
Pagi ini Metha terlihat segar setelah mandi dan berdandan. Hari ini pihak rumah sakit telah mengizinkan dirinya pulang, hanya tinggal menunggu membereskan administrasi serta obat yang akan di berikan oleh dokter.
Metha duduk bersama kedua orangtuanya dan juga Papa Mama Okan, mereka membicarakan rencana orangtua Metha yang hari ini akan membawa Metha pulang ke Padang agar bisa beristirahat di sana. Lagipula Sutan, Papa Metha, tidak bisa berlama-lama meninggalkan bisnisnya.
Kenapa tidak menunggu Pernikahan Okan Tan? kami ingin kalian menghadirinya walau hanya acara sederhana," undang Mama Okan.
"Ada urusan mendesak Ina, yang masih harus aku kerjakan, maklumlah keluarga besarku, setelah kepergian Papa, telah mempercayakan semua bisnis kepadaku. Mereka semua perempuan jadi tidak mau berkecimpung dalam bisnis, sibuk mengurus rumah tangganya masing-masing.
Namun aku janji jika nanti urusan di sana selesai lebih cepat, kami akan usahakan datang."
"Baiklah Tan, kami tunggu kedatangan kalian."
Mereka terus asyik mengobrol, sambil menunggu pemberitahuan dari suster untuk boleh pulang. Di ambang pintung muncul Rendi dengan membawa sekeranjang parcel buah untuk Metha.
Rendi benar berharap, Metha mau memaafkan dan menerima dirinya sebagai calon suami guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Melihat tas sudah tersusun rapi di sana, Rendi bisa menebak jika Metha sudah di perbolehkan pulang. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, karena jika tidak bisa mendapatkan persetujuan menikah dari Metha hari ini, dia pasti akan kehilangan kesempatan selama-lamanya.
"Assalamualaikum," ucap Rendi menyapa semua.
Semua menoleh ke asal suara, termasuk Metha. Tapi Metha segera memalingkan wajah, dia enggan dan masih teringat tentang perbuatan Rendi terhadapnya.
"Masuk Nak Rendi," pinta Sutan sembari menyediakan kursi untuknya.
Rendi pun duduk di kursi yang telah Sutan sediakan, kemudian dia memberanikan diri membuka percakapan, "Begini Tuan Sutan dan Nyonya, maksud kedatanganku ke sini ingin melamar Metha, aku ingin mempertanggungjawabkan perbuatanku. Aku janji tidak akan pernah menyia-nyiakan Metha, aku akan membuatnya bahagia karena aku mencintai Dia," ucap Rendi sembari memandang wajah Metha yang hanya tertunduk sambil pokus memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Kalau kami terserah Metha Nak, karena dia yang akan menjalani kehidupan pernikahan, kami hanya ingin melihat dia bahagia," ucap Sutan.
Kemudian Rendi mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari dalam tasnya, sembari mendekati Metha.
"Met, tolong maafkan aku...aku tidak bisa tidur memikirkan kesalahanku dan saat ini putriku juga sedang terbaring sakit, tadi malam dia demam dan menyebut Mama Metha terus."
Sejenak Rendi terdiam lalu dia melanjutkan ucapannya, "Tapi aku tidak mungkin menjemputmu, karena aku tahu kamu tidak mungkin mau. Pagi ini aku akan membawanya ke rumah sakit, tapi karena aku takut terlambat, maka aku kesini dulu untuk meminta maaf lagi agar aku bisa hidup tenang tidak di hantui terus dengan rasa bersalah."
Rendi pun terdiam lagi, kali ini dia memberanikan diri mengulurkan kotak perhiasan yang dia bawa ke tangan Metha sambil berkata, "Jika kamu mengizinkan aku untuk menebus kesalahan, terimalah ini Met, jadilah istriku dan ibu dari Cantika, aku mohon Met?" ucap Rendi dengan sungguh-sungguh.
Metha menengadahkan wajahnya, dia memandang Rendi dan merekapun saling tatap, Metha ingin mencari kesungguhan omongan Rendi lewat tatapan matanya.
Dia tidak ingin salah dalam mengambil keputusan, walaupun memang hatinya sudah mulai terenyuh dengan sikap Cantika yang saat ini membutuhkan kasih sayang darinya.
Lama Metha menatap tajam ke Rendi tapi Rendi tidak gentar sedikitpun karena dia memang bersungguh-sungguh ingin menikah dengan Metha.
Rendi memberanikan diri lagi, mengambil kotak perhiasan dari tangan Metha, membukanya dan menyematkan Cincin di jari manis Metha, lalu mengambil kalung dan memakaikannya ke leher Metha sembari mencium puncak kepala Metha. Terakhir dia mengambil gelang dan memakaikannya di lengan kanan Metha.
Sekali lagi dia mengucapkan terimakasih dan bangkit menghampiri Sutan beserta Mama Metha mencium tangan mereka untuk meminta restu.
Sutan memeluk Rendi, sambil berterimakasih atas kesungguhannya, tapi dia berpesan sekali saja Rendi menyakiti Metha Sutan tidak akan segan untuk bertindak.
Rendi pun mengangguk sambil berkata, "Tuan boleh pegang omongan Saya, sebentar lagi pengacara saya sampai dengan membawa berkas yang isinya semua harta saya termasuk perusahaan, telah saya alihkan kepada Metha.
Mereka semua terkejut termasuk Metha, ternyata Rendi tidak main-main, belum mendapatkan jawaban dari Metha, dia sudah berani mengalihkan semua hartanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu berbuat seperti ini Ren?" tanya Metha yang baru membuka suara.
"Itu semua hak Cantika, bukan hak ku."
"Untuk Cantika aku sudah berikan, assetnya ada di deposito dan perkebunan di luar kota. Sementara semua asset yang ada di sini adalah milikmu," ucap Rendi lagi.
"Terimakasih Nak, kamu telah bersungguh-sungguh terhadap putriku, Mama hanya ingin kamu membahagiakan putri Mama dengan kebahagiaan berkeluarga bukan semata karena harta," ucap Mama Metha sembari memeluk calon menantunya.
Papa dan Mama Okan pun memberi selamat dan bertanya kapan rencana pernikahan mereka.
Rendi pun menjawab, "Jika Metha setuju saat ini juga aku akan menelephone asistenku untuk membawa penghulu perkawinan datang ke sini agar kami segera sah sebagai suami istri dan aku akan langsung membawa Metha pulang sebagai Ibunya Cantika.
"Bagaimana Metha? Apa kamu setuju dengan rencana Rendi?"
Metha pun dengan mantap menjawab, "Baiklah Pa, Metha setuju, Metha ingin segera bertemu Cantika, saat ini dia membutuhkan kehadiran Metha."
Rendi pun segera menghampiri Metha, menggenggam tangan dan mencium puncak kepala Metha sambil berkata, "Terimakasih Sayang, terimakasih telah bersedia menjadi calon istriku, semoga pernikahan kita nanti berkah hingga dunia akhirat."
Setelah mengatakan hal itu, Rendi menelephone asistennya, untuk membawa penghulu pernikahan dan beberapa orang saksi serta membawakan seperangkat pakaian pengantin dari butik ternama di kota ini.
Ketika mereka menunggu datangnya penghulu dan pengacara, Okan, Oki dan juga Ayu sampai di sana, mereka baru saja dari sekolah meminta Izin bahwa Ayu libur untuk beberapa hari dengan alasan akan pulang kampung melihat keluarganya yang sedang sakit keras.
Sementara Oki ikut, dia ingin berbicara dengan Sisil, meminta persetujuannya untuk datang ke rumah, Oki akan mengatakan perasaannya sekaligus minta restu kepada ibu Sisil. Namun sayang ternyata Sisil tidak hadir, kata teman sekelas mereka, saat ini dia sedang sakit.
Jadi Oki berencana nanti malam akan memberanikan diri datang ke rumah Sisil sekaligus menjenguk dan mengatakan kejujuran tentang perasaannya.
__ADS_1
SEE YOU ♥️♥️♥️
Jangan lupa untuk tersenyum ya....