
Seperti biasa Ibu dan Ayu bangun menjelang subuh, setelah membuat sarapan dan mengerjakan sholat, beliau langsung menuju kamar Oki untuk membantunya membersihkan diri dan bertanya sarapan apa yang dia inginkan.
Ketika ibu mengetuk pintu kamar Oki, tidak ada jawaban, diulang beberapa kali juga sama. Okan yang melihat Ibu berdiri di depan kamar Oki pun langsung menghampiri, "Ada apa Bu? mungkin Oki belum bangun?"
"Oh Nak Okan, Ibu hanya ingin membantunya membersihkan diri dan menanyakan sarapan apa yang Den Oki mau biar sekalian Ibu masakin."
"Sebentar ya Bu, biar Okan lihat dulu ke dalam."
Okan pun membuka pintu kamar, dia terkejut melihat Oki tidak ada di atas tempat tidurnya, matanya mengitari ke seluruh ruangan, juga sama, Oki tidak terlihat di sana.
Tiba-tiba terdengar suara decitan pintu, ternyata Oki dengan berpegangan tembok perlahan berjalan mau kembali ke tempat tidurnya.
Okan sangat terkejut sekaligus senang, dia berjalan mendekat bersamaan dengan Oki yang hampir terjatuh. Okan hendak menolong tapi Oki menolak, "Biar aku coba sendiri Kan, Inshaallah aku harus bisa. Sudah cukup aku menyusahkan orang, kini saatnya aku harus semangat untuk sembuh."
"Alhamdulillah, akhirnya...adikku kembali juga. Aku rindu Oki yang dulu, Oki yang ceria dan memiliki semangat, bukan Oki yang hanya pasrah menunggu orang datang menolongnya."
Oki terus merambat ke dinding, pelan-pelan tapi akhirnya dia pun sampai ke tempat tidurnya. Okan menepuk pundak Oki lalu memeluknya, "Harus terus semangat Ki, sebentar lagi kamu pasti pulih."
Ibu yang menunggu Okan kembali pun merasa cemas, kenapa Okan tidak keluar juga dari kamar Oki, kemudian beliau memberanikan diri mengetuk pintu dan Okan pun membukanya.
"Maaf Bu, Okan kelamaan memberi kabar, alhamdulillah Bu... Oki sudah bisa ke kamar mandi sendiri walau dengan susah payah."
"Alhamdulillah ya Nak, Ibu ikut senang Den Oki mulai pulih. Den Oki mau makan apa Nak?"
"Oki mau nasi goreng saja Bu! seperti yang kemaren, rasanya enak banget, Oki suka," pinta Oki.
"Oh...itu masakan Ayu Den? sebentar ya Den, biar Ibu minta tolong Ayu untuk memasaknya sebelum berangkat ke sekolah."
Okan segera mendekati Oki lalu berkata, "Ki, apa tidak bisa sarapan yang lain, kasihan kan anak Bu Aisyah, pasti dia sudah memakai pakaian seragam sekolah, masa sih harus ke dapur lagi. Ntar kalau pakaiannya kotor bagaimana? repot kan jika harus berganti pakaian lagi."
Oki sejenak terdiam lalu diapun meminta agar Bu Nita Aisyah menyiapkan segelas susu dan dua keping roti tawar beserta selainya.
Okan menarik napas dalam sambil tersenyum, dia tidak ingin melihat Ayu berkeringat lagi karena memasak sementara Ayu sudah bersiap hendak berangkat ke sekolah.
__ADS_1
Ibupun pergi untuk menyiapkan apa yang di minta oleh Oki dan Okan juga pamit mau ke rumah sakit.
"Ki...malam ini aku pulang larut, karena dari rumah sakit langsung buka klinik, jadi kalau perlu apa-apa bel aja Bik Aisyah atau Mang Didi ya?"
Oki pun mengangguk, lalu dia berkata, "Kamu kan mau berangkat kenapa nggak sekalian beri Ayu tumpangan, kasihan kan dia musti baik angkot."
Okan terpaku, dia heran, kenapa Oki jadi perhatian terhadap Ayu. Oki yang melihat Okan terpaku pun menegurnya kembali, "Kenapa lu cuma diam? keberatan ya! jika aku sudah sembuh mungkin aku yang akan mengantarnya, tidak perlu minta tolong sama lu," ucap Oki terlihat sedikit kesal.
"Bukan, bukan begitu Ki, aku bersedia kok. Ya sudah, aku berangkat ya! biar aku samperin dulu si Ayu."
Okan berjalan ke arah paviliun, dia ingin menemui Ayu dan mengajaknya berangkat bareng. Ayu yang melihat Okan datang, matanya celingukan, dia takut, jika ada yang melihat.
"Sudah ayo berangkat, tidak perlu takut. Aku harus terang-terangan sekarang. Aku ingin mereka tahu Yu, bahwa kita pasangan kekasih."
"Lho...kenapa Kak Okan berubah pikiran?"
"Nanti aku ceritakan di perjalanan," ucap Okan sambil terus menggandeng tangan Ayu dan memintanya segera naik ke dalam mobil.
Mang Didi yang melihat mereka hanya menggelengkan kepala, dia tahu, pasti Tuan mudanya memiliki hubungan dengan Ayu hingga berani menggandeng tangannya.
Ayu yang merasa penasaran, kembali bertanya, "Kak...coba jelaskan, kenapa kakak berubah pikiran?"
"Pemikiran ku benar Yu, Oki termotivasi sembuh karena kamu."
"Apaan sih Kak! aku kan hanya memberikan semangat bukan ada maksud lain."
Kemudian Okan menceritakan kejadian tadi, lalu dia berkata, "Aku akan mencari dokter yang bisa menggantikan aku bertugas di hari Minggu dan kita akan pergi bersama-sama membawa Oki jalan-jalan. Kita harus segera menjelaskan ke Oki tentang hubungan kita Yu, sebelum terlambat dan akhirnya bisa merusak hubungan kami kembali."
"Iya Kak, aku setuju. Aku juga tidak mau ada salah paham di antara kita bertiga."
Okan sedikit tenang, dia tersenyum sambil pokus menyetir.
"Kak...kenapa Kakak senyum-senyum begitu?"
__ADS_1
"Karena kamu!" ucap Okan sambil menggenggam sebelah tangan Ayu.
"Kakak gombal."
"Beneran, Aku nggak mau bersaing dengan Oki demi memperebutkanmu. Kamu ingat apa yang pernah aku bilang kan? Kamu itu seperti berlian yang tertutup debu, hingga kilauanmu tidak terlihat oleh banyak orang. Hanya aku dan Oki lah yang telah menyadarinya. Mereka bodoh karena telah memperlakukan mu dengan buruk."
"Kakak bisa saja," ucap Ayu sambil tersenyum malu.
Merekapun telah sampai di sekolah Ayu, Okan berjanji siang nanti akan menjemput Ayu, sebisa mungkin Okan akan menjaga kebersamaan mereka selagi masih ada waktu.
Okan harus berangkat kuliah keluar negeri jika pengajuan bea siswa yang telah dia ajukan sebelum kenal Ayu di terima. Nanti di waktu senggang dia akan membicarakan hal ini dengan Ayu.
Ayu pun turun, kemudian dia melambaikan tangannya saat Okan melajukan mobil. Sisil menepuk pundak Ayu, "Nampaknya ada yang jadian nih?"
Ayu menoleh, dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya dari sisil, "Kamu Sil, seperti peramal saja."
"Tapi benar kan yang aku bilang. Aku bisa baca dari sorot matamu."
Ayu pun menjadi malu, lalu dia buru-buru menarik tangan sahabatnya untuk segera masuk karena sebentar lagi bel pasti berbunyi.
Sisil terus menggoda sahabatnya, hingga pipi Ayu merona, kemudian Sisil berkata, "Selamat ya Yu, aku ikutan senang, mudah-mudahan takdir hidupmu semakin baik. Cukup kamu hidup sengsara selama ini, sekarang sudah saatnya kamu bahagia."
"Aamiin... terimakasih Sil, kamu memang sahabat terbaikku. Aku beruntung bisa mengenalmu. Oh ya Sil, besok Kak Okan akan mengajakku ke rumah sakit, rencananya ingin memeriksa lebih detail tentang ini nih!" ucap Ayu sambil menunjuk keningnya.
"Oh, jadi maksudnya mau di operasi ya Yu?"
Ayu pun mengangguk.
"Alhamdulillah, kembali nasib baik menghampirimu Yu."
Keduanya pun telah masuk ke kelas, siap untuk menerima pelajaran.
Terimakasih atas dukungannya ya sobat, semoga kita tetap di berikan kesehatan dan kebahagiaan. Aamiin.....
__ADS_1
SEE YOU ♥️♥️♥️