TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA

TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA
EPISODE 44. RASA LEZAT YANG SAMA


__ADS_3

"Ternyata ini dampak buruknya Ma, Metha tinggal jauh dari kita, pantas saja Okan tidak bisa mencintai putri kita, ternyata perbuatannya sangat memalukan, andai kakeknya masih hidup entah hukuman apa yang akan Metha dapatkan."


"Sekarang apa yang akan kita lakukan Pa? Mama nggak tega lihat kondisi Metha?"


"Saat ini kita tunggu dia tenang dulu ma? Mama jangan terlampau cemas nanti penyakit Mama kambuh lagi, bagaimana papa bisa mengurus kalian berdua."


"Iya Pa."


"Om dan Tante sebaiknya istirahat dulu, biar Oki yang jaga Metha, Papa Mama juga, kalian pasti capek. Paling sebentar lagi Okan juga datang, jadi kami bisa gantian menjaga Metha."


"Iya Tan, sebaiknya kalian istirahat di rumah kami. Sudah lama-kan kalian tidak berkunjung," ajak Mama Okan.


"Baiklah Ina, kami ikut kalian. Ayo Ma, kita istirahat di rumah Ina, nanti sore kita balik kesini lagi. Lagipula Metha juga masih dalam pengaruh obat penenang."


"Iya Mbak, ayo... kami ikut," ucap Mama Metha.


"Ki... Om, titip Metha, jika terjadi apa-apa dengan Metha tolong segera hubungi Om ya Ki," ucap Sutan sambil menepuk bahu Oki."


"Siap Om. Selamat beristirahat ya Om, Tante."


Mereka pun meninggalkan rumah sakit, untuk pulang ke rumah keluarga Okan dengan menggunakan taksi online.


Sementara Bu Nita atau biasa di panggil oleh Oki dengan Bik Aisyah sedang mempersiapkan makanan untuk Tuan nya yang sebentar lagi sampai.


Selama Oki sembuh, tugas Bu Nita sekarang beralih ke tukang masak, karena menurut Oki masakan Bu Aisyah sangat enak, jadi tadi Oki telephone agar menyiapkan makanan untuk empat orang karena orang tua Metha ikut pulang bersama papa dan mamanya.


Mama Okan juga telephone, minta Bu Aisyah agar menyiapkan masakan sambalado ijo, gulai Kapau dan rendang Padang kesukaan temannya yaitu kesukaan Sutan Raja dan Mama Metha.


Kebetulan semua bahan ada di kulkas, karena terkadang Oki meminta memasakkan salah satu jenis masakan itu. Bi Aisyah memasak dengan semangat, beliau ingin majikannya senang dengan hasil masakannya.


Selama ini Bi Aisyah sudah takut jika Oki sembuh maka dia akan kehilangan pekerjaan, ternyata mereka baik tetap mempekerjakannya sebagai juru masak.

__ADS_1


Satu persatu masakan sudah matang, hanya tinggal mengeringkan rendang dagingnya saja. Aroma masakan Bu Aisyah sangat menggugah selesai hingga mang Didi menghampiri Bu Aisyah dan berkata, "Aduh Bu, aromanya buat perut saya lapar, tercium lho sampai ke pos depan. Aku ndus-ndus wanginya eh ternyata dari dapur sini."


"Ah... mang Didi bisa saja, yang ibu masak juga masakan biasa kok, nggak ada bedanya."


"Serius lho Bu, pasti Tuan dan Nyonya bakal suka dengan masakan Bu Aisyah."


"Mang Didi boleh cicip kok, lagi pula, saya masak banyak, pasti Nyonya dan Tuan tidak keberatan jika para pengurus rumah ini ikut makan."


"Iya Bu, mereka baik kok, mereka selalu memberikan yang sama kepada kami. Apa yang mereka makan kami juga ikut makan."


"Beruntung kita ya Mang dapat majikan baik, seperti Nyonya dan Tuan. Tuan muda keduanya juga baik."


"Bu Aisyah beruntung, Den Okan mencintai Ayu, Mudah-mudahan Tuan dan Nyonya merestui mereka. Den Okan itu anak baik lho Bu, sejak kecil tau tata krama, tidak pernah membedakan walau kita hanya seorang pembantu di sini. Ayu pasti hidup bahagia jika menjadi istri Den Okan. Sudah baik, ganteng, pintar, dan memiliki karir bagus, dokter spesialis. Ayu juga baik makanya Den Okan sayang banget dengan putri Ibu."


"Ah Mang Didi, kalau Ibu mah terserah yang di atas, jika memang mereka jodoh pasti bakal bersatu dan ibu bersyukur, Ayu bisa punya teman seperti Den Okan."


"Buk, saya balik ke depan dulu ya, nanti kalau Tuan dan Nyonya sampai pos kosong mah gawat, bisa kena pecat."


Rendang sudah hampir matang, saat Mama Papa Okan sampai. Aroma rendang Padang tercium oleh Sutan Raja, "Hemm...wangi sekali aromanya Ina, ini rendang Padang kesukaan ku."


"Ina memang sengaja Sutan, meminta pengurus rumah untuk memasakkan makanan kesukaan kalian," ucap Papa Okan.


"Ina memang temanku paling baik Mas, sejak dulu dia selalu ingat kesukaanku. Padahal di sekolah kami selalu bertengkar berebut tempat duduk. Dia paling suka duduk di hadapan meja guru, nah aku juga, jadi kami dulu-duluan datang kalau pagi."


"Kamu Tan buka kartu ku saja," ucap Mama Okan.


Mereka pun semua tertawa.


"Ayo silahkan masuk, sebentar ya aku lihat dulu apakah semua masakan sudah matang, jika sudah kita langsung makan karena aku juga sedang lapar."


Mama Okan pun segera kedapur untuk memeriksa, "Bagaimana Bik, makanan yang saya pesan sudah ready?"

__ADS_1


"Oh Nyonya, selamat datang kembali ke rumah. Sudah siap semua masakan sesuai pesanan Nyonya, tinggal Bibik tata di meja makan, sebentar ya Nya..."


Bu Aisyah pun menata semua hidangan di atas meja kemudian beliau menambahkan lalapan timun muda walaupun Mama Okan tidak meminta. Bu Aisyah teringat saat melayani orang tua Ayu dulu, mereka sangat suka makanan itu.


"Maaf Nyonya, semua sudah selesai. Silahkan di nikmati Nya."


Terimakasih Bik, saya akan panggil teman saya untuk makan, mudah-mudahan lidahnya cocok dengan masakan Bibik.


Sementara majikannya akan makan, Bu Aisyah kembali ke paviliun, nanti setelah mereka selesai makan, barulah Bu Aisyah kembali ke rumah induk untuk membereskan meja dan mencuci piring.


Mama Okan segera mengajak suami dan tamunya untuk makan, melihat semua hidangan yang tersaji adalah kesukaan Sutan Raja, Mama Metha pun berkata, "Mbak....awas lho, ntar nasi mbak habis, itu semua makanan kesukaan Papa Metha."


"Memang sengaja Dek, kebetulan pengurus rumah yang baru, yang biasa aku tugaskan untuk mengurus Oki saat dia lumpuh, pandai memasak dan menurut Oki masakannya dan masakan putrinya sangat enak. Ya, kita coba deh, apa benar kata Oki atau dia cuma membual. Ayo silahkan di makan! Ayo Pa kita makan."


Sutan Raja sangat selera melihat tatanan masakan tersebut, dia teringat seseorang, tapi dia tepis. Menurutnya mana mungkin orang yang dalam ingatannya itu tinggal jauh di sini.


Saat dia mulai menyuapkan makanan, Sutan terhenti, dia merasakan kelezatan yang sama seperti puluhan tahun lalu. Sutan memandang sang istri, ternyata Mama Metha juga merasakan hal yang sama.


"Kenapa Pa? Apa Papa merasakan hal yang sama seperti yang Mama rasakan? Masakan ini sama lezatnya dengan masakan Bi Nita-kan Pa?"


"Iya Ma, cara penataannya juga sama-kan Ma?"


Mama Metha pun mengangguk.


"Apa maksud kalian? Sama lezat dengan masakan Bi Nita siapa Tan?" tanya Mama Okan penasaran.


"Pengasuh anak kami, yang kami minta untuk membawanya pergi," jawab Sutan Raja.


"Oh...Kalau ini masakan Bik Aisyah, mungkin hanya kebetulan ya, mereka memiliki keahlian memasak yang sama."


SEE YOU ♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2