TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA

TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA
EPISODE 42. MENCARI METHA


__ADS_3

"Pokoknya Kan, Mama nggak mau tahu, kamu harus bantu cari Metha! Kasihan Mamanya disini nggak bisa menghubungi dia."


"Iya Ma, nanti kalau ada waktu Okan bantu cari dia, saat ini Okan sedang mengurus kelengkapan bea siswa. Pengajuan Okan telah di terima Ma, minggu depan Okan berangkat, Okan harap Papa dan Mama sudah kembali sebelum Okan berangkat."


"Apa! Pokoknya kamu harus tunggu kami pulang, nanti Mama tanya Papa dulu, kapan selesai urusannya."


Setelah Mama menutup telephonenya, Okan coba menelephone Metha, tapi tidak ada jawaban. Okan mengulangi terus tapi hasilnya tetap sama.


Karena Okan sedang sibuk dia belum bisa mencari Metha. Okan menyiapkan pekerjaannya lalu pergi ke klinik untuk memperkenalkan pasien kepada dokter yang akan menggantikannya.


Setelah dari klinik, Okan berencana pulang untuk mengajak Oki mencari Metha, dia tidak mau jika kejadian pagi tadi terulang lagi. Sekuat-kuatnya iman laki-laki jika di suguhi pemandangan indah terus menerus pasti ada kalanya tergoda.


Ketika Okan tiba di rumah, Oki langsung menyodorkan selembar surat yang menyatakan bahwa dirinya telah menikah dengan Ayu yang telah di tandatangani oleh yang berwenang mengurusi pernikahan dan juga Ayu, kini tinggal membubuhi tandatangannya sendiri.


"Ayo tanda tangani!"


"Darimana kamu dapatkan ini Ki?"


"Sudah teken saja, yang penting untuk sementara aman, sampai kalian menikah beneran."


Okan pun menandatangani surat itu, lalu dia melipat dan menyimpan dalam dompetnya sementara salinannya akan dia berikan kepada Ayu.


"Bagaimana, Ayu setuju menikah sebelum berangkat?"


"Dia belum kasi jawaban Ki! Dia masih butuh waktu untuk rembukan dengan Ibu."


"Oh...tapi nggak bisa lama, minggu depan kamu sudah harus berangkat kan?"


Okan pun mengangguk. Ternyata Ayu sudah berdiri di belakang mereka.


"Kak ...Ayu mau memberikan jawaban atas lamaran Kakak."


"Duduk sini Yu," pinta Oki.


"Jadi apa jawabanmu Yu?" tanya Okan yang takut Ayu menolak.


"Ayu setuju menikah dengan Kakak," ucap Ayu sambil menunduk malu.


"Alhamdulillah," jawab Okan dan Oki berbarengan.


"Ibu bagaimana Yu, mau ikut dengan kita?"


"Ibu katanya nyusul Kak, ada urusan di kampung tempat tinggal Ibu dulu yang masih harus beliau selesaikan."


"Oh... nggak apa-apa Yu, tenang saja nanti aku yang bantu urus keberangkatan Ibu," ucap Oki.


"Terimakasih Kak."


"Ini Yu, simpan dalam tas mu untuk jaga-jaga siapa tahu di perlukan," pinta Okan yang menyodorkan salinan dari surat pernyataan pernikahan mereka.


"Oh ya, temani aku cari Metha ya! Mama dan Mama Metha khawatir, dia tidak bisa di hubungi sejak pagi.

__ADS_1


"Kemana kita harus cari dia Kan?" tanya Oki.


"Coba kita ke apartemennya dulu, jika tidak ada baru kita cari ke rumah temannya."


"Kamu ikut ya Yu! kakak tidak mau kejadian tadi pagi terulang lagi. Apalagi ini di apartemen pribadinya, takutnya dia lebih agresif."


"Memangnya apa yang terjadi Kan, antara kamu dan Metha?"


"Seperti kamu tidak kenal Metha saja Ki? Biasalah menggoda dengan bodynya yang bohai, dikiranya aku akan tergoda."


"Tapi kan Kak, Kak Okan dapat ciuman pertama tadi pagi dari Metha."


Oki pun tertawa terbahak-bahak, "Kamu tidak cemburu Yu?"


"Sebenarnya cemburu sih Kak, tapi mau bagaimana lagi, ya sudah anggap saja itu rezeki Kak Okan."


"Benar kamu cemburu Yu?" tanya Okan senang.


"Iya dong Kak!"


"Ya sudah sini aku cium."


"Ye...belum halal lho!" timpal Oki.


"Maksudnya nanti jika sudah halal, sekarang cium jarak jauh dulu."


Ketiganya tertawa sembari dalam perjalanan menuju ke apartemen Metha.


Mereka tiba di depan apartemen Metha, tapi apartemen itu gelap sekali seperti tak berpenghuni. Okan kembali mencoba menelephone nomor Metha, tersambung, tapi tak diangkat juga.


"Nah... bener Kan, suara ponsel Metha ada di dalam. Apa dia lupa kali ya bawa ponselnya saat keluar."


Okan mengulangi lagi dan memang suaranya ada di dalam, Oki mencoba membuka pintu dan ternyata tidak terkunci.


Mereka kaget, lalu Okan dan Oki berjalan masuk sambil menghidupkan lampu, sementara Ayu mengikuti mereka berjalan di belakang.


"Apa ada pencuri yang masuk ya Kan?"


"Tidak mungkin, jika ada pasti banyak barang yang hilang. Ini masih utuh dan rapi. Lagi pula itu ponsel Metha di sofa juga utuh."


"Ayo kita cari ke dalam Kan! jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Metha."


"Iya Ki, ayo Yu."


Mereka kaget melihat kamar Metha terbuka, dan melihat benda berserakan di lantai, kamar tersebut sudah seperti kapal pecah.


"Astaghfirullah..., apa-apaan ini Metha, kenapa kamarnya seperti ini ya?" ucap Okan.


"Yu...kamu tunggu di sini saja, banyak kaca berserakan, nanti kakimu bisa terluka," pinta Okan.


"Iya Kak, biar Ayu ambil sapu saja untuk mengumpulkan pecahan-pecahan kaca ini. Kakak dan Kak Oki lanjut mencari Mbak Metha saja."

__ADS_1


Ayu kemudian mengambil sapu dan tong sampah, lalu dia mulai membersihkan pecahan-pecahan kaca tersebut, sementara Oki dan Okan terus mencari ke setiap sudut kamar dan juga lemari. Tapi mereka tidak menemukan apapun.


Okan berjalan ke kamar mandi karena mendengar suara air dari shower, lalu dia mengetuknya sambil memanggil nama Metha, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Oki juga membantu teriak tapi hasilnya tetap sama.


Mereka tidak sabar lagi, alangkah terkejutnya Okan dan Oki saat melihat tubuh Metha tergeletak di lantai.


"Metha ..." teriak Okan.


Oki pun ikut mendekat sambil memegang kening Metha.


"Kan panas sekali tubuhnya, sepertinya dia demam. Coba kamu lihat bajunya basah kuyup, wajahnya sangat pucat, apa yang terjadi dengan Metha ya Kan?"


"Entahlah Ki! Ayo kita angkat bawa ke ranjangnya!"


Mereka menggotong tubuh Metha, Ayu kaget melihat kondisi Metha, "Astaghfirullah... Mbak Metha kenapa Kak?"


"Entahlah Yu, dia pingsan dengan pakaian basah kuyup."


"Sini Kak! baringkan di sini, biar Ayu cari pakaian gantinya dulu."


Kemudian Okan dan Oki membaringkan tubuh Metha, sementara Ayu mengambil baju Metha di dalam lemari.


"Ayo Ki, kita keluar dulu, biar Ayu mengganti pakaian Metha."


Okan dan Oki pun sementara keluar kamar, sampai Ayu selesai mengganti pakaian Metha.


"Sudah Kak, sudah selesai."


"Bagaimana Yu, apa ada tanda-tanda dia dianiaya?" tanya Okan khawatir.


"Enggak ada Kak, cuma ada memar sedikit di paha dalam bagian ************, terus di ****** ******** ada bercak darah."


"Apa Yu, mungkin dia lagi menstruasi?"


"Nggak Kak, kalau darah menstruasi nggak seperti itu. Jangan-jangan....," Ayu menghentikan omongannya, lalu menutup mulut dengan kedua tangannya.


"Jangan-jangan apa Yu?" tanya Okan dan Oki barengan.


"Jangan-jangan, Mbak Metha baru di perkosa," ucap Ayu ragu-ragu.


"Apa Yu! Kamu yakin," tanya Okan.


Ayu pun mengangguk, lalu dia berkata lagi, "Mulut Mbak Metha bau alkohol Kak."


Oki segera mendekat ke arah mulut Metha, "Benar kan, mulutnya bau alkohol."


"Pasti dia habis mabuk-mabukan dengan teman-temannya Kan! Aku tahu tempatnya, soalnya aku pernah melihatnya mabuk di sana bersama ketiga temannya," ucap Oki.


"Sekarang kita bawa saja Mbak Metha ke rumah sakit ya Kak?"


Oki mempersiapkan mobil, lalu Okan di bantu oleh Ayu menggotong tubuh Metha ke dalam mobil, mereka pun membawa Metha ke rumah sakit terdekat agar mendapatkan perawatan.

__ADS_1


🌻 Terimakasih atas dukungannya ya sobat....


SEE YOU ♥️♥️♥️


__ADS_2