TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA

TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA
EPISODE 52. LULUH


__ADS_3

Sutan meminta Rendi untuk berdiri, bertepatan dengan datangnya seorang anak perempuan cantik yang berlari dan langsung memeluk Rendi.


"Papa kenapa berlutut, Papa salah apa? Pa...cantik mau sama Papa, kenapa Papa ada di rumah sakit? Ayo kita pulang Pa! Cantik takut di sini! nanti Pak Dokter suntik cantik Pa, ayo Pa kita pulang. Cantik mau bobok di temani Papa, nggak mau sama Bibik!


Bibik nggak pandai dongeng Pa?"


Cantik terus menarik-narik baju Papanya, mengajaknya pulang, tapi Rendi tidak mau beranjak dari sana tanpa menerima maaf dari Metha.


"Sebentar ya Nak! Papa sedang minta maaf sama Tante cantik, Papa jahat sama Tante, jadi Papa nggak akan pergi jika Tante cantik belum maafin Papa," ucap Rendi sambil menggendong putrinya yang bertubuh mungil tersebut.


Memang sejak kepergian sang Mama, putri Rendi sering sakit hingga badannya kurus di tambah postur tubuhnya memang pendek seperti sang Mama.


Cantik turun dari gendongan Rendi, kemudian dia berlari ke arah Metha. Cantik memegang tangan Metha lalu dia berkata, "Tante cantik...maafin Papa ya? Papa salah besar ya sama Tante hingga Tante nggak mau ma'afin. Tante boleh hukum cantik asal Tante mau maafin Papa. Cantik akan lakuin apa saja yang Tante minta. Cantik nggak bisa tidur Tante jika nggak di bacain dongeng sama papa. Please Tan....maafin Papa cantik ya?"


Cantik pun berlutut di lantai hingga membuat semua orang di sana nyaris meneteskan air mata.


Apalagi saat dia berlutut sambil berkata, "Jangan hukum Papa Cantik, Tante? Mama cantik sudah pergi, Cantik sama siapa jika Papa di bawa Pak polisi," ucap Cantik dengan air mata yang hampir jatuh dari kedua mata beningnya itu.


"Cantik bangun Nak! Cantik nggak perlu lakuin itu biar Papa saja, Papa yang telah berbuat salah terhadap Tante jadi Papa yang akan berlutut."


Metha turun dari tempat tidurnya, kebetulan tadi pagi selang infus di tangannya sudah di copot oleh suster. Dia berlutut di hadapan Cantik sambil memegang tangan gadis kecil tersebut.


"Tante nggak akan hukum Papa Cantik kok, Tante sudah maafin, sekarang Cantik berdiri ya? di lantai dingin juga kotor nanti Cantik sakit."


"Nggak apa-apa Tante, Cantik sudah biasa sakit, asal Papa Tante ma'afin Cantik ikhlas kok jika harus terus berlutut di sini."


Air mata Metha jatuh, dia tidak mengira lelaki bejat yang telah mengambil kesuciannya begitu di sayang oleh putrinya. Siapa yang tega melihat gadis kecil, kurus, pucat dan matanya sayu berlutut minta pengampunan untuk sang Papa.


Metha meraih Cantik, memeluknya erat sambil menangis dan berkata, "Maafkan Tante ya Cantik, Tante nggak bermaksud membuat kamu sedih."

__ADS_1


Terdengar sangat lirih, Cantik menyebut Metha dengan Mama, mungkin dia rindu akan kasih sayang seorang Mama.


Metha mempererat pelukannya, Cantik pun mengulang kata-katanya, Mama...sambil menangis terisak.


Mama Metha dan Mama Okan ikut menangis, mereka mendekati Metha sambil memegang tangannya seakan berharap Metha menerima gadis itu sebagai putrinya.


"Ayo kita duduk di atas ya Sayang, di sini dingin," ucap Metha.


"Iya Tante," ucap Cantik sambil berdiri tapi tidak melepaskan pegangannya dari tangan Metha.


Metha naik kembali ke tempat tidur lalu dia memangku Cantik, mereka ngobrol layaknya ibu dan anak, hingga akhirnya Cantik tetidur di pangkuan Metha.


Rendi yang melihat hal itu merasa tidak enak, lalu dia izin kepada Metha untuk menggendong putrinya agar pembantu bisa membawanya pulang.


Tapi saat tangan Rendi menyentuh tangan Metha tidak sengaja, Metha tersentak lalu menatapnya tajam dan berkata, "Biarkan dia di sini! nanti jika dia bangun kamu boleh membawanya pergi."


Sementara Mama Okan dan Mama Metha masih memperhatikan sikap Metha terhadap Cantik. Metha membelai rambut Cantik yang lembut dan indah, seakan dia adalah ibunya.


Memang Metha merasakan perasaan aneh, rasanya dia seperti mengenal Cantik sudah lama, dia sayang dengan gadis kecil itu.


Tiba-tiba, cantik mengerjapkan mata lalu menguceknya, dia tersenyum menatap Metha lalu berkata, "Tante baik, boleh Cantik panggil Mama? Cantik sudah tidak punya Mama. Mama Cantik pergi jauh dan kata Papa tidak akan pernah kembali. Nanti Cantik baru bisa ketemu Mama jika sudah di surga," ucap Cantik dengan lugunya.


"Boleh Sayang, tentu saja boleh," ucap Metha.


"Hore!!! Cantik punya Mama," teriak cantik sambil memeluk Metha.


"Mama..." panggil Cantik kepada Metha.


Metha merasakan ikatan antara dirinya dan Cantik, bocah ini berhasil mengambil hatinya. Mama Okan dan Mamanya juga melihat kasih sayang telah tumbuh diantara keduanya.

__ADS_1


Rendi pun yang mendengar suara putrinya segera izin untuk membawanya pulang, besok dia berjanji akan datang lagi, dia ingin kembali berbicara dengan Metha.


Ayo sayang kita pulang, Tante cantik biar istirahat, kasihan Tante masih sakit.


"Ini Mama Cantik Pa, bukan Tante. Iya kan Ma?"


Metha diam, dia hanya membetulkan baju Cantik yang sedikit berantakan karena bangun tidur.


Rendi yang melihat Metha hanya diam pun berkata, "Maafkan putriku, dia memang mendambakan kehadiran seorang Mama, maaf jika dia merepotkan," ucap Rendi merasa tidak enak.


Kemudian Rendi izin membawa Cantik pulang, dia janji kepada Metha, besok akan kembali untuk berbicara.


Metha membiarkan Rendi membawa Cantik, tapi Cantik menarik tangan Metha, "Mama ikut pulang Yuk, Cantik mau bobok sama Mama."


"Cantik...Tante nggak bisa ikut kita, Tante kan masih sakit, jika Dokter marah bagaimana?"


"Iya Ma, nanti Dokter marah? kalau gitu, Mama ikut Cantik nanti kalau udah sehat Ya?"


Mau tidak mau, Metha pun mengangguk, agar Cantik mau ikut pulang bersama Rendi. Cantik melambaikan tangannya kepada Metha lalu diapun menghilang di balik pintu bersama Rendi.


Mama Metha mendekat ke Metha lalu berkata, "Kasihan ya Nak, anak sekecil itu, tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu."


Metha hanya diam, dia merasakan kehilangan sejak Cantik keluar bersama Rendi. Tapi Metha berusaha menepis perasaan itu.


Sutan pun masuk ke ruangan untuk menemui Metha, lalu beliau berkata, "Bagaimana Nak? Berilah Rendi kesempatan, Papa rasa dia orang baik, karena stress dan khilaf hingga dia menyakitimu. Namun papa yakin dia bisa jadi suami dan ayah yang baik. Pikirkanlah malam ini, besok dia janji akan kembali dan kamu bisa memberinya keputusan. Apalagi Cantik, dia saat ini membutuhkan kasih sayangmu, dia sudah memanggilmu Mama."


"Iya Pa, Metha akan pikirkan malam ini dan besok Metha kasi keputusannya."


SEE YOU ♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2