
Sutan Raja mengangkat panggilan video dari putra sulungnya Raihan, di sana terlihat menantunya sedang menggendong seorang bayi. Dia baru saja melahirkan cucu pertama di keluarga Sutan Raja.
"Alhamdulillah," ucap Sutan saat melihat senyum terkembang di wajah putra dan menantunya itu. Cucu laki-lakinya telah lahir secara normal, wajahnya sangat tampan seperti Raihan dan juga mirip dirinya.
"Ma, Metha lihatlah ini, putra Raihan telah lahir, imut banget, ternyata hari ini Allah memberi kita kebahagiaan ganda."
"Alhamdulillah," ucap Mama dan juga Metha.
"Mana adik cantikku, Ma?" tanya Raihan.
Melihat di tangan adiknya terpasang selang infus, Raihan terkejut, "Kamu kenapa Dek, kamu sakit? kok nggak kasih kabar Kakak. Besok Kakak dan Kak Arham pulang ya, nanti biar Kakak minta Kak Arham pesat tiket pesawatnya."
"Eh...nggak usah Kak, kasihan kak Risya, masa baru lahiran sudah ditinggal sih. Metha nggak apa-apa Kak, paling besok sudah boleh pulang. Metha cuma terkena anemia saja, ini sudah sembuh Kok. Nanti saja Kakak pulang jika dedek bayi sudah kuat di bawa naik pesawat."
"Beneran, kamu tidak apa-apa? awas jika kamu bohongi Kakak."
"Serius Kak, kalau Kakak nggak percaya boleh tanya Papa," ucap Metha sambil memberi kode kepada sang Papa.
"Mana Papa? Kakak mau pastikan."
"Benar kok Rai, adikmu hanya terkena anemia saja, maklumlah mikirin kerjaan melulu dia dan tidak ingat makan."
"Syukur deh jika begitu Pa, suruh dia tinggal di sini saja Pa dengan kami, ngapain musti susah-susah buka butik segala, apa uang yang kami transfer setiap bulan tidak cukup untuk kebutuhannya?"
"Jika adikmu tinggal dengan kalian, Papa Mama kesepian dong, belum tentu bisa sebulan sekali menjenguk kesana. Kalau hanya tinggal di Medan, Papa dan Mama bisa sering-sering mengunjungi adikmu."
"Papa dan Mama ikut kesini saja, tinggal bersama kami."
"Belum bisa sekarang Rai, urusan Papa di sini masih banyak, perusahaan keluarga siapa yang akan mengurus, semua tanggung jawab sudah di serahkan ke Papa."
"Mana Mama tadi Pa?"
"Selamat ya Nak, putra kalian tampan sekali, Mama sudah tidak sabar ingin menggendongnya."
"Mama sama Metha kesini dong, nanti papa pasti bakal nyusul, jika Mama dan Metha tinggal di sini."
__ADS_1
"Belum bisa Nak, kasihan Papamu, jika di tinggal sendirian. Yang penting kalian di sana sehat-sehat kami di sini ikut senang. Salam buat istri kamu ya, dan cium jauh buat cucu ganteng kami."
Raihan pun mengakhiri panggilannya, Metha menarik napas dalam, dia takut jika sang kakak mengetahui apa yang terjadi dengannya, pasti besok bakal sampai di tanah air dan mengacaukan rencana polisi.
Sutan memang sengaja merahasiakan masalah ini dari kedua putranya, karena dia tahu, mereka tidak akan membiarkan orang-orang yang menyakiti adiknya, menikmati hidup dengan tenang.
Sementara di luar, Okan dan Oki baru saja memberi kabar ke Mama dan Papanya, jika Metha sudah baikan. Mereka sangat senang dan malam ini juga akan kembali ke rumah sakit.
Okan dan Oki merasa tenang, kini Metha telah berubah, bukan Metha yang egois, yang selalu memaksakan kehendaknya.
Mereka pergi ke kantin sambil menunggu kedatangan Mama dan Papa. Okan membeli snack dan beberapa botol air mineral yang akan dia bawa ke dalam ruangan.
Malam ini mereka akan begadang, ngobrol tentang rencana Oki dan polisi besok yang akan menjebak para pelaku yang telah sekongkol menjual Metha.
"Ki...kamu mau teh atau susu? aku air mineral saja," tanya Okan.
"Sama saja seperti kamu Kan!"
"Baiklah, ayo kita kembali ke ruangan, mungkin Mama dan Papa sebentar lagi bakalan sampai."
"Kamu yakin! jangan sampai kamu permainkan dia seperti wanitamu yang lain. Aku tidak mau, sahabat baik Ayu terluka hatinya gara-gara kamu."
"Aku serius Kan, aku mau dia jadi pelabuhan terakhir ku. Insya Allah...aku tidak akan mempermainkannya. Aku tertarik dengannya sejak pertama kali bertemu. Tolong bantu aku Kan!"
"Baiklah, jika kamu serius, aku dan Ayu akan membantu menyatukan kalian."
"Terimakasih ya Kan, kamu memang Kakakku yang paling baik," rayu Oki.
"Ayo cepat kita kembali ke ruangan," ajak Okan.
"Oke bos," jawab Oki sambil merangkul sang Kakak.
Saat Okan dan Oki tiba di ruangan, ternyata Papa dan Mamanya juga telah sampai di sana. Mama sedang memeluk Metha, beliau sangat senang meihat Metha telah pulih.
"Kedua putramu memang hebat Ina! Kalian berhasil mendidik mereka jadi anak-anak yang menakjubkan."
__ADS_1
Kamu juga Tan, malah kamu lebih beruntung duluan mempunyai cucu, nah aku! masih harus menunggu sampai Okan selesai kuliahnya.
"Kalau Mama mau, Oki bisa beri Mama cucu tahun depan?" celetuk Oki sambil berjalan masuk ke ruangan.
Okan menyenggol lengan Oki, adiknya ini memang asal bicara saja.
Mama yang mendengar hal itu membulatkan mata, lalu berkata, "Memangnya kamu sudah punya calon istri?" tanya Mama serius.
"Tentu dong Ma, Mama pikir cuma Okan saja yang bisa cari calon istri, Oki juga sudah tinggal nembak saja, setuju...lamar deh."
Ucapan Oki nyaris membuat semua yang ada di sana tertawa.
"Kamu pikir burung apa? main tembak-menembak saja," ucap sang Mama.
"Ya sudah, kalau begitu kita gelar saja dua pernikahan sekaligus biar Mama punya dua menantu dan cepat dapat cucu."
"Oki setuju Ma! tapi mereka belum tentu setuju?"
"Dasar keplek!" ucap Mama sambil menimpuk Oki dengan bantal tidur Metha."
Akhirnya mereka menghabiskan malam ini dengan canda tawa, hingga tidak terasa adzan subuh tellah berkumandang.
Para lelaki menuju ke masjid yang ada di lingkungan rumah sakit, sementara para wanita melaksanakan sholat di ruangan Metha saja.
Selesai beribadah, Okan dan Oki keluar membeli sarapan untuk mereka semua, lalu mereka pun maka bersama-sama.
Pukul delapan pagi, pihak cafe menelephone Oki, mereka memberitahu jika Metha tidak bisa memenuhi permintaan Oki, mereka menawarkan gant, seoorang wanita yang masih ori tanpa tambahan bayaran. Mereka tidak mau kehilangan ikan kakap yang sudah dalam genggaman.
Oki pura-pura marah atas pelayanan mereka, hingga membuat mereka bersungguh-sungguh meminta maaf dan berjanji akan memberikan service yang terbaik dengan tambahan waktu.
Akhirnya Oki mengiyakan tawaran tersebut dan berjanji dua jam lagi akan tiba. Ternyata pembicaraan antara Oki dan pemilik cafe sudah di rekam oleh Okan dan Papa.
Setelah pemilik cafe menutup telephonenya, Oki segera menghubungi pihak kepolisian agar bersiap dan Okan segera berangkat ke Bank untuk mengambil uang yang akan di bawa Oki sebagai alat untuk memancing para pelaku.
🌻 Terimakasih atas semua dukungannya ya sobat, aku tunggu lho dukungan selanjutnya 🙏😉
__ADS_1
SEE YOU ♥️♥️♥️