah sakit. Okan pamit kepada Ayu, dia besok pagi mungkin tidak bisa mengantarnya ke sekolah.


__ADS_1


Merekapun tiba di rumah sakit, Mama yang melihat kedua putranya sudah sampai segera memanggil keduanya, "Sebentar Kan, Oki ada yang ingin Mama bicarakan."



Mama pun mengajak mereka duduk di bangku tunggu keluarga pasien.



"Ada apa Ma?" tanya Okan.



"Kamu harus jujur, beberapa hari ini kita belum sempat membicarakannya, memang benar kamu telah menikah?" tanya sang Mama sembari memegang tangan Okan.



"Baiklah Ma, Okan akan jujur. Sebenarnya Okan belum menikah, tapi akan menikah dan surat menyurat sudah kami urus."



"Tapi kenapa kamu berbohong?"



"Desakan Mama dan Metha membuat kami harus melakukannya."



"Tapi jika kamu tidak berbohong, mungkin musibah Metha tidak akan terjadi Kan?"



Okan terdiam, memang dia dan Ayu salah tapi walau bagaimanapun Metha harus terima dengan kenyataan jika Okan memang hanya mencintai Ayu.



Oki yang mendengar Mama menyalahkan saudaranya segera menjawab, "Bukan Okan yang salah tapi Oki, karena Oki yang memberi ide agar Okan pura-pura sudah menikah."



"Kenapa kamu menyebabkan masalah Ki?"



"Jangan salahkan Oki Ma! karena keputusan Okan untuk menikah sudah mantap. Okan akan menikah sebelum berangkat."



"Mama mohon Nak! bantulah Metha, siapa tahu dengan kamu memberikan perhatian dan selalu ada di sampingnya, dia bisa cepat sembuh. Berpura-pura lah mencintainya, Mama akan tepati janji denga merestui pernikahanmu tapi tundalah dahulu. Metha membutuhkanmu saat ini."



"Maaf Ma, Okan akan usahakan membantu Metha tapi tidak akan membatalkan pernikahan. Seperti Mama tahu, manusia yang dipegang adalah pengomongannya (janjinya)."



"Mama diam mendengar ucapan Okan, dia tahu dengan sikap keras kepala putranya. "Baiklah, Mama izinkan kamu menikah, tapi Mama mohon bantulah Metha. Mama akan bicara dengan calon istrimu, agar dia juga mau menolong Metha."



Salam pagi, semoga kita senantiasa di berikan kesehatan dan kebahagiaan, Aamiin.....

__ADS_1



SEE YOU ♥️♥️♥️


__ADS_2