TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA

TAKDIR HIDUP SI BURUK RUPA
EPISODE 63. DUA PUTRI KESAYANGAN


__ADS_3

Metha beserta suami dan anaknya sudah bersiap hendak berangkat ke bandara. Jika tidak ada halangan, sore nanti di perkirakan mereka baru akan sampai di Padang.


Walau awal menikah karena sebuah kesalahan dan tanpa cinta, tapi kini Metha terlihat sangat bahagia. Rendi dengan perhatian-perhatian kecilnya mampu membuat hati Metha perlahan move on dari Okan.


Kegagalan rumah tangga yang pertama cukup membuat Rendi sakit, makanya dia belajar dari semua kesalahan, kali ini dia ingin membuat rumah tangga barunya dengan Metha penuh di warnai dengan kebahagiaan.


Sesibuk apapun Rendi di perusahaan, dia tetap menyempatkan diri menelephone sang istri dan putrinya walau hanya sekedar menanyakan sudah makan atau belum dan menyatakan rindu, ingin segera pulang.


Metha yang terbiasa manja kini bisa lebih mandiri, dia ingin melayani semua kebutuhan anak dan suaminya tanpa bantuan pembantu. Metha benar-benar ingin menjadi Ibu rumah tangga yang baik, dia mempercayakan butiknya kepada bawahannya dan hanya sesekali saja datang kesana jika memang diperlukan.


Harta kekayaan Rendi sudah lebih dari cukup bagi Metha, jadi dia tidak ingin sibuk di bisnis hingga nantinya bisa membuat rumah tangganya terabaikan.


"Ayo sayang, kita buruan, nanti bisa ketinggalan pesawat," ucap Rendi kepada Metha dan Cantika.


"Iya Pa...sebentar ya, Mama sedang mendandani Cantik. Mama mau Cantika terlihat lebih Cantik jika nanti bertemu dengan kakek dan nenek."


"Mama...kalian sudah sangat cantik kok, walau tidak berdandan, bagi Papa kalian bidadari tercantik."


"Iya deh Pa, ayo kita berangkat," ucap Metha sambil tersenyum manis.


Cantika pun berlari di gendongan Papanya, lalu mereka masuk ke mobil dan supir pribadi Rendi segera mengantar mereka ke bandara.


"Hore...pesawat kita sudah mau berangkat, sebentar lagi Cantik akan bertemu dengan Kakek dan Nenek," sorak Cantik saat pramugari sudah menginformasikan agar mereka segera memasang sabuk pengaman.


Pesawat tujuan bandara Padang Panjang pun lepas landas, Cantik senang melihat awan dari balik jendela pesawat, yang menurutnya sedang berjalan mengikuti laju pesawat mereka.


Ketiganya asyik bercengkrama hingga tidak terasa mereka telah sampai di bandara Padang Panjang. Hanya butuh waktu 15 menit lagi dari bandara ke rumah Sutan.


Metha sengaja tidak menelephone Sang Papa karena ingin memberi kejutan, mereka sampai lebih awal dari yang di perkirakan.


Mereka naik taksi bandara menuju rumah Sutan. Sutan dan yang lainnya sedang beristirahat saat tiba-tiba terdengar suara teriakan gadis kecil memanggil nama kakek.

__ADS_1


Sutan langsung membuka pintu dan dia melihat seorang gadis kecil tersenyum di depan pintu.


"Cantik...sini gendong Kakek," pinta Sutan sambil merentangkan kedua tangannya.


Memang ini kali pertama Cantika bertemu dengang kakek dan nenek, selama ini mereka hanya ngobrol lewat panggilan video saja. Tapi mereka terasa sudah sangat dekat, karena Sutan dan Mama Sintia menyayangi Cantik sudah seperti cucu kandung.


"Eh...Cantik sudah sampai? tanya Mama Sintia yang baru muncul dari kamar.


"Nenek..." Cantik pun gantian berlari ke pelukan sang nenek.


Metha pun memeluk Papa Mama, begitu juga dengan Rendi. Okan dan Ayu pun ikut keluar menyambut kedatangan Metha beserta keluarga barunya.


"Ayo masuk Nak," ajak Sutan kepada anak dan menantunya.


Mereka pun berkumpul di ruang keluarga, saling bercanda ria dan di sela obrolan tersebut Sutan menyampaikan kabar gembira.


"Besok Kak Andra dan Kak Haris beserta anak dan istrinya sampai lho Nak."


"Nggak, mereka ingin ikut merasakan kebahagiaan bersama kita, bersama semua adiknya."


"Adik Kak Andra dan Kak Haris 'kan cuma aku Pa dan sekarang bertambah suamiku, kenapa Papa bilang bersama semua adik mereka, memangnya adik-adik Kakak Ipar ikutan datang ke sini?" tanya Metha yang jeli akan perkataan sang Papa.


Sutan dan Mama Sintia saling pandang, lalu mereka memandang ke arah Ayu dan juga Okan. Sebenarnya mereka akan mengatakan semuanya ke Metha besok, saat semua sudah berkumpul.


"Ada apa sebenarnya Pa, Ma? kok kalian saling pandang? Memangnya ada rahasia apa yang belum aku ketahui Pa?"


"Ya sudah Pa, kita ceritakan saja semua," ucap Mama Sintia.


"Baiklah! Papa akan ceritakan semuanya tentang adikmu," ucap Sutan.


"Adik?"

__ADS_1


Metha semakin bingung, berbagai pertanyaan muncul di benaknya, benarkah dia memiliki seorang adik, siapa dan di mana adiknya itu sekarang berada?


Kemudian Sutan menceritakan kejadian 17 tahun yang lalu, saat Ayu dilahirkan dan terpaksa meminta pengasuh untuk membawa Ayu pergi dan hari ini mereka baru bisa bertemu kembali.


Metha menangis, dia tidak menyangka jika gadis yang pernah dibencinya adalah adiknya. Kemudian Metha mendekati Ayu lalu memeluknya dan berkata, "Maafkan aku Yu, ternyata kamu adikku. Aku seorang Kakak yang nggak berguna, telah menyakiti perasaan adiknya sendiri."


"Nggak kok Mbak, wajar saja Mbak Metha bersikap begitu, siapapun pasti akan melakukannya karena takut kehilangan orang yang kita cintai."


"Terimakasih Yu, kamu memang gadis yang baik."


"Mbak juga baik, kalau tidak baik mana mungkin Mas Rendi dulu diam-diam mencintai dan akhirnya memilih Mbak Metha sebagai istri, ya kan Mas?"


Rendi pun tersenyum dan mengangguk, memang sebelum kejadian memalukan itu, sebenarnya Rendi sudah sejak lama mencintai Metha tapi karena dalam hati Metha hanya ada Okan makanya tidak pernah melirik Rendi sedikitpun.


"Oh ya Nak, ada satu rahasia besar lagi yang Papa dan Mama ingin katakan, tapi Papa harap kamu jangan salah paham. Kami tidak ingin selamanya membohongimu, makanya, inilah mungkin saat yang tepat kamu harus tahu kebenarannya," ucap Sutan lalu terdiam sesaat.


Kemudian Sutan melanjutkan ucapannya, "Sekarang kamu sudah jadi ibu, pasti kamu bisa lebih bijak menyikapinya. Sebenarnya kamu bukan anak kandung Papa Mama tapi kamu tetap anak kami walau hari ini kamu tahu kebenarannya."


"Apa Pa! Metha bukan anak Papa dan Mama?" tanya Metha sembari tidak kuasa menahan air matanya yang mengalir tanpa bisa di cegah dan dia terus terisak.


Rendi yang melihat kerapuhan istrinya hari ini, segera memeluknya dan berusaha menenangkan hatinya.


"Maafkan kami Nak, telah menyembunyikan hal ini begitu lama," ucap Mama Sintia.


"Tapi yakinlah, cinta kami tidak akan berubah, kamu tetap putri kami," ucap Mama lagi.


Metha pun menghambur ke pelukan sang Mama sambil terus menangis, setelah sedikit tenang barulah dia bertanya, "Jadi Metha anak siapa Pa, Ma?"


Sutan pun menceritakan tentang siapa sebenarnya orang tua Metha dan setelah selesai Sutan pun langsung menarik Metha dan Ayu ke dalam pelukannya, lalu beliau pun berkata, "Kalian putri kesayangan kami dan selamanya kalian adalah bersaudara."


Sore ini di penuhi dengan banjir air mata, tapi berakhir dengan air mata kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2