
"Selamat Pagi!" ucap Bu Lexi.
"Pagi Bu," jawab murid-murid serempak.
"Dilla belum juga sembuh ya Trias?" tanya Bu Lexi dengan teman sebangku Dilla.
"Belum Bu? Kata Mamanya, malah kini tumbuh di sekujur tubuh, kasihan lho Bu, dia jadi sulit tidur," ucap Trias.
"Oh, lusa kalau Ibu tidak repot, Inshaallah akan jenguk kesana. Sekarang kita mulai pelajaran kita tapi sebelumnya kalian sudah tahu kan siapa yang karangannya terpilih? jadi karangan itu sudah ibu ikutkan ke lomba dan mengenai siapa nanti pemenangnya akan di umumkan pada awal bulan depan."
"Iya Bu, karangan Ayu memang bagus dan ceritanya sedih banget. Aku jadi menyesal Bu selama ini telah ikut-ikutan menjauhinya." ucap Bimo.
"Aku juga Bu, ternyata perjalanan hidup Ayu sejak kecil sangat miris. Jika aku ada di posisi Ayu mungkin tidak akan sanggup dan aku salut dengan perjuangan Ibunya. Ibu yang hebat, aku jadi penasaran ingin bertemu dengan beliau," ucap Naina.
"Makanya kalian harus minta maaf kepada Ayu, kalian beruntung di kasi kehidupan yang sempurna. Tapi Ibu sangat yakin di balik ketidak sempurnaan pasti masih banyak kelebihan yang Ayu miliki yang kita semua belum tahu."
Ayu hanya tertunduk mendengar perkataan Bu Lexi dan teman-temannya, dia bersyukur dengan lomba karangan yang telah Bu Lexi adakan membuat teman-temannya jadi tahu seperti apa perasaannya selama ini yang selalu mendapat ejekan serta di tindas semena-mena oleh warga sekitar tempat tinggalnya.
"Ibu sebenarnya tahu di kelas ini terdapat kesenjangan, cuma ibu ingin kalian menyadari sebelum kami para guru bertindak. Mulai hari ini ibu harap tidak ada lagi pilah memilah teman, kalian semua sama, satu keluarga di sekolah kita."
"Iya Bu," jawab mereka serempak.
Vina yang merupakan ajudannya Dilla hanya diam, dia tidak berani mengambil keputusan sebelum Dilla memutuskan yang memutuskannya.
"Kamu Dilla kenapa diam? Apa kamu tidak mau berteman dengan Ayu?"
I-iya Bu...aku mau," jawab Vina ragu.
"Baiklah, sekarang ibu ingin kalian bersalaman, saling meminta maaf, dari mulai Bimo terus sampai ke bangku paling depan."
Bimo pun bangkit, di ikuti oleh yang lain, mereka minta maaf ke Ayu dan Ayu pun dengan tersenyum ikhlas memaafkan.
Bu Lexi senang, akhirnya dia bisa melihat keakraban murid-muridnya. Kini dia meminta semua untuk membuka buku karena pelajaran akan segera di mulai.
Oki yang semangatnya telah kembali terus belajar berjalan, awalnya dengan berpegangan tembok, kini perlahan dia coba melepaskan pegangannya, tapi sial ternyata kakinya belum kuat hingga dia terjatuh.
Bu Nita yang mendengar suara jatuh ketika hendak mengantar makanan, segera membuka pintu tanpa minta izin. Beliau melihat Oki tergeletak di lantai lalu Bu Nita segera membantu Oki untuk berdiri.
"Aden tidak apa-apa?" tanya Bu Nita yang merasa khawatir.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Bik, tadi aku mau mencoba berjalan tanpa berpegangan pada tembok, eh...ternyata kaki ku belum kuat Bik."
"Sabar Den, pelan-pelan pasti bisa. Ini sudah banyak kemajuan, Tuan dan Nyonya pasti senang mendengarnya."
"Jangan Bik! Jangan kasi tahu Mama dan Papa dulu, biar kasi surprise aja saat mereka pulang."
"Oh...gitu ya Den. Baiklah Bibi tidak akan menceritakan hal ini kepada Mama dan Papa Aden sampai Aden sendiri yang memberitahu mereka."
"Oh ya Bik, sebenarnya Ayu kerja dimana?"
"Katanya di klinik Den, bantu-bantulah melayani pasien, tapi Bibik belum tahu alamatnya di mana," ucap Bu Nita Aisyah yang masih menutupi hubungan Ayu dengan Okan.
"Pulangnya jam berapa Bik?"
"Apa tidak capek dia Bik? setiap hari pulang malam padahal paginya dia musti sekolah."
"Ayu kemauannya keras Den, selagi itu berdampak baik baginya, Bibi akan tetap mendukung. Aden silahkan makan dulu, nanti keburu dingin sup nya."
"Eh...iya, terimakasih ya Bik."
Bu Nita meninggalkan kamar Oki, beliau takut Oki bertanya banyak hal tentang Ayu, yang membuatnya bisa keceplosan.
Okan sedang berada di rumah sakit, dia baru saja selesai menangani operasi. Baru saja istirahat eh... ponselnya berdering terus, ternyata dari Metha.
__ADS_1
Saat ini Okan sedang malas berbicara dengan metha, makanya dia sengaja mengabaikan ponselnya hingga membuat Metha di sana marah dan meminta tolong kepada Mama Okan untuk menghubungi putranya.
Kali ini nada dering khusus terdengar dari ponsel Okan, dia langsung mengangkatnya karena Okan tahu itu nada dering untuk panggilan dari orang tuanya.
"Assalamualaikum Ma," sapa Okan.
"Wa'alaikumsalam, kamu kemana saja! Kenapa panggilan dari Metha nggak pernah kamu angkat? Dia sejak tadi uring-uringan tuh!"
"Maaf Ma, Okan baru selesai menangani operasi, Mama dan Papa kapan pulang? ada kabar baik lho Ma."
"Kamu jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan, ini Metha ingin berbicara!" ucap Mama sedikit kesal dengan sikap Okan.
"Hallo Kan? kemana saja sih kamu? kenapa kamu tidak pernah mengangkat panggilanku?"
"Maaf Metha aku sibuk!"
"Sibuk dengan wanita lain ya! Kan, please deh...aku mencintaimu, Kan? Aku rela melakukan apapun asal kamu mau menikah denganku. Papa mau membangunkan rumah sakit, jika kamu mau menjadi menantunya," bujuk Metha.
"Maaf Metha, aku kan sudah bilang hanya menganggapmu sebagai adik, jadi sampai kapanpun keputusanku tetap sama. Aku bukan cowok matre yang tergiur dengan harta orangtuamu. Jika memang rezekiku, suatu saat pasti aku bisa memiliki rumah sakit sendiri walau tanpa menikah denganmu," ucap Okan tegas.
"Aku tidak mau jadi adikmu! Aku mau jadi istrimu. Kita lihat saja Kan! Kamu yang menang atau aku. Aku pastikan kamu bakal memohon kepadaku!" ancam Metha.
Metha yang marah, langsung mematikan ponselnya, dia berani berkata begitu karena sebelumnya dia tahu Mama Okan sudah keluar rumah untuk menyusul Mamanya yang sedang berbincang-bincang di luar dengan para suami.
Tidak mendengar suara Metha lagi Okan malah bersyukur, dia tidak takut sedikitpun dengan ancaman Metha. Kemudian Okan bergegas menuju parkiran, dia hendak menyusul Ayu ke sekolah karena jam sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB.
Ayu sudah membereskan tasnya, dia bersiap pulang tapi sebelumnya dia mendekati Trias, Ayu ingin menanyakan alamat Dilla. Ayu berencana menjenguk Dilla sebelum pergi ke klinik.
"Tunggu Trias!" ucap Ayu ketika melihat Trias hendak meninggalkan kelas.
"Ada apa Yu?"
"Begini lho, aku dan Sisil ingin menjenguk Dilla, tolong dong, beri aku alamat rumahnya."
"Sebentar ya."
Kemudian Trias membuka tasnya, dia mengambil pena dan sehelai kertas lalu menuliskan alamat rumah Dilla di sana, setelah itu Trias menyerahkan kertas tersebut kepada Ayu.
"Terimakasih ya Trias," ucap Ayu.
"Oke, sampaikan salamku ya Yu. Aku belum bisa ikut menjenguk sekarang, karena Mama memintaku untuk cepat pulang."
"Ya Trias, Inshaallah akan aku sampaikan."
Ayu pun kembali menemui Sisil, lalu mereka berjalan ke luar sekolah untuk menunggu angkot. Sisil sudah menelephone Mamanya agar tidak usah menjemput.
Sementara Ayu rencananya akan menelephone Okan setelah di atas angkot, dia tidak ingin membuat teman-temannya heboh bila melihatnya menggunakan ponsel mahal, karena setahu mereka Ayu tidak memiliki ponsel.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya sobat...🙏
Happy reading, see you ♥️♥️♥️